
Suara tertawanya Kamal dan Astuti, sampai membuat pak Dirman dan buk Sari kaget, sambil melemparkan pandangannya, pak Dirman dan buk sari saling pandang dengan pasang wajah penuh tanda tanya?
"Astagpirullah hal adzim, buk kenapa anak dan mantu kita?." Tanya pak Dirman.
"Ya namanya pengantin baru pak, mungkin mereka lagi bahagia kali pak." Jawab buk Sari.
"Tapi tidak kaya gitu juga kali tertawanya buk." Saut pak Dirman.
"Ya mungkin saking senengnya kali, kaya bapak gak pernah ngalamin aja." Ujar buk Sari sambil tersenyum tipis.
"Ah ibuk, bisa aja, tapi kita gak gitu-gitu amat sih buk."
"Ya sudah biarin aja, kaya bapak gak tau aja, Kamal dan Astuti itu kaya gula dan kopi bila di seduh pake air panas jadi enak rasanya." Ujar buk Sari.
"Iya sih buk, Kamal anak gendeng, sedangkan putri kita sikapnya tomboy begitu,, Ooh iya buk, ibuk tau gak?."
"Tau apa sih pak?." Buk sari balik bertanya.
"Tadi subuh kan bapak bertanya pada kamal, tentang Nandi yang gak kelihatan solat berjama'ah, kamal menjawab katanya Nandi ketiduran abis jadwal Ronda." Ujar pak Dirman.
"Ya terus masalahnya gimana pak?." Tanya buk Sari.
Sebelum menjawab pertanya'an buk sari, pak Dirman terlebih dahulu meraih gelas yang berisikan kopi, dan setelah itu.
"Lalu bapak bertanya? apa nak kamal ngeronda juga." Ujar pak Dirman.
"Lalu Kamal jawabnya gimana pak?." Tanya buk Sari.
"Dengan santainya mantu kita jawabnya, ku ngerondanya di kamar pak, begitu, apa pantas ucapan begitu di ucapkan depan mertua." Ujar pak Dirman.
Buk sari kini malah jadi tertawa, setelah mendengar penjelasan dari suaminya.
"Hahahahaayy deuh." Tawa buk Sari.
"Astagpirullah hal adzim, ko ibuk malah ikut-ikutan gendeng sih." Ujar pak Dirman ke heranan dengan sikap istrinya.
Setelah ketawanya berhenti, buk sari pun berkata.
"Ya ku pingin aja ketawa pak, habisnya, emang mantu kita itu agak gendeng, tapi biarpun begitu, hatinya baik sih." Ujar buk sari.
"Iya baik, ya mudah-mudahan mereka bisa lebih dewasa lagi dalam bersikap." Ujar pak Dirman.
Buk Sari dan pak Dirman lalu bergegas pergi ke lapaknya, mungpung hari lagi libur ia merapihkan barang-barang bekas yang sudah di bal rapi, dan siap untuk di angkut ke perusaha'an pendaur ulang.
..................
Pukul 10.00, Nandi yang lagi bersiap-siap untuk pergi menengok ke rumah mertuanya di jalan ketupat.
Sindi dan Anggita lagi asik merapikan pakaian yang akan di bawa untuk salin nanti, karena Nandi, Sindi dan Anggita mau nginap satu malam, berhubung sudah lama tidak menengok ibunya, Sindi merasa kangen sama ibuk dan juga abangnya Rendi.
Kini semua barang-barang yang akan di bawa sudah di masukin rapi ke dalam tas, lalu Sindi dan Anggita berjalan keluar rumah menuju pada mobilnya yang sudah terparkir di depan pekarangan rumah.
Sindi memijid remot control dan di buka kunci mobil tersebut sebelum Sindi dan Anggita sampai di depan mobilnya.
"Eeh sayang jangan di simpan di situ." Ujar Sindi.
"Lalu dimana sih mah di taronya?." Tanya Anggita sambil mendongakan wajahnya ke atas menatap datar wajah sang ibuk.
"Itu sayang di bagian belakang." Jawab Sindi, sambil membuka pintu mobil bagian belakang.
Selepas itu, Sindi dan Anggita berjalan masuk ke dalam rumah sambil me manggil suaminya.
"Sayang semua sudah di masukin ke dalam mobil, kita on the way sekarang." Ujar Sindi.
"Iya sayang bentar, ku lagi nyiapin kunci-kunci, buat persiapan di perjalanan nanti." Jawab Nandi, sambil mempersiapkan perkakas kendara'an di ruang belakang.
Tidak lama kemudian semua peratan pun sudah Nandi rapikan ke dalam box tempat alat-alat, lalu Nandi mengayunkan tungkai kakinya dan berjalan ke ruang tengah, dimana Sindi dan Anggita lagi menunggu.
