SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 141


__ADS_3

Pukul 16:30 menit.


Semua karyawan pt Anggita surya mandiri, telah keluar dari tempat kerjanya masing-masing dan memburu pada kendara'annya, ada pula yang jalan kaki sampai ke pertiga'an jalan delima untuk mencegat angkutan umum.


Sementara Toglo yang sudah siap dengan sepedanya, yang telah di rakit oleh Hasan dengan membuat dua jok di belakang, untuk Wawan dan Wiwin.


Karena Toglo sudah berencana ingin mengajak ke dua kaka beradik itu, untuk tidur di rumahnya.


Kemudian Toglo berjalan menuju rumahnya Nandi mau meminta ijin, guna membawa Wawan dan Wiwin tidur di rumahnya.


Setibanya Toglo di depan pintu gerbang yang mau memasuki pekarangan rumahnya Nandi, lalu Toglo mengetuk pintu gerbang tersebut dengan mengetukan selot pintu itu pada panel pintu besi.


Tek


Tek


Tek


''Assalam mualaikum.'' Sapa Toglo.


Lalu Nandi keluar, yang masih berpakaian kantor, membukakan pintu gerbang tersebut.


''Ada apa Glo?.'' Tanya Nandi.


''Ada yang mau aku obrolin sebentar pak bos.'' Jawab Toglo.


''Ooh ya sudah, kita ngobrolnya di situ aja.'' Saut Nandi sambil menunjuk ke arah taman yang ada kolam ikannya.


Kemudian Nandi dan Toglo berjalan kearah taman tersebut, dan duduk di bangku besi dibawah pohon mangga.


''Mau ngobrolin apa gitu glo?.'' Tanya Nandi.


Kemudian Toglo pun mengatur napasnya, sebelum memulai pembicara'annya.


''Begini pak bos, Setelah ku melihat Wawan dan Wiwin, dan mendengar kisahnya ku merasakan seperti penderita'anku, makanya ku mau minta ijin, untuk membawa mereka tidur di rumahku, agar nenek ada temennya, bagaimana pak bos.'' Ucap Toglo.


''Sebenarnya saya kasihan pada Anggita yang sudah seneng berteman dengan Wiwin, lalu Wawan dan Wiwinnya mau gak.'' Ujar Nandi.


''Waktu tadi siang ku tanya, katanya mau sih, ya pak bos jangan kuatir dengan Wiwin, karena siangnya ku bawa kesini, biar dek Gita ada temennya.'' Ujar Toglo.


Setelah di pikir-pikir oleh Nandi, ada baik juga mungkin dengan itu, misteri di balik hilangnya Wanda akan terbuka.


''Ya sudah kalau begitu, ayo kita ke tempat orang tua saya.'' Ajak Nandi pada Toglo.


Kemudian Nandi dan Toglo bergegas pergi menuju lapaknya pak Dirman.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Nandi dan Toglo telah tiba di gudang lapaknya pak Dirman, karena Wawan dan Wiwin tidur disitu.


''Pak kemana Wawan dan Wiwin?.'' Tanya Nandi.


Pak Dirman yang masih membereskan barang-barang yang sudah di bal, kaget dengan kedatangannya Nandi dan Toglo, lalu pak Dirman menoleh pada suara yang memanggilnya.


'''Eeh Nandi, Toglo, Wawan dan Wiwin lagi mandi, ada apa emang?.'' Tanya pak Dirman.


Setelah itu muncul Wawan dan Wiwin keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian kaos singlet, kemudian Nandi kaget ketika melihat kalung yang melingkar di lehernya kaka beradik itu, dan terlintas di ingatan Nandi cerita dari nenek jumi tentang kalung yang terbuat dari kilit waru dengan gantungannya sebuah logam perak, lalu nanti memperhatikannya dengan intens.


''Kalung itu, sama persis dengan yang di ceritakan nenek Jumi padaku.'' Gumam Nandi dalam hati.


Kemudian Nandi mendekati pada mereka, lalu Nandi menurunkan tubuhnya setengah badan.


''Wah rupanya kalian punya ciri, sebuah kalung yang sama, bagus dan unik, boleh aku memegangnya.'' Ucap Nandi.


Lalu Wawan menjelaskannya pada Nandi.


''Ini kalung pemberian orang tua ku pak, dek Wiwin juga sama bentuknya, cuma cirinya saja yang berbeda.'' Ujar Wawan.


''Emang beda apanya, ku lihat sama ko gak ada yang beda.'' Ucap Nandi.


''Kalau di lihat dari nampak depan, memang sama tidak ada bedanya, tapi kalau dibalik ada cirinya masing-masing.'' Ujar Wawan menjelaskan sambil membalikan gantungan kalung tersebut.


Kemudian Wiwin pun bicara, dan memperlihatkan gantungan kalung bagian belakang yang menempel pada kulit bagian dada.


Lalu Nandi pun melihat gantungan kalung bagian belakang yang dipakai oleh Wiwin, di situ tertulis hurup 'wni'.


''Ku belum paham maksud hurup itu artinya apa?.'' Tanya Nandi.


''Kata ayah dan ibuk, itu di ambil dari nama si pemakainya, Wna berati Wawan, dan Wni berarti Wiwin begitu menurut ayah dan ibuku.


Nandi hanya memanggutkan kepalanya pertanda sudah mengerti, apa yang telah di jelaskan oleh Wawan.


''Ooh begitu toh, lalu kakamu yang tersered oleh air banjir bandang itu juga punya kalung yang sama?.'' Tanya Nandi.


