
Setelah mereka mengambil air wudhu, merekapun melaksanakan solat dengan berjama'ah, dan nandi yang menjadi imamnya, Yang di makmumi oleh kamal, sindi dan astuti berada disap paling belakang.
Selepas mereka melaksanakan ibadah solat duhur, merekapun langsung menuju lagi pada kedainya mang udin.
Selang beberapa menit mereka telah tiba didalam kedai sambil duduk bersila.
''Mang berapa semuanya?.'' Tanya nandi.
''Bang nandi yang itu gak usah bayar, kan semua sudah dibayar sama kang harun.'' Jawab mang udin.
''Ya sudah, sekarang bikinin kopi dua, sama roko dua bungkus mang.'' Ucap nandi
''Rokonya apa? terus neng neng ini mau minum apa?.'' Tanya mang udin pada sindi dan astuti.
''Es jeruk aja mang dua.'' Ucap astuti.
''Rokonya djarum super sama djisamsoe mang.'' Pungkas nandi.
''Oke.'' Kata mang udin singkat, sambil mengambil empat gelas dari raknya, lalu mang udin bikinin pesannya nandi dan astuti.
Setelah semua beres mang udin lalu membawanya kedadapan nandi, kamal, sindi dan astuti.
''Ini kopinya, dan ini es jeruknya, mangga wilujeng ngaraosan kopi sareng es jeruknya, hehee.'' Ucap mang udin.
Nandi dan kamal lalu menyeripit kopi yang masih panas itu.
Seruupuuutttt.
''Aaah mantap tenan, kopi rasa apa ini mang udin, ko rasanya beda dengan yang biasa gua minum.'' Ucap nandi.
''Enak kan kopi buatan mamang.'' Saut mang udin.
''Iya benar mang, resepnya apa sih, kalau boleh saya tau.'' Pungkas kamal.
''Rahasia atuh.'' Saut mang udin.
''Ko main rahasia-rahasiahan segala sih mang, wah jangan-jangan ada apa nih.'' Ucap nandi.
''Ya kagak atuh bang nandi ini kopi asli tumbuk sendiri, mamang kasih tau agar kopi lebih berasa rasanya, kalau abis metik dari kebun, kopi jangan dulu dijemur, biarkan dulu kering sendirinya tanpa dijemur biar jat asam yang terjandung didalam kopi tersebut hilang, kurang lebih sebulan dibiarkan dulu tanpa proses apa-apa.'' Ucap mang udin.
''Ooh begitu toh, pantesan kopi ini rasanya beda dengan biasanya yang dijual diwarung-warung.'' Ucap nandi.
''Bang nandi mau, nanti mang udin bawa'in buat abang nanti dirumah.'' Ucap mang udin.
''Boleh-boleh mang, campuran pemanisnya pake gula aren ya, soalnya ini manisnya beda dengan manis gula pasir.'' Celoteh nandi.
''Iya bener bang, gula aren lebih sehat, bagi pecandu kopi sebaiknya pake pemanis gula aren, biar mengurangi penumpukan kadar gula dalam tubuh.'' Ucap mang udin.
''Siiip dah, mang udin is the best.'' Pungkas kamal.
Setelah sekian lamanya nandi, kamal, sindi dan astuti dikedai mang udin, sehingga tidak terasa waktupun telah bergeser, saking enaknya menikmati udara dan pemandangan di sekutar telaga reumis.
Kini jam telah menunjukan 14:35 menit, nandi dan yang lainnya pun akhir pamit mau pulang.
''Mang udin, berhubung sudah mau sore kami pamit mau pulang dulu, dan kopi sama roko dan es jeruk berapa semuanya?.'' Tanya nandi.
''Ya sudah 60.000 aja, kalian hati-hati ya dijalannya salam buat keluarga dirumah.'' Kata mang udin.
''Ya makasih mang udin, kapan-kapan saya pasti kesini lagi.'' Ucap nandi sambil melangkahkan kakinya keluar dari dalam kedainya mang udin.
''Iya bang nandi, mamang tunggu kedatanganmu lagi.'' Ujar mang udin.
Setelah itu nandi dan yang lainnya sudah mulai menyalakan motornya, terus sindi naik dan duduk dijok belakangnya nandi.
Begitupun astuti sudah berada dibelakang kamal, kini kedua motor itu, sudah keluar dari area parkiran kedainya mang udin.
Motor melaju dengan jalan mulai menanjak dan berkelok, mereka melaju dengan pelan karena sambil lihat-lihat pemandangan disetiap kiri kanan jalan yang mereka lalui.
Sindi yang terus memeluk erat nandi, begitupun astuti sekarang sudah tidak sungkan lagi pada kamal, karena mereka sudah membuka hatinya masing-masing, singkatnya astuti dan kamal sudah resmi pacaran, dengan sikap kamal yang berani berterus terang, waktu ditelaga reumis itu kamal sudah menembak astuti dengan perasa'an cintanya, dan astutipun terpanah oleh cintanya kamal.
