SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 136


__ADS_3

Ketika waktu maghrib menjelang, setelah nandi menyimpan bungkusan yang berisikan kue surabi, lalu ia pergi untuk ngambil air wudu, dan setelah itu Nandi pergi ke masjid untuk melaksanakan solat maghrib berjama'ah, sedangkan Sindi dan Anggita melaksanakan solat di rumah.


Singkatnya.


Nandi pun sudah kembali ke rumah, lalu Nandi melepaskan pakaian perlengkapan solatnya, dan di ganti dengan pakain yang biasa ia gunakan di dalam rumah, kaos oblong dan celana pendek se lutut.


Lalu Nandi duduk di sopa sambil bersandar, kemudian Sindi dan Anggita datang menghampirinya.


''Bapak sama ibuk di beli'in gak?.'' Tanya Sindi.


''Ya di beli'in atuh sayang, ya sudah makan dan ngopinya sekalian di tempat ibuk yo.'' Ajak Nandi.


Dan Anggita eka putri, srperti girang sekali bila di ajak ke tempat neneknya.


''Ayo yah, mah, kita ke tempat nenek dan kakek, gita kangen sama nenek.'' Ujar Anggita.


''Wah waah, anak ayah semakin hari, semakin pintar aja nih.'' Ucap Nandi sambil mencium pipi Anggita.


''Iya dong,, siap dulu mamahnya.'' Jawab Anggita.


''Ko mamah sih yang di sebut, terus ayah gak disebut.


''Iiih ayah cemburuan, gak di sebut sekali aja langsung cemberut.'' Ujar Anggita.


Nandi dan Sindi saling pandang sambil tersenyum penuh ceria, karena Anggita yang kian hari kian tambah mengerti.


Lalu mereka melangkah keluar dari rumahnya menuju ke rumah pak Dirman.


Setibanya di depan teras lalu Nandi mengetuk pintu tiga kali bersama'an dengan mengucapkan salam.


Tok


Tok


Tok..


''Assalam mualaikum.'' Sapa Nandi.


Setelah itu terdengar dari dalam menjawab, bersama'an dengan terbukanya sebuah pintu secara perlahan.


''Wa alaikum salam.'' Jawabnya se orang wanita paru baya, yang tak lain adalah buk Sari.


''Nenek belum tidur, gita kangen sama nenek dan kakek.'' Ujar Anggita.


''Uluuuh cucu nenek makin pintar aja, ya gak atuh sayang kan masih sore masa, tidur sore-sore pamali.'' Ucap buk sari.


Kemudian meteka pun masuk kedalam dan berkumpul di ruang keluarga, lalu Nandi menaro bungkusan yang berisikan kue surabi itu.


''Sayang ambilin piring dong.'' Perintah Nandi pada Sindi.


Kemudian Sindi pun melangkah ke dapur untuk mengambilkan piring buat tempat kue surabi tersebut.


Tidak lama kemudian Sindi telah kembali dengan membawa dua buah piring, lalu bungkusan itu Sindi buka dan isinya dipindahi ke dalam dua piring.


''Ayo pak, buk, di makan surabinya mungpung masih angat.'' Ucap Sindi.


''Iya sin Terima kasih, Kamu beli dimana kue surabinya?.'' Tanya buk sari pada Sindi.


''Aa yang beli.'' Jawab Sindi.


Kemudian Nandi pun menjawab.


''Di dekar pasar delima.'' Ujar Nandi.


''Iya kalau di situ, surabinya enak, dan laris banget.'' Ucap buk Sari.

__ADS_1


''Iya betul, ku juga sampai ngantri tadi, dan ku tadi beli'in anak gelandangan kasihan seperti lagi kelaparan.'' Ujar Nandi.


''Alhamdulilah, ternyata anak kita ini sangat peduli pada sesama, Bapak dan ibuk bangga sekali, karena kamu tidak sombong.'' Pungkas pak Dirman


''Walah wualah pak pak, buat apa kita bangga dengan harta kita, toh semua harta yang kita miliki itu semua titipan, dan nantinya akan dipertanyakan kemana harta kita di bawa dan di pake apa.'' Ujar Nandi.


''Iya betul Nandi, makanya selagi masih bisa berbagi, maka berbagilah pada orang yang sangat membutuhkan.'' Pungkas buk Sari ikut bicara.


