
Di hari minggu awal bulan, kendara'an di jalanan pun nampak terlihat sepi, hanya beberapa kendara'an saja yang terlihat lalu lalang.
Di pinggiran jalan raya delima sebelah kiri nampak ada tiga orang, dua lelaki dan satu perempuan seperti lagi mencegat sebuah angkutan umum.
Nampak dari kejauhan sebuah mobil mikrolet lagi melaju dijalur sebelah kiri, kemudian salah satu dari ke tiga orang itu, yang paling dewasa di antara mereka, mengulang-ngulang tangannya sebagai tanda untuk menghentikan Mikrolet tersebut.
Mikrolet(Angkot) pun berhenti, lalu ketiga orang itu naik satu persatu di susul oleh lelaki yang sudah dewasa lalu duduk di jok yang masih kosong penumpang. Mikrolet pun langsung tancap gasnya.
Kini sebuah mobil mikrolet warna hijau dengan kombinasi warna kuning, melaju di jalan delima raya, setelah jauh mikrolet itu melaju, salah satu penumpang yang tiga orang itu berkata.
''Bang di jalan pelangi berhenti ya.'' Ujarnya.
''Iya dek.'' Jawabnya singkat, sambil terus mengendalikan setirnya.
Tidak lama kemudian angkot berhenti ''Dek sudah sampai di jalan pelangi.'' Ucap sang sopir mikrolet
''Iya bang.'' Jawab penumpang yang tiga orang tadi, sambil memberikan uang sebagai ongkosnya.
Kemudian ke tiga orang itu turun dari angkot, dan ketiga orang itu yang tak lain adalah Wanda, Wawan dan Wiwin.
Ketiga bersaudara itu lalu berjalan memasuki gang kecil, setiba di sebuah tempat, nampak terlihat banyak berjejer kuburan-kuburan orang yang sudah meninggal, rupanya Wanda, Wawan dan Wiwin mau berjiarah ke makam ke dua orang tuanya.
Setelah itu Wanda dan kedua adiknya, berjalan mencari makam kedua orang tuanya, akhirnya Makam yang di cari-cari itu telah di ketemukan oleh Wawan.
''Ini bang kuburan ibuk, dan itu kuburan ayah.'' Ucap Wawan
''Masa Allah makam ibu dan ayah, sangat tidak terawat.'' Ujar Wanda sambil mencabuti rumput-rumput yang sudah banyak tumbuh di atas kuburan orang tuanya.
Kemudian Toglo alias Wanda memulai memimpin tawasul membaca alpatihah sebisa-bisanya Toglo bacakan, untuk mengirimkan doa kepada orang tuanya, yang sudah berada di alam barjah.
Setelah selesai membaca ayat-ayat alqur'an, Wanda pun langsung memimpin doa.
''Ya Allah ya tuhan kami, ampunilah segala dosa dan khilap kedua orang tua kami dan tempatkanlah kedua orang tua kami bersama orang-orang yang engkau mulyakan. Amiin ya robal allamiin.'' Wanda pun menutup doanya dengan mengusapkan kedua telapak tangan pada wajah, yang di ikuti oleh Wawa n dan Wiwin.
''Sekarang ayo kita bersihkan makam ibuk dan ayah.'' Ajak Wanda pada kedua adiknya.
Semua rumput-rumput yang tumbuh di atas kuburan mereka cabutin satu persatu, sampai bersih.
Ketika mereka lagi sibuk bersih-bersih, munculah lelaki berusia enam puluh lima tahun menghampirinya dan berkata.
''Assalam mualaikum, adek-adek lagi pada ngapain?.'' Tanya lelaki tersebut.
Lalu Wanda, menoleh ke arah datangnya suara itu.
''Ini pak kita lagi bersihin makam orang tua kita.'' Jawab Wanda.
''Ooh jadi kalian ini. Anak-anaknya pak danu dan buk Wati.
__ADS_1
''Iya pak kita semua anak-anaknya, ma'ap ko bapak tau sama kedua orang tua kami?.'' Tanya Wawan.
''Ya tau atuh, kan bapak yang menggali kuburan kedua orang tua kalian.'' Jawabnya.
''Jadi bapak tukang gali kubur disini?.'' Tanya Wanda.
''Iya benar, hanya disinilah bapak bisa menyambung hidup dan buat makan anak istri.''
''Tidak apa-apa pak, yang penting halal.'' Ujar Wanda.
