SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si Kidal Sang Penolong eps 191


__ADS_3

Singkat cerita Nandi beserta anak istri telah keluar dari Restauran tersebut, menuju pada mobilnya yang terparkir di area parkiran.


Lalu Nandi membuka pintu untuk Sindi dan Anggita, dan di tutup kembali setelah mereka berada didalam, Nandi berjalan ke arah pintu samping kanan dan di bukanya pintu, kemudian Nandi masuk duduk di jok sambil memasang sabuk pengaman.


Setelah itu mobil pun melaju keluar, dengan perlahan memasuki jalan raya. Waktu menujukan pukul 12:40 menit masih ada waktu bagi nandi untuk lebih cepat sampai di Gang Si'iran, Nandi mengendalikan mobilnya agak kencangan karena takut tidak keburu hanya punya waktu dua puluh menit lagi, tapi karena Nandi tercipta untuk menolong orang yang membutuhkan, tiba-tiba lajunya mobil diturun kan menjadi pelan dan berhenti, dan Sindi pun sempat kaget lalu bertanya.


"Ada apa Aa, kenapa berhenti?." Tanya Sindi agak sedikit rasa heran dan kaget.


"Sebentar ya sayang." Jawab Nandi sambil membuka pintu mobilnya.


Kemudian Nandi berjalan, dan Sindi terus mengintai suaminya dari balik kaca jendela mobil, Nandi celingukan kesana kemari seperti mau menyebrang jalan.


Begitu arus jalan lagi kosong Nandi pun melakukan penyebrangan, lalu Nandi menghampiri seorang nenek berpakain lusuh dan dekil dengan jalan tergopoh sambil menggengam tongkat di tangan kanannya.


"Nek mau kemana?." Tanya Nandi.


Si nenek pun berhenti. "Nenek mau pulang nak." Jawab si nenek.


"Rumah nenek masih jauh, terus nenek habis dari mana?." Nandi bertanya.


"Nenek habis menengok cucu nak, dan rumah nenek masih jauh, di pertiga'an jalan mengkudu masuk kedalam." Jawabnya dengan nada suara agak genetaran.


Jiwa Nandi yang tidak tegaan pada orang, karena punya hati welas asih, mendengar cerita dari si nenek, tidak terasa di kedua manik bola matanya nampak berkaca-kaca, seperti langit mendung mau turun hujan.


"Kalau nenek tidak keberatan, nenek ikut bersamaku naik mobil biar ku antar nenek sampai rumah." Nandi memberi tawaran.


"Biarin nak nenek sudah biasa ko, lagian nenek cuma orang begini, nanti pakainmu yang bersih dan tercium bau mewangi, akan terkena bau oleh nenek." Keluh sang nenek.


"Astagfirullah hal adzim nek, nenek jangan berkata begitu, aku dan nenek sama mahluk ciptaan Allah, di hadapan Allah semua sama tidak memandang derajat atau pangkat nek." Ujar Nandi.


"Sungguh mulai hati nak, biasanya orang yang berpakaian sepertimu itu, tak pernah peduli pada orang kaya nenek." Ucap di Nenek.


Setelah nandi membujuk, akhirnya si nenek pun ikut bersama Nandi naik mobil dan nenek duduk di jok belakang.


Sindi nampak ceria dengan wajah laksana bunga yang sedang mekar, merasa hidupnya paling bahagia mempunyai suami yang begitu peduli dan welas asih pada orang yang tidak mampu, sungguh suatu anugrah bagi Sindi.


Mobil pun terus melaju dengan keceapatan rata-rata.


Tidak lama kemudian mobil yang Nandi kemudikan sudah tiba di pertiga'an jalan mengkudu, lalu Nandi bertanya pada nenek itu.


"Nek posisi rumah nenek berada di sebrang sana atau sebelah sini?."


"Di sana nak, kalau dari sini harus nyebrang dulu." Jawabnya.


