SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 179


__ADS_3

Setelah semua Karyawan memasuki ruangan kerjanya masing-masing, Nandi dan Sindi serta Anggita lagi duduk di meja makan, habis melaksanakan makan siang bareng keluarga.


Tiba-tiba dari ruangan keluarga terdengar nada ring toon dari sebuah ponsel, lalu Anggita berkata.


"Ayah itu handpon ayah bunyi." Ujar Anggita.


"Oh iya, sayang tolong ambilin, takutnya ada sesuatu yang penting." Ujar Nandi.


Anggita pun langsung turun dari kursi makan yang dibantu oleh Nandi, dan melangkah kan tungkai kakinya menuju ruang tengah untuk mengambilkan handpon milik ayahnya.


Setelah itu Anggita telah kembali sambil menggenggam ponsel yang masih berbunyi.


"Tidak ada namanya ayah." Ujar Anggita.


"Ooh ya sudah sini." Ujar Nandi sambil menerima handponnya dari uluran tangan Anggita.


Kemudian Nandi menyentuh layar pnsel dan di gulirnya jempol tangan kanannya ke atas, dan panggilan pun langsung terhubung.


📞.Nandi "Halo ini siapa?."


Si penelpon pun langsung menjawab pertanya'an nya Nandi sambil menyebutkan namanya.


📞. "Halo nak Nandi ini aku bi ijah, tukang masak nya abah Haji Mansur."


📞.Nandi "Ooh bi Ijah, tumben bibi nelpon ada apa bi?."


📞.Ijah "Ma'ap nak Nandi, bibi cuma mau ngasih kabar aja padamu, bahwa abah haji lagi sakit."


📞.Nandi "Astagpirullah haladzim sakit apa bi?."


📞.Ijah "Sakitnya panas, dan muntah darah, awal mulanya abah haji menghukum santrinya yang bandel, kan kamu tau sendiri kalau ada santri yang tidak mau ngaji di suruh merendam di kolam samping pondok, kemudian santri tersebut pulang, mungkin anak santri itu ngadu pada orang tuanya, dengan bla-bla-bla.


Ke esokan harinya orang tua santri tersebut datang dan memaki Abah Haji, kemudian orang tua dari santri itu bikin onar dengan menantang abah haji untuk bertarung, lalu terjadilah pertarungan dan orang tua dari santri tersebut akhirnya kalah dengan menanggung malu, seminggu setelah terjadi dari pertarungan itu abah Haji di serang lagi, tapi bukan berbentuk orang melainkan ilmu hitam semacam teluh begitu."


📞.Nandi "Kenapa tidak di tangkap aja orang itu, kan ketauan selepas punya masalah sama orang tua santri itu, Abah Haji langsung jatuh sakit."


📞.Ijah "Kalau lapor polisi kan harus ada bukti yang akurat dan dapat di mengerti, makanya aku nelpon kamu, solusinya gimana, dan lurah pondok juga meminta agar kamu datang ke sini."


📞.Nandi "Iya bi Ijah, saya segera ke sana sekarang juga, ya sudah saya mau siap-siap dulu."


Kemudian panggilan pun di tutupnya, dan Sindi bertanya sambil menghampiri Nandi.


"Ada apa sayang?." Tanya Sindi.


"Abah Haji mansur sakit sayang, ayo kita jenguk kesana.


"Baik sayang, sekarang?." Tanya Sindi.


"Iya, lebih cepat lebih baik." Jawab Nandi.


Setelah itu Sindi langsung menyiapkan pakaian yang akan di bawannya., sedangkan Nandi langsung menghubungi Adiknya Astuti lewat panggilan di via whatssap, dan setelah selesai menghubungi Astuti, Nandi pun langsung menghubungi, Toglo, Gito, Pandi, Hasan dan Kamal, serta Doni.


Karena bagi Nandi para pamili gang Si'iran adalah bagian dari hidupnya yang harus selalu ikut serta bersamanya.


Singakat Cerita.


Nandi pun sudah bersiap-siap dan barang-barang yang akan di bawanya sudah selesai di kemasnya, lalu Nandi keluar rumah menuju pada bengkel untuk menemui Toglo.


Setibanya di bengkel Nandi lalu duduk sambil menyapa pada ke tiga anak buah Toglo.


