
Di episode sebelumnya dikisahkan.
Nandi yang sudah berhasil menyelamatkan nyawa gadis yang tenggelam ditelaga reumis itu,
kini sudah siuman.
Dan nandi mendapat pujian dari orang-orang yang melihat nandi menyelam menyelamatkan nyawa gadis itu.
Sementara ibu dari gadis itu, sangat berterima kasih pada nandi, yang sudah rela mrngorbankan nyawa demi terselamatkannya nyawa yang lain.
Kini gadis itu sudah dibawa ketempat kediamannya, yang tidak jauh dari lokasi telaga reumis.
Muka pucat pasi, dan lelembutannya gadis tersebut seperti belum terkumpul diraga gadis itu.
Terlihat gadis itu seperti bengong dan tidak bergairah.
''Terima kasih nak, sudah menolong anak ibu, siapa namamu?.'' Tanya ibu dari gadis itu.
''Nama saya nandi bu, dan ini teman saya namanya kamal, saya datang dari kota, kesini mau liburan dipertengahan bulan, baru aja saya duduk kira-kira lima belas menitan, tiba-tiba terdengar teriakan orang minta tolong, ya saya mencba berusaha untuk menyelamatkan nyawa anak ibu, dan berkat pertolongan allah swt akhirnya saya diberi kekuatan untuk membantu mengambil anak ibu didasar telaga yang terjepit oleh bebatuan.'' Ucap nandi.
''Hebat kamu nak, padahal telaga itu sangat angker!.'' Pungkas lelaki berkumis yang tak lain adalah ayah dari gadis itu.
''Ya itu juga atas kehendak allah pak, melalui tangan saya anak bapak bisa terselamatkan.'' Jawab nandi.
''Iya nak nandi, terus kamu lagi minum dijedai siapa?.'' Tanya lelaki berkumis.
''Dikedai mang udin pak.'' Jawab nandi.
''Sebagai balas jasa bapak pada kamu, biarlah makan minum kamu bapk yang bayar.'' Ucap lelaki berkumis itu.
''Sebelumnya saya ucapkan terima kasih, tapi saya mohon ma'ap, saya menolong iklas tanpa ada balas jasa sedikitpun.'' Jawab nandi.
''Iya ini, cuma ucapan rasa terima kasih saya pada kalian berdua, saya mohon terimalah tawaran dari saya ini.'' Ucap lelaki berkumis itu.
''Baiklah kalau begitu.'' Ucap nandi.
Setelah itu nandi dan kamal balik lagi ke kedainya mang udin, dan lelaki berkumis itu mengikutinya dari belakang.
Setibanya dikedai mang udin, nandi dan kamal lalu duduk lagi dibale-bale dekatnya sindi.
''Loh ko bajunya pada basah sih, abis berenang ya?.'' Tanya sindi.
''Ya kan gua abis menyelam, menyelamatkan nyawa gadis anaknya dibapak kumis.'' Ucap nandi sambil menunjuk pada lelaki berkumis itu.
''Iya neng, neng pacarnya? apa istrinya?.'' Tanya pak kumis.
''Saya masih setatus pacaran pak.'' Jawab sindi.
''Ooh jadi kalian itu berpasang pasangan, neng ini pacarnya nak nandi, berarti neng yang satunya lagi pacarnya nak kamal ya.'' Ucap pak kumis.
Astuti dan kamal saling berpandangan, ketika pak kumis berkata begitu.
''Ya sudah lanjutkan lagi ngobrol kalian, Ooh iya mang udin ini adiknya bapak nak nandi.'' Ucap pak kumis.
Mang udin heran melihat pak kumis bisa akrab dengan nandi, terus mang udin bertanya?
''Ko kakang bisa kenal dengan bang nandi?.'' Tanya mang udin.
''Iya din, tadi nank nadi inilah yang sudah menyelamatkan nyawanya lestari.'' Ucap pak kumis.
''Massa allah, jadi yang tenggelam itu lestari anak kang harun?.'' Tanya mang udin.
''ma'apkan saya kang harun, saya jadi merasa berdosa, sungguh saya kagak tau.'' Ucap mang udin.
''Maksud kamu apa sih din, kakang belum paha?.'' Tanya pak kumis yang bernama harun.
''Begini kang, tadi saya juga dengar ada yang berteriak minta tolong, dan saya biasa aja kira'in saiapa gitu.'' Ucap mang udin.
''Ya gak apa-apa sih, toh sekarang sudah terjadi, ya seharus sih kamu jangan begitu, kalau ada apa-apa, kamu cepat cari tau.'' Ucap harun.
''Iya kang harun.'' Jawab mang udin.
__ADS_1
''Begini din, sebagai ucapan rasa terimaksih kakang pada nak nadi dan nak kamal, biar semua makan dan minumnya, kakang yang bayar.'' Ucap harun.
