
Kini malampun telah berlalu berganti dengan waktu subuh, Nandi dan Sindi pun telah terbangun dari tidurnya, ketika suara adzan subuh telah di perdengarkan di mana-mana.
Kemudian Nandi meraih sebuah handuk yang tergantung di sebuah kastop lalu Nandi pergi ke kamar mandi guna membersihkan badannya.
Dan setelah itu Nandi pun langsung pergi ke masjid untuk melaksanakan ibadah solat subuh berjama'ah.
Sepulangnya dari masjid nampak segelas kopi dan makanan berupa kue telah tersedia di meja, kemudian Nandi duduk di kursi lalu tangan kanannya meraih pada segelas kopi yang nampak masih mengepul.
Serupuuuttt....
Satu seripitan kopi di gelas kaca, dan setelah itu Sebatang roko di nyalakannya sebagai pelenkap ngopinya di pagi hari.
''Wah mantap, rasanya nih kopi.'' Gerutu Nandi.
Kemudian Sindi datang menghampirinya, sambil membawa segelas capucino yang ditambah susu.
''ngopi sendiri aja, ajak-ajak atuh istrimu.'' Ujar Sindi.
''Ooh iya lupa, saking enaknya minum kopi, rasa yang lain lupa dah.'' Ucap Sindi.
''Oog gitu ya, lalu cinta aa sama kopi dan padaku besar cinta pada kopi dong.'' Ujar Sindi.
''Ya bedalah, kopi itu kesuka'an dan cinta padamu tidak bisa di samakan dengan apapun, pokonya gua cinta dari luar sampai dalemannya, hehee.'' Ujar Nandi.
''Mulai deh joroknya.'' Ucap Sindi.
Begitu harmonis dan romantisnya Nandi dan Istrinya bercanda ceria, saling cubit dan terkadang saling kejar-kejaran di ruang tengah yang luas.
''Udah ah sayang capek.'' Ucap Nandi.
''Masa jagoan nyerah sih.'' Ucap Sindi sambil duduk di kursi langsung di rebahkannya badannya ke dada Nandi.
Lalu Nandi membelai rambut Sindi, dengan belaian lembut, dan kedua tangan Nandi merengkuh badan Sindi dengan penuh mesra.
''Makasih ya aa, sudah mencintaiku dengan tulus.'' Ucap Sindi.
''Emang ada gitu di diriku, tipe orang yang suka pura-pura, ya aku gak pernah berpura-pura bila masalah perasa'an hati.'' Ujar Nandi.
''Iya gak ada sih, aa Nandi orang jujur, pemberani dan jago berantem lagi.'' Ujar Sindi.
''Kamu itu kalau memuji suka berlebihan deh, di dunia ini tidak ada yang jago, karena di atas langit masih ada langit.'' Ucap Nandi.
''Ooh iya aa, mau sarapan sekarang apa nanti siang?.'' Tanya Sindi.
''Nanti aja, baru juga jam enam kurang ko, emang kamu masak apa sayang?.'' Nandi balik bertanya.
''Biasa aa, makanan favorit aa.'' Jawab Sindi.
Setelah itu hari pun sudah siang, dan jarum jam di dinding pun sudah menunjukan pukul 6:15 menit, Nandi pun sudah berada di halaman depan rumahnya, dengan menyirami kembang-kembang yang banyak berjejer di dalam pot.
Kemudian Nandi mengeluarkan motor kesayangannya untuk di bersihkan dari debu-debu dan kotoran yang menempel.
''Sekarang giliran si dukun nih, sudah lama kamu dukun belum ku cuci.'' Geruru Nandi sambil mengelap-ngelap motornya.
Begitulah Nandi selalu aja ada kesibukan, karena Nandi tidak betah rasanya bila banyak berdiam, maka dari itu ia selalu aja mencari kesibukannya sebelum masuk kantor, dan setelah Nandi selesai mencuci motornya, lalu ia keluar dari gerbang rumahnya dengan pakaian olah raga, dan berlari menuju pada tempat yang sering ia kunjungi.
Setelah Nandi tiba di sebuah tempat yang jauh dari perkampungan, di dataran yang tinggi atau di sebuah bukit, yang biasa Nandi suka ke situ.
Ternyata Nandi mendatangi tempat itu, hanya untuk melonggarkan otot-ototnya dengan melatih jurus-jurus bela diri.
Nampak terlihat gerakan-gerakan Nandi yang begitu cepat, dan agresip, terkadang Nandi melakukan salto ke depan dan kebelakang.
Setelah selesai Nandi melatih semua jurus-jurus bela dirinya, kemudian Nandi menurunkan tubuhnya dengan duduk bersila di atas batu dengan kedua tangan di tumpu di atas paha, kemudian Nandi menarik napas melalui hidung lalu di keluarkannya secara perlahan melalui mulut, begitu dan begitu selama dua puluh menit.
