
Nandi dan kawan-kawan lalu keluar dari area pergudangan tersebut, dan mereka pun kini sudah melajukan kendara'annya di jalan mengkudu raya.
Pukul 23:37 menit.
Nandi dan kawan-kawan sudah mulai me masuki jalan delima, jalanan pun sudah mulai agak sepi hanya beberapa kendara'an yang nampak terlihat masih melintas, suara bising kenalpot terasa nyaring sekali di malam hari.
Treng teng treng teng treng teng.
Anak-anak tongkrongan yang biasa mereka selalu keluar dan meramaikan suasana di malam hari, dengan bermain guitar sambil meneguk kopi hitam dan makanan cemilan selalu tegur sapa pada kawanannya Nandi.
Siapa yang tidak kenal dengan anak-anak gang si'iran, apalgi Nandi yang sangat di kenal dengan si kidal sang penolong dan ke empat sahabatnya, Kamal, Pandi, Hasan dan Gito, apalgi sekarang ini ditambah pamili baru yaitu Doni dan Toglo.
Tidak lama kemudian Nandi dan kawan-kawan telah sampai di gang si'iran, tepatnya di rumahnya Nandi, Ke empat kendara'an tersebut telah terparkir di depan kedainya Nandi, nampak Hasan dan doni yang baru saja istirahat karena sebelumnya banyak pengunjung yang minum-minum di kedai kopi.
Nandi dan kawanannya serta Bobdan yang di tuntun oleh kamal langsung masuk ke ruangan di kedai kopi.
''Assalam mualaikum.'' Sapa Nandi.
Hasan dan Doni pun langsung menjawab.
''Wa alaikum salam.''
''Wah dapet juga tuh, orang pengecut, hai bang kalau lelaki jentel langsung datang sendiri jangan pake bayar orang segala, coba lo' gunakan akal sehatmu, duit segitu kalau buat anak bini gak akan habis sebulan bang.'' Berkata Hasan pada Bondan.
Bondan hanya tertunduk, mungkin merasa malu ataukah takut sama kawanannya Nandi.
Kemudian setelah beberapa menit Nandi pun mulai melakukan pertanya'an-pertanya'annya pada Bondan.
''Apa yang di bilang Hasan itu benar, gua mau tanya sama lo bang, apa maksud lo' membayar Gery untuk membuat keributan disini, jawab dengan jujur?.'' Tanya Nandi pada Bondan.
Untuk sementara Bondan belum bisa memberikan jawabanya pada Nandi, Bondan hanya terdiam sambil menundukan kepalanya.
''Owh gak berani bicara rupanya, Toglo.'' Panggil Nandi.
''Iya bang.'' Saut Toglo.
''Coba lo buka mulutnya supaya mau bicara.'' Ucap Nandi.
Toglo lalu beranjak dari tempat duduknya, kemudian Toglo melangkah mendekati pada Bondan.
''Sebelum, gua menyakti abang, gua kasih dulu abang untuk berpikir.'' Ujar Toglo.
Bondan nampak memerah mukanya seperti merasa di lecehkan oleh anak kemarin sore, kemudian Bondan baru mengangkat mukanya yang tadi terus menunduk dan berkata.
''Oke gue akan bilang jujur,, asal kalian tau, terutama lo' Nandi, gue memang iri atas keberhasilanmu, dan gue memang yang telah membayar Gery untuk membuat keributan.'' Ujar Bondan.
Kemudian Nandi pun berdiri, dan mengangkat jempol atas ke jujurannya Bondan.
__ADS_1
''Ini baru gua suka, tanks ya bang lo' sudah jujur, sekarang gua mau tanya lagi, kenapa lo' sampai punya hati begitu sama gua, kan letak kita berjauhan bang, lo' dijalan delima sedangkan gua di gang si'iran?.'' Tanya Nandi.
''Karena pelanggan gue banyak pindah ke lo' di.'' Ujar Bondan.
''Asa lo' tau ya bang, gua gak pernah paksa seseorang untuk menjadi pelanggan gua, dan gua gak pernah jatuhin harga dan biaya oprasional, malahan di gua lebih mahal ketimbang di tempat lo, coba lo tanya pada Kamal, iya kan mal.'' Ucap Nandi sambil menoleh pada Kamal.
''Iya betul bang Bondan, yang gua tau lo' tuh terlalu pelit pada pekerja lo' sehingga kinerja dari pekerja lo' jadi kurang bagus dan epeknya ya ke elo' juga.'' Ujar Kamal.
''Kamal elo' tau dari mana? so' tau lo'.'' Ujar Bondan.
Kamal kemudian berdiri.
''Dasar kuya tidak merasa atas kekuranganmu, gua gak mungkin ngomong kalau tidak mendengar langsung dari mulutnya si bokir pekerja lo' yang keluar, yang gua tau bokir mekanik handal dia cukup apik dalam bekerja, karena merasa tidak puas dengan upah yang lo' berikan akhirnya dia pindah ke luar kota, buka usaha sendiri.'' Ujar Kamal.
Bondan tidak berkata setelah kamal menjelaskan ucapannya itu
''Giliran bayar preman lo' gampang, dasar pengecut lo'.''
Jekuuukkk.
Aauugghhh...Bondan langsung jatuh dari tempat duduknya Karena Pandi menjotos pelipisannya Bondan, dan bondan pun meringis kesakitan, baru aja reda rasa sakit diwajahnya bekas pukulan Nandi sudah ditambah lagi oleh Pandi.
''Rasain lo' itu cuma ucapan peringatan aja dari gua.'' Ujar Pandi.
melihat Bondan begitu, Nandi tidak tega, kemudian Nandi melerai amarah para sahabatnya itu.
