SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 109


__ADS_3

Senja itu nandi dan sindi mau otw ketempatnya sindi sekalian mengantarkan buk suminar.


Mobil pajero warna putih telah melaju memasuki jalan delima raya.


Perjalanan pun mulai tersendat-sendat karena banyaknya kendara'an yang telah memadati dijalan raya, bersama'an dengan keluarnya para buruh-buruh pabrik, sehingga kemacetanpun sudah mulai.


''Waduuh gimana nih sudah mulai macet lagi.'' Ucap nandi.


''Lagian, kaya gak tau aja sih aa, ini kan jamnya para karyawan keluar.'' Ujar sindi.


''Iya sayang aku lupa,, buk gimana nih, bisa malam kita sampai rumah.'' Ujar nandi.


Terus buk suminar menjawab.


''Tidak apa-apa nak nandi, mau nyampe malam juga, bukan urusan penting ini.'' Saut buk suminar.


''Ya sudah atuh, nanti kita cari masjid aja, buat melaksanakn solat maghrib.'' Ucap nandi.


Kini angin dingin pun sudah mulai menyelimuti kota itu dan sekitarnya.


Suasana dijalan masih dalam keada'an padat merayap, akhirnya nandi membelokan setirnya ke kiri memasuki halaman sebuah masjid, karena sebentar lagi waktu maghrib akan segera tiba.


Bertepatan dengan keluarnya nandi, sindi dan buk suminar dari dalam mobil, maka berkumandanglah suara adzan dimasjid tersebut.


Nandi dan sindi lansung menuju sebuah tempat wudhu, sementara dede anggita digendong sama buk suminar.


Setelah nandi dan sindi selesai melaksanakn solat maghrib, sindi langsung mengambil dede anggita dari pangkuannya buk suminar.


''De gita, omahnya mau solat dulu ya.'' Ucap sindi


''Iya cucuku, omah mau solat dulu ya, owh rupanya masih pingin sama omah ya.'' Ujar buk suminar.


''Ibu cepetan ambil wudhu, nanti waktunya keburu abis.'' Ucap sindi pada ibuknya.


Buk suminarpun langsung bergegas menuju ketempat wudhu untuk mensucikan dari hadas kecil.


Setelah selasai mengambil wudhu, bu suminarpun masuk ke masjid ke ruangan tempat wanita untuk melaksanakan ibadah solat maghrib.


Lima menit kemudian buk suminar sudah membuka mukenanya, terus di lipat dan simpan lagi ke tempat semula, terus krluar dari ruangan itu menuju pada sindi dan nandi yang lagi menunggu di teras halaman masjid.


Pukul 18:40 menit.


Jalananpun sudah mulai nampak normal seperti biasa, dan kendara'an pun sudah melaju dengan kecepatan 60km.


''Kayanya jalan sudah mulai lancar, ayo kita pulang.'' Ajak nandi.


''Iya mungpung sudah normal kembali, nanti keburu macet lagi deh.'' Saut sindi.


'


Nandi dan sindi serta buk suminar langsung memasuki kedalam mobil untuk melanjutkan lagi perjalanannya menuju jalan ketupat.


Kini mobil mulai berjalan perlahan keluar dari halaman masjid, setelah itu nandi langsung tancap gas, mobilpun melaju dengan kencangnya dijalan raya delima raya.


Kini nandi sudah mulai memasuki jalan raya ketupat, tinggal beberapa kilo lagi maka nandi dan sindi serta buk suminar akan segera sampai di rumah.


Tidak lama kemudian nandi pun sudah sampai dijalan ketupat, sebelum bengkel nasi motor nandi menyalakan sennya ke kanan untuk memasuki jalan gang yang mau kerumahnya buk suminar.


Setelah kendara'an yang melintas tidak terlalu padat mobilpun berjalan perlahan-lahan, dan setelah itu mobil pajero new sport melaju memasuki gang anggrek menuju rumahnya buk suminar.


