
Perubahan jaman kini semakin berkembang pesat, persaingan dagang dan bisnis pun kini saling berpacu dan berlomba dalam mencapai titik pada ke suksesan.
Seperti yang kini di alami Nandi bisnisnya sebagai penyuplai bertambah maju, tapi di balik kemajuannya bisnis Nandi tak luput dari sikap dan sipat iri orang-orang dengan kemajuannya bisnis yang Nandi jalani bersama para sahabatnya.
Dengan berbagai macam cara, orang-orang ingin menjatuhkan Nandi tetapi selalu saja gagal dan gagal.
Di malam Jum'at kliwon bertepatan dengan malam satu Suro.
Nandi kini di gempur lagi oleh orang-orang yang selalu iri padanya dengan cara halus.
Pukul 00:00.
Malam terasa mencekam, lolongan auman srigala terdengar jelas memecahkan malam yang hening sepi sunyi dan mencekam.
Di malam itu Nandi gelisah tidak bisa tidur, berbeda dengan Sindi dan Anggita yang nampak sudah terlelap dalam mimpinya, Nandi duduk di sopa di ruangan tengah sambil menghisap sebatang roko dan secangkir kopi.
Tiba-tiba terdengar suara keras di atas genteng, seperti suara ledakan, nandi pun terperanjat kaget lalu ia bergegas keluar, setibanya di luar Nandi melihat ke atas atap genteng, namun sedikitpun Nandi tidak menemukan apa-apa, bahkan gentengpun tetap tersusun rapi dalam posisi semula. "Tadi jelas gua mendengar suara yang keras di atas genteng, tapi posisi genteng tidak ada yang ruksak sama sekali, benar-benar aneh." Gerutu Nandi bermonolog.
Selepas Nandi memeriksa ke atas genteng, terdengar suara jeritan dari kamar tempat di mana Sindi dan Anggita tidur.
Nandi pun langsung berlari ke arah kamar, nampak terlihat Sindi lagi meraung kesakitan, Nandi langsung memburu dan bertanya.
"Sayang kamu kenapa?." Tanya Nandi.
"Tidak tau Aa, tiba-tiba perut saya sakit seperti di tusuk-tusuk, Aduuh Aa sakit." Teriak Sindi sangat histeris.
Anggita yang lagi dalam keadaan tidur pulas langsung bangun ketika Sindi berteriak.
"Ayah, ibu kenapa?." Tanya Anggita.
"Tidak tau sayang, tiba-tiba ibukmu menjerit-jerit kesakitan, bentar ya Ayah mau telpon dulu dokter yang biasa ayah dan ibukmu suka cek up kesehatan." Ujar Nandi.
Nandi pun langsung menelpon dokter langganannya sampai beberapa kali, yang akhirnya dokterpun menjawabnya. karena malam sudah larut kemungkinan besar dokter lagi tidur.
📞.Nandi "Halo dok ma'ap malam-malam begini saya sudah lancang menggangu istirahatnya."
📞.Dokter "Iya pak Nandi, tidak apa-apa, ada yang perlu saya bantu."
📞.Nandi "Begini dok tiba-tiba istri saya perutnya sakit, seperti ditusuk-tusuk katanya, apa dokter bisa datang ke rumah malam ini, biar nanti di jemput."
📞.Dokter "Bisa pak Nandi, saya kan seorang Dokter kapanpun saya di butuhkan pasti saya datang, kecuali saya ada halangan yang tidak bisa untuk pergi."
📞.Nandi "Oke terima kasih Dok, biar saya jemput sama adik saya."
📞.Dokter "Terima kasih pak Nandi, tidak usah repot-repot, saya segera kesana."
Akhirnya Nandi pun langsung menutup kembali panggilannya, lalu Nandi mengalihkan panggilannya pada Astuti dan kedua orang tuanya, supaya cepat datang ke rumah, karena Sindi lagi mengalami sakit yang mendadak.
Tidak lama kemudian Pak Dirman, buk Sari, Astuti dan Kamal datang.
"Kenapa dengan Sindi Nandi?." Tanya Buk Sari.
"Entahlah Buk, tiba-tiba perut Sindi kesakitan seperti ditusuk-tusuk katanya." Jawab Nandi.
"Sudah kamu panggil Dokter Di'." Ujar pak Dirman.
__ADS_1
"Lagi menuju kesini." Jawab Nandi.
