
Ke esokan harinya Nandi seperti biasa lebih awal memasuki kantor, bertepatan dengan itu Sapitri pun datang, kemudian Nandi menyerahkan beberapa dokumen perusaha'an pada sapitri untuk di pelajari dan di kerjakannya.
Karena Nandi ada keperluan di luar sana, yang harus segera di bereskan supaya nantinya tidak merembet kemana-mana.
Sementara Astuti yang sudah siap-siap untuk berangkat dengan menggunakan kendaraan roda duanya, bukan tidak mau Astuti membawa mobil, berhubung jalan yang Astuti lalui, berada di jalur macet, makanya untuk mempermudah Astuti supaya lebih cepat sampai di kantor, ia lebih suka dengan kendaraan roda dua.
Astuti pun kini sudah melaju di jalan raya delima, Hari itu kebetulan jalanan tidak macet, jadi Astuti pun bisa lebih cepat sampai di kantor, ketika Astuti mau belok ke arah jalan Ketupat Tiba-tiba ada mobil Honda civic memeped dirinya, lalu Astuti berhenti dan berteriak.
"Woi yang bener dong bawa mobilnya, ini jalan umum bukan jalan milik nenek moyangmu, apa kalian tidak melihat ada pengendara lain, atau kah kalian buta." Teriak Astuti.
Lalu empat orang yang berada di dalam mobil itu turun, berpakaian rapi berjas dan yang tiga orangnya mengenakan jaket kulit warna hitam.
"Waah waah, tidak sia-sia Nandi mempunyai adik yang pemberani dan cantik lagi." Ujar lelaki yang mengenakan Jas warna hitam pekat.
"Siapa kalian, kenapa bisa kenal sama abang gue?." Tanya Astuti bernada keras.
"Siapa di kota ini yang tidak kenal sama Nandi, yang selalu sok ikut campur urusan orang." Ujarnya.
"Jangan coba-coba lo' hina abang gue, ooh gue tau pasti kalian orang-prang berengsek dan pecundang, yang berani berkoar di belakang." Bentak Astuti.
"Keparat, dasar wanita sombong, sama seperti abangmu. Ringkus wanita ini." Perintah lelaki berjas pada ke tiga kawannya.
Ke tiga orang itu langsung berkelebat menyerang Astuti, Astuti pun turun dari motornya sambil mundur mencari tempat yang agak leluasa.
Pertarungan pun tidak bisa di hindari lagi, Astuti wanita tomboy asli anak gang Si'iran di keroyok oleh tiga orang berbadan tegap dengan tingkat bela diri sudah di atas rata-rata.
Astuti pun begitu Agresip dan lincah dalam menghindari serangan ke tiga lawannya yang tingkat bela diri sudah sangat hebat.
Sungguh suatu pertarungan yang sangat mendebarkan Sabetan pukulan dan tendengan saling berkelebat menggempur Astuti, melihat begitu Astuti pun merasa kewalahan menghadapi para petarung yang sudah berkelas, Astuti melompat kebelakang sambil memutarkan badannya dalam sebuah tendangan memutar, tapi ke tiga lelaki itu memang sudah banyak pengalaman dalam bertarung, dan bisa membaca ke mana arah tendangan Astuti.
Ketika itu pula ke dua temannya mengirimkan pukulannya dengan berbeda arah.
Tidak bisa di hindari lagi salah satu pukulan lelaki itu masuk dan bersarang di tulang iganya Astuti.
Buuukk.
Pukulan keras dan berbobot yang penuh kekuatan, membuat Astuti terhuyung sempoyongan, belum saja Astuti mau mengatur strategi, dari belakang menendang ke arah pundaknya Astuti.
Deeeaaasss.
Aaauugghhh.
Astuti pun langsung bersuara, sambil melayang tubuhnya mau jatuh, kemudian salah satu dari ketiga lelaki itu melompat sambil membukam astuti dengan sebuah tisu, entah tisu apa yang di pakai buat menutup hidung Astuti, sehingga Astuti langsung menutup kelopak matanya dan tidak sadarkan diri.
"Cepetan bawa cewe itu masuk kedalam mobil." Ujar lelaki berjas.
"Ternyata wanita ini, sangat hebat ilmu bdla dirinya Bos." Ujarnya.
"Iya benar kita bertiga pun sampai kerepotan untuk menjatuhkannya, kalau tidak buru-buru kita bius mungkin ia akan terus bertahan." Ujarnya.
"Iya saya tau, wanita ini adiknya Nandi(Si kidal) Makanya kita jadikan sandra wanita ini, untuk memancing si Nandi keluar."Jawabnya.
