SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 134


__ADS_3

Waktu terus berlalu hingga tidak terasa hari pun sudah menjelang sore.


Setelah Nandi dan para pamili gang si'iran melaksanakan ibadah solat ashar, mereka pun bersiap-siap untuk Otw pulang, Nandi tidak lupa membawa tiga panggang ayam bakar dan ikan bakar yang sudah di pesankan sebelumnya untuk orang tuanya dan Toglo.


Dan semua makanan dan minuman Astuti dan Kamal yang bayar, sebagai tanda terima kasih pada para pamili gang si'iran, karena berkat merekalah Astuti bisa mengembangkan usaha yang Nandi percayakan padanya.


''Mang udin kami pulang dulu, nanti kapan-kapan bila ada libur panjang insa allah kami main lagi kesini.'' Ujar nandi.


''Kenapa buru-buru amat sih, ya sudah kalian hati-hati dijalan, jaga keselamatan, sering-sering main kesini, berkat bang Nandi dan kawan-kawan daganganku jadi laris hehee.'' Ujar mang Udin tertawa tipis.


''Huuh dasar mang Udin, mamang yang untung tapi dompet kita nih jadi kosong.'' Pungkas Astuti memotong pembicara'an.


Mang Udin dan istri cuma tersenyum penuh ceria, karena setiap Nandi berlibur, dia selalu dapat ke untungan yang lumayan.


''Iya non, semoga aja non Astuti dan semuanya, digampangkan rijkinya.'' Ucap istrinya mang Udin ikut bicara.


''Amiin,, terima kasih bibi, ya sudah kami pulang dulu ya, by mang Udin, bibi makasih ya masakannya enak sekali.'' Ucap Astuti sambil melambaikan tangannya.


Mang Udin dan istrinya pun membalas lambaian tangan dari mereka, sambil memandang Nandi dan kawan-kawan yang sudah memasuki mobilnya masing-masing.


Dan mobil pun sudah di nyalakan, lalu tukang parkir yang biasa mencari sesuap nasi disitu sudah meniupkan periwitnya.


Priiit priiit..


''Kiri-kiri terus, balas kanan, oke siip.'' Ucap tukang parkir, begitu seterusnya sampai semua mobil keluar dari area parkiran, dan Nandi langsung membayar uang parkirannya untuk tiga mobil, sebesar dua puluh ribu.


Setelah itu ke tiga mobil yang di kendalikan oleh Nandi dan kawan-kawan, telah keluar dari area parkiran warung mang Udin, dengan agak sedikit merayap karena jalan yang dilaluinya sangatlah menanjak, di tambah medannya yang sempit dan banyaknya tikungan.


.......................


Sementara di tempat lain, di sebuah kedai di gang si'iran, banyak para pengendara yang mampir sekalian istirahat sambil meminum kopi.


Toglo pun sangat sibuk melayani tamunya, dari para pengendara yang mampir kebanyakan para ojeg online, yang sudah biasa meminum kopi disitu.


''Bang Toglo ko sendirian, emang yang lainnya pada kemana?.'' Tanya dari salah satu pengendara ojol.


''Ya kan sekarang hari libur, pak Nandi beserta yang lain pada pergi liburan.'' Jawab Toglo.


''Lho ko abang gak ikut?.'' Ojol bertanya.


''Kalau ku ikut, terus siapa yang buka kedai ini.'' Jawab Toglo.


''Ooh iya ya.'' Ujarnya.


.................


Pukul 16:30 menit.


Para pengunjung di kedaipun sudah mulai sepi dan para ojol yang tadinya mampir sambil minum kopi, sudah pada bubar, kemudian Toglo pun membereskan dagangannya dan kursi-kursi bekas tempat duduk di rapikan kembali ke tempat semula.


Lalu Toglo menutup pintu rolling dor kedai, dan setelah itu toglo berjalan menuju rumahnya pak Dirman, yang kebetulan pak Dirman dan buk sari lagi duduk santai di depan teras rumahnya.


''Assalam mualaikum,, ma'ap pak, buk, ku mau pulang dulu karena sudah sore, ini kunci dan uang hasil jualan hari ini, karena pak bos belum pada datang.'' Ucap Toglo sambil menyerahkan sebuah kunci dan uang hasil jualannya.

__ADS_1


''Wa alaikum salam, atuh bawa aja dulu sama kamu glo.'' Ucap pak Dirman.


''Nggak pak, biar bapak dan ibuk aja yang pegang, ku gak berani.'' Ujar Toglo.


''Terus bagian kamu gimana?.'' Tanya Pak Dirman.


''Gampang pak, itu urusananya pak bos.'' Jawab Toglo.


''Ooh ya sudah atuh, hati-hati ya, salam buat nenek.'' Ucap pak Dirman.


''Iya pak terima kasih, nanti ku sampaikan pada nenek.'' Ujar Toglo.


Setelah itu Toglo langsung melangkah pergi dari hadapannya pak Dirman dan buk sari, menuju pada sepedanya yang terparkir di samping bengkel.


Kemudian Toglo mendorong sepedanya, lalu melompat menaiki sepedanya dan mengayuhnya dengan cepat.


