SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang enolong eps 173


__ADS_3

Kini malampun sudah berlalu udara dingin semakin terasa menusuk menembus pori-pori kulit bersama kabut yang kian menembal menyelimuti jantung kota.


Para petugas ronda yang berjaga di setiap pos, nampak lagi bakar-bakar menghangatkan tubuhnya dari dinginnya angin malam.


Di wilayah Rt 08 gang Si'iran nampak Nandi dan Pandi serta Gito. Malam itu lagi jadwalnya mereka berjaga di temani oleh kepala Ronda dan ketua Rt.


"Malam ini terasa dingin sekali, sangat beruntung buat pasangan pengantin baru." Ujar Pak Rt.


"Betul tuh pak Rt, Kamal lagi ngapain ya sekarang." Pungkas Gito.


"Elo' tuh pikirannya ngeres aja sih To, makanya cepetan lamar tuh Mira." Pungkas Pandi.


Nandi hanya tersenyum sambil memandang datar wajah gito yang kocak dan melan colis.


"Tau tuh temenmu itu Nandi, kadang bicaranya suka ngelantur." Pungkas kepala Ronda.


"Ya gimana sih Bapak ini, namanya juga humor, biar kita gak bosan lho pak." Saut Gito.


"Iya iya To'." Ujarnya.


Kini api yang menyala di samping pos terus makin membesar memberikan rasa hangat pada tubuh mereka yang kedinginan.


Kemudian Nandi menyuruh Gito untuk membuatkan kopi sebagai pelengkap begadang mereka.


"To gimana kalau lo' pesen kopi, kayanya enak nih, di malam yang dingin begini bila obrolannya di temani dengan segelas kopi." Ucap Nandi.


Gito pun tidak banyak comentar lagi, ia langsung bergegas pergi menuju sebuah warung kopi yang biasa buka dua puluh empat jam.


"Mang kopi lima gelas." Ujar Gito.


"Siap To'."


"Gpl ya."


"Oke siap Bos."


Selepas itu Gito pun langsung balik lagi ke pos, ke tempat di mana Nandi dan yang lainnya berada.


"Lho kopinya mana To?." Tanya Nandi.


"Nanti si Mamang yang anterin Sini." Jawab Gito.


Selepas gito berkata, nampak terlihat si Mamang penjual kopi datang membawa nampan ber'isikan lima gelas kopi hitam.


"Ini kopinya Bos." Ujar sang penjual kopi, sambil menyimpan nampan di hadapannya Nandi dan yang lainnya.


"Iya makasih mang." Ujar Nandi.


Setelah itu satu persatu di antara mereka langsung menyeripit kopinya masing-masing, yang di susul dengan hembusan-hembusan asap putih tipis dari isapan sebatang roko.


"Widiiih nikmat benar nih malam ini, Kopi sama roko terasa banget nikmatnya." Ujar Gito.


"Iya betul apa kata Gito, malam ini beda banget." Ujar kepala Ronda.


"Menurut pengalaman gua, bila malam yang lagi kita rasakan sekarang ini, biasanya suka ada kejadian yang tidak kita inginkan, tapi mudah-mudahan aja ini cuma ke kuatiran gua aja." Ucap Nandi sembari meraih gelas kaca yang ber'isikan kopi hitam.


"Iya juga sih, karena malam ini terasa sepi gitu." ujar pak Rt.


"Di' gimana kalau kita keliling." Usul Pandi.


"Boleh tapi tetap harus ada yang stamby di pos jangan sampai kosong." Ujar Nandi.


kemudian kepala Ronda memberikan usulan pada Nandi.


"Sekarang gini aja, di pos biar saya dan pak Rt saja, dan kalian bertiga keliling, gimana?." Tanya kepala Ronda.


"Oke kalau begitu, Pan dan lo' To ikut sama gua." Ajak Nandi.


Baru saja Nandi mau beranjak dari tempat duduknya, muncul Doni dengan membawa sepeda motornya, lalu Doni turun dari kendara'annya dan langsung menghampiri Nandi dan yang lainnya.


"Assalam mu'alaikum." Sapa Doni.


"Wa alaikum salam, dari mana lo' Don?." Tanya Gito.


"Sengaja gua kesini mau menemui kalian." Jawab Doni dengan pasang wajah serius.


"Wah ada apa ini, kayanya ada kabar penting?." Tanya Pandi.


Doni tidak langsung menjawab, ia malah balik bertanya.


"Bentar ya, kayanya ada yang kurang nih, kopi nya kurang satu, mana dong kopinya?." Tanya Doni.

__ADS_1


"Lo' mau, gampang tinggal pesen aja, biar gua yang bayar." Ujar Nandi.


