
Kini haripun sudah mulai gelap, para sahabatnya nandi pun sudah pada pulang, beserta pak dirman dan astuti, dengan membawa mobilnya nandi, dan kamal yang menyetir mobil tersebut.
Tadinya nandi meminta toglo tidak usah ikut pulang, tapi setelah dipikir lagi neneknya kasihan sendirian takut butuh pertolongan toglo.
Kini nandi dan sindi sudah mulai memasuki kamarnya, mereka duduk berdua diatas kasur sambil bercanda saling cubit dan saling ejek, canda tawa mereka memancarkan sebuah kebahagia'an yang sudah lama mereka nanti-nantikan, kini terlaksana jua.
''Sayaaang, ini punya siapa.'' Ucap nandi sambil menunjuk pada hidungnya sindi.
''Sudah tentu punya aa, suamiku tercinta.'' Jawab sindi.
''Kalau yang ini?.'' Tanya nandi.
''Semuanya, jiwa dan ragaku dari atas rambut sampai ke ujung kaki sudah miliknya suamiku.'' Jawa sindi sambil memeluk tububnya nandi.
Nandi lalu membelai-belai rambutnya sindi, terus kedua telapak tangannya nandi memegang kedua pipinya sindi yang mulus bersih dengan aura kecantikan yang alami dan bibir merah bergincu tanpa pewarna lipstik asli pemberian tuhan.
Cantik bukan polesan, membuat nandi semakin sayang pada sindi.
mereka kini saling pandang dengan tatapan penuh cinta, sehingga tanpa disadari dikit demi sedikit kedua bibir manis itu saling mendekat perlahan, dan akhirnya ciuman dari keduanya pun saling mendarat.
Kini getar asmara di keduanya pun mulai dirasakannya, belaian dan ciuman-ciuman lembut dari keduanya sudah saling menjelajahi.
Dengan penerangan sebuah lampu jamur dan semilir hawa dingin kini seperti menjadi saksi bisu, dua orang yang lagi memadu kasih dimalam pertama.
Desah napas di keduanya pun terasa bergetar, dan detak jantung dikeduanya sudah seperti genderang mau perang, karena jantung sudah mulai memompa darah untuk menghidupkan semua organ-organ dalam tubuh.
Gadis cantik berkulit putih mulus dan bersih kini sudah berada dalam rengkuhan pria tampan yang berjiwa penolong, dewa kamajaya pun kini sudah mulai merasuki pada kedua insan yang lagi memadu kasih di malam pertama.
Sehingga akhirnya mereka pun terlelap terbawa terbang menuju puncak asmaranya.
...........
Ke esokan harinya, sebelum matahari terbit dari timur, nandi dan sindi sudah bangun lebih awal, Walau rambutnya nampak masih basah begitu pula nandi.
Nandi duduk diluar dibelakang rumah, sambil menyermati suara kicauan burung yang berada dalam sangkar.
Sang burungpun seperti memberikan pujian dan doa pada nandi dan sindi, yang baru saja melaksanakan kewajibannya.
''Subhanallah, suara burung itu seperti mengandung makna.'' Ucap nandi.
''Aah aa, yang namanya burung yang begitu selalu berkicau atuh.'' Pungkas sindi.
''Iya abang juga tau, tapi suara burung yang itu menurut abang berbeda banget.'' Ujar nandi.
''Ya sudah, ini kopinya segera diminum, nanti keburu dingin.'' Ucap sindi.
''Iya sayang, terima kasih, ooh iya rendi belum bangun emang?.'' Tanya nandi.
''Kalau jam segini bang rendi belum bangun, berarti bagian sip sore atau sip malam.'' Saut sindi.
Seketika itu buk sumi pun telah keluar dari kamarnya.
''Eeh kalian sudah pada bangun rupanya.'' Sapa buk sumi sambil menoleh keluar, kearah nandi dan sindi.
''Iya buk, kita dari tadi juga sudah bangun.'' Jawab sondi.