Rupanya Nandi lagi melakukan meditasi untuk menarik tenaga inti alam, dan membuang toksin yang ada di dalam tubuhnya melalui keringat yang terus bercucuran dari seluruh tubuhnya Nandi.
__ADS_1
''Sekarang terasa enteng nih tubuh gua, sudah lama gua tidak latihan.'' Gumam Nandi dalam hati.
Kemudian Nandi berdiri, dan melangkahkan kakinya, menuruni bukit itu, dengan jalan yang penuh kerikil-kerikil tajam, terus Nandi berjalan, hingga akhirnya nandi sudah mulai memasuki jalan yang mau ke gang si'iran, di sepanjang perjalanannya, banyak sekali orang-orang yang tegur sapa pada Nandi, dari anak-anak, atau orang sebaya dengan Nandi bahkan orang tua, selain sudah banyak di kenal, Nandi juga selalu menyapa pada setiap orang yang ia jumpainya, makanya tak heran bila para penduduk gang si'iran banyak menyukainya.
Pukul 07:30 menit.
Nandi telah tiba di depan rumahnya, lalu Nandi membukakan gerbang, terus kakinya dilangkahkan kedalam memasuki pekarangan rumahnya, dan setelah itu di tutup kembali gerbang tersebut.
......................
Sementara, di sebuah kedai sudah ramai di kunjungi oleh para pekerjanya Nandi, yang kebetulan toglo datang lebih awal dari sebelumnya, jadi Jam 07:00 toglo sudah membuka kedai tersebut.
Kemudian Kamal, Hasan dan Doni pun muncul dengan membawa kendara'annya masing-masing, lalu di parkir di tempat biasa mereka memarkirkan kendara'annya yaitu di samping bengkel.
Mereka bertiga berjalan memasuki kedai, dengan menyapa pada para pekerja yang lainnya.
''Assalam mualaikum, selamat pagi semuanya.'' Sapa Kamal.
Lalu merekapun menjawab ucapan salam dari Kamal.
''Wa alaikum salam, selamat pagi juga pak.'' Jawabnya serempak.
''Alhamdulilah ya kita masih di beri umur, dan bisa berkumpul kembali setelah libur dua hari.'' Pungkas Hasan.
''Iya pak alhamdulilah.'' Ujar Asep suryadi salah satu anak buahnya toglo yang bekerja di bagian bengkel.
''Glo bikinin kita kopi dong.'' Pesan Kamal.
''Oke bang.'' Saut Toglo.
Toglo pun langsung bikinin tiga gelas kopi, untuk Kamal, Hasan dan Doni.
Tidak lama kemudian, Toglo keluar dari dalam kedai dengan membawa nampan yang berisikan tiga gelas kopi yang masih panas.
''Iya glo, makasih ya.'' Ujar Kamal.
''Sama-sama bang.'' Ujar Toglo.
Kemudian Kamal, Hasan dan Doni langsung menyeripit kopinya masing-masing, yang di susul dengan isapan dari sebatang roko, begitu dan begitu seterusnya, sehingga tidak terasa waktu telah bergeser, jam dinding yang menempel di dinding tembok kedai telah menunjukan pukul 07:45 menit, dan alarm sudah berbunyi, tanda untuk para karyawan untuk segera masuk dan menempati ruang kerjanya masing-masing.
.......................
Sementara di tempat lain, di pertiga'an jalan delima, sebuah angkot berhenti, lalu kedua penumpang turun, seorang anak kira-kira berusia 13 tahun dan yang satunya anak wanita berusia lima tahunan.
''Ini bang.'' Ucap anak lelaki sambil memberikan uang sebagi ongkosnya.
Kemudian kedua anak itu berjalan menyusuri jalan yang mau memasuki gang si'iran, dengan penuh rasa sayangnya anak itu pada adik kandungnya.
Tangan kanannya memegang erat tangan kiri adiknya itu, kedua anak itu terus berjalan, lalu sang adik bertanya pada kakanya.
''Emang kaka tau rumahnya pak Nandi itu?.'' Tanya sang adik.
''Ya belum sih dek, nanti kita coba tanya di kios itu ya.'' Jawab sang kaka sambil mengusap rambut adiknya.
''Baik ka.'' Saut sang adik.
Kedua anak tersebut lalu menghentikan langkahnya, ketika tiba di depan sebuah kios dan bertanya.
''Punten buk, mau bertanya boleh.'' Sapa anak lelaki itu.
Kemudian seorang wanita itu keluar dari dalam kiosnya.
''Iya dek mau tanya apa?.'' Tukang kios bertanya.
''Barang kali ibuk tau rumahnya pak Nandi, di mana ya?.'' Tanya anak tersebut.
