
Setelah Nandi dan yang lain nya memasuki ke dalam vila, Kamal dan Astuti langsung memasuki kamar nomor 8, sedangkan Hasan, Gito dan Toglo masih duduk di teras Vila sambil melihat panorama alam di sekitar pondok haur koneng.
Toglo yang pertama kali Nandi ajak ke haur koneng begitu senang ketika melihat pemandangan di sekitar situ nampak terlihat di raut wajahnya yang damai mengarungi mimpi.
"Betapa agungnya ciptaan Allah swt, pantesan aja di sebut haur koneng, karena panorama alam di sini, sangat bersih dan banyak ku temui bambu kuning." Gumam Toglo dalam hati.
Ke nyamanan hati Toglo, sempat terganngu oleh Hasan dan Gito yang terus memperhatikan ke ceriaan wajah Toglo.
"Buseeet dah, itu anak kenapa ya, ceria amat aura wajahanya." Celoteh Hasan.
"Ya kemungkinan karena dia belum menemukan tempat seperti ini kali." Ujar Gito.
Lalu Toglo menolehkan netranya menatap datar pada Hasan dan Gito.
"Kenapa bang, lagi ngomongin gua ya?." Tanya Toglo.
"Ooh tigak glo, kita cuma lihatin lo' seperti baru pertama kali menemui tempat kaya gini." Jawab Hasan.
"Benar bang, jujur aja ku baru pertama kali melihat pemandangan yang seperti ini, padahal kalau di kaji lagi ya di bandung juga banyak, apa mungkin pengaruh dari pesantren kali ya, jadi auranya terasa lebih sejuk di hati." Ujar Toglo.
"Ya mungkin juga, karena di sini setiap hari selalu terdengar anak-anak santri membaca ayat-ayat Suci dan kitab, dari tingkat dasar sampai ke tingkat lebih tinggi, jadi alampun terasa damai." Ungkap Hasan.
"Kalau alam di sini terasa damai, kenapa sampai terjadi sebuah pertempuran dan penyerangan di pondok ini." Pungkas Gito.
"Ya mungkin itu semua, coba'an atau suatu ujian bagi Abah haji, sampai di mana keteguhan dan ke yakinannya, ya mungkin juga itu sudah menjadi dari perjalanan hidup Abah haji." Jelas Hasan.
"Iya bener juga apa kata lo' San, kita pun tidak tau perjalanan hidup kita ke depannya gimana." Ujar Gito.
"Ya iya, yang penting kita harus iklas, menerima semua ujian hidup." Pungkas Toglo memotong pembicara'an.
"Cakep tuh, ternyata Toglo lebih dewasa dari pada lo' To." Ujar Hasan sambil menoleh pada Gito.
Ketika mereka bertiga lagi beradu argumen, munculah Nandi.
"Waduuh asik benar tuh, lagi ngobrolin apa'an sih, oh iya Kamal kemana?." Tanya Nandi.
"Kamal ya sama bininya lah di kamar, lagi endehoi kali, hehee." Ujar Gito tersenyum dikit.
"Bisa aja sih kamu To'." Ujar Nandi.
Kini hari pun sudah mulai memasuki waktu ashar, Nandi dan para sahabatnya langsung bergegas ke Masjid untuk melaksanakan ibadah solat berjama'ah.
Setelah keluar dari Masjid, Nandi, Hasan, gito dan Toglo tidak langsung pulang ke tempat penginapan di vila itu, ia berempat jalan-jalan mengelilingi tempat di sekitar pondok haur koneng.
Pematangan sawah yang membentang dengan petakan yang berundak-undak dan padi yang masih hijau menambah indahnya pemandangan alam.
Betapa agungnya cipta'an Tuhan yang maha esa yang begitu ber'aneka ragam.
Ketika Nandi dan yang lainnya lagi menikmati indahnya panorama alam di haur koneng sayup-sayup terdengar suara yang memanggil-manggil pada Nandi.
"Bang... Bang Nandi..."
Nandi, Hasan, Gito dan Toglo pun langsung membalikan badannya ke arah suara yang memanggil dirinya
Nampak terlihat oleh Nandi dan kawan-kawan Mang Usman lagi berlari sambil berteriak-teriak memanggil dirinya, setibanya di dekat Nandi dengan sedikit napas ngos-ngosan turun naik mang Usman berkata.
"Bang Kalian di suruh menghadap sama Abah haji." Ujar mang Usman.
"Bukannya Abah haji lagi tak ingin di ganggu dulu?." Tanya Nandi.
"Iya itu tadi, sekarang Abah haji sudah keluar dari kamar tempat tirakatnya, terus ku di suruh sama Umi untuk menyampaikan pesan ini pada abang." Ujar mang Usman.
"Ya sudah sekarang mamang kembali kesana, sampaikan pada Umi ku akan segera kesana." Ucap Nandi.
__ADS_1
Setelah itu mang Usman langsung membalikan badannya, untuk kembali lagi ke tempat kediamannya Abah haji.