Kemudian Nandi menceritakan kisah anak jalanan itu, sebelum ia berada di jalanan, yang dulunya hidup bahagia, semenjak kedua orang tuanya meninggal ia jadi terlunta-lunta hidupnya tak tentu arah.


Mendengar cerita dari Nandi, pak Dirman dan buk sari serasa di ingatkan pada cerita Toglo, yang di temukan oleh nenek Jumi di sebuah goa dengan pakaian lusuh dan dekil.


''Apa mungkin, mereka ada kaitannya dengan Toglo.'' Gumam buk sari dalam hati.


Pak Dirman tak kuasa mendengar cerita dari Nandi tentang anak gelandangan itu.


''Wah jangan-jangan..'' Ujar pak Dirman tidak di teruskan.


Lalu Nandi heran dengan kedua orang tuanya yang seperti menyimpan sesuatu, yang ada kaitannya dengan apa yang ia ceritakannya itu.


''Jangan-jangan kenapa pak?.'' Tanya Nandi.


Pak Dirman tidak buru-buru menjawab, ia menoleh pada istrinya seperti meminta pendapat, lalu buk sari paham dengan tatapan dari suaminya itu.


''Buk bagaimana nih, bapak gak sadar dan hampir aja buka rahasia.'' Bisik pak Dirman.


''Y sudah pak ceritain aja, kan demi kebaikan juga, yang penting Nandi jangan bilang siap-siapa lagi.'' Bisik buk sari juga.


Nandi, Sindi dan Anggita, jadi bertanya-tanya dengan sikap kedua orang tuanya yang penuh tanda tanya, dan di sa'at itu pula Anngita bicara.


''Ko nenek dan kakek bisik-bisik begitu sih bicaranya, ada rahasia ya?.'' Tanya Anggita.


''Tidak sayang, kakek dan nenek tidak merahasiakan apa-apa, cuma kakek dan nenek mau bicara, yang tidak boleh di ketahui oleh anak kecil, gita main dulu ya sama bibi Astuti di kamar.'' Ucap pak Dirman sambil menyuruh Nandi untuk membawa Anggita masuk ke kamarnya Astuti.


Untung saja Anggita mau nurut, dan Sindi pun langsung menuntun Anggita masuk kamarnya Astuti.


''Emang mau ngobrolin apa'an dih mah, ko Gita tidak boleh tau.'' Saut Anggita.


Astuti pun tersenyum, lalu Astuti ikut bicara.


''Gita di sini dulu bareng bibi, mamah da ayah mau ngobrol masalah orang dewasa.'' Pungkas Astuti.


''Ooh gitu ya, ya sudah atuh.'' Ucap Anggita.


Dan setelah itu, Sindi pun kembali ke hadapan pak Dirman, buk Sari dan Nandi suaminya.


''Sekarang Anggita sudah bersama tuti, lalu apa yang akan bapak ceritain.'' Ucap Nandi.


''Tapi kalian Janji ya tidak akan di kasih tau orang lain, cukup kita aja yang tau.'' Pinta buk sari.


''Iya buk, ku dan Sindi janji.'' Jawab Nandi.


Dan setelah itu buk sari mencerikan kisahnya Toglo, yang di temukan oleh nenek Jumi di dalam goa, disa'at nenek Jumi lagi mencari barang bekas, dengan pakaian yang sangat kotor lusuh dan dekil, di sa'at itu usia Toglo kira-kira tiga tahunan.


Nandi setelah mendengar cerita dari ibuknya, ia pun berpikir apa mungkin kebetulan atau kah mungkin antara Toglo dan anak gelandangan itu ada tali persaudara'an.


''Kalau begitu, ini perlu ku tanyakan pada nenek Jumi, tapi bagai mana caranya ya, agar Toglo tidak mengetahiinya.'' Gerutu Nandi.


''Begini aja Nandi, Nanti bila Toglo sudah masuk kerja kamu ke tempat nenek Jumi, pura-pura apa gitu.'' Usul buk Sari.


''Iya Nandi mendingan gitu aja, kasihan andaikan Toglo dan anak gelandangan itu ada pertalian darah, jadi tugasmu harus bisa mempersatukannya.'' Celoteh pak Dirman.


Kemudian Sindi ikut bicara.