"Ayo sayang kita berangkat sekarang." Ajak Nandi
Anggita dengan senangnya dan jingkrak-jingkrak, karena merasa senang mau jalan-jalan sambil ketemu nenek Suminar.
"Asiiik..Kita akan pergi jalan-jalan, ayo mah aku dah kangen pingin cepat ketemu sama nenek." Ajak Anggita pada Sindi sambil memegang tangan ibuknya.
__ADS_1
"Wah sudah gak sabar rupanya putri mamah ini." Ucap Sindi.
"Ya iyalah, aku pingin di buatin masakan yang enak sama nenek." Jawab Anggita.
Nandi hanya tersenyum manis, ketika melihat Anaknya Anggita yang sudah tidak sabar lagi pingin pergi menemui neneknya.
Selepas itu Nandi dan anak istri, sudah berada di luar rumah dan berjalan mendekati mobilnya, lalu mereka memasuki kedalam mobil, Nandi duduk di depan guna mengemudi mobilnya, sedangkan Sindi dan Anggita duduk di jok belakangnya Nandi.
Mobil pun sudah di nyalakannya, lalu nandi menginjak gas perlahan, dan mobilpun maju pelan keluar dari gerbang, setibanya di luar gerbang, Nandi meraih headset Bloetooth dari dalam sebuah kotak kecil dan di tempelkan di kedua telinganya, lalu Nandi melakukan panggilan di via whatssap, dan panggilanpun nampak sudah terhubung pada no yang bertuliskan Dek tuti.
📱.Nandi "Halo dek, ma'ap abang mengganggu."
Ternyata orang yang nandi hubungi itu, adalah Astuti adik kandung nya, dan Astuti pun langsung memberikan Jawaban.
📱. Asatuti "Iya Aa ada apa."
📱. Nandi "Abang mau minta tolong sama kamu, nanti tolong kuncikan pintu gerbang, abang lagi jalan keluar rumah mau nengok neneknya Anggita."
📱.Astuti "Iya baik Aa, hati-hati ya di jalan, salam buat Tante Suminar."
📱.Nandi "Iya dek, terima kasih."
Selepas itu panggilan di tutupnya, dan nandi pun langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah dan gang Si'iran.
Ketika Nandi sudah melaju di jalan Delima raya, jalanan yang biasa sudah ramai lalu lalang kini terasa agak sepi, mungkin karena hari itu adalah hari libur.
Terik mentaripun sudah terasa menyengat, di tambah debu-debu dijalan yang berterbangan terhempas oleh angin dan lajunya sebuah kendaraan.
Di trotoar jalan nampak terlihat, banyaknya anak-anak Jalanan yang ke sehari-hariannya hanya menghabiskan hidup dan waktunya di jalan
Nandi terus melajukan mobilnya dengan kecepatan enam puluh, Nandi sengaja membawa mobilnya tidak terlalu kencang.
"Sayang Nanti kita mampir dulu ke super market beli oleh-oleh untuk ibu dan bang Rendi." Ujar Nandi.
"Iya sayang, ku tau kesuka'an ibuk dan bang Rendi, gak usah ke super market kita mampir aja ke toko buah-buahan." Jawab Sindi.
"Ooh gitu ya sudah." Ujar Nandi sembari terus mengemudi kendara'an nya.
Kini mobil yang Nandi kemudi sudah mulai me masuki kawasan jalan ketupat, ketika Nandi sudah melewati sebuah kios buah-buahan, Sindi meminta pada Nandi untuk berhenti.
Nandi pun membawa mobilnya mepet ke pinggir dan menghentikan lajunya kendara'an, lalu Sindi membuka pintunya dan keluar dari dalam mobil tersebut yang di ikuti oleh Anggita.
Sindi pun lalu memilih buah-buahan ke suka'an mamahnya dan abangnya.
Setelah semua terasa cukup, Sindi pun langsung membayarnya.
Kemudian Sindi dan Anggita kembali lagi memasuki ke dalam mobil, sedangkan belanja'an dibtaro di jok paling belakang.
"Sudah sayang?." Tanya Nandi.
"Sudah, ayo berangkat." Jawab Sindi.
"Oke Bos." Ujar Nandi sambil mengemudi lagi kendara'annya dan tak lepas dari senyumannya.
............
Pukul 11:00.
Nandi pun sudah tiba di depan rumah mertuanya.
Tid tidid.
Suara klakson pun di bunyikan.
Se iring dengan keluarnya Nandi, Sindi dan Anggita, pintu depan rumah nampak terlihat terbuka bersama'an dengan munculnya buk suminar, sambil menyapa terlebih dahulu pada Anggita.
"Eeh cucu nenek, kemana aja ko baru nemui nenek sih, nenek kangen." Sapa buk Suminar pada Anggita.