''Iya kang tenang aja, pokonya beres, biar ini tanggung jawab saya.'' Ucap mang udin.
''Ya sudah, kakang pulang dulu, mau ngobatin dulu lestari, takut kenapa-kenapa.'' Pungkas harun sambil pamit pada nabdi dan yang lainnya.
Setelah kepergiannya pak kumis alias harun nandi pun minta ijin kekamar mandi mau ganti salin, soalnya celana pendek dan kaos dalamnya basah kuyup, begitu juga kamal.
Mang udin pun menujukan arah dan letaknya kamar mandi itu.
Setelah itu nandi pun sudah selesai ganti salinnya begitupun kamal, yang kebetulan bawa salin pengganti.
Karena rasa lelah yang kini nandi alami, sehabis menyelam jedasar telaga, akhirnya rasa lapar sudah datang, menagih jatah pemasukan makanan, nandipun langsung memesqn nasi liwet.
''Mang udin, rasa lapar sudah menyerang nih.'' Ucap nandi.
''Ya sudah mamang siapkan dulu ya.'' Kata mang udin.
''Jangan terlau banyak mang, berasnya satu setengah liter aja, jadi tidak banyak sisa yang terbuang.'' Ucap nandi.
''Iya bang nandi.'' Saut mang udin.
Setelah itu mang udinpun pergi kebelakang untuk memasak nasi liwet pesanannya nandi dan membakar ikan untuk lauk pauknya.
Tiga puluh menit kemudian nasi liwetnya sudah matang, terus mang udin mengangkatnya untuk didinginkan dulu beberapa menit.
Setelah itu mang udin dan istrinya membawa hidangan tersebut pada nandi, dengan lauk pauknya ikan panggang yang masih segar-segar, ditambah lalapn daun-daunan segar pula.
''Ayo bang nandi, selamat menikmati hidangannya, pasti lapar banget, habis menyelam, soalnya telaga itu lumayan cukup dalam.'' Ucap mang udin.
''Iya bener mang.'' Jawab nandi.
Selanjutnya.
Nandi, kamal, astuti dan sindi langsung menyantap nasi liwet buatannya mang udin. Astuti dan kamal yang baru pertama kali dibawa kesitu oleh nandi, begitu pas mencicipi nasi liwet tersebut, seperti merasakan sebuah kenikmatan pasakan yang sederhana tapi rasanya cukup berkelas.
Sindi dan nandi tekadang saling suapin
''Nah gitu dong, pasangan dua sejoli, kalau dalam kisah ramayana, bagaikan sri rama dan dewi sinta.'' Ucap kamal.
''Uluuuuh gue jadi ngiri nih.'' Celoteh astuti.
''Ya iya dong, makanya kalau ada yang mau jangan di sia-sia'in.'' Jawab nandi.
''Bener tuh apa kata aa nandi.'' Pungkas sindi.
''Tuh kan kalian berdua jadi mojokin gue sih, iih sebel deh.'' Ucap astuti.
''Iih ma'ap tut, gue bercanda jangan diambil hati.'' Ujar sindi.
''Mulai deh sipat aslinya adik gue keluar, bo ya jangan terlalu sensi, sedikit-sedikit ngambek.'' Pungkas nandi.
''Siapa juga yang ngambek.'' Saut astuti.
''Itu kan masih ngambek.'' Ucap nandi.
''Gue bukan ngambek, tapi gue gak suka tuh sama lelucon kalian berdua.'' Ucap astuti.
''Ya sama aja keleesss.'' Ucap nandi.
''Sudah-sudah. malah kalian jadi ribut sih.'' Ucap sindi.
''Iya nih, jadi gak seru deh.'' Pungkas kamal.
Setelah mereka selesai makannya, terus mereka pamit pada mang udin, mau lihat-lihat dulu pemandangan disekitar telaga reumis itu.
Lalu mereka keluar dari bale-bale kedainya mang udin, mereka berjalan kaki keliling-liling disekitar telaga, sambil selpi-selpi bareng, terkadang gantian posisi nandi dan sindi, astuti dan kamal, kadang sindi dan astuti, begitulah seterusnya.
Terus mereka berpencar, astuti dan kamal, sengaja nandi lakukan memberikan ruang gerak bagi mereka untuk saling membukakan hatinya masing-masing, karena nandi merasakan bahwa keduanya sudah sama-sama saling menyukai, makanya nandi dan sindi sengaja jalan berdua menjauh dari astuti dan kamal.
Astuti dan kamal duduk berdua dibawah tebih batu, dengan pohon beringin berdiri disampingnya memayungi mereka dari teriknya sinar matahari.