''Apa ada kesama'an di wajah anak gelandangan itu dengan Toglo.'' Ucap Sindi.

__ADS_1


Lalu Nandi berpikir mengingat-ngingat wajah anak gelandangan itu.


''Kayanya gak sih, gak tau tuh kalau adiknya yang katanya nunggu di gubuk, tapi ku suruh datang kesini sih.'' Ucap Nandi.


''Tolonglah aa kasihan, kadih pekerja'an apa kek, supaya anak tersebut bisa mempertahankan hidupnya, apalagi adiknya yang masih kecil, ku jadi sedih mendengarnya juga.'' Ujar Sindi.


Kemudian pak Dirmanpun memberi masukan pada Nandi.


''Iya Nandi, andai di tempatmu gak ada kerja'an buat anak itu, biarlah dia kerja di lapaku, nanti suruh tidur dekat gudang kan ada ruangan yang belum di pakai, kalau cuma buat tidur mereka berdua lumayan tidak terlalu sempit ko.'' Ucap pak Dirman.


''Kira-kira anaknya berapa taun sih.'' Pungkas buk Sari.


''Paling juga, tamatan sekolah dasar.'' Ujar Nandi.


''Atuh kerja di bengkel belum kuat, kerja di distributor nanti yang lain jadi iri, kan mereka kebanyakan tamatan sekolah menengah atas sederajat.'' Ucap pak Dirman.


''Ya, bagaimana nanti aja kalau dia datang.'' Ucap Nandi.


Setelah sekian lamanya mereka ngobrol, Nandi pun segera pamit pada kedua orang tuanya karena malam yang terus bergeser, dan Sindi sudah memanggil Anggita yang lagi main di kamar bareng Astuti.


''Gita, Anggita sayang, ayo kita pulang, kasihan bibinya lagi ngerjain tugas kantornya.'' Panggil Sindi.


Anggita pun lalu turun dari kasur tempat tidurnya Astuti.


''Iya mah,, Bibi aku pulang dulu ya, besok kita main lagi oke.'' Ucap Anggita.


Astuti pun tersenyum dan berkata.


''Oke gita sayang, cium dulu dong.'' Ucap Astuti.


Lalu Anggita pun mencium pipinya Astuti.


mmuuuuaaaccchhh


''Dah bibi.'' Ucap Anggita sambil melambaikan tangannya.


Lalu Sindi pun pamit pada Astuti.


''Tut ku pulang dulu ya, maap kerja'anmu jadi terbengkalai gara-gara Anggita.'' Ucap Sindi.


''Tidak apa-apa ko, nyantai aja.'' Ujar Astuti.


Kemudian Nandi dan Sindi serta Anggita keluar dari dalam rumah kedua orang tuanya.


Pak Dirman dan buk sari mengantarkan sampai depan pintu.


''Gita met bobo ya, dan jangan nakal.'' Ucap buk sari.


''Iya nek.'' Saut Anggita.


Kemudian setelah itu, Nandi beserta anak istrinya telah sampai di depan gerbangnya, lalu di bukanya kunci gerbang tersebut, dan di kunci kembali setelah semua berada di dalam gebang.


Setelah itu mereka membuka lagi kunci pintu rumahnya.


Ceklek


Ceklek..


Dua kali putaran, lalu pintu pun terbuka dengan di dorongnya dari luar, dan di langkahkan kakinya memasuki ke dalam rumah tersebut. kemudian di tutup kembali dan di kunci lagi.


Setelah itu mereka berjalan memasuki sebuah kamar.


Anggita yang seperti sudah mengantuk, ia langsung naik ke atas kasur dan merebahkan tubuhnya di tengah-tengah antara Nandi dan Sindi.


''Kenapa ya aa, ko anak itu selalu tidur di tengah-tengah, maksudnya gak dipinggir gitu.'' Ucap Sindi.

__ADS_1


Sejenak Nandi terdiam, kemudian terlihat senyum tipis, dan menjawab ucapannya Sindi.


''Mau tau jawabannya, karena anak lahir dan keluarnya dari tengah-tengah, dan yang membuahkannya juga dari hasil antara tengah dan yang tengah bersatu sehingga terciptalah anak, hehee..'' Ujar Nandi sambil tersenyum dikit.


__ADS_2