
Lima motor Yamaha Rx king, melaju meninggalkan kantor kepolisian Delima raya.
Nandi berada di garis paling depan, yang di ikuti oleh Kamal, Hasan, Pandi, Gito yang berboncengan dengan Toglo.
Malam pun semakin larut, cuaca terasa dingin menusuk tulang dan masuk melalui pori-pori kulit.
Ke esokan harinya.
Toglo meminta ijin tidak masuk kerja, ada keperluan yang tidak bisa di tunda lagi, Toglo menggoes sepedanya di jalanan yang kecil bila pun berpapasan dengan kendara'an roda empat Toglo harus meped-meped ke pinggiran jalan.
Tidak lama kemudian Toglo sudah sampai di sebuah perkampungan yang pernah ia datangi tempo lalu, yaitu kampung Rawan.
Setibanya di depan Rumahnya ki Parta Toglo langsung mengucapkan salam.
"Assalam mu'alaikum." Sapa Toglo.
Sejenak Toglo menunggu sambil memandang ke arah pintu, dan tidak lama kemudian pintu nampak terbuka, dan seorang kakek tua berjenggot putih dengan penutup kepala kain hitam bercorak batik menjawab salam dari Toglo.
"Wa alaikum salam, wah akhirnya kamu datang juga nak." Jawab Ki Parta.
Toglo agak ke heranan dengan ucapan nya Ki Parta.
"Ki Parta ko bicara begitu, apa mungkin kehadiranku sangat di nantikannya." Batin Toglo.
"Iya ki, ma'af ku sudah lancang datng lagi ke tempat aki." Ujar Toglo lanjut bicara.
"Tidak apa nak, emang aki sangat menantikan kehadiran kamu di sini, ayo masuk." Ucap Ki Parta.
Toglo pun langsung melangkahkan tungkai kakinya memasuki sebuah rumah panggung, setibanya di dalam Toglo duduk di atas tikar yang sudah tergelar sebelumnya.
"Rupanya Ki Parta sudah mengetahui kedatanganku ke sini, buktinya tikar sudah di gelar rapi dan teko tempat air minum telah di sediakannya berikut makanan." Batin Toglo.
Sebagai rasa penasarannya Toglo akan persiapan yang telah di siapkan ia bertanya.
"Wah rupanya abis ada tamu ya ki?." Tanya Toglo.
"Oh tidak nak, aki sengaja aja persiapkan ini semua." Jawab ki Parta.
"Ooh begitu, di kira ada tamu."
Ki parta tersenyum tipis, nampak kulit yang sudah mengkerut dan bergaris-garis telah menghiasi wajah tuanya. Tapi nampak masih terlihat tegar dan kuat kalau dari segi pisiknya.
"Bertahun-tahun aki menanti hal seperti ini, dan sekarang aki sudah mendapatkan orang yang cocok." Ujar ki Parta terputus, karena anaknya datang menanyakan sesuatu pada ki Parta.
__ADS_1
"Bah ma'ap aku mengganggu."
"Iya ada apa?."
"Yang di kancah besar mau di cetak sekiloan apa gimana Bah?." Tanya nya.
"Iya kan abah sudah bilang padamu." Ujar ki Parta.
"Iya Bah." Ujarnya sambil melangkah pergi kembali pada kerja'annya.
Setelah itu ki Parta melanjutkan kembali obrolannya dengan Toglo.
Ki Parta menjelaskan perihal penantian kedatangan Toglo di kampung Rawan, sesuai dengan wangsit yang datang dalam mimpi yang menjelaskan bahwa pewaris ilmunya adalah seorang pemuda yatim piatu yang nantinya akan datang ke kampung Rawan sebagai utusan. Mulanya ki Parta tidak begitu menghiraukannya tapi setelah ada tarikan dari sebuah kitab buhun yang tidak sembarangan orang bisa menyentuhnya, dari sekian banyaknya orang yang bertamu kepadanya belum ada satupun yang melihat dan mengetahui keberada'an kitab tersebut, karena ki Parta membungkusnya dengan Aji Halimunan.
