SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 232


__ADS_3

Setelah itu Nandi, Sindi, Anggita dan Astuti memburu pada mobilnya untuk melanjutkan perjalanan pulang, sedangkan para famili Gang Si'iran mengikutinya dengan menaiki motornya masing-masing.


Sementara para Anggota Jendra cobert yang terluka oleh amukan Toglo dan kawan-kawan masih terbaring lemah tidak beradaya, sedangkan Handoko yang telah tewas tertusuk dahan kayu yang di lemparkan oleh Astuti masih menancap di perutnya.


Ricad yang sudah siuman dari pinsannya mulai menggerakan tubuhnya duduk selonjor sambil memegang kepalanya yang terasa sakit akibat terkena pukulan mautnya si Kidal.


"Punya ilmu apa orang yang bernama Nandi itu, setelah pukulannya mengenai kepala gue, serasa di sengat oleh ribuan tawon." Ujar Ricad sambil celingukan.


Lalu netranya Ricad sampai terbelalak kaget ketika melihat tubuh Handoko yang sudah terkujur kaku dengan sebatang kayu yang menancap di perutnya. Lalu ingatan Ricad di ingatkan pada tragedi tewasnya Rudy Gardan selaku Bosnya yang sudah lima belas tahun hidup sepahit semanis dengannya, harus tewas di tangan Anggotanya sendiri.


"Handoko mungkin kematianmu itu adalah karma atas apa yang telah kau perbuat pada Rudy Gardan, sekarang gue merasakan penyesalan yang amat sangat, kenapa gue harus percaya pada orang macam handoko seorang penjilat dan pengkhianat, maafin gue Bang Rudy gardan, gue sudah berkhianat padamu." Batin Ricad bermonolog.


Setelah itu Ricad beranjak berdiri dan berjalan terhuyung mendekati pada Handoko yang sudah terkujur kaku.


"Sekarang hancurlah sudah Jendra cobert, dengan hadirmu dalam tubuh Jendra cobert, selamat jalan Handiko meskipun otakmu penjilat dan bajingan, setidaknya Jendra cobert telah banyak meraih ke untungan karena kepintaran otakmu." Ujar Ricad sambil mengusap netranya Handoko yang melotot dan mendelik ke atas.


Sementara Nandi dan para famili Gang Si'iran masih dalam perjalanan menuju pulang ke rumah.


Sindi dan Anggita masih nampak lemah karena banyak berontak ke tika di bincang, apalagi Sindi yang hampir-hampiran mau di perkosa oleh Handoko si lelaki bajingan itu, tapi Alhamdulilah Sindi masih di beri perlindungan oleh Tuhan yang maha esa..


Tidak lama kemudian Nandi dan para famili Gang Si'iran telah tiba di rumah dengan selamat, nampak Buk Suminar dan Rendi yang di temani oleh Buk sari dan pak Dirman lagi menunggu di taman, yang kebetulan malam itu lagi purnama.


Nandi keluar dari mobil lebih dulu, lalu beranjak melangkah ke samping kiri untuk membuka pintu, Sindi dan Anggita keluar yang di tuntun oleh Astuti, dengan kondisi Sindi yang nampak lemah, lalu di bawa masuk ke dalam kamar.


Buk Suminar dan Rendi nampak bersedih melihat kondisi Sindi dan Anggita.


Setibanya di dalam kamar, Nandi langsung menelpon dokter langganannya untuk segera datang ke rumah perihal kesehatannya Sindi yang melemah, apalagi sindi lagi hamil lima bulan.


Sementara para famili Gang Si'iran, asik ngobrol di luar sambil menikmati secangkir kopi, di hiasi dengan gemericik air di kolam, dan ikan-ikan yang berenang beragam jenis dan warna.


Canda dan tawa selalu terlintas dalam obrolan mereka, apalagi sekarang semua sudah berkeluarga tinggal Toglo seorang.


"Ayo kita bersulam untuk keberhasilan the famili Gang Si'iran dalam membebaskan masalah Bos kita." Ujar Hasan.


"Ayo kita berdoa semoga Bos Nandi dan keluarga, dan kita semua selalu ada dalam lindungan Allah Swt." Celetuk Gito.


"Amiiiin." Jawabnya serempak.


Ketika mereka lagi asik, terdengar suara klakson dari kendaraan yang di kemudinya.


Lalu Toglo memburu pada pintu gerbang dan bertanya.


"Ayo pak silahkan masuk, dengan Dokter Ridwan ya." Sapa Toglo.


"Iya Nak." Jawabnya singkat.


"Ooh iya pak Dokter, sudah di tunggu dari tadi." Ujar Toglo.


Dokter Ridwan pun langsung bergegas masuk, untuk memenuhi panggilannya dari Nandi, mengecek kesehatan kandungan Sindi.


"Assalam mu'alaikum." Sapa Dokter Ridwan.


"Wa alaikum salam, ayo masuk." Jawab Nandi.

__ADS_1


Dokter Ridwan langsung membuka peralatannya, untuk mengecek kesehatannya Sindi


Lima belas menit kemudian. "Istri Bapak kecapean, darahnya di bawah normal, dan harus banyak istirahat, perihal kandungannya yang sudah mulai membesar, ini saya kasih obat dan vitamin untuk kesehatan kandungannya, tolong di perhatikan pola makannya yang teratur ya." Ungkap Dokter Ridwan.


"Baik Dok, terima kasih, ma'af saya sudah menggangu waktu istirahatnya." Ujar Nandi.


"Iih pak Nandi ini kaya sama siapa saja, saya ini kan Dokter yang selalu siap melayani masyarakat yang membutuhkan pertolongan saya." Ujar Dokter Ridwan.


Setelah itu Dokter Ridwan pamit untuk pulang, karena waktu malam yang sudah menunjukan pukul 22:30 menit.