''Sudah-sudah, biarpun gua masih gedek tapi gua gak tega melihatnya, sekarang lo' pulang anak binimu menanti di rumah, masih untung gua gak bawa lo ke kantor polisi, sekali lagi lo' melakukan hal yang sama, gua tidak akan memberimu ampunan lagi, akan gua sered lo ke penjara, karena ulahmu sudah bikin resah karyawan gua.'' Ujar Nandi.
Pandi pun langsung berdiri dari tempat duduknya, lalu melangkah mendekati Bondan.
''Owh jadi lo' dendam sama gua, oke gua tunggu sembuhkan dulu luka-lukamu, setelah itu baru lo' tentukan mau dimana kita selesaikan masalah ini.'' Tantang Pandi.
Nandi pun langsung beranjak dari tempat duduknya.
''Sudah-sudah, kenapa kalian jadi ribut sesama anak gang si'iran sih, dan lo' Bondan kalau emang punya masalah janganlah libatkan orang lain, jangan jadi pengecut lo'.'' Ucap Nandi.
Bondan tidak berkata apa-apa, ia langsung beranjak pergi dan memburu pada motornya, ketika bondan sudah menaiki motornya, nampak terlihat oleh Pandi dan semua yang ada di situ Bondan menoleh pada Pandi dengan tatapan penuh kebencian.
''Kenapa lo' lihatin gua kaya gitu, gua akan tunggu apapun keputusanmu, sekarang pulanglah anak binimu menanti di rumah.'' Celoteh Pandi.
Bondan pun langsung menyalakan motornya, kemudian motor melaju meninggalkan Nandi berserta para sahabatnya.
Malampun kini semakin larut, Kamal dan sahabatnya Nandi yang lainnya, beristirahat di ruangan kedai, sedangkan Nandi sudah melangkah pulang ke rumah yang tidak jauh dari kedai, kemudian Nandi membuka kunci pintu gerbang, lalu Nandi menuju pada pintu kemudian di masukan sebuah kunci.
Ceklek ceklek.
Sebuah kunci terbuka, dan Nandi pun mendorong pintu tersebut, lalu Nandi masuk dan menuju pada kamarnya, Nampak terlihat oleh Nandi Sindi dan Anggita susah tertidur pulas, lalu Nandi memberikan ciuman pada kening Sindi dan Anggita eka putri, dan Nandi pun merebahkan tubuhnya di kasur di samping anaknya, rara kantuk kini sudah mulai menyerang Nandi hingga tidak terasa Nandipun sudah terlelap dalam tidurnya, karena kecapean, seharian kerja, di tambah mencari Bondan sampai menguras tenaga dan pikirannya.
__ADS_1
Ke esokan harinya.
Tatkala matahari sudah memancarkan sinarnya untuk menerangi bumi, Nandi sudah duduk santai di taman di samping rumahnya sambil menikmati secangkir kopi dan hembusan asap putih yang keluar dari mulutnya Nandi mengiringi dalam setiap seripitan-seripitan kopi hitam.
Ketika itu datang Sindi membawa nampan yang berisi makanan dan susu capucino.
''Biar lengkap ngopinya, ini makanan cemilannya aa.'' Ujar Sindi.
''Nah ini baru ngopi, makasih ya sayaang.'' Saut Nandi.
''Ooh iya, bagaimana masalah sama Bondan itu sudah kelar?.'' Tanya Sindi.
''Alhmadulilah sudah beres, intinya Bondan ngiri sama kita, ya gua juga heran dan tidak habis pikir dengan sikapnya dia, coba uang segitu kalau buat gaji karyawannya atau buat tambah modal kan lumayan bisa dapat untung.'' Jelasnya Nandi.
''Iya sih, yang penting aa tetap sabar ya meski banyak ujian dan goda'an yang merongrong usaha kita.'' Nasehat Sindi.
''Iya sayang, makasih ya sudah perhatian padaku.'' Ujar Nandi.
''Iya sama-sama, kita kan suami istri sudah seharusnya di antara kita saling ingetin, karena manusia itu tidak diam di satu martabat.'' Ucap Sindi.
Setelah itu Nandi dan Sindi di kagetkan dengan kedatangannya Anggita, yang baru bangun dari tidurnya.
''Ayah sama mamah ko ga bangunin gita sih.'' Ucap Anggita.
''Bukan begitu sayang, tadi kan gita lagi tidur pulas, gak mungkin dong ayah sama mamah gangu tidurmu.'' Ujar Nandi.
''Iya sayang, ayah benar.'' Celoteh Sindi.
''Anak pintar, tapi masih bau jigong, iih jorok, mandi dulu ya sama mamah.'' Perintah Nandi.
''Iya ayah.'' Saut Anggita.
Setelah itu Sindi pun beranjak dari tempat duduknya mau membawa Anggita ke kamar mandi, untuk membersihkan badannya, dan Nandi hanya tersenyum manis ketika putrinya berkata.
''Ayah aku mandi dulu ya.'' Ucap Anggita.
''Iya sayang,, muuuaacchhh.'' Ujar Nandi sambil mencium pipi Anggita.
Selang beberapa menit kemudian Toglo datang, untuk mengambil kunci.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bersambung.
Terima kasih atas dukungannya, semoga sehat-sehat dan sukses selalu, mohon ma'ap atas segala kekurangannya.
Jangan lupa sertakan like, comentar, jadikan favorit bila suka, dan berikan vote nya serta hadiah.
__ADS_1
Salam sejahtera
''Assalam mualaikum''