__ADS_1
''Emang kamu mau ngapain ke tempatnya Nandi, dia kan orang kaya, sedangkan kamu sudah dekil bau lagi, mana mau Nandi menerima kamu.'' Jawab tukang warung itu malah mencaci maki.
Mendengar ucapan dari tukang warung itu, kedua anak kaka beradik itu, nampak sedih dan di kedua bola matanya nampak berkaca-kaca.
''Ya sudah buk terima kasih, ma'ap kalau ku mengganggu ibuk.'' Ucap anak lelaki itu, sambil melangkahkan kaki seperti mau balik lagi.
Dan sang adik bertanya pada sang kaka.
''Ka kenapa balik lagi, bukankah kita mau menemui pak Nandi?.'' Tanya sang adik.
''Tidak jadi dek, rasanya kita malu bila harus kesana, biapun kita orang gembel tapi kita pun masih punya harga diri, dan apa yang di katakan oleh si ibuk pemilik warung itu benar, kita cuma orang dekil, dan bau.'' Ujar sang kaka.
''Ya sudah atuh, aku ikut kaka kemanapun kaka pergi.'' Ucap sang adik.
Kedua anak tersebut berjalan, kembali lagi menuju pertiga'an jalan delima, tapi tiba-tiba langkah kedua anak tersebut berhenti ketika berpapasan dengan wanita paruh baya, seperti tukang jualan keliling.
Kemudian wanita itu memperhatikan kedua anak tersebut, seperti ada rasa iba di hatinya.
''Adek-adek ini mau kemana dan dari mana, ini ada sisa makanan yang tidak terjual, sepertinya kalian ini belum pada makan.'' Ucap wanita tersebut sambil menaro keranjangnya, terus wanita itu jongkok.
''Tidak tante terima kasih.'' Ujar si kaka.
Terus sang adik menoleh pada kakanya dan berkata.
''Kaka aku mau itu.'' Ucap sang adik sambil menunjuk pada kue odading yang ada di dalam keranjang dagangan wanita itu.
''Tuh kan adikmu mau, tidak baik bila menolak rijki.'' Ucap wanita itu.
''Iya tante terima kasih, bukan ku menolak, tapi ku malu kami cuma gembel, sudah dekil bau lagi.'' Ucap sang kaka.
''Hus kamu jangan bilang begitu, pamali, manusia itu sama aja dihadapan tuhan, biarpun kita orang miskin tapi kita tidak boleh berkata begitu, karena kata-kata itu doa.'' Ujar wanita itu.
''Iya tante, itu kata ibuk pemilik kios itu.'' Ucap sang kaka.
Lalu wanita itu menoleh pada kios yang ditunjuk oleh anak lelaki itu.
''Ooh itu, kalau dia mah jangan di dengerin, emang orangnya begitu, makanya dari dulu kiosnya gak maju-maju, yang patut kuta contoh mah seperti si kasep, orang baik dan sekarang sudah menjadi jutawan.'' Ujar wanita itu.
''Siapa itu si kasep tante?.'' Tanya anak lelaki itu.
''Itu jang Nandi, sudah kasep, ramah dan berbudi luhur lagi.'' Ujar wanita itu.
Sang kaka dan sang adik, seperti ada jalan untuk bisa bertemu dengan yang namanya Nandi itu.
''Sebenarnya ku juga pingin bertemu dengan yang tante sebutkan itu, tapi setelah mendengar perkata'an dari ibuk pemilik kios itu, kami pun jadi malu, dan berniat balik lagi ke tempat kita semula.'' Ucap sang kaka.
''Ooh jadi kalian pingin bertemu dengan si kasep, ya sudah tante anterin ke rumahnya, tapi setelah ibuk perhatikan wajah adikmu ini mirip sekali dengan salah seorang karyawannya si kasep, emang kalian dari mana?.'' Tanya wanita itu.
''Kenalin tanten nama saya Wawan, dan ini adiku namanya Wiwin, kami tidak punya tempat tinggal tante, setelah orang tua kami meninggal.'' Ucap sang kaka.
''Uluh kasihan sekali, kalian asli orang sini ya, kenalkan nama tante Irah biasa di panggil bi Irah.'' Ucap wanita itu, yang tak lain adalah bi irah tukang jualan gorengan keliling.
Dan setelah itu bi Irah, langsung berjalan mengantarkan Wawan dan Wiwin utuk bertemu dengan Nandi.
Wawan danWiwin pun merasa senang bisa bertemu dengan bi Irah, orangnya baik dan ngajak ngobol terus di sepanjang perjalanannya.
**********
Bersambung.
Ikuti terus kelanjutannya di episode selanjutnya, jangan lupa sertakan like, comentar, jadikan favorit bila suka, berikat vote serta hadiahnya.
Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.
''Assalam mualaikum''
__ADS_1