SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si Kidal Sang Penolong Eps 188


__ADS_3

Malam yang begitu cerah, langit pun di hiasi dengan gemerlap nya bintang-bintang, udara di kota itu lagi pergantian musim dingin, jadi tak heran bila orang-orang yang lagi pada nongkrong selalu mengenakan pakaian dengan bahan kain tebal dan api unggun yang selalu menyala, untuk menghangatkan suasana malam yang begitu dingin sampai menusuk pori-pori kulit.


Seperti halnya di sebuah tempat yang agak jauh dari keramaian, di sebuah Gang Sawah, Toglo beserta dua saudaranya lagi asik duduk diluar rumah sambil menikmati indah nya malam, sebuah guitar akustik yang kini Toglo mainkan menghibur kedua adiknya dengan menyanyikan lagu-lagu ceria.


"Huuuh malam ini serasa malam yang paling bahagia, bisa kumpul bareng sambil menyanyi, terima kasih ya bang Wanda, abang selalu menghibur kedua adikmu ini." Celutuk Wiwin.


"Iya sama-sama dek, kebahagian kalian kan kebahagia'an abang juga, oh iya nenek kemana apa sudah tidur?." Tanya Toglo.


"Nenek sudah tertidur Bang." Pungkas Wawan.


"Ooh, jadi kalian bicaranya jangan terlalu kenceng ya, kasihan nenek." Ujar Toglo.


"Iya bang." ujar mereka.


Malam pun semakin terus bergeser, udara semakin terasa dingin, Toglo dan kedua adiknya pun sudah memasuki kedalam kamarnya masing-masing.


Suasana malam di Gang sawah nampak hening sunyi, berbeda dengan suasana kehidupan di pusat kota di sebuah komplek Citra Loka Indah.


Nina yunita yang lagi asik duduk berdua, setelah Pandi selesai di urut badannya yang terasa pegal dan ngilu sehabis pertempuran tadi siang.


"Gimana Aa rasanya setelah menjalani terapi urut itu, apa sudah enakan?." Tanya Nina.


"Alhamdulilah sekarang sudah agak membaik, badan pun terasa enteng, makasih ya sayang." Jawab Pandi.


"Iya Aa sama-sama, makanya harus nurut sama gue, jangan di biarkan sakitmu itu, bisa mempengaruhi organ tubuh yang lain." Ujar Nina.


"Ya tadinya cuma sakit biasa, gua pikir nanti juga sembuh sendiri." Ucap Pandi.


"Ya bagimu cuma sakit biasa, tadi kata tukang urutnya ada pergerseran otot dan kalau tidak buru-buru di benerin akan menjadi epek bagi kinerja organ tubuh yang lainnya." Ucap Nina.


"Iya sih, kamu itu memang cewe yang paling perhatian dan penuh pengertian, gua makin sayang deh." Ujar Pandi sembari meraih kedua telapak tangannya Nina, lalu di angkat mendekati bibir manis bergincu punya Pandi, dan ciuman lembut mendarat di punggung telapak tangannya Nina.


Nina tersenyum manja, se akan terpesona akan sikapnya Pandi yang romantis. Nina memandang datar wajah tampan pandi, kini kedua pandangan saling beradu seakan ingin saling mencurahkan isi hatinya.


Seperti ada ke kuatan kutub magnet di keduanya, ada rasa daya tarik yang begitu kuat sehingga kedua wajah mereka saling berdekatan.


Dag dig dug suara jantung berdebar antara Pandi dan Nina karena kedua nya baru pertama kali merasakan cinta yang begitu besar. Nina terpejam sa'at satu sentuhan dingin mendarat di bibir tipisnya, tapi aksinya dua sejoli tersebut sempat buyar di kagetkan oleh sebuah cahaya senter yang sempat memecahkan tempat yang reduh dari cahaya lampu jalan, lalu mereka pun kembali duduk berjauhan, ke tika scurity penjaga rumahnya datang dan menyapanya.


"Eh Non Nina, di kira siapa, maap ya Non, pak Pandi kalau mengganggu." Ujar Security.


Dengan sikap yang salah tingkah, Pandi menjawab.


"Ooh tidak apa-apa pak, nyantai aja." Jawab Pandi.

__ADS_1


"Bapak ada apa mendatangi tempat ini?." Tanya Nina.


"Ya biasa Non saya kan sering keliling, di sekitar rumah Non, takut ada orang jahat, seperti yang sudah terjadi sebelumnya Non." Ungkap Security.


"Oh begitu ya pak."


"Ya sudah atuh Non, saya mau keliling sebelah sana." Ujarnya.


"Iya pak."


Selepas itu Pandi dan Nina beranjak dari tempat duduknya, karena waktu malam yang sudah larut, Pandi pun pamit pada Nina untuk pulang.


"Sayang ku pulang dulu, sampai kan salamku pada Om juna dan Tante Yohana, ma'ap ku gak masuk dulu karena sudah larut malam." Ujar Pandi.


"Iya sayang gak apa-apa, hati-hati ini sudah jam dua belas lho, dijalan suka banyak orang-orang berandal." Ujar Nina.