"Ooh gitu, sebentar ya kita cari puteran dulu." Ujar Nandi sambi melaju di jalur kanan untuk cari puteran, Lima menit kemudian nampak ada tukang parkir di depan di sebuah puter arah arus jalan, lalu Nandi pun menyalakan lampu sen ke kanan dan Nandi menyiapkan uang dua ribu untuk tukang parkir.


Tukang parkir pun langsung meniup priwitnya sambil memberi kode pada kendaraan yang melaju dari arah sana untuk memperlambat laju kendara'annya Karena mobil yang Nandi kemudi mau berbelok ke kanan.

__ADS_1


Sambil melaju peralahan Nandi pun mengulurkan tangan ke luar kaca jendela untuk memberikan uang parkir.


"Terima kasih pak." Ujar tukang parkir


Kini mobil pun melaju di jalur kiri, setelah mobil melaju kira-kira dua ratus meteran, si nenek pun menyuruh Nandi untuk berhenti.


"Nak di depan berhenti ya pas Gang kecil." Perintah di nenek.


Nandi pun memperlambat laju mobil, dan setelah itu mobil pun berhenti, lalu Nandi buru-buru keluar dari dalam mobil, untuk membuka pintu mobil bagian samping kiri belakang, Nandi mengulurkan tangan membantu si nenek keluar dari dalam mobil, dengan sangat pelan sekali si nenek turun dengan di bantu oleh Nandi.


"Dari sini masih jauh gak rumahnya?." Tanya Nandi.


"Sudah dekat, terima kasih nak kamu anak yang baik, semoga kebaikanmu dibalas oleh Allah berlipat ganda." Ucap Si nenek.


"Sama-sama Nek." Jawab Nandi.


Si nenek pun lalu berjalan dengan bantuan tongkat di genggaman tangan kanannya, Nandi terus memperhatikan si nenek.


"Nek hati-hati ya." Teriak Nandi


Ketika si nenek berbelok dan tidak terlihat lagi oleh Nandi karena terhalang oleh rumah yang berderet, Nandi pun langsung memasuki mobilnya kembali. Dan lansung melajukan lagi kendara'annya.


Pukul 13:10 menit.


Mobil yang Nandi kemudikan sudah sampai di depan rumahnya, lalu Sindi keluar dari dalam mobil untuk membuka kunci gerbang, setelah gerbang terbuka mobil pun melaju memasuki halaman rumah yang luas, Nandi dan Anggita keluar dari dalam mobil. "Sayang ku langsung ke kantor ya, dek Gita ayah ke kantor dulu ya." Ujar Nandi.


"Iya sayang makasih ya." Ujar Nandi sembari mengayunkan kakinya keluar dari pekarangan rumah, Dengan langkah yang gesit dan penuh wibawa Nandi berjalan menuju kantor.


Suasana yang nampak sudah sepi karena semua karyawan sudah melakukan lagi pekerja'anya, berbeda dengan suasana di bengkel yang selalu ramai dan terkadang suara kenalpot dari kendaraan para pelanggan yang di nyalakan setelah selesai di perbaiki.


Toglo beserta ke tiga anak buahnya sangat sibuk, karena para pengunjung mulai berdatangan dengan berbagai macam keluhan kendara'annya.


Asep yang sangat dekat dengan Toglo, sedari tadi memperhatikan raut wajahnya Toglo yang seperti lagi semringah bagai sekuntum bunga yang sedang mekar. Asep mencoba memberanikan diri dengan melemparkan pertanyaannya.


"Bang, ku dari tadi lihat abang seperti sedang berbagahagia?." Tanya Asep.


"Ya lagi seneng aja sih, emang kenapa gitu?." Toglo balik bertanya.


"Ya tidak apa-apa, cuma berbeda aja dengan biasanya, abang yang selalu bersikap dingin dan sangat serius dengan kerja'an, kini ku lihat agak berbeda." Jawab Asep.


"Emang gak boleh gitu kalau gua senang?." Tanya Toglo.


