
Matahari baru muncul memancarkan cahaya nya di timur cakrawala bumi persada.
Nandi dan para pamili Gang Si'iran masih asik menikmati suasana pagi yang cerah itu dengan makan dan minum kopi hitam kental, di iringi dengan hembusan-hembusan asap putih dari sebatang roko yang di hisapnya.
Pagi itu Nandi sudah di kagetkan dengan dua orang pemuda penguasa wilayah itu, mendatangi pada pelayan yang lagi melakukan aktipitasnya, menyiapkan berbagai makanan untuk persedia'an bila ada pelanggan yang datang lagi.
Kedua Pemuda itu seperti lagi meminta sesuatu pada salah satu pelayan.
"Wah pagi ini banyak amat pengunjung." Ujarnya.
"Iya Bang Alhamdulilah." Jawab pelayan.
"Lalu mana jatah ke amanan." Pinta pemuda itu.
"Baru aja penglaris bang, lagian ini kan masih pagi, biasa juga nanti sore, nanti saya di omelin sama Bos." Jawab pelayan.
"Ya itu urusan kalian, yang penting sekarang jatah kita, cepetan sudah asam nih mulut kita pingin meroko." Bentaknya memaksa.
"Ya sekarang belum ada bang, pengunjung juga masih pada minum."Ujar pelayan.
"Itu duit di laci, nah ini apa, awas lo' ya, sekali lagi begini sama gue, ku hajar kau." Ujarnya.
Ketika mereka membalikan badannya, mereka tersontak kaget karena sudah berdiri pemuda tinggi dan berkata.
"Eeh kalian enak amat, pingin ngeroko tinggal minta, sementara orang lain yang capek, apa gak malu." Ujar pemuda itu yang tak lain adalah Nandi.
"Siapa lo', mau jadi pahlawan, ya wajar dong mereka ngasih sama gue, karena ini wilayah kekuasa'an gue." Ujarnya.
"Hahaha, heh ingat negara kita ini sudah merdeka, dan sekarang bukan jaman lagi gitu-gituan, kaya jaman keraja'an aja, sekarang lo' balikin uang itu atau gua laporkan kalian ke polisi." Ancam Nandi.
"Semakin kurang ajar juga kau, rupanya pingin di kasih pelajaran." Ujarnya.
Nandi membawa kedua lelaki menjauh dari tempat dagangan, sedangkan Toglo dan Gito langsung beranjak dari tempat duduknya berlari ke arah Nandi.
Kamal yang lagi berdua sama istri langsung kaget, Astuti yang lagi duduk tenang melihat suaminya seperti gatal ingin menghabisi ke dua pemuda itu, langsung menarik tangannya Kamal.
"Mau kemana sih?." Tanya Astuti.
"Mau bantuin lah masa gua diam saja." Jawabnya Kamal.
"Noh lihat Hasan juga duduk santai, masa Aa mau tega cuma dua orang mau turun tangan, biarin ada Aa Nandi, Gito dan Toglo, kalau cuma berdua sama Gito dan Toglo juga kelar, udah diem." Ujar Astuti.
Kamal langsung duduk krmbali, dengan mulutnya yang gatal langsung mrnyerukan pada Hasan.
"Woi Hasan bin maung, kenapa lo' dia saja." Seru Kamal.
"Hai Kamaludin, cuma berdua cetek, sama Gito dan Toglo juga koid, paling cuma dua menit juga tuntas." Balas Hasan.
"Belagu lo' dasar Hasan Bin meong." Kamal.
"Hahahaha, Tut hati-hati lo' sama laki lo', sekarang aja nampak romantis paling nanti ketauan sipat aslinya." Teriak Hasan.
Astutinpun tersenyum tipis, sambil makan cemilan kacang Mede.
"Tenang kang Hasan, kalau macam-macam nih bogem gue akan bersarang." Jawab Astuti.
"Haha.. Hihihi.. Iya betul setuju gua." Ujar Hasan denga girangnya ngebuli Kamal.
__ADS_1
Kamal tidak bicara ia meraih sebuah botol plastik bekas minum , langsung melesat ke arah Hasan.
Weerrrr.....
Botol plastik meluncur dengan cepat ke arah Hasan.
Keepp..
Dengan mudah nya Hasan menangkap botol plastik itu, lalu Hasan kembali ngebuli pada Kamal.
"Aeett, anda terlalu lemah dalam melemparkan boto nya, nih gua ajarin." Ujar Hasan semabri kembali melempar balik botol tersebut dengan kecepatan melebihi dari pada lemparan Kamal.
Dengan replek Kamal menurunkan kepala, dan botol tersebut meluncur ke arah dua pemuda yang lagi berdiri adu argumen dengan Gito.
Peetak..
Salah satu pemuda itu langdung kaget ketika ada benda yang mengenai kepalanya.
Astuti dan Kamal tertawa terkekeh pas botol tersebut mengenai pemuda rese itu.
"Hahahahahaha...Rasain lo', bukan gua bang tuh di Hasan bin meong pelakunya." Ujar Kamal sambil menahan tawa.
Salah satu pemuda itu langsung menolehkan pandangan ke arah Hasan dengan netra menatap tajam.
"Woi siapa lo', mau cari ribut lo'." Bentaknya.
"Sori bang gua gak sengaja' sumpah." Jawab Hasan sambil mengangkat ke dua jarinya.
"Brengsek lo' pingin di hajar rupanya ya." Ujarnya.
"Heh mau kemana lo' urusan kita saja belum kelar,
malah lo' mau nambah masalah, itu semua sahabat gua tau." Ujar Toglo.