Lelaki tukang gali kubur itu, tercengang kaget begitu melihat pada Toglo(Wanda).
''Lalu ini siapa, setau bapak anak pak Danu dan buk Wati cuma dua, kalau gak salah namanya Wawan dan Wiwin, karena anak pertamanya dulu hanyut terbawa air banjir bandang, malahan bapak pun ikut serta dalam pencarian setelah banjir sudah surut.'' Ujarnya.
'' iya pak, dan sayalah yang bernama Wawan dan ini adiku Wiwin, nah ini kaka kami yang di kabarkan hilang itu, namanya bang Wanda.'' Ujar Wawan.
''Yang bener kamu, tapi bapak lihat-lihat emang sangat mirip sekali mukanya sama adek ini.'' Ucap tukang gali kubur sambil menunjuk pada Wiwin.
Lalu Toglo alias Wanda merasa tertarik dengan lelaki penggali kubur itu, dan ingin mengorek keterangan lebih dalam lagi tentang kematian kedua orang tuanya.
''Bapak emang tau tentang orang tua kami semasa hidupnya?.'' Tanya Wanda.
''Ya tau banget, karena sebelum bapak jadi tukang gali kubur, pernah kerja bareng jadi buruh tani pada saudagar kaya raya.'' Ujarnya.
''Bisa kita ngobrol lebih jauh lagi pak, tolonglah kami pak, karena saya sebelumnya sempat berpikiran tidak baik pada kedua orang tua ku.'' Ujar Wanda.
Setelah itu. Wanda dan kedua adiknya mengikuti tukang gali kubur itu ke tempat peristirahatannya, yang tidak jauh dari situ.
Setibanya di tempat, di sebuah gubuk kecil yang ber'ukuran dua meter kali dua meter, lalu Wanda dan kedua adiknya duduk di balai-balai bambu, sedangkan lelaki tukang gali kubur itu, mengambil sebuah teko dan tiga gelas plastik, lalu di tuangnya air putih dari dalam teko tersebut pada tiga gelas plastik.
''Ma'ap adek-adek, di sini adanya cuma air putih, ayo di minum.''
''Iya pak terima kasih.'' Jawab Wanda sambil meraih gelas yang sudah di isi oleh air putih, Wawan dan Wiwinpun mengikutinya.
Setelah itu Lelaki tukang gali kubur itu bercerita tentang Pak danu dan buk wati semasa hidupnya dulu.
''Pak danu adalah lelaki gagah dan sangat pemberani di dampingi oleh seorang istri yaitu buk Wati perempuan penyabar dan sangat setia pada suami, mereka hidup rukun dan damai, walau dalam hidupnya banyak ke kurangan tapi selalu bahagia. Setahun setelah pernikahan, pak Danu dan buk Wati di karuniai seorang anak lelaki yang gagah , anak itu di beri nama Wanda, perpaduan antara Danu dan Wati, mereka terlihat sangat bahagia, seminggu setelah anak itu lahir pak Danu datang ke rumah bapak, untuk di buatin sebuah gantungan kalung dari logam perak, yang kebetulan waktu itu orang tua bapak masih hidup yang kegiatannya sehari-hari adalah tukang pandai besi, lalu bapak pergi untuk menemui ayahku minta di bikinin tiga gantungan kalung dengan di kasih nama, bapak juga heran kenapa pak Danu memesan gantungan kalung itu tiga, padahal anaknya kan baru satu.
Setelah gantungan kalung itu jadi, lalu bapak anterin kerumahnya, setelah berjumpa dengan pak Danu bapak merasa penasaran dengan gantungan kalung yang dipesan tiga itu, bapk bertanya.
''Dan bukankah anakmu baru lahir satu, kenapa kamu bikin tiga?
Lalu pak Danu menjawab ''Saya bikin tiga, siapa tau ku dipercaya punya anak lagi.'' Begitu jawabnya polos sekali
Setelah Wanda menginjak usia tiga tahun enam bulan, pada hari Jum'at langit mendadak gelap, cahaya matahari tertutup oleh awan hitam yang tebal.
Pukul 09:00, air turun dari langit sangat deras sekali dengan durasinya yang sangat lama, hingga mengakibatkan air meluap karena sungai tidak bisa menampung air yang begitu banyak, sampai rumah--rumah penduduk banyak yang terendam, waktu itu pak danu lagi menggendong Wanda mau naik mobil pick up milik kaka iparnya, baru aja pak danu naik, mobil di gas kencang hingga pak danu kaget dan Wanda yang lagi berada digendongan pak danu terlepas dan hanyut terbawa air.