Pukul 20:00 nandi telah tiba di depan rumah, dan mobilpun langsung diparkir disamping rumah, karena tidak adanya garasi tempat mobil.

__ADS_1


Mereka lalu keluar dari dalam mobil tersebut, dan berjalan memasuki teras depan rumah.


Buk suminar lalu mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.


Tok tok tok..


''Assalam mualaikum.'' Sapa buk suminar.


Tiga menit jemudian, suara laki-laki menjawab.


''Wa alaikum salam.'' Jawabnya sambil membuka kan pintu perlahan.


''Ko lama amat sih ren buka pintunya.'' Tegur buk suminar.


''Ma'ap buk, ku tadi dibelakang lagi memberi makan burung.'' Jawab pemuda itu yang tak lain rendi anak pertamanya buk suminar.


Lalu nandi pun memberi salam pada kaka iparnya itu.


''Baru pulang bang.'' Sapa nandi.


''Nggak juga, sudah dari tadi, gimana kabarnya keluarga disana?.'' Tanya rendi.


''Alhamdulilah baik.'' Jawab nandi.


''Lo' mau ngopi kagak.'' Ucap rendi memberi tawaran.


''Boleh sih, kebetulan tadi dijalan kecegat macet sampai puyeng ni kepala gua.'' Ujar nandi.


Setelah itu nandi masuk dan duduk dikursi dibruangan tengah, sambil menunggu secangkir kopi datang.


Tidak lama kemudian rendi datang dengan membawa nampan, ber'isikan dua gelas kopi hitam yang nampak masih panas.


''Iya bang terima kasih.'' Saut nandi.


''Gimana bisnismu, gua dengar lo' buka distributor?.''


Tanya rendi.


''Alhamdulilah berjalan lancar, cuma distributor belum dibuka, soalnya penerima'an karyawan baru juga besok baru mulai tes tahap kedua.''


''Ya syukur deh, gua turut berdoa semoga usahamu tambah sukses.'' Ucap rendi.


''Amiin, terima kasih bang.'' Kata nandi.


''Ayo diminum kopinya, nanti keburu dingin lho.'' Ujar rendi.


Setelah itu tangan kanannya nandi langsung meraih gelas yang sudah ber'isikan kopi tersebut.


Seriipiiitt...


Suara seripitan terdengar, terus nandi mengeluarkan rokonya dan diambilnya satu batang, terus dibakarnya dengan api yang keluar dari sebuah korek gas.


Nampak begitu enak nandi dan rendi dalam menyeripit kopi nya, yang disusul dengan hembusan asap putih yang keluar dari mulutnya, nampak seperti tidak ada beban dalam hidupnya.


Setelah itu munculah buk suminar dan sindi dengan menggendong dede anggita langsung duduk di sopa, lalu sindi melepaskan dede anggita dari gendongannya dan di dudukin di pangkuannya sindi.


''Aa gitanya gak mau tidur, katanya pingin sama ayah.'' Ucap sindi.


''Ooh ya sudah, sebentar ya gita sayang ayahnya mau meroko dulu ya.'' Ujar nandi.


''Uluuh cucu omah, sini sama omah aja ya, ayahnya tanggung tuh lagi ngopi dulu.'' Pungkas buk suminar.

__ADS_1


Anggita pun hanya menggelengkan kepalanya, tanda gak mau digendong sama omahnya.


Terus nandi mengambil anggita dari pangkuannya sindi.


''Gita sayang, sini sama ayah.'' Ucap nandi.


Anggita pun seperti merasa senang di gendong sama ayahnya, anak yang berkulit putih bersih dan imut seperti ibunya, nampak ketawa-ketawa ketika nandi mengajaknya bercanda dengan mengketek-ketek perutnya.


''Iih aa jangan di ketek-ketek perutnya kasihan geli tau.'' Ucap sindi.


''Ya kagak atuh sayang, aku juga pake perasa'an ko.'' Ujar nandi.


