
Waktu siangpun terus berlalu, jarum jam sudah menunjukan pukul 12:30, nandi dan kedua karyawannya sudah menuju ke masjid untuk melakukan ibadah solat duhur.
Sepulang dari masjid nandi sudah bersiap-siap mau on the way ke tempat gurunya abah haji mansur yang letaknya lumayan sangat jauh diluar kota itu, di dalam perjalanannya nandi ditemani oleh sindi, astuti dan kamal, sedangakan hasan ditempatkan dibengkel yang kebetulan nandi menerima karyawan baru masih anak gang si'iran juga, jadi hasan bekerja tidak sendiri.
Doni adalah nama karyawan barunya nandi, dia orang lama bagi nandi, doni dulunya teman nandi waktu masih duduk dibangku sekolah menengah atas, doni kerja keluar negri diperusaha'an yang memproduksi sperpark kendara'an roda dua, doni pulang ke indo karena kontrak kerjanya sudah habis.
Terus doni main ketempat nandi karena kangen ingin jumpa teman lamanya yaitu nandi suryaman
Kedatangan doni tepat dengan niat nandi mau otw ketempat gurunya.
Donipun tidak nyangka bahwa temannya itu bisa berhasil dalam usahanya didunia otomotip.
Nandi juga banyak bertanya pada doni masalah pengalamannya doni selama diluar negri.
Mendengar cerita pengalamannya doni, nandi tertarik pada doni, ditambah doni ingin mencari pekerja'an di daerahnya sendiri, terus nandi menawarkan pekerja'an pada doni dengan upah yang tidak terlalu besar, dan donipun mau sekalian ingin menambah wawasan dalam dunia otomotip, karena doni cuma tau kualitas dan harga barang saja, sedangkan dalam kinerja dilapangan iapun belum berpengalaman.
Hasan yang kini memberi pengarahan pada doni dari cara-cara kerja dilapangan.
Pertamanya doni rada kaku karena belum terbiasa kerja dengan keringat membasahi seluruh tubuhnya, ditambah harus belepotan dengan oli.
.....................
Sementara nandi yang sudah melakukan perjalanannya, keluar kota, nandi sengaja dalam perjalanannya menggunakan kendara'an roda dua, alasannya supaya bisa mempermudah dalam perjalanannya, karena jalur yang nandi lalui selalu rawan macet.
Nandi uang berboncengan dengan sindi, sedangkan astuti motornya dkemudikan oleh kamal.
Kini kedua motor terus melaju menyusuri medan jalan yang tidak terlalu besar ditambah banyak tanjakan dan turunan dan kelokan juga, nandi dan kamal sangat menyukai medan jalan yang penuh dengan tantangan, tapi sindi yang ketakutan bila dbonceng, dengan eratnya sindi memeluk nandi, Kamal dan astuti yang memperhatikannya dari belakang tertawa melihat sindi yang seperti anak kecil yang baru pertama kali naik motor.
''Hahaha... Coba lo lihat tut, sindi seperti takut begitu.'' Ucap kamal bernada kencang.
''Ya iyalah, jangankan teh sindi, gue aja takut bila berboncengan sama aa nandi.'' Teriak astuti.
''Ternyata kalian sama-sama penakut.'' Teriak kamal.
''Aa kamal belum ngerasain bila dibonceng sama aa nandi, kaya apa ngejalanin motornya.'' Jawab astuti.
'' Iya sih gua juga pernah dibawa nandi, tapi gua biasanya aja sih.'' Ucap kamal.
Kamal dan astuti saling canda, astuti seumur hidup baru kali itu berboncengan dengan kamal ternyata biarpun kamal orangnya gampang naik darah tapi mrnurut pandangan astuti, ternyata kamal asik juga bila bila lagi bareng sama astuti.
Kamal terus tarik gas pool, untuk mengejar nandi, sesekali nandi kesalip juga sama kamal, berhubung sindi yang berteriak-teriak dan nyubitin pinggangnya nandi karena takut dibawa dalam keadaan kecepatan yang maximal.
Kini kamal berada paling depan, nandi hanya tersenyum sambil berbicara sama sindi.
''Tuh kamal kenceng juga bawa motornya.'' Ucap nandi.
''Iya tapi astuti kayanya nyantai-nyantai aja.'' Balas sindi.
