
Setelah Toglo mencerirakan asa usul dirinya pada buk Sari dan pak Dirman.
Kedua orang tuanya Nandi terasa sangat prihatin sekali dengan nasibnya Toglo, ternyata Toglo adalah anak yang terbuang, sungguh kejamnya kedua orang tuanya Toglo, yang tega sekali membuang darah dagingnya sendiri.
Buk sari dengan penuh kelembutan dan kasih sayang langsung mengelus pundaknya Toglo.
''Kamu yang sabar ya nak, dan jangan berkecil hati, walaupun kedua orang tuamu melakukan begitu padamu, yang penting sekarang kamu jadilah anak yang baik, dan kamu juga harus bersyukur karena bisa bertemu dengan nenek Jumi yang begitu sayang merawatmu hingga dewasa.'' Begitu buk sari memberi wejangan pada Toglo.
''Iya buk, nene Jumi bukan sekedar neneku tapi sekaligus orang tuaku, makanya aku gak ikut berlibur bersama pak Nandi, karena khawatir sama nenek.'' Ujar Toglo.
''Baguslah kalau begitu, nanti siang hari kamu pulang dulu, dan bawain makanan untuk nenek Jumi.'' Pungkas pak Dirman iku bicara.
''Sudah pasti itu mah pak, karena kalau ku lagi kerja, gak pernah masak ku selalu belu nasi dari depan untuk nenek makan.'' Ujar Toglo.
Kemudian pak Dirman dan buk Sari pamit pada toglo untuk kembali ke lapak, mau angkat barangnya untuk di kirimkan pada perusaha'an pendaur ulang.
Dan Toglo pun kembali memasuki kedai karena ada beberpa pengunjung yang datang mau ngopi.
......................
Sementara di tempat lain.
Nandi beserta para pamili gang si'iran yang lagi melakukan perjalanannya ke suatu tempat rekreasi di sebelah barat kota.
Jalanan yang tidak terlalu lebar dan turun naik, dengan banyaknya tikungan, membuat Para pamili gang si'iran tidak bisa begitu cepat dalam melajukan kendara'annya, karena banyak jurang-jurang terjal.
Mungkin tinggal beberapa kilo lagi Nandi beserta rombongan akan segera sampai.
Melinda dan lina istrinya Hasan, yang baru pertama ikut berlibur ke tempat wisata talaga reumis, tidak henti-hentinya ia terus melihat pemandangan yang begitu indah.
''Wooww pemandangannya sangat indah sekali.'' Ujar Melinda.
''Iya betul dan tidak membosankan.'' Celoteh Lina.
Doni yang tetap pokus pada jalanan yang akan di laluinya, cuma tersenyum menyaksikan ke dua wanita yang seperti baru pertama kali melihat alam di daerah pedesa'an.
''Makanya yang kalian kunjungi itu jangan cuma moll aja, kali-kali ke kita cari penyegaran di alam pedesa'an.'' Celoteh Doni.
''Ketauan banget kalian tuh gak pernah piknik.'' Celoteh Hasan.
''Ya mau piknik gimana, sama suami gak pernah di ajak ko.'' Ucap Lina.
''Emang Hasan, selama lo' nikah gak pernah ngajakin lo' week and apa?.'' Tanya Doni pada Lina.
''Boroo..Aa Hasan sering ngajaknya ke pulau kapuk aja, hehee.'' Ujar Lina tersenyum tipis.
Doni dan Melinda tertawa lebar mendengar cerita dari Lina istrinya Hasan.
''Hahaha... Iya cowonya yang ngajak, dan cewenya juga demen kan.'' Ujar Doni.
''Aah ka Doni bisa aja sih, gue kan kan ta'at pada suami, takut jadi dosa nantinya.'' Ujar Lina.
Hasan hanya geleng-grlengkan kepala, mendengar celotehan Istrinya dan Doni.
''Wah kalian ini, ngomongnya jorok, makanya cepetan lo' halalin tuh Melinda, biar ngomongnya gak ngeres mekulu.'' Pungkas Hasan.
Tidak lama kemudian Mobil pajero sport warna putih yang berada di barisan paling depan, sudah mulai memasuki sebuah lesehan tempat nasi liwet langganannya Nandi.
Mobil honda jaz dan mobil avanza yang mengikutinya dari belakang pun masuk ke area parkiran yang telah di sediakan oleh pemilik lesehan tersebut.