Astuti sudah tidak sadarkan diri karena pengaruh obat bius yang ditempel dalam tisu tersebut, Astuti di bawa masuk ke dalam mobil sedangkan motornya masih terparkir dipinggiran jalan.
••••••••••
Sementara di jakan Raya Delima, dua pengendara motor Rx king, yaitu Gito Santoso dan Pandi Adi Supraja, lagi meluncur menuju tempat kerjanya di jalan ketupat.
Setelah melewati perbatasan antara Jalan Delima raya dan jalan ketupat tiga ratus meter dari play over, netra gito sepintas melihat sebuah motor yang ia kenalinya lalu gito memperlambat laju kendara'annya dan berhenti sambil berkata pada Pandi.
"Pan gua melihat di belakang tadi kaya motor Astuti, lagi di parkir di pinggir jalan." Ujar Gito.
"Yang bener lo' To." Cetus Pandi.
"Iya, coba lihat dulu deh, motornya Astuti bukan." Saut Gito.
__ADS_1
Kemudian Pandi pun turun dari motornya, lalu berjalan kira-kira dua puluh meteran, setelah Pandi lihat dan di cek semua, lalu ia berkata.
"Iya benar To' ini motornya Astuti." Teriak Pandi.
Gito pun Turun dari motornya, lalu setibanya di dekat motornya Astuti, sambil melihat-lihat.
"Iya betul nih tidak salah lagi ini motornya Astuti." Ujar Gito.
Sambil celingukan kesana kemari tapi yang di cari tidak nampak sedikitpun.
"Gua ngerasa ini ada gelagat yang tidak beres, coba lo' hubungi nomor ponselnya Astuti." Ujar Gito pada Pandi.
"Oke, bentar gua hubungi dulu." Ujar Pandi sambil merogoh ponselnya di balik saku celana bagian samping.
Setelah itu Pandi menempelkan handponnya di telinga kanan.
Nut
Nutt
Nuut
Terdengar sauara telepon sudah tersambung, tetapi tidak di angkatnya.
Sementara di lain tempat.
Astuti yang masih berada dalam perjalanan di sebuah mobil Honda civic belum sadarkan diri karena pengaruh dari obat bius.
"Bos ponselnya wanita ini bunyi." Ujarnya memberi tahu.
"Coba dilihat Nandi bukan yang nelpon?." Tanya Pria berjas hitam itu.
"Sudah dimatiin Bos." Sautnya.
Lalu pria yang berbadan tegap dan berkulit kuning langsat itu mengambil ponsel miliknya Astuti dari balik saku jaketnya, kemudian orang itu membuka ponsel miliknya Astuti dan melihat di panggilan tidak terjawab.
"Bukan Bos, bukan Nandi tapi Pandi yang menghubunginya." Ujarnya.
"Ya sudah, kamu cari nomornya Nandi dan catat semua nomor para pamilinya itu, lalu setelah itu buang handponya." Saut Bosnya itu.
"Sayang kalau di buang, ini handpon mahal Bos." Ujarnya.
"Ya terserah kamu, mau lo ambil, ambil aja, lalu kartu simnya langsung buang." Perintah Bosnya.
Setelah semua nomor kelurga Nandi dan para pamilinya berhasil di save, lelaki itupun langsung mencopot Sim Card nya Astuti dan di buang ke jalan.
•••••••••
Sementara Pandi dan Gito setelah menghungi Astuti beberapa kali tidak di angkatnya, kemudian Gito mendorong dan mengamankan motornya Astuti di sebuah kios warung kopi.
"Pak saya nitip dulu motor ini." Ujar Gito.
Lalu pemilik kios warung kopi pun keluar menuju pada Gito dan Pandi. "Ooh kalian temennya yang punya motor ini?." Tanya pemilik warung.
"Iya pak saya sahabatnya yang punya motor ini, emang bapak kenal sama pemilik motor ini?." Tanya Gito.
"Ya kenal sih enggak, cuma tadi saya sempat melihatnya, pemiliknya wanita kan, posturnya tinggi dan seperti ke tomboy-tomboyan begitu?." Pemilik warung bertanya.
"Iya betul pak, bapak tau kemana dia?." Pungkas Pandi bertanya.
"Tadi saya lihat dia ber kelahi dengan ke tiga lelaki, dan pemilik motor ini kalah dan langsung di bawa di masukin kedalam mobil." Jawab pemilik warung.
Gito dan Pandi tersontak kaget, se olah tidak percaya Astuti yang bela dirinya sudah hampir setara dengan Nandi harus kalah begitu saja.