''Iya kan astuti juga sangat bengis bila lagi bawa motor.'' Kata nandi.
''Iya, tapi beda aa bila dibawa orang mah suka takut, oh iya emang kamal tau tempatnya, ko jalannya semakin kenceng begitu.'' Ucap sindi.
''Entahlah, gua juga belum pernah bawa kamal sebelumnya.'' Jawab nandi.
Nandi terus tancap gasnya, motor kini melaju dengan kecepatan yang maximal, dijalanan yang mulai menanjak dan belokan kiri kanan, sangat indah bila dilihat dari atas liukan-liukan motor saat melalui jalanan yang berbelok dengan asap putih yang mengepul keluar dari selongsong kenalpot motor yamaha rx king.
Kini nandi sudah menyalip lagi kamal, dindi yang terus erat memeluk nandi dari belakang sambil memejamkan matanya, karena ngeri dengan kecepatan motor yang nandi kendalikan.
Satu jamnkemudian nandi sudah mulai memasuki pondok pesantren haur koneng, Nampak anak-anak pondok lagi pada memasak dipnggir kobongnya masing-masing.
Begitulah kebiasa'an anak-anak santri pada ngeliwet untuk persiapan makan sore dengan lauk pauk seadanya ditambah lalapan daun-daunan yang dimasak dtumpuk diatas nasi.
Anak santri yang sudah lama tinggal dipondok, begitu melihat kedatangan nandi langsung tegur sapa pada nandi dan kamal, astuti beserta sindi.
''Bang nandi...'' Sapa anak santri tersebut.
Nandipun menoleh dengan melambaikan tangannya, lalu turun dari motor nya sambil mengucapkan salam.
''Assalam mualaikum adik-adiku.'' Sapa nandi mengucapkan salam.
''Wa alaikum salam bang, gimana kabar abang, katanya abang sudah menjadi pengusaha yang sukses.
''Alhamdulilah kabar abang baik, ya biasa aja sih cuma ada lebihnya huat impak, oh iya, kenalkan nih, ini adik abang astuti, dan yang ini sindi sama kamal sahabat abang.
__ADS_1
Kamal, astuti dan sindipun saling mengenalkan dirinya masing-masing kepada semua santri yang ada distu.
Selepas itu nandipun mohon undur pada santri-santri untuk menemuai sang guru abah haji mansur dikediamannya yang tidak terlalu jauh dari pondok tempat anak-anak santri itu berada.
Setibanya didepan halaman kediamannya abah haji mansur, nandi beserta yang lainnya lalu memasuki teras depan rumah menuju pintu depan.
Tok tok.
''Assalam mualaikum.'' Ucap nandi mengucapkan salam.
Perlahan terdengar membalas salamnya dari nandi, dengan suara orang yang sangat berpengaruh, dan bijaksana.
''Wa alaikum salam.'' Dari dalam.menjawab, sambil membukakan pintu.
Rekeeettt.
Suara pintu mulai terbuka perlahan lahan, terus keluar sosok laki-laki setengah baya, dengan pakaian jubah berwarna putih dengan melingkar sebuah topi diatas kepalanya, orang itu langsung menyapa nandi, astuti, sindi dan kamal.
''Waah rupanya kamu nandi, dikira siapa.'' Sapa orang tersebut yang tak lain adalah gurunya nandi yaitu abah haji mansur.
Nandipun langsung bersalaman dengan mencium tangannya abah haji mansur, yang di ikuti oleh astuti, sindi dan kamal.
''Ayo silahkan duduk, nandi, nak astuti, neng sindi sama jang kamal.'' Ucap abah haji mansur sambil memanggil pegawainya.
Pegawainya pun langsung terburu-buru untuk menghadap sama abah haji mansur.
''Iya bah, ada apa?.'' Tanya pegawaing abah haji mansur.
''Ambilkan air minum untuk tamu kita ini.'' Jawab bah haji mansur.
''Baik bah.'' Jawab pegawainya langsung pergi keruang belakang, untuk mempersiapkan makanan dan minuman untuk nandi dan yang lainnya.
Setelah semua siap untuk diantarkan, Pegawai abah haji mansur langsung meluncur yang dibantu oleh asistennya, keruang tempat penerima tamu.