Di tengah-tengah kepanikan dengan sakit yang di derita oleh Sindi, tedengar Bel berbunyi.
Ting teng.
Nandi dan semua yang hadir langsung semringah, bahwa itu pasti dokter yang ia hubungi sebelumnya.
Astuti pun segera beranjak keluar rumah untuk membuka pintu gerbang.
Setibanya di depan Gerbang nampak sebuah motor Honda Pcx warna putih lagi terparkir, lalu Astuti bertanya. "Dengan Dokter Ridwan?." Tanya Astuti.
"Iya Non, aku Dokter Ridwan, tadi pak Nandi menghubungi saya, suruh datang perihal istrinya sakit mendadak." Ujar Dokter Ridwan.
"Ayo silahkan masuk pak, Pak Dokter lagi di tunggu oleh pak Nandi." Ujar Astuti.
Setelah itu Dokter Ridawan pun memasukan motornya ke area halaman rumahnya Nandi, lalu ia turun dari motornya dengan menenteng sebuah tas warna hitam, dan berjalan memasuki rumahnya Nandi.
Setiba di dalam Dokterpun langsung menyapanya dengan mengucapkan salam.
"Assalam mu'alaikum."
"Wa alaikum salam, ayo dok silhakan masuk pasennya ada di kamar." Jawab pak Dirman.
"Iya terima kasih pak." Ujar Dokter Ridwan sambil melangkahkan kakinya menuju kamar Nandi dan Sindi Berada.
"Assalam mualaikum, selamat malam pak Nandi." Sapa Dokter Ridwan.
"Wa alaikum salam Pak Dokter, gimana di jalannya lancar." Ujar Nandi.
"Oh tentu saja, silahkan Pak Dokter." Ujar Nandi.
Setelah itu Dokter Ridwan pun langsung membuka tas tempat peralatannya, terlebih dahulu dokter mengecek tensi darah Sindi, dan hasilnya normal, lalu mengecek sakit yang di derita oleh Sindi, dan Dokter terkejut, sambil mengerlingkan jidatnya, Nandi yang memperhatikan sikap Dokter Ridwan yang seperti kebingungan lalu bertanya.
"Apa yang di alami istri saya Dok?." Tanya Nandi.
Dokter Ridwan bingung mau menjelaskannya bagaimana, tapi apa pun al hasilnya dokter Ridwanpun tidak bisa berbohong dan berkata sesuai pakta dari hasil yang ia periksa pada Sindi.
"Saya cek tensi darah istri bapak normal, dan saya pun tidak menemukan suatu penyakit pada tubuh istri bapak, semua sehat-sehat pak Nandi." Ujar Dokter Ridwan.
Nandi pun tersenyum tipis, seolah-olah tidak percaya pada ucapan Dokter Ridwan.
"Yang benar dok, jelas-jelas istri saya tadi menjerit-jerit kesakitan, dan dokter bilang sehat-sehat, Dokter jangan bercanda deh." Ujar Nandi.
"Demi Allah pak Nandi saya berkata apa adanya, ini bukan penyakit medis pak Nandi, saya sering menangani hal seperti ini." Ujar Dokter Ridwan.
Ketika Dokter Ridwan berkata begitu, pak Dirman lalu masuk dan bertanya, pada Nandi.
"Sebentar, tadi saya sempat mendengar percakapan dokter sama Nandi dari hasil pemeriksaan Dokter, bahwa mantu saya sehat-sehat,dan bukan penyakit medis." Ujar Pak Dirman.
"Iya benar pak." Ujar Dokter Ridwan.
"Saya mau bertanya padamu Nandi, jam berapa istrimu mulai merasakan sakitnya?." Tanya pak Dirman.
"Sekitar setengah dua'an pak." Jawab Nandi.
__ADS_1
"Apa sebelumnya kamu menemukan sesuatu yang janggal, atau mendengar suara-suara yang aneh." Lanjut pak Dirman bertanya.
Nandi pun seperti di ingatkan sewaktu ada suara aneh di atas genteng.
"Oh iya benar, dari sehabis isa ku merasakan tidak enak hati, perasaannya gerah gitu, dan anehnya Sindi dan Anggita yang biasa suka nonton TV sehabis isa, ia malah tidur dengan pulasnya, kira-kira pukul 00:00 ku seduh kopi dan di bawa ke ruang tengah, lalu ku hisap sebatang roko, setelah lima menit setelah itu, ku mendengar suara seperti ledakan di atas genteng, terus ku keluar dan ku lihat diatas genteng tidak ada apa-apa, malahan gentengpun masih tersusun rapi." Jelasnya Nandi.