''Itu anggita waktu di pondok haur koneng ko gak rewel ya, padahal dia selalu aja rewel bila ditinggal sebentar aja.'' Pungkas sindi.


''Ya mungkin karena suasana di pondok lebih nyaman dan terasa tentram, apalagi anak se usia anggita masih suci, pasti tau keadaan di pesantren itu tempatnya mencari ilmu.'' Pungkas rendi ikut nimrung.


''Ya bisa jadi juga begitu.'' Saut buk suminar.


''Kayanya, anggita lebih deketan sama bapaknya deh, ketimbang mmhnya, tuh dipangkuan nandi dia sudah tertidur.'' Pungkas rendi.


Setelah itu anggita sudah tertidur pulas di pangkuannya nandi, dan waktupun tidak terasa, jarum jam yang menempel di dinding tembok sudah menunjukan pikul 22:15 menit.


Nandi dan sindi pun sudah pamit pada rendi dan buk suminar untuk masuk kamar menidurkan dede anggita.


Malam pun terus berlalu, udara pun sudah terasa dingin menusuk masuk ke pori-pori kulit sehingga nandi dan sindipun telah tertidur saling berpelukan untuk berbagi kehangatan.


...............


Ke esokan harinya, disa'at matahari masih belum menunjukan sinarnya, kira-kira pukul 05:30 menit nandi sudah duduk stamby dibelakang rumah mertuanya, dengan sebuah kopi hitam digelas kaca sudah berada setia di hadapan nandi.


Kopi hitam yang rasanya sangat khas, di buat oleh sang istri tercinta yaitu sindi irawati.


Sindi yang lagi sibuk di dapur membantu meringankan kerja'an ibuknya memasak, kini telah selesai sudah, lalu sindi keluar menemui suaminya yaitu nandi.


''wualaah, nikmat bener yang lagi ngopi sambil menghisap sebatang roko.'' Sapa sindi.


''Ya iya dong, alhamdulilah, allah swt masih memberi kenikmatan hidup sama kita.'' Jawab sindi.


''Alhamdulilah ya aa, walau terkadang sering kali banyak coba'an dalam hidup kita, tapi kita khususnya gue sendiri, merasakan kebahagia'an hidup bersama aa nandi, itu sebuah kenikmatan yang tak terhingga.'' Ujar sindi.


''Iya sayang, kita harus banyak bersyukur setelah apa yang telah kita dapat, biarpun banyak kendala dan coba'an dalam hidup, itu tandanya yang maha kuasa lagi menguji hambanya, sampai di mana tingkat kesabaran dan ke imanan kita kepadanya.'' Tutur kata nandi.


''Alhamdulilah ya allah, ku diberi suami yang baik, penuh tanggung jawab dan bijaksana sekali dalam menyikapi sebuah masalah.'' Saut sindi sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


''Amiiin.'' Saut nandi.


Setelah itu buk suminar datang nyamperin nandi dan sindi.


''E'eeh rupanya kalian ada disini, dikira ibuk lagi di kamar.'' Ucap buk suminar.


''Dari sesudah solat subuh, ku sudah disini buk.'' Saut nandi.


''Iya buk, ku dan aa nandi dari pagi-pagi sekali sudah didini, malahan semua masakanpun sudah selesai.'' Ujar sindi.


''Ooh ya, ma'ap ya nak, habis solat subuh ibuk ketiduran, habis serasa ngantuk banget.'' Ucap buk suminar.


''Iya buk tidak apa-apa, selagi ada sindi, ibuk tidak usah cape-cape menyediakan masakan buat kita, biar sindi aja.'' Pungkas nandi.


''Betul itu, apa yang di bilang sama aa nandi, biar aku yang ngerjain.'' Saut sindi.


''Terima kasih ya anaku,, kalian memang orang-orang yang berbakti pada orang tua, tapi ibuk juga masih kuat kalau cuma memasak mah atuh.'' Saut buk suminar.

__ADS_1


__ADS_2