Sedangkan Nandi dan yang lainnya langsung ke Vila tempat di mana Sindi, Anggita dan Kamal serta Astuti berada.
Hari pun kini sudah mulai memasuki senja, Nandi bersama anak istri dan juga yang lainnya kini berjalan menuju ke tempat kediaman nya Abah haji, sinar merah jingga menggurat di sebelah barat menyinari mereka nampak terlihat tujuh bayangan di tanah dari mereka yang tersinari cahaya lembayung senja.
Kini Nandi dan yang lainnya sudah tiba di depan rumahnya Abah haji, di angkatnya kaki kanan dan di ikuti oleh kaki kiri untuk menaiki trapan anak tangga yang terbuat dari sebuah batu granit, setelah melewati lima anak tangga lalu ia berjalan tiga langkah di teras menuju sebuah pintu panel yang terbuat dari papan jati dan di ketuknya pintu tersebut.
Tok
Tok
Tok
"Assalam mualaikum." Sapa Nandi.
Tidak lama setelah Nandi mengucapkan salam, terdengar suara seorang wanita yang sudah berusia setengah abad menjawab salam dari Nandi.
"Wa alaikum salam."
Bersama'an dengan terbuka nya sebuah pintu, lalu munculah wanita paruh baya yang tak lain adalah Umi haji, istri dari Abah haji.
"Ayo masuk." Ajak Umi Haji.
Nandi beserta yang lainnya pun mengikuti Umi haji, ke ruangan tengah, nampak terlihat oleh Nandi dan kawan-kawan, Abah haji Mansur lagi duduk bersila di atas Permadani warna merah hati, kemudian Nandi mengulurkan tangannya memberi salam lalu mencium punggung tangan Abah haji Mansur, Sindi, Anggita serta yang lainnya mengikuti apa yang telah Nandi lakukan.
"Bagai mana Bah, apa sekarang sudah membaik?." Tanya Nandi.
"Alhamdulilah Nandi, Abah sekarang sudah agak enakan." Jawab Haji Mansur.
Kemudian Abah haji Mansur menoleh pada Astuti dan Kamal.
"Abah sampai lupa, jadi ini pengantin baru itu?." Tanya Abah haji pada Asturi dan Kamal.
"Iya Bah haji." Jawab Astuti.
"Amiin, makasih bah."
Kini senja telah berlalu, waktu maghrib telah tiba se'iring dengan berkumandang nya suara Adzan Maghrib di Masjid agung pondok Haur Koneng, Nandi beserta ke empat kawannya langsung bergegas pergi ke Masjid untuk melakukan solat berjama'ah.
........
Sementara di tempat lain.
Selepas Maghrib di luar pondok Haur Koneng, di sebuah gubuk tua ada enam orang lelaki paruh baya berpakaian serba hitam lagi duduk bersila, dengan paras wajah seram berkumis tebal dengan bola mata lebar, sedikit berwarna kemerahan dengan sebuah bokor yang terbuat dari logam kuningan sari terdampar di tengah-tengah mereka, dan di taburi kemenyan yang sudah di bubuk kan, lalu salah satu dari mereka menaburi bubuk kemenyan itu ke atas bokor yang ada baranya, maka terciptalah kepulan asap putih dengan baunya yang sangat menyengat.
Sepertinya ke enam lelaki paruh baya itu, sedang melakukan sebuah ritual ilmu hitam, lantas apa tujuan dari mereka itu.
"Sekarang kita gabungkan ilmu kita, saya belum puas bila pimpinan pondok itu belum mampus." Bisik berkumis paling tebal dengan ikat kepala warna hitam corak kuning.
"Tapi kita pun harus lebih waspada, setidaknya Haji Mansur adalah pimpinan Pondok dan ber ilmu tinggi, buktinya kamu sendiri di bikin tidak berdaya dalam pertempuran adu pisik." Celetuk temannya itu.
"Iya makanya itu, malam ini juga kita mampusin si Haji Mansur itu, saya tidak terima dengan perlakuannya pada anak saya." Ujar lelaki berkumis tebal.
"Hai Sobri, di sebuah perguruan atau pondok peraturannya hampir sama, barang siapa anak didiknya yang bandel pasti akan kena hukuman." Ujarnya.
"Iya saya tau itu, tapi saya tetap tidak terima atas perlakuan si Mansur pada anak saya, sepertinya kamu Runta berpihak pada musuh?." Tanya Sobri penuh curiga.
"Kamu jangan salah paham dulu sobri, saya cuma memberi tau kamu, apa yang saya tau." Ujar Runta.
Kemudian salah satu dari mereka langsung menghentikan perdebatan antara Sobri dan Runta.
"Sudah-sudah, ko kamu malah jadi ribut sama teman sendiri Sobri, kamu mau di bantu apa tidak."
__ADS_1
"Ya mau atuh, makanya saya mengundang kalian kesini mau minta tolong pada kalian selaku teman seperguruan." Ujar Sobri.