__ADS_1
Singkatnya, ketika air sudah surut pak danu lapor pada Rt, lalu pak Rt mengerahkan semua penduduk untuk mencari keberada'annya Wanda sampai larut malam, tapi pencarianpun tidak membuahkan hasil, dari situ pak Danu banyak melamun, hingga akal sehatnya terganggu lalu mendatangi kaka iparnya sampai terjadi keributan, kalau tidak di tolong kaka ipar pak Danu pasti tewas, karena di hajar habis-habisan, lalu pak Danu terjerat hukum berlapis dan akhirnya di penjara.
Buk wati sangat sedih sekali dengan nasib yang di alami suaminya, apalagi waktu itu buk Wati sedang hamil tujuh bulan, setelah dua bulan pak Danu mendekam di penjara, buk Wati melahirkan anak keduanya, begitu malang nasibnya buk Wati melahirkan sendiri, lalu bapak lapor pada Rt meminta kerela'an untuk membantu buk Wati, akhirnya semua warga banyak menyumbang makanan ada yang beras, ada juga uang dan masih banyak lainnya.
Lima tahun kemudian pak Danu bebas, tapi masih dalam pengawasan atau tahanan luar, buk Watipun sangat senang dengan tebebasnya pak Danu, lima tahun di tinggal suami, tentu bukan waktu yang sebentar, semua rindu dan kangen di curahkannya, sehingga setahun setelah terbebas lahirlah anak ke tiga, tapi pak Danu waktu itu sering sakit-sakitan kepikiran terus tentang hilangnya Wanda, hingga ajal menjemputnya.
Nah dari situlah hidup buk wati semakin menderita.'' Jelasnya tukang gali kubur bercerita
''Iya pak waktu itu aku sudah ingat.'' Pungkas Wawan.
''Lalu waktu itu kamu dan adikmu kemana?.'' Tanya tukang gali kubur pada Wawan.
''Aku wajtu itu harus memberi makan dek Wiwin, hingga hidupku terlunta-lunta menjadi gelandangan, kadang ku minta-minta, kuli panggul, pokonya apa aja yang penting bisa mendapatkan uang.'' Jawab Wawan.
''Kalian yang sabar ya, semenjak kepergianmu dan Wiwin, tanah dan rumah di ambil oleh pamanmu, padahal itu mutlak warisan dari orang tuanya buk Wati.''
mendengar cerita dari tukang gali kubur yang bersahabat dengan pak Danu ayah dari Wanda, Wawan dan Wiwin.
Toglo nampak memerah mukanya, seperti lagi memendam sebuah amarah dan dendam.
Sambil menarik napasnya perlahan, untuk membuang rasa amarahnya Toglo(Wanda) berkata.
''Lalu tanah dan rumah peninggalan ayah dan ibuk di jual gitu oleh Paman?.'' Tanya Wanda.
Sejenak tukang gali kubur itu terdiam seperti lagi menimbang-nimbang, apa yang harus di katakannya.
''Mungkin ku jangan bilang yang sebenarnya, takut terjadi sesuatu, apalagi kalau melihat dari sorot matanya wanda, kayanya anak ini mewarisi sipat bapaknya, sangat bengis bila lagi marah.'' Gumam tukang gali kubur dalam hati.
''Pak kenapa bapak diam?.'' Tanya Toglo(Wanda).
''Kalau masalah itu bapak kurang tau, karena bapak sudah menjadi tukang gali kubur, dan bapakpun sudah tidak tinggal lagi di kampung Jati.''
''Oh ya sudah kalau begitu, nanti ku cari sendiri keterangannya, terima kasih pak atas luang dan waktunya, bapak sudah mau bercerita tentang ayah Danu dan ibuk Wati.'' Ujar Wanda.
Setelah itu Wanda dan kedua adiknya undur diri dari hadapannya tukang gali kubur yang bernama Wantas.
Toglo dan kedua adiknya terus berjalan menyusuri jalan gang kecil dan Wawan sebagai petunjuk arah menuju kampung jati, tempat di mana mereka di lahirkan.
***********
Bersambung.
Terima kasih atas dukungannya, ikuti terus kelanjutannya di episode selanjutnya, jangan lupa ya sertakan like, comentar, jadikan favorit bila suka, berikan vote serta hadiahnya.
Salam sehat dan sukses selalu
''Assalam mu'alaikum''
__ADS_1