Kemudian nandi beserta para sahabatnya pun keluar dari mobilnya, berjalan memasuki sebuah lesehan yang sudah Nandi kenali.
''Assalam mualaikum.'' Sapa Nandi.
__ADS_1
''Wa alaikum salam,, wah bang Nandi, kemana saja ko baru singgah lagi di warung mamang, ayo silahkan duduk.'' Jawab pemilik lesehan tersebut.
''Iya mang terima kasih, biasa mang lagi sibuk dengan kerja'an, ya kebetulan aja sekarang ada libur dua hari.'' Ujar Nandi.
''Mau pada minum apa?.'' Tanya mang Udin pemilik warung tersebut.
Kemudian Nandi beserta para sahabatnya memesankan minuman menurut seleranya mading-masing, yang selalu tersedia di warung mang udin.
Sedangkan Lina dan melinda, yang baru pertama kalinya ia main ke tempat itu, asik memotret pemandangan alam di sekitar situ.
''Pemandangan di sini bagus sekali, bikin kita betah.'' Ucap Melinda.
''Iya betul, apalagi udaranya terasa sejuk masih alami, rasanya lega gitu untuk kita bernapas.'' Saut Lina.
''Ya iyalah karena di gang si'iran sudah padat oleh rumah-rumah para penduduk, di tambah polusi dari asap-asap pabrik.'' Celoteh Astuti.
''Makanya Hasan bin maun, ajak tuh istrimu jalan-jalan, jangan di dapur dan di kasur aja.'' Pungkas kamal.
''Dasar lo' kamaludin, komporin aja tuh istri gua, biar lo' puas melihat gua berantem sama istri gua.'' Ujar Hasan.
''Siapa yang komporin, kan gua cuma ngasih saran aja.'' Saut Kamal.
Kemudian Nandi mekerai mereka yang saling adu argumen.
''Sudah, ko kalian jadi pada berantem sih.'' Ucap Nandi.
''Kalau Kamal dan Hasan tuh sudah biasa di' emang paling demen kalau berselisih paham.'' Pungkas Gito.
''Gito santoso, ikut nimrung aja sih lo', dasar jasun.'' Ujar Kamal.
Mang Udin dan istrnya tersenyum tipis sambil menggelenkan kepala mendengar celotehannya Kamal, Hasan dan Gito, kemudian tanpa disadari sikapnya mang udin sempat terlihat oleh Kamal.
''Mang Udin dan bibi kenapa senyum-senyum sih, adabyang lucu ya.'' Ujar Kamal.
Melinda, Nina, Astuti dan Lina pun tertawa tipis menyaksikan mereka.
''Andaikan di gang si'iran tidak ada Kamal, Gito dan Hasan, rasanya sepi banget seperti tidak ada kehidupan, kalau dunia pewayangan itu seperti....'' Ujar Nina tidak di teruskan.
''Waah elo' su!ngguh tega Nin, masa gua, Hasan dan Kamal disamakan dengan Cepot, Dawala dan Gareng sih, terus gua sebagai siapa, hehee.'' Ujar Gito.
''Kalau boleh gua memilih, Gito sebagai gareng, Kamal sebagai dawala, dan Hasan kan lebih tua jadi cocoknya sebagi cepot.
Kini suasana pun jadi ceria, semua yang ada di situ pada tertawa terbahak, kini liburan mereka menjadi momen indah untuk di kenang, apalagi Kamal dan Astuti yang tinggal menunggu tanggal mainnya akan mengaruhi bahtera rumah tangga.
Setelah itu mereka keluar dari warung mang udin, untuk jalan-jalan lihat-lihat panorama alam di sekitar talaga reumis, terutama Melinda dan Lina istrinya Hasan yang beru pertama kali main kesitu, Selpi-selpi dengan pasangannya masing, hanya Gito sendirian yang belum punya pasangan, duduk di atas batu di bawah pohon ceri sambil menatap ke arah mereka yang lagi ceria dengan pasangannya.
''Ko hidup gua apes banget, gak ada cewe yang mau sama gua.'' Gumam Gito dalam hati, sambil melempar-lemparkan kerikil ke permuka'an air telaga.
Di sa'at Gito lagi melamun, terdengar suara nada ringtoon dari handponnya, lalu merogoh hndponnya itu di balik saku jaket levisnya.