"Wah lagi sibuk rupanya, Toglo kemana Sep?." Tanya Nandi pada Asep.

__ADS_1


Asep pun menghentikan dulu kerja'annya, lalu membersihkan tangannya dari oli bekas yang belepotan di tangan pakai lap yang sudah tersedia, kemudian menghampiri Nandi dan berkata.


"Bang Toglo barusan ke Kantor kayanya, menyerahkan hasil kinerja minggu ini." Jawab Asep.


"Ooh gitu, terus gimana sep, minggu ini padat gak para pengunjung?." Nandi bertanya.


"Luamayan ramai sih pak, kebanyakan yang service, dan sparepart yamaha stocknya sudah berkurang." Ujar Asep.


"Iya lagi dikrim dari logistic, paling lambat besok sore datang, ya sudah kalian lanjutkan lagi kerja'an nya saya akan ke kantor dulu." Ujar Nandi.


"Baik pak." Kata Asep.


.............


Singkat cerita Nandi dan para pamili gang Si'iran sudah berkumpul, lalu Nandi langsung ke tema pembicara'an yang akan di bahasnya.


"Para sahabatku yang sekaligus para pekerjaku yang setia, hari ini saya sengaja mengundang kalian kesini karena ada hal yang sangat penting, sekarang saya mau berangkat ke pondok haur koneng karena Abah Haji lagi sakit parah, menurut kabar yang saya terima tadi dari bi ijah, Abah haji muntah darah, di sertai dengan serbuk kaca keluar dari dalam tubuhnya, menurut saya itu bukan penyakit yang wajar, dan saya minta ke rela'annya pada kalian untuk ikut menjenguk." Jelasnya Nandi.


Kemudian Pandi bertanya?


"Lho ko bisa pak bos, Abah haji kan pimpinan pondok, kenapa bisa begitu." Pungkas Pandi.


"Ya Abah haji juga kan manusia sama seperti kita, yang tak lepas dari segala ke kurangannya." Ujar Nandi.


"Tau tuh Pandi." Celoteh Hasan.


"Lalu kita semua ikut?." Tanya Astuti.


"Ya tidak semua, Dek kamu harus ikut, untuk sementara biar Nina yang ngurus semua pekerja'an yang di jalan ketupat bersama Pandi, sedangkan Doni kamu tetap di sini karena kerja'anmu harus cepat kelar paling lambat dua hari lagi, soalnya pak Hendri kemarin menghubungi saya, pingin lebih di percepat dari target yang di rencanakan." Ujar Nandi.


"Waduuh bagaimana pak bos, kalau Hasan di bawa saya sendiri atuh." Ujar Doni.


"Lalu yang ikut sama pak Bos siapa aja?." Tanya Gito.


"Yang akan ikut bersama saya, Gito, Toglo, Hasan, Kamal dan Astuti." Ujar Nandi.


"Wah seperti mau ada perang aja sih pak Bos." Ujar Gito.


"Ya bukan begitu, ini cuma anti sipasi aja." Ujar Nandi.


"Ku jadi penasaran, sepertinya ada sebuah dendam dengan penyakitnya Abah haji itu." Ungkap Pandi.


"Ya bisa di bilang seperti itu, agar lebih jelasnya nanti saja kita tanyakan di sana." Ujar Nandi.


Pukul 14:00


Nandi beserta sahabatnya sudah mulai melajukan kendara'annya, Kamal dan Astuti sengaja pakai kendara'an roda dua, begitu pula Hasan dan Gito.


Hasan mengendarai motor kepunya'an Nandi Yamaha Rx king cobra dan juga Gito motor Rx king miliknya dengan berboncengan dengan Toglo.


Di siang itu jalanan pun tidak terlalu di padati oleh kendara'an, karena mungkin orang-orang atau para karyawan masih sibuk dengan kegiatan akivitasnya.


Tidak terasa, satu mobil pajero new spor dan tiga kendara'an roda dua telah keluar dari pusat kota, jadi perjalanan pun makin lancar tidak ada hambatan, cuma dalam melajukan kendara'annya khususnya roda empat tidak bisa melaju terlalu kencang karena jalanan yang kecil dan berliku, di tambah turun naiknya medan jalan.


Bagi yang belum mengenal medan jalan yang menuju ke pondok haur koneng, mungkin akan sangat berhati-hati sekali, karena lengah sedikit saja kemungkinan keselamatan tidak akan terjamin.