............
Singkat cerita.
Toglo di bawa ke tempat yang jauh dari pemukiman para penduduk.
Setiba di tempat di sebuah tepian air sungai yang ada air terjunnya yang cukup tinggi, ki Parta menyuruh Toglo untuk melakukan meditasi di dalam goa di balik air terjun itu sampai matahari terbenam.
"Langkah pertama kamu harus melakukan pembersihan diri dari aura negatip dengan cara bermeditasi di balik air terjun itu, apa kamu sanggup." Ujar ki Parta.
Toglo menatap ke arah air terjun itu lalu berkata.
"Bagus, kamu harus pokus dan mengosongkan pikiranmu dari hal-hal duniawi, apapun nanti godaan yang datang padamu kamu harus kuat dan tetap bertahan, jangan buka matamu sebelum aki datang menjemputmu, sekarang kamu berenanglah, dan masuk kedalam goa di balik air terjun itu." Jelasnya ki Parta.
"Baik ki."Jawab Toglo.
Dengan mengucapkan bismilah hirohman ni rohim, Toglo melompat keatas permuka'an air telaga, lalu berenang mendekati air terjun itu, setelah itu Toglo naik ke atas batu dan masuk ke dalam goa, lalu duduk bersila dengan kedua tangan di letakan di atas ke dua pahanya, perlahan Toglo memejamkan kedua matanya, dan membersihkan pikiran dari hal duniawi.
Sedangkan ki Parta beranjak pergi dari tempat itu untuk kembali ke rumahnya.
Setelah ki Parta beranjak pergi dari tempat itu, suasana di telaga berubah yang tadinya tenang, kini menjadi mencekam dan menyeramkan, air yang jatuh dari atas pun kini serasa kencang seperti sebuah banjir bandang yang sangat besar, dan air di dalam telaga kini meluap penuh dan merendam mulut goa, di mana Toglo lagi melakukan meditasi.
Tubuh Toglo kini sudah mulai terendam oleh air telaga yang terus naik hanya kepalanya saja yang nampak muncul di permuka'an air, tapi sedikitpun Toglo tidak goyah ia tetap terus bertahan, hingga sampai waktu kira-kira satu jam Toglo di rendam oleh air telaga dan pada akhirnya air telaga pun langsung surut dengan cepatnya.
Mungkin itu suatu ujian bagi Toglo yang lagi menjalani tahapan untuk menyerap ilmu dari ki Parta.
Selepas Toglo di rendam air telaga, nampak dari dalam goa yang di pakai Toglo bermeditasi ada suara mendesis mendekati Toglo ber'ekor panjang, dan bersisik berjalan melingkari Tubub Toglo, dengan lidahnya me julur-julur seperti ingin menelan kepala Toglo hidup-hidup, seperti di ujian pertama Toglo tetap kuat dan bertahan, pokus pada ajaran yang telah ki Parta amanatkan, lama-kelama'an sang ular pun melorot memudar dari lingkarannya yang melilit tubuh Toglo lalu pergi menjauh meninggalkan Toglo.
Ujian kedua telah berhasil Toglo lewati.
__ADS_1
Selang beberapa menit kemudian, Terdengar suara lirih memanggil Toglo.
"Wan Wanda, tolongin aku Wanda." Panggil suara yang tidak asing lagi di kedua kupingnya Toglo.
Suara itu terdengar jelas di kedua telinganya Toglo, Suara memanggil dari sang kekasih, Toglo sempat berpikir. "Bukan kah itu suara Wulan." Batin Toglo bermonolog.
Lalu batin Toglo ingat akan apa yang telah di amanatkan oleh ki Parta, apa pun yang datang kepadamu itu semua coba'an untuk menguji mental. Setelah itu Toglo langsung pokus pada meditasinya, air yang jatuh dari atas seakan menjadi saksi, bahwa di curug Rawan ada seorang pemuda yang lagi bermeditasi untuk menyerap tenaga inti alam.
