
Selepas kepergiannya Cemang dan kawan-kawan, Toglo kembali duduk merapat dengan Jaroni.
"Sepertinya mereka akan datang lagi dalam jumlah yang banyak." Ujar Jaroni.
"Sudah bisa di pastikan mereka pasti akan menuntut balas atas ke kalahannya." Tukas Toglo.
Lalu pemilik warung keluar dan ikut duduk bersama Toglo dan Jaroni.
"Saya jadi takut Bang, kalau mereka nanti akan bikin ke kacauan dan melampiaskan kekesalannya pada para pedagang." Ujar Pemilik warung.
"Mamang tidak usah takut, kalau pun nanti mereka datang, catat saja nomor saya mang." Timpal Toglo.
"Ya sudah kalau begitu bentar ya mamang ambil dulu ponselnya." Saut pemilik waring sembari melangkah masuk kedalam warung.
Kemudian Toglo pun memberikan nomor ponselnya pada pemilik warung.
Dan setelah itu, Toglo dan Jaroni meninggalkan pesan pada pemilik warung, andai para preman itu datang lagi dalam skala yang besar diminta untuk datang ke Gang Si'iran atau tunggu dan tentukan tempat untuk bertemu, begitu Toglo berpesan.
Toglo dan Jaroni meluncur dengan cepat menelusuri jalan Raya Kenanga, kemudian masuk Jalan Mengkudu yang tembusnya ke Jalan Delima raya.
Tidak lama kemudian Toglo dan Jaroni telah tiba di Gang Si'iran.
Sementara di tempat lain.
Cemang dan kawanannya, tiba di markas perkumpulannya lalu berjalan agak terhuyung menghadap pada Big Bos.
"Cemang elo' kenapa?." Tanya lelaki gagah dan berjambang.
"Celaka Bos, kita tidak bisa lagi mencari uang di lapak pasar kenanga." Jawab Cemang.
"Emangnya kenapa, terus kalian pada bonyok apa ada komplotan lain yang mengambil alih, berapa jumlah mereka sehingga kalian pada bonyok begitu?." Tanya Big Bos.
"Mereka cuma berdua Bos." Ujar Cemang.
Lelaki yang di panggil Bos tersontak dengan pasang muka garang sambil menggebrak meja.
Praaak
"Goblok kalian semua, cuma dua orang saja kalian pada bonyok begitu, tato aja di penuhi seluruh tubuh, payah payaah kalian semua." Bentaknya
Cemang dan kawanannya hanya tertunduk membisu merasa diri tidak bisa berbuat apa-apa.
"Sekaramg ayo serang dua orang itu, kita habisi, lo' panggil si Murdock, Murtado dan Mustab." Perintah sang Bos pada Cemang.
Cemang pun langsung beranjak mau pergi, tapi langkahnya mendadak terhenti.
"Lo' mau kemana?." Tanya sang Bos.
"Ya mau panggil kang Murdock, kang Murtadao dan kang Mustab Bos." Jawab Cemang.
"Dasar Boodoooh, gue suruh lo panggil pakai ponsel genggamu." Bentaknya.
"Ba, ba ba baik pak Bos." Ujar Cemamg terbata-bata.
Kemudian Cemang mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi tiga orang kaki tangannya sang Bos.
Setelah beberapa menit kemudian, ketiga orang kepercayaannya Bos datang dengan mengendarai kendaraan roda dua, lalu melangkah turun dari motor dan berjalan mendekati pintu masuk ke sebuah ruangan.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
"Permisi."
"Masuk."
Salah satu dari ke tiga orang itu lalu memegang gagang handle pintu.
Klek
Pintu langsung terbuka, lalu melangkah masuk menuju ruangan di mana Bosnya berada.
"Selamat siang Bos." Sapanya Murdock.
"Selamat siang, duduklah." Perintah Bos
"Tidak biasanya, ada apa? Bos memanggil kami." Tanya Murdock.
Kemudian sang Bos menceritakan, lapak yang baru di dapatnya itu, kini telah di ambil alih kembali oleh orang lain.
"Nah begitu ceritanya, si Cemang tidak bisa di andalkan, masa sama dua orang saja sudah keok." Ujar sang Bos.
"oh begitu, maksud Bos kita habisi kedua orang itu?." Tanya Murtado.
"Iya benar, kita kasih pelajaran pada kedua orang yang sudah berani untuk Gigi pada kita." Celoteh sang Bos.
"Oke kalau begitu, biar kami bertiga saja yang kesana cuma orang dua ini." Congkaknya Mustab.
"Tapi biarpun berdua, mereka sangat jago bela diri, malahan yang satunya mahir memainkan double stick dan gayanya pun semua mirip tokoh legenda Brucee Lee." Tempas Cemang memberi masukan.
"Diam lo' Cemang." Bentak sang Bos.
Murdock tersenyum tipis, lalu bertanya pada Cemang.
"Emang ke dua orang itu, asli orang mana?." Tanya murdock.
"Dia menyebut nama Gang Si'iran kang." jelas Cemang.
Murdock, Murtado dan Mustab mengerlinkan jidatnya seperti ia pernah mendengar nama gang itu. Dengan perubahan sikapnya Murdock, Murtado dan Mustab sang Bos berkata.
"Sepertinya kalian bertiga ini, mengenal nama Gang itu?." Tanya Bos.