Tidak lama kemudian, Nandi beserta rombongan sudah sampai di depan Gapura yang mau masuk ke pondok haur koneng, nampak jelas terlihat deretan bangunan berjejer ada yang masih model panggung, ada pula yang sudah modern dengan textur bangunan sebuah pondok pesantren pada umumnya.


Mobil yang Nandi kendarai beserta tiga kedara'an roda dua akhirnya berhenti di depan rumah yang besar dan sangat resik.


Selang beberapa menit se orang santri yang sehari-harinya suka bantuin di tempat sang pemimpin pondok, keluar dan menyambut kedatangannya Nandi bersama rombongan.

__ADS_1


Nandi lalu keluar dari dalam mobil, yang di ikuti oleh Sindi dan Anggita.


"Assalam mu'alaikum, mang Usman ya apa kabar mang." Sapa Nandi pada Santri tersebut.


"Wa alaikum salam, iya Bang saya Usman. Alhamdulilah kabar baik, ayo masuk bang biar tasnya saya bawain." Ujar Mang Usman.


Dan Astuti, Kamal, Hasan, Gito dan Toglo langsung bersalaman dengan mang Usman, lalu masuk kedalam rumah mengikuti Nandi, lalu Umi haji istrinya Abah haji langsung menyambut Nandi, Sindi, Anggita beserta rombongan.


"Eeh Nandi, Sindi, waduuh cucu Umi sekarang sudah gede, cantik banget." Sapa Umi haji, dan langsung menurunkan tubuhnya sambil mencolek pipinya Anggita.


"Iya dong nenek, kan di kasih makan." Jawab Anggita.


Nandi, Sindi, dan yang lainnya hanya tersenyum tipis mendengar perkata'annya Anggita, Umi haji pun langsung tersenyum dengan kelucuannya Anggita, kemudian Nandi mgalihkan perhatian dengan bertanya pada Umi haji.


"Gimana umi, Abah haji keada'annya?." Tanya Nandi.


"Alhamdulillah, agak membaik sekarang." Jawab Umi haji.


"Boleh kita menjenguknya." Ujar Nandi.


"Boleh, tapi tidak sekarang." Ujar Umi haji.


"Kenapa Umi?." Tanya Nandi.


"Begini, maksud Umi, Abah hajinya lagi tirakat, beliau berpesan pada Umi jangan ganggu dulu katanya." Ujar Umi haji.


"Ooh begitu."


Kemudian Umi haji memanggil mang Usman, untuk mengantarkan Nandi beserta rombongannya untuk istirahat di Vila khusus buat para tamu.


"Mang, mang Usman." Panggil Umi haji.


Terdengar suara langkah tergesa-gesa sambil berkata.


"Iya Umi." Jawabnya yang tak lain adalah mang Usman.


"Tolong Kamu anterin Nandi dan semuanya, ke Vila dekat kolam itu, kasihan mau istirahat." Ujar Umi haji.


"Baik Umi."


Setelah itu mang Usman pun langsung mengambil kunci vila, dan mengantarkan Nandi ke tempat tersebut.


Nandi, Sindi, Anggita dan Astuti beserta Sahabatnya Nandi langsung berjalan mengikuti mang Usman menuju sebuah Vila , untuk melepaskan dulu rasa lelah setelah mereka melakukan perjalanan yang lumayan sangat jauh.


Setibanya di tempat, lalu mereka menaiki anak tangga satu persatu, kemudian mang Usman menyerah kan kunci-kunci tersebut pada Nandi.


"Ini bang Nandi kuncinya, semua juga ada nomornya, sesuai dengan nomor kamar, kalau yang gak ada nomornya ini kunci utama depan." Ungkap mang Usman.


"Iya mang siap, makasih ya mang Usman." Ujar Nandi.


Setelah itu Nandi pun langsung membuka pintu masuk ke dalam Vila tersebut.


**********


Bersambung


Salam sehat dan sejahtera selalu, Terima kasih atas dukungang like, comentar, favorit, vote serta hadiahnya.


Semoga Tuhan yang maha esa, membalasnya berlipat-lipat, dan selalu di limpahkan rijkinya, Amiiin.


"Assalam mu'alaikum"

__ADS_1


__ADS_2