"Ooh jadi itu semua sahabat kalian rupanya, jangan salahkan gue ya bila gue berlaku kasar pada kalian, khususnya lo pemuda jangkung." Ujarnya sambil menunjukan telunjukanya pada Nandi, Toglo sangat kesal melihat Bos yang sekaligus Gurunya di tunjuk-tunjukin oleh pemuda rese itu, dengan secepat kilat tangan kanan Toglo langsung menangkap telunjuk pemuda tersebut.
"Woi ini Bos gua, lo' jangan macam-macam pingin gua patahin jari jemarimu ini." Ujar Toglo sambil menekuk jari telunjuk pemuda rese.
Ketika temannya mulai menggerakan tangannya mau menonjok pada Toglo, tapi Gito cukup gesit dan langsung mendorong dadanya.
"Apa lo' mau ribut, lo sama gua, sudah gatal nih bogem gua pingin menghujani muke lo' yang bopeng itu." Gertak Gito penuh hina'an.
"Kurang ajar, jangan ikut campur lo'." Bentaknya.
"Aah banyak omong lo' ayo maju, Di sebaiknya lo' duduk jagain Sindi dan Anggita, biar ini bagian gua sama Toglo." Kata Gito pasag kuda-kuda, sambil menyuruh Nandi untuk kembali ke tempat semula.
Nandi yang tadinya mau runding dengan cara damai, karena Nandi tidak mau ada kekerasan, tapi itu semua tidak berlangsung mulus, karena ke dua pemuda itu langsung menyerang Gito dan Toglo.
Dan pertarunganpun tidak bisa di hindari lagi, di suasana yang masih pagi sudah ada keributan di depan para pedagang kuliner.
Dan para pedagang sedikitpun tidak ada ingin melerainya malahan ikut senang bila ke dua pemuda rese itu ada yang melawannya, karena kedua pemuda itu sudah bikin tidak nyaman para pedagang di situ, setiap hari di mintai jatah dengan dalih uang ke amanan.
Makanya para pedagang hanya menonton dari tempatnya masing-masing.
"Sekarang kena batunya tuh kedua orang rese itu." Ujarnya pedagang cakue.
"Iya benar, tapi saya masih takut gimana nanti kalau teman-temannya datang kesini menghancurkan dagangan kita." Jawab pedagang di sampingnya.
__ADS_1
"Kita laporkan saja pada polisi, biar dia masuk jeruji besi." Jawabnya.
.......
Sementara Toglo dan Gito yang masih berlangsung dalam pertarungannya nampak tenang, karena lawannya cuma mengandalkan keberanian saja selebihnya tidak ada skill bela diri sedikitpun nampak terlihat dari caranya mereka menyerang yang membabi buta tanpa karuan.
Seperti yang di lakukan lawannya Toglo, menghantamkan tinjunya kiri kana pada sasaran muka Toglo, cuma menggese kakinya sedikit ke samping dan mrmiring kan tubuhnya sedikit, serangan lawannya Toglo makan ruang kosong, lalu pemuda itu berbalik arah dengan melayangkan tendangannya ke arah toglo setengah badan.
Kali ini Toglo yidak menghindar, dengan reflek tangan Toglo mrnangkap pergelangan kaki lawannya sambil mengejek.
"Tendangan anda kurang berbobot, harus banyak berlatih, begini nih kalau cara menjatuhkan lawan." Ujar Toglo sambil menyambar kaki kiri lawannya yang lagi berdiri satu kaki.
Blaak
Jekuuuukkk
Tubuh lawan Toglo tergeletak dengan terlentang dan di susul dengan pukulan peringatan pada mukanya
Aaauuggghh..
Orang itu kesakitan ketika bogem Toglo yang keras mendarat di mukanya, padahal itu belum sepenuhnya Toglo mengerahkan teganya, tapi bagi orang itu terasa sangat sakit dan kunang-kunang mulai bermunculan di netranya.
Ketika Toglo mau meluncurkan kembali bogemnya padahal itu cuma taktiknya untuk menggertak, orang itu langsung menutupi wajahnya denga kedua telapak tangannya sambil berkata.
"Ampuuun bang, hentikan." Teriaknya.
Lalu Toglo mengangkat tubuh orng itu dengan menjambah kerah jaketnya.
"Sekarang kembalikan uang yang lo rampas dari pedagang itu, atau lo' gua bawa ke kantor polisi." Ujar Toglo
"Baik bang." Ujarnya.
Lalu Toglo melepaskan tangannya yang lagi mencengkram kerah jaket orang itu sambil mendorongnya.
Dengan lanhkah agak sempoyongan orang itu melangkah kan tungkai kakinya menuju pelayan pedagang kuliner itu.
"Ini mas uangnya gue kembalikan, gue minta maaf ya." Ujarnya memohon.
"Iya bang, kenapa sih harus cari uang dengan jalan begitu, ujung-ujungnya kan abang sendiri yang menuai hasil dari perbuatan abang." Ujar pelayan mengingatkan.
"Udah sih jangan berkhotbah, kan gue sudah minta maaf." Jawabnya.
Lalu orang itu membalikan badannya, untuk keluar dari dalam, kemudian Nandi memanggilnya.
"Hai bang sini duduk." Ajak Nandi.
"Tidak bang."
"Sini.....lo pingin ngopi kan, sini." Ujar Nandi memberi tawaran.
Kemudian pemuda itu duduk di kursi dalam satu meja dengan Nandi.
Sementara Gito yang bertarung dengan temannya itu, sudah bisa melumpuhkannya hanya dalam beberap jurus saja, orang yang berlaga seperti jagoan itu ternyata cuma omong kosong, seperti sebuah kentongan yang nyaring bunyinya.
Bersambung.
Besar kecilnya dukungan dari semua, saya mengucapkan banyak terima kasih, semoga selalu sejatera sehat-sehat, di limpahkan rijkinya dan sukses selalu.
__ADS_1