Kini malampun telah bergeser hingga waktu menunjukan pukul 23:00.
Sobri dan kelima teman seperguruannya sudah mulai melancarkan ritual ilmu hitamnya, untuk mendolimi sang pemimpin pondok Haur Koneng.
Ritual ilmu hitam, dengan alat mediasi mereka menggunakan sebuah boneka jerami yang di panasin di atas bara lalu di tusuk-tusuk pake jarum dan masih banyak lagi alat mediasi penghantar ilmu gaib yang mereka lakukan.
Sementara di tempat Abah haji mansur suasana terasa mencengkam dan menyeramkan raungan suara anjing malam terdengar mengaung.
Abah haji mansur sudah merasakan bahwa malam itu akan ada kiriman paket ilmu hitam pada dirinya, lalu Abah haji berbisik pada Nandi dan kawanannya.
"Nandi dan kalian semua, malam ini akan ada kiriman paket kesini." Ujar Abah haji.
"Iya bah haji, ku pun bisa merasakan malam ini terasa menyeramkan." Ujar Nandi.
Lalu gito seperti tidak paham akan obrolannya Nandi dan Bah haji Mansur.
"Wah paketnya COD apa bayar melalui Bank." Ujar Gito dengan polosnya.
Nandi dan semuanya yang ada di situ tertawa terbahak-bahak, dengan kepolosonnya Gito yang tidak paham dengan yang di maksud Abah haji.
Ketika itu pula Abah haji merasakan sekujur tubuhnya terasa panas dan bergetar, Abah haji terus duduk bersila dengan menghitung setiap biji tasbih dengan baca'an ayat-ayat dan solawat meminta perlindungan pada Allah swt dari segala mara bahaya.
Sebuah cahaya putih keluar dari tubuh Bah haji, sebagai prisai untuk membentengi tubuh bah haji dari segala perbuatan orang-orang dolim.
Nandi dan kawanan nya, merasakan malam itu seperti ada aura kesaktian ilmu hitam yang maha dahsyat telah mengurung rumahnya Bah haji mansur, lalu Nandi bergumam dalam hati bagai mana caranya untuk membebaskan Abah haji dari cengkraman orang-orang dolim.
Di sa'at Nandi lagi dalam kebingungan, seperti biasa, ada bisikan lirih bergeming di telinga Nandi.
"Cucuku kamu tidak usah risau, malam ini juga kamu dan ke empat temanmu pergi kebawah bukit haur koneng, karena gurumu di keroyok oleh enam orang yang berilmu tinggi, dan gurumu tidak bertahan lama menandinginya." Ujar bisikan suara gaib itu.
"Lalu apa yang harus ku lakukan nek?." Nandi bertanya pada suara gaib itu.
"Berilah peringatan pada mereka, dan ingatkan pada jalan yang benar." Jawab suara gaib itu yang semakin terpecah lalu menghilang.
Tidak menunggu lagi waktu lama, Nandi berbisik pada gurunya, Hasan, Gito, Kamal dan Toglo, untuk pergi kebawah bukit Haur koneng.
Dengan mengambil langkah cepat Nandi dan kawan-kawan, lalu bergegas keluar dari rumahnya Abah haji untuk menuju ke bawah bukit Haur Koneng, sebelumnya Nandi meminta pada mang Usman dan santri untuk menemani abah haji takut terjadi hal yang tidak di harapkan.
Singkat cerita.
Setelah lama Nandi mencari apa yang telah di tunjukan oleh suara gaib itu, akhirnya Nandi menemukan sebuah gubuk yang mencurigakan karena adanya getaran mistik di sekitar gubuk itu, lalu Toglo berbisik pada Nandi.
"Bang Seperti ada suara aneh dari dalam Gubuk tersebut." Ujar Toglo.
"Ayo sekarang kita sergap orang-orang yang pecundang itu dan bermuka dua, karena orang seperti itu adalah orang yang pengecut." Ajak Nandi sudah mulai bangkit amarahnya.
Lalu Nandi, Kamal, Hasan, Gito dan Toglo langsung bergegas menuju ke arah gubuk tua tersebut.
Sementara ke enam orang lelaki paruh baya, yang lagi melancarkan aksinya ingin mencelakakan Haji mansur dengan cara menikam dari belakang atau membokong melalui jalan halus, tiba-tiba jadi berantakan setelah mendengar suara pintu gubuk yang di dobrak.
Bruuaaakkk...
Suara pintu kayu hancur berantakan di hantam dengan keras oleh Toglo.
Kini ke enam lelaki paruh baya itu langsung tersontak kaget, dan semua ritualnya menjadi buyar dan berantakan.
Kemudian ke enam orang itu semua membalikan badannya ke arah pintu yang jebol dan serempak berdiri dari tempat duduknya.
**********
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa ya sertakan pula like, comentar, favorit, vote serta hadiahnya bila suka.
Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.