
Rasa senang di hati Mira yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, Gito pun sampai malu bercampur senang mendapat pelukan dari Mira , gadis tomboy berwajah lugu dan periang.
Pukul 22:20 menit.
Gito pamitan pada Mira dan kedua orang tuanya untuk pulang, karena malam yang sudah tidak mengijinkan untuk Gito berlama-lama di rumah seorang wanita, apa lagi peraturan pemerintahan rukun tetangga di gang mawar begitu ketat sekali.
Siapa saja yang berkunjung ke rumah yang mempunyai anak gadis, sebelum jam 23:00 harus sudah pulang, makanya Gito cepat-cepat pulang sebelum di suruh pulang oleh kepala kampung di gang Mawar.
''Om, Tante saya pamit pulang.'' Panggil Gito pada kedua orqng tuanya Mira.
Kemudian kedua orang tuanya Mira keluar dari ruangan tengah menuju ruang tamu.
''Iya nak Gito, hati-hati ya di jalan, karena suka banyak anak-anak nakal di depan jalan raya.''
''Iya Om, Tante terima kasih, ayo Mir gua pulang dulu, besok gua jemput pagi-pagi, dan lo harus bangun lebih awal dari biasanya.'' Ucap Gito.
''Masa segitunya sih mas, gue bangun jam lima biasanya, terus gue harus bangun jam empat gitu.'' Ujar Mira.
Gito pun hanya tersenyum tipis, dengan jawabannya Mira, lalu Gito bersalaman pada kedua orang tuanya Mira.
''Assalam mualaikum.'' Ucap Gito se iring dengan melangkah kan kakinya keluar dari ruangan tamu rumah tersebut.
''Wa alaikum salam.'' Jawabnya serempak.
Lalu Mira keluar dan berdiri di depan pintu mengiringi kepergiannya Gito.
''Hati-hati Mas.'' Sapa Mira.
''Iya Mir, terima kasih.'' Jawab Gito sambil menyalakan motornya.
Setelah itu Gito keluar dari halaman rumahnya Mira, dan mira terus memandang sampai Gito hilang karena di telan jarak yang semakin menjauh.
Motor yamaha Rx king cobra melaju menelusuri sepanjang jalan Gang Mawar, begitu Gito mau mendekati pada anak-anak yang lagi pada nongkrong, nampak terlihat oleh Gito ada dua orang pemuda berjalan ke tengah mencegat perjalanannya Gito.
Gito pun kaget dan lalu menghentikan laju kendara'annya.
''Ada apa ini bang?.'' Tanya Gito.
''Gak ada apa-apa,, abis dari mana abang ini?.''
''Gua abis main.'' Jawab Gito.
''Bagi kita roko dong, kita kehabisan nih.''
''Ooh kalian ini mau malak rupanya, sori ya gua lagi gak ada duit.'' Jawab Gito.
Kemudian kedua orang itu seperti berbisik-bisik dengan sesama temannya, seperti mau berniat tidak baik pada Gito.
Dan Gito sangat mengenal sikap orang begitu dengan pura-pura tidak tau gito menyalakannya Motornya, tapi belum aja Gito mau melajukan motornya, dari arah belakang dan sempat terlihat dari sepion motor mau melancarkan sebuah pukulan.
Secepat kilat Gito merunduk, lalu melompat dari atas motornya, sambil kakinya di layang kan, pas mengenai perut pemuda itu.
''Jangan salahkan gua, karena kalian yang duluan.'' Ujar Gito.
''Kurang ajar, ayo teman kita sikat pemuda ini.'' Serunya pada temannya yang lain.
Kini Gito di kurung oleh empat orang pemuda rese, dan di serang dari empat arah penjuru angin, Gito pun sangat berhati-hati sekali.
Ke empat pemuda itu langsung menyerang Gito secara bersama'an dengan penuh amarah.
Tapi Gito tetap tegar dan hati yang tenang, ketika empat pukulan nengarah pada bagian kepala Gito, secepat kilat Gito menurunkan tubuhnya dengan gerakan maung depa, jurus silat karuhun warisan dari ayahnya pak Gandi.
Plooooss...
Serangan ke empat pemuda itu makan ruang yang kosong, disa'at bersama'an Gito gerakan tubuhnya dengan salto kebelakang, lalu ke empat pemuda itu langsung melompat mengirimkan lagi serangannya, spontan Gito memutarkan tubuhnya sebuah tendangan kaki memutar langsung bersarang.
__ADS_1
Duk
Duk
Duk....Deeaassss.
Blak
Blak
Blak
Blak.
Ke empt tubuh jauh secara bergantian.
Gito kini berdiri dengan gagah berani, menunggu reaksi dari ke empat pemuda itu.
Ke empat pemuda langsung bangun, dengan muka merah menyala lakasana sebuah logam yang terbakar.
''Ayo maju kalian, hanya segitukah kemampuan kalian berempat, yang berlaga seperti jagoan.'' Tantang Gito.
''Jangan besar kepala kamu.'' Ujarnya.
Heeaaa....
Ke empat pemuda itu membangun lagi serangannya, kini mereka lebih waspada dan berhati-hati sekali ternyata lawannya itu tingkat kepandaian bela dirinya sangatlah hebat.
Dua orang menyerang gito dari depan, dengan sebuah pukulan jep, dan dua orang lagi menyerang dari belakang dengan tendangan-tendangan yang begitu cepat, ketika Gito mengkaper pukulan dari kedua pemuda, satu tendangan dari belakang tepat mengenai tulang iganyĆ Gito.