Sepeda gunung yang toglo goes meluncur dengan cepat menyusuri sepanjang jalan gang si'iran.


Pas toglo sampai di depan warung nasi, toglo menghentikan sepedanya, kemudian ia turun dan berjalan memasuki sebuah warung nasi.


''Punten, nasi bungkus satu buk.'' Ucap Toglo.


Kemudian pemilik warung nasi itupun langsung membungkuskan nasi pada sehelai kertas yang dilapisi oleh daun pisang di dalamnya.


''Pake apa nak?.'' Tanya pemilik warung tersebut.


''Itu tuh, pake pepes ikan, sama tahu goreng dan pake kuah dikit ya.'' Jawab Toglo.


''Baik nak.'' Ujarnya.


''Berapa buk?.'' Tanya Toglo.


''Lima belas ribu nak.'' Jawab tukang warung itu.


Dan Toglo pun mengambil uang sebesar lima belas ribu dari dalam dompetnya.


''Ini buk, terima kasih ya.'' Ucap Toglo sambil menyerahkan uang tersebut.


''Iya nak sama-sama.'' Ucapnya.


Kemudain Toglopun langsung memburu lagi sepedanya, dan nasi yang di bungkus pake kantong plastik di gantungkan disetang bagian kiri, lalu Toglo menggoes kembali sepedanya menuju gang Sawah.


Lima belas menit kemudian Toglo sudah sampai di depan rumah yang dindingnya terbuat dari bilik bambu, beralaskan tanah dan beratapkan daun lontar yang di tata sedemikian rapinya.


Lalu Toglo turun dari sepedanya dan melangkah menuju sebuah pintu triplek yang sudah usang, kemudian di ketuknya sambil mengucapkan salam.


Tok


Tok


Tok..


''Assalam mualaikum.'' Sapa Toglo.

__ADS_1


''Wa alaikum salam, dorong aja nak tidak di kunci ko.'' Jawabnya dari dalam, dengan suara agak parau karena paktor usia yang sudah lanjut.


Perlahan Toglo mendorong pintu tersebut, dan melangkahkan kaki memasuki ruangan yang tidak terlalu lebar.


''Ini nek, aku bawain nasi, aku suapin ya nek.'' Ucap Toglo.


''Tidak usah nak, nenek bisa sendiri ko, kamu istirahat aja dulu kan capek abis kerja seharian.'' Ucap si nenek.


''Tidak ko nek, aku gak capek.'' Ujar Toglo.


''Tidak usah, biar nenek sendiri aja, nenek juga masih bisa ko, ambilin sendoknya nak.'' Ucap s


i nenek.


Toglo lalu mengambilkan sebuah sendok, dari atas rak yang terbuat dari bambu yang di tata rapi.


Nenek Jumi langsung me makan nasi yang Toglo bawa.


Sementara Toglo langsung keluar dari dalam rumah membawa sebuah kunci pas, lalu memburu pada sepedanya, mungkin ada yang akan Toglo betulin atau ingin mengencang rante yang nampak terlihat kendor.


di sa'at Toglo lagi asik betulin sepedanya, ketika hari sudah mulai senja, terdengar dari arah belakang rumah suara motor yang mengarah dan mendekati ke tempat di mana Toglo berada.


Dan pengendara motor itu berhenti di dekat Toglo, lalu turun sambil membawa bungkusan.


''Teh Astuti, ada apa?, emang sudah pada pulang.'' Sapa Toglo.


''Baru aja teteh nyampe, dan langsung di suruh aa Nandi, ini buat kamu, dan ini uang dari hasil jualanmu hari ini.'' Ujar Asturi.


''Atuh kenapa harus di anterin, padahal mah bel aja aku, teh Tuti kan masih capek.'' Ucap Toglo.


''Enggak ko, ku gak capek biasa aja, mana nenekmu?.'' Tanya Astuti.


''Ada di dalam.'' Jawab Toglo.


Kemudian Astuti masuk kedalam, untuk menemui nenek Jumi.


''Assalam mualaikum nek, gimana nenek sehat.'' Sapa Astuti.


''Wa alaikum salam, eeh nak Astuti, alhamdulilah nenek baik-baik aja, ada apa nak?, bukannya pada pergi liburan.'' Ucap Nenek Jumi.


''Baru aja pulang nek, ini ku mau ngasih oleh-oleh buat nenek dan Toglo, dan sekalian ku mau minta doanya dari nenek, sebentar lagi ku mau merit nek.'' Ucap Astuti.


''Ooh alhamdulilah atuh, semoga lancar sampai acaranya selesai, dan menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah.'' Ucap nenek Jumi.


''Amiiin Terima kasih nek, ya sudah nek ku tidak bisa lama-lama, karena masih banyak yang harus ku kerjakan.'' Ucap Astuti.


Kemudian Astuti pun keluar dari rumahnya nenek jumi dengan di antar oleh Toglo sampai depan pekarangan.


***************


Bersambung.


Terima kasih atas dukungannya.

__ADS_1


Salam sehat dan sukses selalu.


''Assalam mualaikum''


__ADS_2