"Iya sayang makasih, tenang aja ku gak akan lewat jalan raya ko, ku akan melewati perkampungan, kan pas keluar komplek ini ada jalan pintas yang tembus ke jalan Delima lewat perkampungan." Ujar Pandi.


"Ya sudah kalau begitu, hati-hati ya, see you." Ucap Nina sambil menatap ke arah Pandi, yang mulai menaiki motor Rx king nya, lalu Pandi menoleh dengan memandang wajah cantik Nina.


"See you too." Ujar Pandi sambil menyalakan motornya.


Security penjaga pun langsung membuka pintu gerbang nya setengah supaya buat motor saja, dan Nina masih berdiri di depan teras melepas kepergiannya Pandi sampai lenyap di telan Gerbang rumah yang sangat tinggi.


Pukul 00:30 menit.


Pandi pun sudah sampai di depan rumahnya, lalu Pandi mematikan motornya dan mendorongnya memasuki teras rumah.


Tok


Tok


Tok


"Buk buk, Assalam mualaikum, buk." Sapa Pandi sambil mengetuk pintu tiga kali.


Tapi pintu masih tetap terkunci rapat, Pandi menurunkan tubuhnya duduk di kursi rotan yang terpasang di teras rumah, lalu Pandi mengeluarkan sebatang Roko Gudang garam filter dari bungkusannya, dan di bakarnya ujung roko itu dengan api yang keluar dari sebuah korek gas.


Sepiiuuhhh...


Hembusan asap putih berhembus keluar dari mulutnya Pandi.


"Waduuh malam ini, kayanya gua harus tidur di luar nih, gua juga gak tega gangguin bokap sama nyokap yang sudah tertidur pulas." Gerutu Pandi.

__ADS_1


Setelah Pandi menunggu sekitar dua puluh menitan, tiba-tiba pintu terbuka, bersama'an dengan munculnya se orang lelaki kira-kira berusia sembilan belas tahunan, menoleh ke arah Pandi dan berkata.


"Eeh abang, di kira siapa, sudah lama menunggu?." Tanya lelaki muda itu, yang tak lain adalah adiknya Pandi yang bernama Sandi.


"Lo' belum tidur?." Tanya Pandi.


"Belum bang, tadi gua lagi di kamar mandi, dengar suara motor abang dan suara pintu di ketuk, ya setelah keluar kamar mandi, gua langsung buka pintu, karena ibuk sama babeh sudah tidur pulas." Ungkap Sandi.


"Ooh gtu, Tolong dong masukin motor abang." Suruh Pandi.


"Oke bang asal ada ini nya nih." Ujarnya.


"Ah elo' duit mulu yang ada di pikiranmu, iya iya." Saut Pandi.


Sandi pun tersenyum setelah mendapat jawaban, dan langsung mendorong motornya Pandi untuk di masukin ke dalam, kemudian Sandi kembali keluar menagih janji pada pandi. "Mana bang upahnya?." Tagih Sandi.


"Ah elo, dasar matre lo'." Bentak Pandi.


"Ya elah abang, di mintain duit sama adikmu sendiri ko pelit jasa sih bang." Ujar Sandi.


"Buset dah, setiap abis gajian, lo' selalu abang kasih, dan biaya lo' sekolah sampai lulus ujian abang yang tanggung, pintar amat cakapmu bilang abang pelit hahh, nih rasain." Ucap Pandi sambil melintir kuping kirinya Sandi.


Sandi pun meringis ke sakitan. "Amm ampun bang, iya maap gua kan bercanda." Ujar Sandi sambil nyengir kesakitan.


"Nih gua kasih." Ujar Pandi sambil memberikan selembar kertas warna biru.


"Oke makasih bang, biarin dah sakit sedikit kan ada gantinya." Ujar Sandi.


Pandi tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala, lalu Pandi melepaskan sepatunya, dan selepas itu Pandi masuk, dan langsung menuju kamarnya.


Setiba di dalam kamar Pandi langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, sambil matanya menatap intens langit-langit kamarnya, terlintas di pikiran Nandi wajah Cantik kekasihnya tersenyum manis menghiasi langit-langit kamar.


"Nina yunita, kau begitu anggun, cantik dan mempesona, bahagia rasanya gua bisa memiliki wanita se cantik dan sebaik Nina, sudah tajir berpendidikan tinggi lagi, tapi gua cuma orang gak punya, sedangkan pendidikan gua cuma tamatan SMA, dan latar belakang kehidupan gua sangat buruk, hidup di jalanan yang penuh kekerasan, tapi Alhamdulilah setelah Nandi di masukin pondok, gua, Kamal, Hasan dan Gito bisa jadi lebih baik, dan derajat kami di angkat melalui ke suksesannya Nandi sang leader waktu hidup di jalan. Terima kasih ya Allah." Batin Pandi.


Selepas itu rasa kantuk telah menyerang Pandi, Perlahan memejamkan kedua matanya, dingin malam yang begitu menusuk pori-pri kulit, dengan di tutupi oleh kain selimut tebal, telah membuat Pandi terbawa ke alam mimpi.


*******


Bersambung


Jangan lupa sertakan like, comentar, jadikan favorit bila suka, berikan vote serta hadiahnya.


Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.

__ADS_1


__ADS_2