Kedua pegawai abah haji mansur langsung menyimpan nampan yang berisi air minum, terus ditaro satu persatu dihadapan nandi, astuti, sindi dan kamal beserta abah haji mqnsur sendiri.
Ditambah makanan dan buah-buahan.
Sementara nandi merenung sebentar, seperti lagi mengingat-ngingat wajah pegawai abah haji itu.
''Ooh iya, sekarang ku ingat, ini dadin kan?.'' Tanya nandi.
''Tepat sekali bang, ternyata abang masih ingat sama saya.'' Jawab pegawai yang bernama dadin itu.
''Ya lupa-lupa ingat sih, ku ingat waktu main bola di area pesawahan yang kekeringan itu.
''Iya benar, waktu berantem sama anak kampung itu, ternyata abang nandi ini jago berantem juga.'' Ucap dadin sambil melihat pada kamal.
''Wah kamu mah suka berlebihan, jangan percaya mal dadin suka ditambahin.'' Saut nandi.
''Gua percaya sih, kalau ucapan kang dadin ini gak bohong.'' Pungkas kamal.
''Wah lo sama aja mal kaya dadin.'' Ucap nandi.
Setelah itu dadin dan temannya, bergegas pergi lagi kebelakang, karena takut mengganggu obrolannya nandi sama abah haji mansur.
''Abah mau tanya sama kamu nandi, apa kalian ada perlu yang lain atau mau silaturahmi aja sama abah?.'' Tanya abah haji mansur.
''Dua-duanya bah haji, pertama ku mau nanyain kabarnya ujang komar, gimana sudah ada perkembangannya belum?.'' Tanya nandi.
''Alhamdulilah nandi dalam waktu tiga minggu ini, orang yang kamu bawa itu, sudah ada kemajuan, minggu pertama dia ngamuk, kobong tempat mengurung dia sampai acak-acakan diamuknya, semua santri hampir kewalahan untuk melumpuhkannya, dalam minggu kedua abah selalu menemani dia dan terus memberi pengarahan, tapi itupun tidak lepas dari ramuan obat untuk mengingatkan memorinya yang telah ruksak.'' Jawab abah haji mansur.
''Syukur kalau begitu, saya merasa senang bah haji, kasihan melihat kang ujang komar bila terus-terusan menderita begitu kasihan anak-anaknya masih pada kecil, dan masalah biaya perawatannya bah berapa, saya mohon sama abah pulihkan kembali ingatannya.'' Ucap nandi.
''Ya mempunyai kesembuhan itu hanyalah allah nandi, abah cuma bikin jembatan penghubung saja, abah akan berusaha semaximal mungkin, yang terbaik demi kesembuhannya ujang komar.'' Ucap abah haji mansur.
''Iya abah haji, ku juga paham semua itu berkat allah subhanahu wata'ala, semoga lewat abah haji kang ujang bisa pulih seperti sedia kala.'' Ucap nandi.
''Amiin, semoga aja allah mengabulkan niat baikmu, abah bangga padamu, sebagai murid abah ternyata kamu sudah bisa menjalankan semua yang abah wejangkan.'' Kata abah haji mansur.
''Ngomong-ngomong ibu haji kemana bah?.'' Tanya nandi sambil mengambil segelas air minum.
''Ooh iya abah samapi lupa, ibu pergi ke ketempat anak abah yang ada disukabumi, dari kemarin siang berangkatnya, biasa kangen katanya ingin jumpa sama cucu.'' Jawab abah haji mansur.
__ADS_1
''Ooh, jadi teh wulan dapat orang sukabumi.'' Ucap nandi.
''Iya, ya kenalnya waktu mondok dipesantren di garut.'' Ucap abah haji mansur.
''Syukur atuh bah.'' Ucap nandi.
''Terus kamu sendiri kapan mau nikah nandi?.'' Tanya abah haji mansur.
''Iya niat sih sudah ada bah, cuma ku masih belum siap, masih banyak yang harus ku jalani.'' Ucap nandi.
Sekian lamanya nandi ngobrol sama abah haji mansur, hingga waktu asar pun sudah tiba, dan suara penyeru bagi umat muslim telah berkumandang dimasjid yang ada dipondok pesantren haur koneng.
Nandi dan kamalpun bergegas pergi kemasjid bersama abah haji mansur untuk melakukan solat asar berjama'ah.