''Ko ngopinya tidak sama cemilannya sih, sin bukannya suamimu dikasih makanan ke.'' Ujar buk sumi.
''Udah ko, tadi udah sindi mau ambil, tapi aanya gak mau, katanya nanti aja.'' Ujar sindi.
''Ooh kenapa?.'' Tanya buk sumi.
''Tidak apa-apa buk, ku belum mau aja kalau pagi-pagi makan cemilan.'' Jawab nandi.
__ADS_1
Setelah itu, sang surya telah memancarkan cahayanya yang kuning ke'emasan untuk menerangi planet bumi, karena sinar ultra violet banyak sekali manpa'atnya yang dirasakan oleh makhluk dan tumbuh-tumbuhan di bumi.
Siang itu, selepas sarapan bareng keluarga, nandi dan sindi pamit dulu pada buk sumi dan rendi, mau ke gang si'iran dulu sambil sila turahmi pada para pamili gang si'iran, sekalian mau buka toko, karena banyak langganan pada nelpon yang butuh barang.
Nandipun sudah mendorong motor kepunyaannya sindi untuk dipanasin terlebih dahulu.
Selang beberapa menit, nandi dan sindi langsung menaiki motornya.
Rendi dan buk sumi berdiri di teras sambil memandang kepergiannya nandi.
Kini nandi sudah melaju jauh dan sudah mulai memasuki kawasan jalan ketupat.
Motor honda beat melesat dengan kecepatan diatas rata-rata, menyusuri medan jalan yang yang turun naik dan banyak sekali tikungan-tikungan tajam, tapi nandi sangat menyukai dengan medan jalan yang penuh tantangan.
Menurut nandi setiap tikungan mempunyai arti dan makna tersendiri.
Tidak lama kemudian nandi sudah tiba diperbatasan jalan yang mau masuk kawasan jalan delima, nandi terus menarik gasnya pool, tapi nandi juga tetap waspada dan selalu pasang mata.
Tiba-tiba nandi menurunkan lagu kecepatannya sampai akhirnya berhenti, karena nandi melihat seorang anak kecil maju mundur-maju mundur mau nyebrang tapi seperti takut.
Sindi belum mengerti kenapa nandi tiba-tiba berhenti.
''Ada apa aa, ko berhenti?.'' Tanya sindi
''Tunggu sebentar disini ya.'' Jawab nandi sambil turun dari motornya.
Terus nandi berjalan mendekati anak tersebut.
''Dek kamu mau nyebrang?.'' Tanya nandi pada anak tersebut.
''Iya oom, tapi aku takut om.'' Jawab anak tersebut
''Ya sudah ade pegang tangan kiri om, om akan bantuin untuk menyebrang.
Dan akhirnya nandi sampai pula dipinggiran jalan.
''Nah sekarang sudah sampai, nanti kalau ade takut nyebrang, cari aja jembatan penyebrangan atau minta tolong sama orang, terus ade mau kemana?.'' Tanya nandi.
''Iya om, terima kasih, aku mau pulang kerumah, ini abis beli'in susu buat adikku om.'' Jawab anak tersebut.
''Ooh, emang di dekat rumahmu gak ada warung?.'' Tanya nandi.
''Ada sih om, cuma kalau susu buat bayi tidak ada.'' Jawabnya.
''Terus ayahmu kerja apa?.'' Tanya nandi.
''Ayah kerja sebagai buruh kuli panggul dipasar om.'' Saut anak tersebut.
''Ya sudah, kamu cepetan pulang, mungkin orang tuamu sedang menunggumu, dan ini ada rijki buat kamu, terimalah.'' Ucap nandi sambil memnerikan uang 50.000 pada anak itu.
''Gak usah oom.'' Kata anak itu.
''Sudah, terimalah gak baik lho nolak rijki.'' Ujar nandi.
''Ya sudah, terima kasih, om baik banget, semoga allah swt menggantinya berlipat-lipat dari yang om berikan kepadaku.'' Jawab anak itu.