"Ya boleh atuh bang, gak ada larangan orang gembira, kalau boleh tau apa sih bang yang membuat abang jadi berubah lebih asik gitu?." Tanya Asep.


"Ada deh, kasih tau nggak ya." Ujar Toglo sambil tersenyum penuh pesona.


Asep pun jadi ikut terbawa suasana, tertawa terkekeh, Gio dan peri pun saling pandang melihat Asep dan Toglo yang bersikap tidak dari biasanya.

__ADS_1


................


Pukul 16:00


Waktu para karyawan keluar dari lokasi tempatnya bekerja, begitu pula Toglo, setelah bengkelnya di tutup ia langsung bergegas menuju pada sepeda gunungnya, yang terparkir di samping bengkel.


Ada apa dengan Toglo yang banyak perubahan dalam sikap dan tingkah lakunya, apa mungkin Toglo mulai kasmaran pada sosok wanita yang ia jumpainya di kedai atau ada pengaruh lain yang membuat ia begitu berseri.


Toglo lalu melompat naik ke atas sepedanya, lalu di kayuh perlahan, ketika melihat seorang wanita yang lagi berjalan menuju ke pertigaan jalan Delima raya.


"Wulan.." Sapa Toglo.


Yang di panggilpun berhenti sambil membalikan badannya ke arah suara yang memanggil dirinya.


"Bang Wanda, ko tidak bareng sama Wawan?." Tanya Wulan.


"Gua belum mau pulang ko, Ooh iya mana motormu biasanya kamu suka bawa kendara'an?." Tanya Toglo.


"Ooh itu, itu bukan motorku bang, itu motor pamanku yang kebetulan ada dua, berhubung yang satunya di bengkel, ya akhirnya paman ambil motornya yang biasa aku pakai, karena paman kerjanya sangat jauh." Ungkap Wulan.


"Kalau kamu tidak keberatan, mau gak gua anterin naik sepeda." Tawar Toglo.


Sejenak Wulan terdiam sambil mengerutkan dahinya dan berkata. "Tapi boleh juga sih, nanti bagaimana kalau wawan nyari'in." Ujar Wulan.


"Ya tenang aja, gua pasti bilang dulu atuh, kan kasihan Wawan nanti kebingungan, ya sudah tunggu di sini, gua mau bilang dulu sama Wawan." Ujar Toglo.


Toglo pun langsung memutar balikan sepedanya untuk menemui Wawan di lapak pak Dirman.


Tidak lama kemudian Toglo telah kembali, dan langsung mengajak Wulan untuk naik pada sepedanya Toglo.


Toglo langsung menggoes sepeda menuju ke pertigaan jalan Delima, Wulan duduk di jok bagian belakang sambil terus memandang anggota tubuh Toglo bagian belakang, yang begitu kekar pada dan berisi.


Kini Toglo sudah memasuki jalan delima lalu berbelok ke kiri memasuki Gang Asem.


"Ooh jadi ini yang namanya Gang Asem itu, kenapa sih sampai di namain Gang Asem?." Tanya Toglo sambi terus mengayuh sepedanya.


"Ya karena banyaknya pohon Asam di sisi kanan jalannya." Jawab Wulan.


"Ooh iya, serem juga ya kalau malam melewati Gang ini, tempatnya teduh dan lembab." Ujar Toglo. sambil celingukan ke kiri ke kanan jalan.


Tidak lama kemudian Toglo telah sampai di depan rumah sederhana tapi cukup nyentrik dan rapi, bentuk rumah minimalis dengan bingkai jendela kecil panjang, diatasnya terpasang pentilasi udara dengan teras dipayungi oleh dak coran yang finishing nya di bikin sedemikian rapinya.


***********


Bersambung


ikuti terus cerita SKSP ini sampai Ending ya, jangan lupa sertakan like and comentar, favorit, vote serta hadiahnya bila suka.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.


__ADS_2