...............


Ke esokan harinya.


Cuaca di kota Bandung nampak cerah, hiruk pikuk kendara'an dijalan sudah mulai padat, lalu lalang orang-orang di pinggiran trotoar jalan sudah nampak terlihat untuk memulai lagi kehidupan dengan beraktivitas dari yang kerja buruh sampai kerja kantoran, begitulah kehidupan para makhluk penghuni planet bumi.


Sementara Toglo setelah mengantarkan Wiwin sekolah, ia langsung meluncur ke gang Dukuh untuk menemui Jaroni, perihal Jaroni ingin belajar bela diri, karena dari pengalamannya dulu dirinya yang hampir tewas karena tidak bisa membentengi badannya dari prilaku orang-orang durjana.


Tidak lama kemudian Toglo telah sampai di depan rumahnya Jaroni, rumah kecil dan sangat sederhana sekali, beratapkan Asbes dan dindinnya terbuat dari triplek yang nampak sudah lapuk dan mengelupas.


Tok


Tok


Tok


"Assalam mu'alaikum, Jar, Jaroni." Panggil Toglo.


Tidak lama lagi terdengan suara menjawab.


Pintu pun terbuka bersamaan dengan munculnya Jaroni. "Toglo, lo' tidak nganterin adikmu sekolah?." Tanya Jaroni.


"Sudah, ini saya pulang dari sekolah langsung belok ke sini, gimana kamu jadi gak nanti, ke kampung Rawan?." Toglo balik bertanya.


"Iya jadi atuh." Tukas Jaroni


"Oke, kalau begitu sepulang kerja kita langsung meluncur ke kampung Rawan gimana." Ujar Toglo.


"Okee siip."


Setelah itu mereka berdua langsung meluncur ke tempat kerjanya, Jaroni ikut di bonceng menaiki sepeda gunungnya Toglo.


Mereka memang teman seperjuangan ketika waktu masih berusia sepuluh tahun, menjadi pemulung barang bekas, kini tuhan telah mempertemukan kembali setelah sekian lama antara Toglo dan Jaroni berpisah.


Gurauan antara mereka berdua terus mengiringi dalam perjalanannya. Sehingga tidak terasa saking asiknya mereka bercanda sudah sampai di tempat tujuan.


Jaroni rurun di depan kedai, seperti biasa membantu Mira dalam melayani para konsumen yang sebentar lagi akan berdatangan memenuhi ruanga di kedai.


Sementara Toglo langsung bablas menuju bengkel untuk menyiapkan segala peralatan dan menata kursi-kursi buat duduk para pelanggan.


Singkat cerita.


Pukul 16:00, semua karyawan Pt Anggita Surya Mandiri telah pada bubar.

__ADS_1


Sementara Toglo berjalan menemui Wawan di lapaknya pak Dirman.


"Wan abang gak pulang dulu, mau mengantarkan dulu Bang Jaroni." Ujar Toglo.


"Oh tidak apa-apa Bang." Ujar Wawan.


"Bilangin ya sama nenek dan dek Wiwin, paling abang pulangnya agak malam." Ujar Toglo


"Iya Bang, abang hati-hati di jalannya." Tukas Wawan.


Selepas itu Toglo dan Jaroni langsung berangkat pergi mengantarkan Jaroni ke kampung Rawan.


Toglo mengayuh sepedanya menelusuri jalan Gang kecil setelah keluar dari Gang Si'iran.


Tidak lama kemudian, Toglo dan Jaroni telah tiba di depan rumahnya ki Parta.


Lalu Toglo dan Jaroni turun dari sepeda, dan melangkahkan tungkai kakinya mendekati sebuah pintu.


Tok


Tok


Tok


"Assalam mu'alaikum." Sapa Toglo menatap pada pintu tersebut.


Tidak lama kemudian pintu pun terbuka perlahan bersama'an dengan munculnya seorang kake tua berjanggut putih.


"Eeh nak Toglo, ayo masuk." Sambut ki Parta


Toglo dan Jaroni mulai melangkah memasuki rumah ki Parta, lalu duduk beralaskan tikar, lalu ki Parta memanggil pada istrinya yang lagi berada fi ruang brlakang.


"Nek tolong bawakan air minum sini." Panggil ki Parta pada istrinya.


"Iya ki sebentar." Jawabnya.


Setelah itu si nini datang dengan membawa teko dan tiga gelas.


Lalu ke tiga gelas tersebut di isi oleh air dari sebuah teko.


"Silahkan di minum nak Toglo, dan......" Ujar Si nini tidak di terusin.


Lalu Jaroni mengerti dan berkata.


"Kenalin saya Jaroni, temannya Toglo." Ujar Jaroni menyebutkan namanya.


Kemudian Toglo menceritakan kedatangannya, mengantarkan Jaroni untuk belajar ilmu bela diri Cimande.


Pukul 18:30.


Selepas ki Part a, Toglo dan Jaroni melaksanakan ibadah solat maghrib. Kiparta langdung membawa Jaroni dan Toglo ke sebuah tempat yang biasa di gunakan untuk latihan bela diri silat Cimande.


Sedangkan Toglo duduk di bangku sambil melihat Kiparta mengajarkan jurus-jurus bela diri Cimande pada Jaroni.

__ADS_1


Karena tekadnya Jaroni yang kuat dengan ke inginannya ingin bisa bela diri, semua gerakan yang di peragakan oleh ki Parta bisa ditangkapnya oleh Jaroni, meskipun masih belum begitu sempurna, ki Parta pun memakluminya, karena sudah biasa bila yang masih pemula dan belum punya dasar bela diri, setidaknya membutuhkan waktu yang lama menuju pada tahap sempurna.


__ADS_2