"Iya Bos, Gang Si'iran pernah diperbincangkan oleh orang-orang, pernah mencatat sejarah di kalangan para preman, pantesan saja Cemang dan kawan-kawan di bikin bonyok." Ujar Murdock.
"Memang bagaimana kehebatan anak Gang Si'iran?." Lanjut Bos bertanya.
"Dulunya ada tokoh legenda pasangan jawara, namanya Nini Jayanti dan Abah Jamika, kedua Jawara itu sangat di takuti karena kesaktiannya, dan sangat di cintai Warga karena gemar memberi pertolongan pada warga dan semua orang." Jelas Murdock.
"Iya itu kan dulu saya pun pernah mendengar nama tokoh itu, itu sudah lama sekali." Ujar sang Bos.
"Iya benar, tapi keharuman nama Jayanti dan Jamika tetap abadi dan menitis pada cucunya, menurut impo yang saya dengar." Ujar Murdock.
"Kalau begitu, kita harus bawa semua pasukan untuk menyerang Gang Si'iran." Pungkas Murtado.
"Tidak perlu, saya punya kenalan yang sekaligus kawan baik saya dulu, dia bangsa tionghoa yang membuka perguruan kungfu taichi, nanti saya akan mencoba untuk minta bantuannya mudah-mudahna aja dia mau." Celoteh sang Bos.
"Berarti penyerangan kali ini di tunda gitu Bos?." Tanya Murdock.
__ADS_1
"Iya' kita cari waktu yang tepat sambil mencari jago-jago yang mau ikut gabung, kita bayar engan upah yang sangat tinggi." Ujar Bos.
"Iya kalau mau, kalau tidak mau gimana?." Tanya Mustab.
"Di era modern ini siapa sih yang tidak tergiur dengan uang, orang baik pun bisa berpaling jadi jahat hanya dengan uang." Ungkap Bos.
Murdock, Murtado dan Mustab hanya manggut-manggut pertanda dia mengerti apa yang telah di ucapkan oleh Bos.
Setelah itu sang Bos, meraih ponselnya untuk mencoba menghubungi kawan lamanya yang berdarah tionghoa, nampak di layar ponsel panggilan sudah terhubung.
📞.Bos "Halo mister jun young, apa kabar?."
📞.Jun Young "Heeh Bang Jarot, Kabar saya baik-baik aja, sebaliknya gimana kabar abang?."
📞.Bos Jarot "Kabar saya rada kurang mengenakan mister."
📞.Jun Young "Haaaayya, Bang Jarot sakit apa?."
📞.Bos Jarot "Lagi sakit hati Mister."
📞.Jun Young "Sakit hati, di tinggal bini apa gimana?."
📞.Bos Jarot "Bukan Mistr, saya lagi punya masalah, biasa bisnis dijalan, kali ini lapak saya di ambil alih sama orang, saya kan pegang beberapa wilayah, terminal, kawasan parkiran, dan tempat rekreasi, jadi lapak parkiran dan pasar kini di ambil alih."
📞.Jun Young "Ko bisa, kan anda punya anak buah banyak."
📞.Bos Jarot "Ya makanya itu, orang yang saya hadapi bukan orang sembarangan, jago bela diri, anak buah saya di bikin keok semua."
📞.Jun Young "Lantas apa maksud Bang Jarot menghubungi saya."
📞.Bos Jarot "Kalau Mistr tidak keberatan, saya mau minta bantuan pada murid terbaik Mistr kan pada jago kungfu."
📞Jun Young "Oke oke, tidak masalah asal anda berani sama harga, karena Murid yang saya kirim nanti murid pilihan semua."
📞.Bos Jarot "Oke Mistr, berapapun biaya yang Mistr minta, saya siap dan langsung ditranspr ke no Rek Mistr."
📞.Jun Young "Oke nanti Bang Jarot tinggal tentukan waktunya dan share lock lokasinya.
📞.Bos Jarot "Oke Siip."
Setelah itu panggilan telepon pun langsung di mati'in.
....................
Sementara di tempat lain.
Toglo dan Jaroni lagi duduk santai di kedai, dengan di dampingi sang puja'an hati Wulan duduk bertiga dalam satu meja, berdampingan dengan meja tempat duduknya Hasan, Doni serta tiga anak buahnya Toglo, Asep, Gio dan peri. Secangkir kopi dan makanan cemilan sebagai pelengkap obrolannya.
"Hai Jar, elo' cepetan dong nyari cewe, masa lo' mau jadi wasit." Celoteh Hasan tersenyum tipis.
"Iya Jar, masa kalah sama Toglo." Timpal Doni.
"Gua nyantai aja Bang, ngurus diri sendiri juga masih susah, lagian mana ada yang mau cewe sama gua, cuma seorang surity." Ujar Jaroni.
"Jangan bilang bgitu pamali, tuhan menciptakan manusia berpasangan." Timpal Toglo.
"Tau tuh Bang Jaroni, kalau abang mau ada teman aku di bagian packing, cuma udah janda tapi orangnya baik dan cantik." Cetus Wulan.
"Tuh Jar, kesempatan lo untuk dekat sama cewe." Ujar Hasan.
__ADS_1
"Enggak Bang ah, gua belum siap, apalagi jandanya punya anak, gua belum mampu untuk jadi bapak."Timpal Jaroni.
Toglo, Wulan, Hasan dan Doni serta ke tiga anak buahnya Toglo tertawa mendengar jawaban Jaroni yang polos dan jenaka, sembari menyeripit kopinya yang di sambung oleh hisapan dari sebatang roko.