Setelah itu, gito pun langsung memanggil sang penjual kopi, untuk pesan kopi satu lagi.


"Kopi sudah di pesen, dan lo' belum jawab pertanya'an gua." Ucap Pandi.


"Oke-oke, gini! kalian sudah dengar kabar belum." Ujar Doni.


"Kabar apa tuh?." Tanya Nandi.


"Gua denger kabar dari teman gua, Tadi malam sekitar jam sepuluhan lewat Toglo berhasil meringkus dua orang yang mau mengambil mesin gilingan padi miliknya pak Sodikin." Jelasnya Doni.


"Yang bener lo'?." Tanya Kepala Ronda.


"Iya betul pak masa teman saya bohong, ya agar lebih jelasnya coba hubungi Toglo." Jawab Doni.


"Kalau jam segini Toglo mungkin sudah tidur, gua tau sipat Toglo kalau habis cape kerja handponnya suka di non aktipkan." Ucap Nandi.


"Iya sih biarin aja dulu, kasihan Toglo dia kan sibuk waktu hajatan itu pasti lelah dan butuh istirahat." Pungkas Pandi.


"Gua setuju dengan Pandi." Ujar Gito.


"Gua juga sependapat." Ucap Nandi.


Ketika mereka lagi membicarakan masalah Toglo sang penjual kopi datang.


"Ini bos kopinya." Ucap sang penjual kopi.


"Terima kasih mang, Berapa semua mang?." Tanya Nandi.


"Delapan belas ribu Bos." Jawabnya.


Kemudian Nandi mengeluarkan uang sebesar lima puluh ribu.


"Ini mang, sisanya roko aja dua bungkus, buat pak Rt dan kepala Ronda.


"Roko apa bos?." Tanya nya.


"Ya terserah mamang sisanya dapat Roko apa." Ujar Nandi.


"Ya paling dapat Djarum coklat Bos." Jawabnya.


"Ya sudah pak Rt dan Pak kepala Ronda Rokonya kan Djarum coklat." Ucap Nandi.


Lalu tidak lama lagi sang penjual kopi kembali dengan membawa dua bungkus Roko kretek Djarum coklat.


"Ini Rokonya, dan ini kembalinya dua ribu lagi Bos." Ujarnya.


"Ya sudah buat mamang aja sih." Jawab Nandi.


Setelah itu Nandi, Pandi dan Gito pergi keliling gang Si'iran dengan membawa kentungan yang terbuat dari bambu.


Sedangkan Doni berdiam di pos bersama Pak kepala Ronda dan Pak Rt.


Tong


Tong


Tong..


Suara kentungan yang terus di pukul oleh mereka, sampai ber'ulang kali.


Semakin ketatnya perjaga'an di setiap gang, karena lagi maraknya para pencuri dan banyaknya para warga yang kehilangan dari mulai binatang ternak sampai pada kendara'an dan lain sebagainya.


Tong...Tong..Tong.


Gito dan Pandi terus membunyikan suara kentungan, sambil terus keliling yang di pimpin oleh Nandi.


Ketika Nandi, Pandi dan Gito sudah mendekati perbatasan antara Gang Si'iran dan Gang Kulit di mana para pengusaha kulit banyak di situ makanya di namakan Gang Kulit.


Sekelebatan bayangan terlihat oleh Nandi, lalu Nandi melompat sambil berteriak.


"Woii. Siapa itu." Teriak Nandi.


Gito dan Pandipun langsung melompat mengikuti Nandi.


Kini nampak terlihat kelebatan bayangan saling berkejaran, di antara sempitnya jalan Gang Kulit.


"Woii..Jangan lari kau, kalau kalian orang baik-baik kenapa harus lari." Teriak Nandi sambil terus berlari mengejar orang yang tidak di kenalinya.


Sementara Gito dan Pandi yang mengejar dari belakang, begitu ke empat bayangan berlari memasuki gang Kulit, Gito dan Pandi pun belok ke kiri karena Gito dan Pandi tau tembusannya jalan tersebut akan menemui jalan buntu.

__ADS_1


Ketika ke empat bayangan itu lagi terus berlari karena Nandi yang terus mengejarnya di belakang, tiba-tiba mereka berhenti sambil tersontak kaget, karena jalanan yang mereka tempuhi balik lagi ke arah yang sedang di lalui oleh Gito dan Pandi.


Kini ke empat orang mencurigakan itu tidak ada pilihan lain lagi, jalan satu-satunya dengan pasang badan.


Gito dan Pandi pun berjalan santai sambil


menepukan ke dua telapak tangannya.


Pok pok pok..


"Cakep-cakep, kalian tidak akan bisa keluar lagi." Ujar Gito.