Anggita pun berlari memburu pada neneknya yang lagi berdiri di teras depan rumah.
"Nenek, gimana kabarnya nek, gita kangen deh sama nenek." Ujar Anggita sembari memeluk neneknya.
Buk Suminar pun langsung menurunkan tubuhnya meraih tubuh Anggita untuk di gendong.
__ADS_1
"Anak pintar." Ujar buk suminar sambil mencium pipi Anggita.
Lalu Nandi dan Sindi menghampiri buk Suminar sambil memberi salam.
"Assalam mualaikum buk." Sapa Sindi mengulurkan tangannya lalu di ciumnya tangan buk suminar, yang di ikuti oleh Nandi.
"Wa alaikum salam, ayo masuk." Jawab buk Suminar.
Nandi beserta anak istri masuk ke dalam rumah mengikuti buk Suminar.
"Bentar ya ibuk buatkan dulu minuman, sudah barang tentu kalian pasti ke hausan." Ujar buk Suminar.
"Tidak usah repot-repot buk." Ujar Nandi.
"Iya buk, biar aku aja yang bikin." Pungkas Sindi sembari membawa belanja'an yang baru di belinya, lalu melangkah pergi ke ruangan dapur.
Setelah itu Rendi keluar dari dalam kamarnya, dan berjalan ke ruang tamu menghampiri Nandi.
"Wah Nandi, gita gak ikut?." Tanya Rendi sambil menurunkan tubuhnya duduk di sopa.
Sebelum menjawab Nandi mengulurkan tangannya memberi salam pada Rendi.
"Anggita ikut kebelakang sama ibuk." Jawab Nandi.
"Oh gitu, Btw udah bikinin kopi belum?." Tanya Rendi.
"Sindi lagi bikin bang." Jawab Nandi.
Tidak lama setelah Nandi berkata, Sindi pun datang dengan membawa nampan berisi satu gelas kopi, di susul oleh buk Suminar membawa makanan cemilan dan buah-buahan yang Sindi beli di kios buah itu.
"Ini kopinya, eeh ada bang Rendi mau bikinin kopi gak bang?." Tanya Sindi.
"Gak usah dek, biar nanti abang bikin sendiri aja." Jawab Rendi.
"Emang kenapa sih bang, kalau aku yang bikin, belum tau ya kopi bikinan ku, pasti ke tagihan deh." Ujar Sindi.
"Iya betul bang, kopi buatan Sindi bikin nambah, sayang coba aja abangmu bikinin, pasti abangmu belum tau kopi ala kedai Nandi." Ujar Nandi sambil menyuruh pada Sindi untuk bikin kopi buat Rendi.
Sindi pun tidak menunggu lama lagi, ia bergegas kembali lagi ke ruangan dapur.
Sedangkan Buk Sumi yang masih menggendong Anggita, langsung merendahkan tubuhnya duduk di sopa sampingnya Rendi.
Anggita lalu turun dari gendongan buk sumi dan bergegas menghampiri Rendi.
"Halo Om Rendi, apa kabar." Sapa Anggita.
Rendi pun tersenyum dan berkata "Wah semakin pintar aja nih ponakan Om, Alhamdulilah kabar Om baik, dek Gita sendiri gimana?."Tanya Rendi pada Anggita.
"Aku juga baik Om." Jawab Anggita.
"Syukur deh, Om senang mendengarnya, ngomong-ngomong dek Gita sudah bisa baca belum, katanya mau masuk Sekolah Tk favorit, soalnya banyak saingan pada pintar-pintar lagi?." Tanya Rendi.
"Ya sudah dong Om, kan aku selalu di ajarin sama mamah dan Ayah." Jawab Anggita.
Buk Sumi dan Nandi tersenyum tipis melihat percakapan Anggita dan Rendi, lalu Sindi datang membawa segelas kopi untuk Rendi, kemudian sindi menaronya di atas meja dan berkata.
"Nih kopi buatan aku, abang pasti ketagihan." Ucap Sindi.
"Alah kopi ya sama aja, gak ada yang beda, kalau gak pahit paling kemanisan." Ujar Rendi sambil meraih gelas kopi tersebut dan di seripitnya perlahan.
Begitu Rendi menyeripit kopi tersebut, sembari mendonggakan wajahnya keatas langit-langit rumah dengan matanya agak berkedip, seperti lagi merasakan cita rasa kopi tersebut.
Sementara Nandi dan Sindi tersenyum melihat Rendi seperti ada yang beda dengan cita rasa kopi buatannya Sindi.
Kini waktu pun terus berlalu sr iring dengan berputar nya roda kehidupan.
*********
Bersambung.
Jangan lupa sertakan like, comentar, jadikan favorit, berikan vote serta hadiahnya bila suka.
Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.
__ADS_1
"Assalam mu'alaikum"