''Sama-sama, aamiin, kamu hati-hati ya.'' Ucap nandi.
Setelah itu, anak itupun pergi meninggalkan nandi uang masih berdiri memandangi anak itu.
Setelah anak tersebut hilang dari pandangannya, nandi pun lalu kembali lagi menyebrang menuju pada sindi yang lagi menunggu disebrang jalan.
Tidak lama kemudian nandi telah tiba.
__ADS_1
''Lama ya menunggu.'' Ucap nandi.
''Enggak juga sih.'' Saut sindi.
Setelah itu nandipun lalu menaiki motornya kembali, dan ditarik gas pool, kini motor pun melaju lagi dengan kencang menyusuri jalan delima.
Dua puluh menit kemudian nandi dan sindi kini telah tiba didepan rumah, nampak toko masih tutup karena nandi menyuruh karyawannya untuk libur dulu satu hari.
Nandi dan sindi lalu segera turun dari motornya, terus berjalan menaiki teras depan rumah.
Setelah nandi sudah berhadapan dengan sebuah pintu panel yang terbuat dari kayu jati.
Tok tok tok.
''Assalam mualaikum.'' Sapa nandi sambil mengetuk
Selang beberapa menit, terdengar suara seorqng wanita menjawab salamnya dari nandi.
''Wa alaikum salam.'' Jawabnya, sambil terbukanya perlahan sebuah pintu tersebut.
''Aa nandi, teh sindi, pengantin tuh jangan keluar dulu.'' Ucap astuti.
''Weeh kamu, masa harus ngerem dikamar terus sih.'' Ucap nandi.
''Tau tuh dek tuti, ada-ada aja.'' Pungkas sindi.
''Ya iyalah puas puasin dulu, kan kalian masih berbulan madu, hehee.'' Ujar astuti.
Setelah itu nandi dan sindi menemui kedua orang tuanya, yaitu pak dirman dan bu sari.
Setibanya dilapak, yaitu lokasi pak dirman dalam melakukan aktipitas sehari-harinya.
''Assalam mualaikum.'' Sapa nandi.
Pak dirman dan buk sari, sontak kaget, karena nandi dan sindi datangnya tanpa diketahui sebelumnya.
''Wa alaikum, waahh nandi, sindi, sampai kaget kapan datangnya.'' Ujar buk sari.
Nandi dan sindi lalu sungkem pada buk sari dan pak dirman.
''Ma'apin nandi pak, buk, kalau selama ini nandi banyak salah.'' Ucap nandi.
''Sama-sama anaku nandi, bapk dan ibuk cuma bisa mendoakan semoga kamu bisa menjadi imam yang bisa dibanggakan oleh istri dan keluargamu nanti.'' Ucap pak dirman.
Selepas itu lalu sindi sujud sungkem pada pak mertua dan buk mertua.
''Bapak, ibuk, sindi juga minta ma'ap yang sebesar besarnya, apabila sindi banyak salah dalam menjalani bahtera rumah tangga, tegurlah aku dan bimbinglah aku agar bisa menjadi istri yang baik.'' Ujar sindi.
''Kamu salah anaku, itu semua sudah tugas suamimu menegur bila ada kesalahan pada istrinya, begitu juga kamu, apabila suamimu salah tegur dan arahkanlah pada jalan yang benar.'' Ucap buk sari.
''Iya buk insa allah, kita akan selalu mengingatkan.'' Saut sindi.
Setelah itu, nandi dan sindipun keluar, dan keliling gang si'iran untuk sila turahmi pada tetangga dan pamili gang si'iran.
Selepas keliling, nandi dan sindi lalu membuka tokonya, karena akan ada pengunjung yang biasa langganan, untuk membeli barang-barang untuk keperluan bengkelnya.
★★★★★★★★★★
Bersambung.
Jangan lupa sertakan, like, comentar, favorit, ranting, hadiah dan votenya.
Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.
__ADS_1