
Kegembiraannya hati toglo seperti di sambut oleh alam, air lautpun ikut senang, nampak terlihat ombak seperti menari-nari se iring dengan gembiranya hati Toglo.
Dalam gembiranya hati Toglo, tekadang ada rasa sedih di hatinya, karena sudah meninggalkan kedua adiknya dan nenek Jumi, sebenarnya Toglo tidak tega untuk pergi jauh meninggalkan mereka, tapi setelah nenek Jumi berpesan. " Berangkatlah Cucuku kamu sekarang sudah dewasa, sudah sepantasnya kamu menentukan hidupmu dan carilah pasangan yang baik dan sayang padamu dan adik-adikmu agar kelak setelah nenek tiada ada yang memperhatikan kamu." Begitulah pesan dari nenek Jumi sebelum berangkat, barulah hati Toglo merasa lega.
Angin laut yang berhembus seakan menambah indahnya penomena alam di pantai, kala itu pukul 15:20 menit, Nandi beserta yang lainnya langsung menuju ke sebuah musola untuk melakukan solat Ashar.
Selepas itu mereka langsung mengadakan acara jalan sore sambil menyambut senja di pantai yang indah.
Poto-poto bareng bersama keluarga dan para pamili Gang Si'iran sambil membelakangi pantai, tapi masih agak jauh dari bibir Pantai mengingat akan mitosnya yang masih mengental, apa lagi Joni temannya Nandi selalu memberikan pesan untuk anti sipasi guna menghindari hal-hal yang tidak di inginkan.
Apalagi di sore hari udara yang berhembus dari arah gunung gelap wilayah ci sompet beserta kabut yang sudah menebal banyak menguak mitos yang kental.
Betapa asiknya mereka liburan akhir bulan itu, Nandi selaku pemilik perusahaan PT Anggita Surya Mandiri, selalu mengajak para karyawanya untuk berlibur sebulan sekali setiap akhir bulan.
"Sambil menunggu senja datang gimana kalau kita bernyanyi, tapi kita pun harus permisi dulu pada para leluhur di sini, dan kita harus selalu ingat pada yang kuasa, jangan lupa ucapkan Bismillah hirohman nirohim kalau mau melakukan sesuatu." Ujar Nandi.
Setelah Nandi dan semuanya selesai berdoa sebagai rasa hormat pada para leluhur disitu dan meminta perlindungan pada sang pencipta supaya di jauhkan dari segala mara bahaya, Hasan mulai memetik guitarnya dengan di iringi oleh nyanyian-nyanyian yang sendu sebagai nyanyian pelepas senja, dan di hiasi dengan hembusan angin yang terus menerpa, di tambah suara deburan ombak di tepi pantai menambah indahnya ke gembiraan mereka.
.................
Senjapun kini telah datang, sinar merah jingga kini telah menggurat di atas samudra, hamparan air yang luas nampak bercahaya ketika sinar lembayung senja me mancar di atas permukaan air.
Nandi beserta yang lainnya langsung kembali ke penginapannya, karena sebentar lagi waktu maghrib akan segera tiba.
Sepuluh menit kemudian suara adzan maghrib telah berkumandang di masjid aljabar Ranca buaya yang terdengar jelas. Nandi beserta para kaum adam yang lainnya langsung begegas pergi ke mushola untk melaksanakan ibadah solat maghrib.
Selepas melaksanakan solat maghrib, Nandi pun kumpul bareng keluarga dan para pamili Gang Si'iran di sebuah warung nasi untuk makan malam berjama'ah.
Kini balai-balai di warung nasi itu penuh oleh rombongan Nandi, dan jadi suatu ke untungan bagi pemilik warung tersebut karena bisa kebanjiran rijki yang melimpah dari rombongannya Nandi.
Malam yang terasa dingin dan angin lautpun meniup begitu kencang, selepas mereka makan, di lanjutkan dengan minum kopi, teh dan lain sebagainya untuk menghangatkan badan dari suhu udara yang terasa dingin.