Buuuukk...
Heeeuuu, Gito agak sesak napasnya, kemudian Gito menjatuhkan badannya sambil diputarnya badan Gito mengelinding laksana sebuah kayu gelondongan, lalu Gito bangun dan duduk rapat bersila dengan mengatur napasnya perlahan untuk memompa jantungnya agak perendaran darah ke organ tubuh yang lain jadi lancar.
Setelah itu gito berdiri, pasang kuda-kuda sebuah pertahanan.
Karena merasa di tantang dan di anggap sepele, ke empat nya pun langsung melompat secara bersama'an, ketika mereka sudah mau mendekat pada Gito, dengan cepat Gito menggeserkan kakinya ke samping, lalu melompat dengan gerakan kaki memutar seperti sebuah kincir, tidak bisa di hindari lagi tendangan Gito yang bobotnya lebih cepat dan keras menghantam mereka semua.
Duk
Duk
Duk
Deeeasss.....
Auuuugggghhhh...
Suara yang terdengar dari mereka bersama'an dengan jatuhnya tubuhnya mereka di jalan.
Kini Gito tidak lagi membiarkan mereka, salah satu dari mereka yang di anggap paling rese, Gito melompat dengan cepat sambil memasukan sebuah elbo.
Deeeaasss.....
Pemuda yang di anggap rese itu kini tidak bisa menahan lagi rasa sakit dan pusing karena elbonya Gito yang keras telah membuatnya pinsan.
Setealah itu menoleh pada yang satunya lagi yang mau bangun, Gito bergerak melompat sambil menjambah baju di bagian kerahnya.
''Lo' juga mau gua abisin, kenapa lo' tiba-tiba mencegat gua, apa salah gua.'' Ucap Gito.
''Aa am ampun bang, jangan pukul gue.'' Ujarnya.
''Kalau gua mau, kalian gua bawa ke kantor polisi, karena sudah mengganggu dan bikin onar.'' Ancam Gito.
''Ampun'! jangan bang.'' Ujarnya
__ADS_1
''Kalian jangan begitu, jangan mentang-mentang gua bukan orang sini, kalau gua bilangin sama sahabat gua, bisa abis kalian semua.'' Ujar Gito.
''Emang abang orang mana?.'' Tanya salah satu yang sudah bangun dengan pertentang.
''Lo' mau tau gua, anak gang Si'iran.'' Jawab Gito.
Entah kenapa ketika mereka mendengar gang Si'iran, yang tadinya berlaga seperti jagoan mendadak hilang nyalinya, lalu duduk seperti sebuah kapas yang tersiram air hujan.
''Buset dah, kenapa kalian pada diam sih?.'' Tanya Gito.
Mereka tidak menjawab sekata pun, hanya tertunduk dan terdiam.
''Ooh gua tau sekarang, kenapa tiba-tiba nyalimu kendor, karena kalian takut kan gua aduin sama bang kidal, asal lo' tau gua bukan anak kecil, kalau kalian masih penasaran ayo lanjut lagi pertarungan kita, kenapa kalian jadi melempem begini, payah kalian, ya sudah gua cabut dulu.'' Ujar Gito sambil menyalakan kembali motornya.
Gito pun tidak menghiraukan lagi keada'an mereka, langsung melaju, keluar dari gang mawar.
Setelah itu Gito telah mulai memasuki jalan mengkudu raya.
...''Treng teeeeng teeeeng''...
Suara yang keluar dari selongsong kenalpot, bersama dengan mengepulnya asap putih tipis mengiringi lajunya kecepatan motor yamaha Rx king cobra yang Gito kendalikan.
Malam terus berlalu. Gito yang masih meluncur dengan Kendara'annya, suara step yang menggesek ke aspal sehingga menimbul percikan api, ketika gito melalui tikungan Tajam yanag mau mengarah ke Jalan Delima.
Pukul 23:15 menit. Gito telah sampai di depan rumahnya, lalu Gito menghentikan motornya, kemudian turun dan melangkah naik keatas teras rumah dengan pandangan tertuju pada sebuah pintu, dan setelah itu terdengar suara ketukan di pintu sebanyak tiga kali.
Tok
Tok
Tok
''Assalam mualaikum''.
Selang beberapa menit, terdengar suara wanita menjwab.
''Wa alaikum salam.'' Bersama'an dengan terbukanya sebuah pintu, dan muncul se orang wanita yang tak lain ibuknya Gito.
''Kowe saka ngendi?.'' Tanya sang ibuk.
''Abis main mak.'' Jawab Gito.
''Sampeyan bisa muter, nanging ora nginep ing wayah wengi kaya iki.'' Ujar sang ibuk.
''Nggih mbok, wonten margi wonten masalah.'' Jawab Gito.
''Masalah opo?.''
''Yo wis mbok, rasah dibahas, toh aku ape-ape wae.'' Ujar gito sambil mendorong motor masuk kedalam.
''Yen arep mangan, nasi karo lauhe ing lemari.''
''Nggih mbok.''
Selepas itu Gito masuk ke kamarnya, untuk ganti salin, karena basah oleh keringat sewaktu abis perkelahian itu.
Kemudian Gito melangkah ke ruang dapur, lalu di ambilnya bakul nasi dan lauk pauknya dari dalam lemari.
********
Bersambung.
Jangan lupa sertakan like, comentar, jadikan favorit bila suka, berikan votenya serta hadiahnya.
Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.
__ADS_1
''Assalam mu'alaikum''