Sedangkan astuti dan sindi melaksanakan solat dimadrasah tempat tempat para santri-santri wanita.
Selepas mereka melakukan ibadah solat asar, abah haji mansur menyuruh nandi dan yang lainnya, untuk makan bersama, yang telah dipersiapkan di ruang makan.
Nandi, kamal, astuti dan sindi langsung menuju keruang makan, terus mereka duduk bersila dilantai yang beralaskan permadani.
''Ayo silahkan dimakan.'' Ucap abah haji mansur.
Astuti langsung menuangkan nasi kepiring-piring yang sudah tersedia dan terus diserahkan pada nandi, kamal, sindi dan abah haji mansur.
Setelah itu mereka mengambil lauk pauknya secara bergiliran.
Angin semilir masuk menembus keruang dimana mereka lagi melakukan makan bersama, sehingga menambah nikmatnya suasana makan bersama mereka.
Setelah mereka selesai makannya, nandi dan kawan-kawan lalu bergegas keluar dari ruangan tersebut, untuk mencari angin segar disore hari.
Pemandangan yang indah nampak terlihat dari ketinggian, karena letak pondok haur koneng berada diatas dataran yang tinggi.
Sebatang roko telah dinyalakannya yang di ikuti oleh kamal, sesekali asap kental mengepul keluar dari mulutnya nandi dan kamal.
''Wah rasanya gua betah lama tinggal disini.'' Kata kamal.
''Iya sih, karena iklim disini masih alami, tidak ada polusi, apalagi kalau dipagi hari mal, udaranya enak sejuk.'' Ucap nandi.
''Terus lo sendiri, kenapa tidak tinggal lama waktu mondok disini?.'' Tanya kamal.
''Setelah gua mendapatkan ilmu dari sini, abah haji menyuruh gua untuk kembali ke kampung, katanya gua sudah waktunya menjalankan misi gua, menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan, abah haji berpesan pada gua, janganlah tinggalkan yang lima waktu, biarpun bandel kaya apa, ingat solat jangan pernah ditinggalkan.'' Ucap nandi.
''Terus pokonya lo mondok disini tujuan lo apa?.'' Tanya kamal.
''Ya gua ingin jadi orang yang baik dan bisa mengenal lebih dalam lagi dengan agama, karena lo juga tau sendiri, dijaman sekarang sudah jarang orang yang menjalankan apa yang diperintahkan oleh tuhan dan agamanya secara tulus dan iklas, karena jaman sekarang uanglah yang menjadi segalanya.'' Ucap nandi.
''Iya sih, tidak sedikit ditempat kita juga, pemuka agama yang menjual agama dan ilmunya hanya demi uang, contohnya para pendakwahpun sudah dtarip harganya sekian juta hanya dalam satu jam saja, padahal dijaman kanjeng nabi kita muhammad saw, dalam menyebarkan agamanya dengan tulus, biarpun nyawa jadi taruhannya.'' Saut kamal.
''Waah ternyata wawsan lo cukup dalam juga mal.'' Ucap nandi.
''Ya elah, gua juga ngaji kali.'' Jawab kamal.
''Iye iye, gua juga tau, kamal gtu loo.'' Ucap nandi.
''Tuh kan mulai dah, ngeledekin gua.'' Saut kamal
''Iya sori-sori bercanda juga, ya udah gak usah dibahas lagi, btw sindi dan astuti kemana, dari tadi kagak kelihatan.'' Ucap nandi.
''Tadi gua lihat kesana, katanya mau menikmati pemandangan disini.'' Saut kamal.
Selepas itu nandi dan kamalpun ikut gabung dengan sindi dan astuti, mereka selpi-selpi bareng disebuah situ yang dipinggirnya banyak dihiasi dengan bunga-bunga dan pohon-pohon yang membuatnya sejuk dan adem.
⭐⭐⭐⭐⭐♤♤♤♤⭐⭐⭐⭐⭐
Bersambung.
Ikuti terus kelanjutan kisahnya di episode selanjutnya.
Jangan lupa ya baginyang suka cerita ini, cukup dengan mendaratkan like, comentar, saran, favorit dan vote.
Terima kasih atas dukungannya, semoga sehat-sehat dan sukses selalu.
Selamat membaca.
__ADS_1