Pak Dirman dan buk sari berangakt duluan ke penginapan yang di ikuti oleh buk Suminar, sedangakan yang masih statusnya pacaran, seperti Nina dan Pandi, Gito dan Mira, Doni dan Melinda, Toglo dan Wulan mereka mencari tempat untuk ngobrol, menjauh dari Nandi serta Kamal.
"Woi kalian mau pada kemana sih?." Tanya Kamal.
"Kepo aja lo', ini urusan intern, lo' jangan usil." Ujar Pandi.
"Idiiih sue lo' pada." Ujar Kamal.
Kemudian Hasan menoleh pada kamal dan berkata.
"Eeh Kamaludin, ngapain kamu ikut campur urusan mereka, kaya tidak pernah pacaran aja sih." Ujar Hasan.
"Gua bukan ikut campur Hasan bin Maun, tapi gua cuma ngingetin takut terjadi apa-apa pada mereka." Ujar Kamal.
Kemudian Nandi berkata pada Kamal.
"Udah sih Mal biarkan saja, mereka pun deket ko noh, cuma dua puluh meteran dari kita, masih ke pantau sama kita, ya paling pingin ngobrol secara empat mata." Ujar Nandi.
Kamal langsung diam ke tika Nandi berkata, lalu Astuti ikut bicara.
__ADS_1
"Bener tuh apa kata Aa Nandi, kenapa sih kamu ko usil amat, pengen berdua gitu, ayo kita pulang ke penginapan." Ajak Asyuti.
Hasan dan istrinya, serta Rendi tertawa tipis sembari menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangan.
"Apa'an sih ko kalian pada ngetawain gua." Ujar Kamal sambil menoleh pada Hasan dan Rendi.
"Ooh tidak bang Kamal, cuma agak lucu aja gitu." Saut Rendi.
"Ah elo' Ren sama aja kaya Hasan bin maun." Ujar Kamal.
Kemudian Astuti beranjak dari tempat duduknya, sambil memberi isarat pada Kamal suaminya.
"Aa Nandi, teh sindi dan semuanya ku duluan ya." Ujar Astuti.
Kamal pun langsung bangun dari tempat duduknya mengikuti Astuti.
Hasan yang tidak ada hentinya terus mengejek pada Kamal.
"Hahayyy dah cihuy." Ceteuk Hasan.
Kamal berhenti sejenak sambil menoleh kearah Hasan. "Awas lo'." Ujar Kamal sambil memperlihatkan tinjunya pada Hasan, dan Hasan malah tertawa puas merasa lega hatinya karena sudah menjejek Kamal.
Tidak terasa malam terus berlalu se iring dengan berputarnya jarum jam yang menempel di bilik dinding warung tersebut.
Setelah semua makanan dan minuman di bayarnya. Nandi, Sindi, Anggita, Hasan beserta istri dan anaknya, dan juga Rendi beanjak dari balai-balai warung itu untuk pulang ke penginapan.
"Waoii kalian mau pada tidur di sini, cepetan pulang hari sudah larut malam, Seru Nandi pada Pandi, Gito, Doni dan Toglo.
"Iya pak Bos." Celetuk Toglo sambil berdiri yang di ikuti oleh Wulan.
Kemudian Pandi, Gito dan Doni beserta para pasangannya beranjak dari tempat duduk, lalu berjalan menghampiri Nandi.
"Sudah jam berapa ini San?." Tanya Pandi.
"Noh lihat, sudah jam dua belas lewat." Jawab Hasan sambil menunjukan telunjuknya ke arah jam yang menempel di bilik bambu dinding warung tersebut.
"Sekarang kita istirahat dulu, besok selepas solat subuh kita jalan-jalan sambil menghirup udara segar, ingat ya kalian para gadis dan para perjaka, jangan ada yang macam-macam." Ujar Nandi.