Nampak terlihat ada nomor baru yang belum gito kenali memanggilnya.
''Nomor siapa ini, belum terdaptar di handpon gua, coba aja gua angkat siapa rijki buat gua.'' Gerutu Gito sambil mengangkat panggilan tersebut.
📞.Gito ''Iya halo ini siapa.''
📞 ''Wah galak amat sih to, ini aku to.''
📞.Gito ''Ya aku siapa, sampean punya nama kan?.''
📞 ''Ini mang Jaja to.''
📞.Gito, ooh mang Jaja di kira siapa, ada apa mang,?.''
__ADS_1
📞.Mang Jaja ''Ini yang pernah di bicarakan tempo hari itu, masih ingat gak, ini ada orangnya nanyain lo'.''
📞.Gito ''Siapa emangnya mang.''
📞.Mang Jaja ''Mira, masih ingat gak lo', ini orangnya mau ngomong sama lo'.''
📞.Gito ''Ya sudah kasih telponnya mang.''
📞.Mira ''Halo aa Gito gimana kabarnya, ini aku Mira masih ingat gak sama gue.''
📞.Gito ''Tentu saja atuh masih ingat, sebaliknya gimana kabar lo' sudah punya anak belum.''
📞.Mira ''Mas Gito ini ada-ada saja, nikah juga belum ko nanyain anak.''
📞.Gito ''Sama dong kaya gua jomblo.''
📞.Mira ''Mas Gito lagi di mana emang, ko ramai amat, seperti lagi banyak orang?.''
📞.Gito ''Gua lagi liburan bersama Nandi, Kamal, Pandi dan Hasan bersama keluarga besar gang Si'iran.''
📞.Mira ''Pantesan ramai amat, ya sudah nomor mas Gito gue save ya, hati-hati mas Gito, assalam mualaikum.''
📞.Gito ''Oke terima kasih, wa alaikum salam.''
Kemudian panggilanpun di tutupnya, dan Gito memasukan lagi handponnya ke balik saku jaket bagian dalam.
''Gua jadi kangen nih mendengar suara Mira, semoga aja ini jalan buat hidup gua, gua merasa bete, semua sahabat gua sudah punya pasangan sedangkan gua masih aja jomblo.'' Gerutu Gito.
Ketika Gito lagi duduk melamun, Nandi, Sindi dan Anggita berteriak memanggil Gito.
''To, Gito, sini kumpul bareng.'' Teriak Nandi memanggil.
''Iya om Gito, sini kita selpi bareng.'' Teriak Anggita.
Gito pun langsung beranjak dari tempat duduknya ketika Nandi dan Anggita memanggil dirinya, lalu gito berjalan ke arah Nandi yang lagi duduk di atas batang kayu yang tergeletak, yang di sisi kiri kanannya di tumbuhi oleh pohon-pohon ceri riuh memayungi Nandi, Sindi dan Anggita.
''Kenapa si lo' ko menyendiri aja?.'' Tanya Nandi.
''Gua bete di, sementara Kamal dan Pandi asik dengan pacarnya sedangkan gua, hanya berteman sepi dan angin yang berhembus.'' Ujar Gito.
''Om gito jangan banyak melamun dong, nanti kesambet lho.'' Pungkas Anggita dengan lucunya.
Gito pun tersenyum serasa di hibur oleh Anggita.
''Ya nggak atuh gita sayang, om gak bakalan kesambet, karena om selalu percaya pada tuhan yang maha esa.'' Ucap Gito.
''Iya betul itu om, kata guru ngajinya gita, kalau kita selalu deket sama allah, kita akan selalu di jauhkan dari gangguan jin dan setan.'' Ucap Anggita.
''Anak pintar, gita yang rajin ya ngajinya, biar selalu mendapat perlindungan dari allah subhanahu wata'ala.'' Ujar Gito sambil mengelus rambutnya Anggita.
''Iya om gito.'' Saut Anggita.
Dan setelah itu mereka pun balik ke warungnya mang udin karena sudah terlalu lama ninggalin warung mang udin, mungkin nasi liwet yang mereka pesankan juga sudah matang.
**************
Betsambung.
Terima kasih yang sudah memberi dukungannya,
dukung terus ya jangan lupa sertakan like, comentar, jadikan favorit bila suka, berikan vote serta hadiahnya.
Salam sehat dan sukses selalu
__ADS_1
''Assalam mualaikum''