Berbagai halangan dan rintangan telah Toglo lalui dengan sangat mulus, sehingga matahari pun kini telah condong ke arah barat yang sebentar lagi hari akan berganti dengan kegelapan di mana seluruh mahluk khususnya manusia akan melakukan istirahat, seteleh seharian penuh beraktivitas.
Lima menit sebelum adzan maghrib berkumandang ki Parta datang untuk membangunkan Toglo dari semedinya. lalu duduk bersila di tepian telaga, di pejamkan matanya, kemudian ki Parta mengirimkan gelombang tenaga dalam, sebuah cahaya putih ungu keluar dari tubuh Ki Parta dan melesat ke arah Toglo yang lagi bersemedi.
Dan setelah itu Ki Parta berbisik dengan suara dari dalam batinnya.
"Bangun nak, kini semedi mu telah lulus."
Toglo yang masih dalam posisi bersemedi, mendengar lirih suara yang bergeming di telinganya, perlahan Toglo membuka kedua kelopak matanya, nampak samar-samar netra Toglo melihat ke arah tepian telaga, walau terhalang oleh air yang berjatuhan dari atas, ki Parta lagi duduk bersila menghadap ke arahnya.
Dengan sebuah ke kuatan yang telah masuk ke dalam tubuh Toglo, perlahan tubuh Toglo mengambang dari tempat duduk, lalu melesat terbang menyebrangi telaga masih dalam posisi bersemedi, dan turun di hadapan ki Parta dalam posisi saling berhadapan.
"Sekarang buka matamu lebar-lebar." Perintah ki Parta.
Toglo pun menuruti apa yang di perintahkan ki Parta, setelah Toglo membuka matanya, nampak ki Parta tersenyum ceria sambil berkata.
"Selamat nak, kini semua ilmuku telah kamu serap abis, biarpun usiamu masih muda, tapi kamu mempunyai jiwa yang kuat dan wadah yang cukup besar untuk menampung semua ilmu dalam tubuhmu." Jelas ki Parta.
Toglo lalu bersungkem pada ki Parta dengan berdujud di pangkuannya sang Guru.
"Terima kasih kakek Guru yang sudah menurunkan ilmu pada ku, harus dengan apa saya membalasnya." Ujar Toglo.
Kemudian Ki Parta, tersenyum sambil memegang kedua bahunya Toglo dan di angkatnya tubuh Toglo sambil berkata.
"Bangunlah nak, kamu jangan begitu, yang patut kamu sembah adalah Allah subhanahu wata'ala, aki hanya manusia biasa tempatnya salah dan lupa, ingat pesan dari aki, pergunakanlah ilmu yang kau dapat ini untuk menolong orang yang kesusahan dan yang membutuhkan pertolonganmu." Jelas ki Parta.
"Insa Allah ki aku akan selalu ingat pesan aki." Jawab Toglo.
Selepas itu Ki Parta dan Toglo beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menaiki jalan setapak yang berundak-undak.
Bertepatan dengan suara adzan maghrib berkumandang, Ki Parta dan Toglo telah sampai di depan rumahnya, lalu mereka langsung mengambil air wudhu untuk melaksanakan ibadah solat maghrib berjama'ah di sebuah musola, yang tidak jauh dari rumah, dan ki Parta sendiri yang memipin(imam) solat berjama'ah.
Selepas solat berjama'ah, ki Parta langsung memberikan nasi yang agak lembek seperti bubur, dan air putih hangat setengah gelas, untuk memberi masukan energi pada tubuh Toglo yang seharian mengosongkan perutnya di dalam goa.
Kini Toglo telah bisa menguasai seluruh ilmu ki Parta salah satu sesepuh di kampung Rawan yang sangat di percaya dan di jadikan tempat untuk berlindung dan meminta pertolongan.
__ADS_1
********
Bersambung.