__ADS_1
Astuti dan kamal bercanda ria, ketawa-ketawa saling cubit, saking asiknya astuti ngobrol tanpa disadari, perlahan-lahan astuti merebahkan tubuhnya didada kamal yang gempal dan bidang.
Betapa bahagianya kamal, karena seumur hidup dia baru kali itu ada seorang wanita yang bersandar didadanya, dengan rasa was-was dan ragu tangan kamalpun perlahan membelai rambut astuti yang panjang terurai, yang sedikit menari-menari diterpa angin pegungungan.
''Ma'apin gue ya aa sudah lancang rebahan didadamu.'' Kata astuti.
''Tidak apa-apa tut, gua juga seneng ko bisa ngobrol denganmu, tertawamu yang lepas, dan bicaramu yang ceplas ceplos, itulah yang membuat gua suka dengan kepribadian lo'.'' Ucap kamal.
''Masa ia sih aa, orang bilang gue cewe tomboy, dan gue juga jarang pake mike up, sebagimana layaknya kaum wanita.'' Ucap astuti.
''Justru gua suka yang natural, dan itu ada pada diri lo' tut.'' Ucap kamal.
''Elo' itu aneh aa, biasanya kaum pria lebih dominan memilih cewe yang lembut, seksi dan suka bersolek.'' Kata astuti.
''Lain orang, lain pula sipat dan karakternya tut.'' Ucap kamal.
''Iya sih, contohnya gue dan bang nandi, biarpun masih sedarah, tapi karakter gue dan bang nandi beda jauh.'' Ucap astuti.
''Nah lo sendiri juga tau.'' Ucap kamal.
Obrolan kamal dan astuti, perlahan-lahan sudah mulai menjurus pada perasa'an hati.
Sementara nandi dan sindi yang lagi asik duduk sambil memandang kearah air telaga, yang nampak tenang, hanya ada riakan kecil dipermuka'an air.
''Sin, coba lo perhatikan air telaga itu.''Ucap nandi.
''Iya, terus maksudnya aa apa?.'' Tanya sindi.
''Ada pepatah bilang, air yang tenang itu tandanya dalam, dan bisa menenggelamkan banyak orang.'' Ucap nandi.
''Iya gue juga paham, tapi maksud pembicara'an aa mengarah kemana?.'' Tanya sindi.
''Ya maksud gua, dalam ketenangan wajahmu, pasti banyak pria yang tenggelam dengan ketenangan dan kecantikan wajahmu, salah satunya gua, yang sudah tenggelam dilautan cintamu.'' Ucap nandi.
''Mulai deh ngegombal.'' Saut sindi.
''Didalam sebuah perjalanan cinta, ngegombal emang diperlukan buat memperindah hubungan cinta itu sendiri.'' Ucap nandi.
''Kalau ngegombal terus gimana?.'' Tanya sindi.
''Ya kalau itu, bukan sauatu keseriusan, tapi gombal-gombalan, kalau ada kata yang diucapkan dua kali, artinya juga sudah lain lagi, contoh, bohong,, mungkin sekali oleh orang pernah dilakukannya.
Dan kalau bohong-bohongan, itu berarti tidak beneran seperti pemain drama atau sinetron, dia berperan cuma sebatas dalam acting aja.'' Ucap nandi.
''Tapi ada ko yang jadi beneran.'' Ucap Sindi.
''Ya mungkin itu, secara kebetulan aja.''Ucap nandi.
Sindi terus menyenderkan kepalanya dibahu kanannya nandi, sambil pandangan tetap pada permuka'an air telaga, yang nampak tenang.
Nandipun langsung menggerakan tangannya dengan membelai rambut sindi yang panjang agak bergelombang.
Sentuhan lembut dari tangan nandi, memuat hati sindi bahagia dan enggan untuk pergi dari tempat itu.
Keberada'an nandi dan sindi ditelaga reumis, dikagetkan dengan berkumandangnya suara adzan duhur, terus nandi dan sindipun beranjak pergi daribtempat itu, untuk menunaikan ibadah solat duhur, begitupun kamal dan astuti.
Mereka terus berjalan kaki, menuju pada kedainya mang udin, guna mengambil perlengkapan solat, kuhususnya sindi dan astuti, karena mukenanya ditaro didalam tas yang disimpan dikedainya mang udin.
Setibanya dikedai, merekapun langsung bergegas pergi kesebuah langgar atau surau yang kebetulan tidak jauh dari kedainya mang udin, dengan air pancuran yang mengalir dari mata air pegunungan nampak bersih dan jernih, terus mereka mengambil air wudhu secara bergantian.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=✨✨✨✨✨\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bersambung.
Dalam episode selanjutnya.
Terima kasih atas kujungan dan dukungannya, dengan like, comentar, favorit, ranting dan votenya.
Salam sehat dan sukses selalu
\=\=\=\=\=\=\=\=\=Selamat membaca\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1