"Tenang aja pak bos, biarpun kita nakal, tapi kita masih punya iman." Celetuk Gito.
"Bener tuh apa kata Gito." Pungkas Pandi.
"Ya sudah, kalian ingat kan kamar kalian masing-masing, awas jangan sampai salah masuk kamar." Ucap Nandi.
"Hahaha...Pak bos ini ada-ada saja, ya ingatlah kita belum pikun kali, iya gak Ujar Gito.
"Yoo'iii." Pandi dan Doni seremapak membenarkan kata yang terucap dari mulutnya Gito.
Setelah itu mereka pun langsung berjalan menuju ke penginapannya masing-masing untuk beristirahat.
Suasana di Pantai nampak sunyi sepi hanya suara deburan ombak yang menerjang tepi Pantai dan bebatuan yang terus terdengar dengan jelas. Nandi beserta keluarga dan para pamili Gang Si'iran sudah nampak terlelap dalam tidurnya mengarungi bahtera mimpi di alam bawah sadar.
__ADS_1
Tidak terasa malam pun telah berlalu, suara adzan subuh sudah di perdengarkan, Nandi beserta yang lainnya sudah mulai berbondong-bondong menuju ke mushola untuk melaksanakan ibadah dolat subuh berjama'ah.
Selepas itu Nandi beserta para pamili Gang Si'iran duduk di bangku bambu yang terpasang di depan penginapan, sambil memandang ke bawah tepi pantai yang masih di selimuti oleh kabut yang nampak masih menebal.
Pukul 06:30 menit.
Warung-warung pun sudah nampak mulai buka, Nandi dan yang lainnya sedari tadi menunggu, begitu melihat warung pada buka, mereka langsung memburu pada warung tersebut.
Sedangkan para wanita masih beres-beres di dalam karena siangnya mereka akan melakukan perjalanan pulang.
"Mang kopi Mang." Ujar Hasan me manggil si mamang pemilik warung.
"Siap, berapa bos?." Tanya si pemilik warung.
"Sembilan gelas mang." Jawab Hasan.
Si pemilik warung itu pun langsung dengan sigap bikinin kopi yang telah di pesan oleh Hasan.
Sepuluh menit telah berlalu, si mamang pemilik warung datang dengan membawa nampan yang berisikan sembilan gelas kopi hitam yang nampak masih mengepul di gelas kaca.
"Ini kopinya bos, ngomong-ngomong para bos ini dari mana?." Tanya Si pemilik warung.
"Kalau aku dari tadi mang hehe,, nunggu mamang buka maksudnya, maap mang bercanda." Ujar Hasan cengengesan
"Hehe tidak apa-apa bos, mamng juga suka bercanda."
Lalu Nandi meluruskan pertanyaannya si pemilik warung.
"Kita datang dari Bandung mang." Ucap Nandi.
"Ooh kalian dari kota, pantas aja tampangnya keren-keren." Ujar si mamang.
"Nah kalau yang ini mang dari kerempeng sejak bayi." Pungkas Kamal sambil menunjuk ke pada Hasan.
Si mamang pun tersenyum sedikit. "Tidak apa kerempeng juga yang penting duitnya tebal." Ujar di mamang.
"Iya mang sudah bawaannya kali, padahal saya makannya banyak mang." Ucap Hasan jujur.
"Ya mungkin sudah kodratnya bos, ya sudah selamat menikmati kopinya mamang mau ke dalam dulu." Ujar pemilik warung.
"Oke mang."
Setelah itu mereka pun langsung menyeripit kopinya masing-masing, kini suasana di warung kopi terasa lebih berwarna dengan kehadirannya Nandi dan para pamili Gang Si'iran.
**********
Bersambung.
Jangan lupa ya sertakan like, comentar, jadikan favorit, berikan vote serta hadiahnya bila suka.
Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.
__ADS_1