"Heh kenapa lo' pada lari, ketika melihat kita?." Tanya Pandi.


Ke empat orang itu tidak menjawab pertanya'an dari Pandi, mereka hanya saling pandang sesama temannya, sambil tersenyum sinis.


Bagi mereka tidak punya pilihan lagi, yaitu menyingkirkan para peronda itu, kalau tidak para ronda akan membawanya ke pos, lalu para warga keluar dan menghajarnya rame-rame, begitu pikirnya mereka.


Maka dari itu ke empat orang tidak di kenal itu langsung menyerang Pandi dan Gito serta Nandi.


Kini perkelahian pun terjadi, demi mempertahankan dirinya ke empat orang itu habis-habisan menyerang anak-anak Gang si'iran.


Tapi butuh skill bela diri yang hebat untuk melumpuhkan Pandi, Gito dan Nandi.


Seperti yang lagi mereka rasakan malam itu, pukulan dan tendangan anak-anak gang si'iran telah membuat mereka terjatuh.


Ke empat orang itu berusaha untuk bangun dengan pandangan melotot dan tatapan penuh dendam, tapi kemampuan tidak ada.


Kemudian Nandi mengayunkan tungkai kakinya mendekati mereka dan berkata.


"Ma'apin kami kalau sudah berlaku kasar, habisnya kalian di tanya malah menjawabnya dengan menyerang pada kami." Ujar Nandi.


Lalu mereka berdiri sambil meringis menahan rasa sakit di tubuh dan di bagian mukanya.


"Kenapa kalian mengejar kami, terus salah kami apa." Ujar salah seorang dari ke empat orang itu.


Kemudian Gito melangkah maju dan berkata.


"Seharusnya kami yang bertanya, kenapa kalian pada lari ketika melihat kami lagi Ronda. Terus kenapa kalian berempat menyerang kami." Ujar Gito.


Pandi nampak terlihat kesal dengan ke empat orang itu, yang seperti menyembunyikan sesuatu.


"Ya sudah, sekarang bawa aja mereka ke pos biar jadi bulan-bulanan warga." Gertak Pandi.


"Ampun bang, jangan bawa kami ke sana." Ujarnya.


"Kalau gak mau kami bawa, makanya cepetan jawab pertanya'an kami, sebenarnya kalian mau apa?." Tanya Nandi, agak sedikit kesal dengan sikap mereka.


"Iya bang ma'ap tapi abang gak akan bawa kami kan." Pinta mereka.


"Wah kelama'an, gua teriakin nih pada warga biar kalian jadi santapan mereka." Ujar Gito.


Setelah Gito bilang begitu, ke empat orang itu pun langsung memohon dengan pasang wajah melas.


"Iya-iya bang, oke saya akan jujur, kami ber'empat mau memasuki rumahnya pak Darma, lalu kami mendengar suara kentungan di pukul dan kami kaget begitu melihat abang bertiga terus kami lari karena merasa punya niat tidak baik, begitu bang." Jelasnya.


"Oke Terima kasih atas kejujuran anda, lalu apa kalian sudah sering melakukan pekerja'an begini?." Tanya Nandi.


"Baru kalai ini bang, kami tidak punya uang buat beli anggur dan akhirnya kami nekad gimana caranya supaya mendapatkan uang." Jawabnya.


"Astagpirullah hal adzim, apa kalian tidak tau bahwa perihal begitu itu di larang sama agama." Ucap Nandi.


"Tau bang." Ucapnya sambil tertunduk.


"Kalau kalian tau kenapa terus di lakukan, kembalilah kalian kejalan yang benar, dan carilah pekerja'an yang halal, karena kejahatan itu tidak ada yang sempurna, dekat kan lah diri kalian pada tuhan dan jalani hidup sesuai dengan hukum dan agama kalian masing-masing." Ujar Nandi memberi wejangan.


"Iya bang, terima kasih atas nasehatnya, terus seterusnya kami gimana bang?." Tanya salah satu dari mereka.


"Oke kali ini kalian kami ampuni, tapi apabila kalian terdengar begitu lagi, jangan salahkan kami, karena kemanapun kalian sembunyi kami akan terus mengejarnya, ya sudah sekarang pergilah, sebelum para warga berdatangan." Ujar Nandi.


"Baik bang, terima kasih atas kebaikan hatimu." Ujarnya.


Setelah itu mereka pun pergi dari hadapan Nandi, Pandi dan Gito.


*************


Beraambung.


Jangan lupa ikuti terus kelanjutannya di episode selanjutnya, tinggalkan jejaknya dengan. Like, comentar, jadikan favorit bila suka, berikan Vote serta hadiahnya.


Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.

__ADS_1


"Assalam mu'alaikum"


__ADS_2