Lalu Wawan menceritakan sewaktu ibunya mau meninggal.


''Sebelum ibuk menghembuskan napas terakhirnya, ibu berpesan padaku yang masih terdengar hingga sa'at ini,, ''Wawan ibuk yakin kakamu Wanda masih hidup, carilah kakamu itu, dia juga sama seperti kamu dan Wiwin mempunyai ciri yaitu kalung yang sama, yang kalian pakai itu, cuma kakamu ada tulisan 'Wnd' di bagian belakangnya, sebelum jatuh sakit ibu pernah bermimpi melihat Wanda berada di suatu tempat yang jauh dari keramaian, kamu yang kuat dan tabah, bila nanti ibu meninggalkan kalian, jangan tangisi ibuk ya, ibuk yakin suatu sa'at nanti kalian akan menemukan kebahagia'an'' lalu setelah itu, ibuk menatap pada kami dengan pandangan yang kosong, dan berkata, ''selamat tinggal anaku'', biarpun ibuk pernah berpesan jangan tangisi kepergiannya, tapi aku dan dek Wiwin tidak bisa menahan semua kesedihanku, di waktu itu semua air mata kami hampir habis mengiringi kepergian ibuk, begitu garis besar ceritanya pak.'' Jelasnya Wawan.


Pak Dirman, Nandi dan Toglo, pada berlinang air mata ketika mendengar cerita dari wawan yang begitu memprihatinkan.


Dan Tanpa di sadari entah kenapa? Tiba-tiba Toglo menangis seperti hal anak kecil yang telah di tinggal ibuknya, entah apa yang telah di alami oleh toglo, apakah dia cuma terbawa oleh cerita dari wawan. apa mungkin ada sentuhan tali batin di benak Toglo sehingga ia teras di ingatkan pada orang tuanya.


''Ibuuuuuuuuu..... kenapa tinggalin Toglo, ibuuuuu...............'' Teriak Toglo menangis histeris.

__ADS_1


Pak Dirman dan Nandi pun tersontak dengan apa yang telah di alami oleh Toglo, lalu Nandi mendekati Toglo sambil memegang pundaknya Toglo.


''Glo kamu kenapa, apakah kamu teringat orang tuamu?.'' Tanya Nandi.


Toglo tidak langsung menjawab pertanya'annya dari Nandi, ia terus menangis histeris, hingga mengundang buk sari, Kamal dan Doni yang kebetulan belum pulang, lalu berdatangan ke lapaknya pak Dirman.


''Kenapa dengan Toglo di'?.'' Tanya Kamal.


''Gak tau, gua juga bingung.'' Jawab Nandi seolah-olah tidak mengerti.


Padahal batin Nandi yang sangat tajam merasakan, seperti ada sukma yang telah mendekati Toglo, mungkinkah itu arwah dari mendiang ibuknya Toglo, ataukah halusinasi Toglo saja, setelah mendengar cerita dari Wawan sehingga Toglo larut dan terbawa kealam bawah sadar, sehingga memungkinkan para lelembut telah merasuk kedalam jiwanya.


''Nandi Toglo kenapa.'' Bisik buk sari.


Nandi cuma menggelengkan kepalanya, lalu menjawab ''Biarkan dulu Toglo mengeluarkan isi hatinya, kemungkinan dia akan mengingatkan ke memorinya yang dulu, kalau usia tiga sampai empat biasanya sudah bisa menyimpan segala pergerakan hidupnya.'' Bisik Nandi pada ibuknya.


Kemudian Wiwin menghampiri Toglo.


''Bang, bang Toglo kenapa nangis, aku juga tidak menangis ko.'' Ucap Wiwin.


Lalu toglo memandang pada Wiwin dengan intens, walau air mata masih terus membanjiri pipinya.


Ketika Toglo memandang pada kalung yang melingkar di lehernya Wiwin, seperti teringat sesuatu yang membuat toglo puyeng kepalanya, dan seperti mau muter, kedua tangan Toglo memegang kepalanya yang terasa berat.


Ketika itu, Toglo berteriak dengan memanggil.


''Ayaaaaahhhh.....''


Bersama dengan itu Toglo pun langsung jatuh pinsan.


Nandi dan semua yang ada disitu langsung sigap memboyong Toglo di bawa masuk kedalam rumahnya pak Dirman, lalu Toglo di baringkan diatas lantai yang sudah di lapisi oleh oleh tikar.


''Mal tolong ambilin air, buat ngompres.'' Perintah Nandi.


Kamal pun langsung bergegas pergi ke ruangan dapur untuk membawakan air hangat yang Nandi butuhkan.


Tidak lama kemudian Kamal telah kembali dengan membawa air hangat dan sehelai kain sapu tangan.


Kemudian Nandi mencelupkan sapu tangan itu kedalam air hangat lalu di perasnya, dan di tempelkan di atas dahinya Toglo.


Wawan dan Wiwin yang seperti kebingungan sa'at melihat Toglo yang terbaring dengan mata terpejam dan tubuh tidak bergerak, lalu Wawan bertanya pada Nandi.


''Pak Nandi, kenapa dengan bang Toglo, ma'apkan aku ya, setelah aku bercerita tentang mendiang ibuku bang Toglo jadi seperti ini.'' Ujar Wawan.


''Tidak apa-apa Wan, mungkin bang Toglo mengingat masa lalunya, yang teramat berat sehingga memorinya jadi terganggu, dan epeknya di rasakan oleh organ tubuh di bagian sarap, nanti juga akan sadar sendiri ko.'' Jawab Nandi.

__ADS_1


__ADS_2