"Sekarang kau rendam kalungmu itu, lalu airnya kau minumkan pada istrimu, ini ada orang dengki padamu, yang ngirim penyakit." Ujar pak Dirman.
"Baik pak." Ujar Nandi langsung bergegas pergi ke dapur untuk mengambil air, Setelah air sudah di tuangnya kedalam Baskom Nandi pun langsung melepaskan kalung yang melingkar di lehernya itu dan di rendam dalam waktu sepuluh menit, kemudian kalung itupun di angkat kembali, lalu Nandi membawa air tersebut ke kamar dalam takaran satu gelas, perlahan Nandi meraih tubuh istrinya yang di bantu oleh Astuti, lalu Nandi meminumkan air tersebut melalui mulut Sindi yang terkunci rapat.
Dengan sabar Nandi terus berusaha supaya air tersebut bisa di telan oleh Sindi, akhirnya air tersebut sudah nampak masuk dalam tenggorokannya Sindi.
Lima menit setelah air itu masuk membasahi tenggorokannya Sindi, Sindi menjerit.
"Aduuh panaaaass panasss..." Begitu teriakan yang terdengar dari mulutnya Sindi, dan selepasnya Sindipun langsung pinsan, dan pak Dirman menyuruh Nandi untuk membiarkan Sindi istirahat sampai dia sadar dan terbangun.
Sedangkan Dokter Ridwan pamitan karena kasihan meninggalkan anak istrinya di rumah.
"Saya mohon ma'ap pak Nandi dan semuanya, tidak bisa berlama-lama, karena saya meninggalkan anak dan istri saya dalam keadaan tertidur karena tadi buru-buru jadi tidak sempat membangunkan istri saya." Ujar Dokter Ridwan.
"Oh iya Dok, jadi berapa semuanya?." Tanya Nandi.
"Tidak usah pak Nandi, karena ini bukan penyakit medis, semoga istri bapak cepat pulih kembali, Assalam mualaikum." Pamit Dokter Ridwan.
"Iya Dok, terima kasih Wa alaikum salam." Jawab semuanya.
Dokter Ridwanpun langsung keluar rumah yang di antar oleh Astuti sampai depan gerbang.
"Hati-hati pak Dokter di jalannya." Ucap Astuti.
"Iya Non, terima kasih." Ujar Dokter Ridwan sambil melaju kan motornya meninggalkan rumahnya Nandi.
Dan Astuti pun langsung mengunci kembali pintu gerbang tersebut, kemudian bergegas masuk kedalam rumah.
Kini Nandi dan keluarga duduk berkumpul di ruangan tengah, memikirkan penyakit yang di derita Sindi dengan se cara tiba-tiba.
Nandi, pak Dirman dan semua keluarga tidak habis pikir dengan coba'an yang terus datang merongrong.
"Siapa ya kiranya yang membenci padaku, apa salah ku dan apa dosaku, perasa'an ku gak pernah menyakiti hati orang, kalau emang ada salah yang tak kusadari ampunkanlah dosaku ya Allah." Gerutu Nandi.
Kemudian pak Dirman dan buk sari memberi penenangan pada putranya.
"Kamu yang sabar Nandi, dalam setiap perjuangan pasti akan banyak rintangan, kalau kita bisa melewatinya dengan hati yang iklas, insa Allah akan ada jalan keluarnya." Ucap Pak Dirman memberi nasehat.
"Iya Nandi, ini ujian untuk menuju pada ke suksesanmu, Ibuk yakin kamu pasti bisa melewati semua ini." Pungkas Buk Sari ikut bicara.
"Iya buk, pak, bukannya ku tidak iklas, tapi kenapa harus Sindi yang jadi korban, knp tidak padaku saja, ku paling benci pada orang yang suka main belakang, ini perbuatan orang-orang pengecut." Ujar Nandi mualai emosi.
Suasana malam yang semakin mencekam pak Dirman dan Buk sari serta Astuti dan Kamal pun terus menemani Nandi, takut sewaktu-waktu kiriman datang lagi, dalam kekuatan yang besar.
*********
Bersambung
Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu
__ADS_1