"Yang bener pak masa ia, dia harus kalah begitu saja." Ujar Gito.
__ADS_1
"Ia saya melihatnya, wanita itu memang jago bela dirinya, tapi lawannya juga pada hebat, bertiga lagi." Jawabnya.
"Ya sudah kalau begitu, terima kasih pak impormasinya, dan nanti siang motornya ku ambil pak." ujar Gito.
"Iya sama-sama."
Setelah itu Gito dan Pandi pun kembali menghidupkan motornya, dan meluncur menuju tempat kerjanya, sekalian mau memberi tahu Nandi tentang Astuti yang hilang di culik, oleh orang tidak di kenal.
Setibanya di tempat kerja, Gito langsung menghubungi Nandi lewat aplikasi whatssap, dan menjelaskan dari kabar yang ia terimanya dari pemilik kios warung kopi tersebut.
📞. Nandi "Pokonya lo' dan Pandi sekarang balik kesini, masalah motor Astuti, lo' suruh anak buahmu untuk mengambilnya dan masukin ke ruangan belakang gudang."
📞.Gito "Oke pak Bos."
Setelah itu panggilanpun sudah di akhiri dengan menekan gagang telpon warna merah, dan Gito pun mengajak salah satu anak buah nya untuk ikut bersamanya.
Ketika Gito dan Pandi mau menghidupkan motornya kembali, ada sebuah mobil Honda Jaz memasuki area parkiran halaman kantor, dia adalah Nina yunita yang baru datang mungkin terjebak macet di perjalanannya.
Nina pun lalu keluar dari dalam mobil dan berjalan menghampiri pada Pandi dan Gito.
"Eeh, kalian mau pada kemana lagi?." Tanya Nina.
Sebelum menjawab pertanyaan dari Nina, Pandi dan Gito saling pandang dengan mengerutkan keningnya.
"Eeh kalian ini di tanya malah bengong." Ujar Nina.
"Astuti, sayang." cetus Pandi.
"Astuti kenapa?." Tanya Nina.
Kemudian Gito pun menceritakan apa yang telah di ceritakan oleh pemilik warung kopi tersebut.
"Nah begitu Nin ceritanya."
"Aduuh kasihan Astuti, pantesan tadi pak Nandi mengirim chat, untuk menghandle kerjaannya Astuti, di kira aku Astuti lagi ada acara gitu." Ujar Nina.
"Kalau begitu, ku tinggal dulu ya sayang, hati-hati kerjanya." Ujar Pandi.
"Iya sama-sama, Aa dan kamu juga To hati-hati ya, semoga Astuti tidak kenapa-napa." Ucap Nina.
Selepas itu Pandi dan Gito serta anak buahnya ikut boncengan sama Gito untuk membawa motor Astuti.
Dua puluh menit kemudian, Pandi dan Gito pun sudah sampai di gang si'iran, lalu Pandi dan Gito meluncur menuju rumahnya pak Dirman, karena Nandi berpesannya suruh kumpul di rumah orang tuanya.
Setibanya di tempat, nampak Kamal, Doni, Hasan dan Toglo lagi duduk di kursi seperti lagi membicarakan sesuatu.
"Assalam mu'alaikum." Sapa Gito.
"Wa alaikum salam, ayo silahkan duduk.
Ketika Nandi lagi berunding untuk mencari Astuti, tiba-tiba Handpon Nandi berdering, lalu Nandi pun meraih ponselnya dari atas meja, ada panggilan masuk dengan nomor yang tidak di kenalinya.
"Ada nomor baru masuk nih." Ujar Nandi.
"Angkat Nandi, siapa tau orang yang membawa Astuti itu, dan suaranya keluarin." Tutur pak Dirman.
Nandipun menuruti apa kata ayahnya, ketika Nandi mengangkat panggilan tersebut, sang penelpon berkata dengan nada sebuah ancaman.
📞. "Halo Nandi, ini permulaan sebuah permainan, dan Adik perempuanmu sekarang ada pada gue."
📞.Nandi "Heh lo' siapa? bebaskan adik gua, berani sentuh adik gua, lo' akan menyesal seumur hidupmu."
📞. "Kalau kamu benar sayang pada adikmu, siapkan uang lima ratus juta, nanti tempatnya gue kirim, setelah kamu dalam perjalanan kesini, ingat jangan coba-coba hubungi polisi."
Belum sempat Nandi bicara, panggilanpun langsung di matiinnya, Nandi pun geram, wajahnya memerah seperti besi yang matang terbakar.
__ADS_1