__ADS_1
Sekarang kedua motor melaju dengan kencang sekali, dengan medan jalan yang naik turun dan banyak sekali tikungan.
Pukul 15: 17 menit.
Mereka telah mulai memasuki jalanan yang datar, bertepatan dengan terdengarnya suara adzan ashar, nandi dan kamal lalu menurunkan speednya.
''Kita cari masjid atau musola disekitar sini.'' Kata nandi.
''Iya di, gua rasa didepan ada masjid.'' Jawab kamal.
Setelah mereka melaju tiga ratus meteran, nampak terlihat sebuah masjid agung dengan bertuliskan masjid baitu rohman.
Terus nandipun memasuki halaman madjid tersebuat dengan memarkirkan kendara'annya dihalaman masjid baitu rohman itu.
Setelah itu merekapun turun dari motornya, dan berjalan menuju tempat wudhu yang berada disamping masjid tersebut.
Selepas itu metekapun memasuki masjid, untuk melaksanakan ibadah solat ashar, yang kebetulan masih keburu untuk berjama'ah.
Sementara sindi dan astuti masuk keruangan tempat solatnya para wanita.
Tidak lama kemudian, nandi, kamal, astuti dan sindi, teleh selesai melaksanakan ibadah solat ashar, terus mereka keluar dari dalam masjid tersebut, dan memakaikan kembali sepatunya dilepas itu.
Setelah sepatunya terpasang kembali, nandi dan yang lainnya berjalan menuruni tangga masjid itu, menuju pada kendara'annya yang lagi terparkir didepan halaman masiji baitu rahman.
Selepas itu merekapun melajukan lagi motornya, keluar dari halaman masjid tersebut.
Kini nandi dan kamal sudah mulai memasuki jalan yang ramai dan dipadati oleh berbagai macam kendara'an.
Baru saja mereka menjalankan kendara'an, tiba-tiba nandi berhenti dan meminggirkan motornya, terus nandi turun dari motornya.
''Sebentar ya sin.'' Ucap nandi.
Sindi agak heran dengan sikapnya nandi, begitupun kamal dan astuti.
''Mau ngapain nandi ko tiba-tiba berhenti.'' Pungkas kamal, yang belum Paham maksud dan tujuannya nandi.
Nandi terus berjalan menuju pada seorang kake yang ber usia sudah lanjut itu.
''Iya nak, tapi kake takut, katena banyak kendara'an.
''Ayo saya anterin kake nyebrang kesana.''Ucap nandi sambil memegang tangannya sikake itu.
Nandi lalu melihat-lihat kendara'an yang lalu lalang di dua arah, setelah agak jarang ia lalu menuntun si kake itu nyebrang kesebelah sana.
Ditengah-tengah jalan, mobilpun berhenti, dan ada sebagian pengendara kendara'an yang mengangkat jempolnya untuk nandi.
Singkatnya nandi dan sikake telah tiba ditepian jalan.
''Ya sudah, kake hati-hati ya, terus rumahnya dimana ke?.'' Tanya nandi.
''Sudah deket nak, terima kasih ya, kamu baik banget, kake doakan semoga hidupmu selalu mendatangkan berkah, dan digampangkan rijkinya, dan sehat-sehat selalu.'' Ucap sikake.
''Aamiin ke, ya sudah, saya balik lagi ya ke.'' Ucap nandi.
''Iya nak, hati-hati.'' Jawab sikake.
Nandi akhirnya nyebrang lagi menuju pada sindi, kamal dan astuti, yang lagi menunggu, sambil duduk dimotor.
Sindi yang memperhatikan nandi dengan kepribadiannya yang selalu ada buat orang yang lagi membutuhkannya, sangat mengagumi sikap baiknya nandi pada sesama.
''Alhamdulilah ya allah, kau telah mengirimkan pemuda yang baik padaku.''Ucap sindi dalam hatinya.
Setelah itu nandipun sudah berada lagi dimana sindi dan kamal menunggu.
Terus nandi menaiki motornya lagi.
''Mau coba bawa motor gua?.'' Tanya nandi pada sindi.
''Gak lah, gue gak bisa bawa motor cowo.'' Jawab sindi.
__ADS_1
Setelah itu, nandipun menghidupkan lagi motornya.
Greng greng greeeng.
Suara gas dikocoknya, dan akhirnya motor yamaha rx king cobra nandi mealju lagi, dengan di ikuti oleh kamal.
Dan keduanya langsung melesat menarik gasnya pool.
Karena terlalu kencangnya laju dari kedua motor yang nandi dan kamal kendalaikan, sehingga putaran jari-jari pada roda ban pun tidak kelihatan.
Pukul 16:15 menit.
Nandi dan kamal sudah mulai memasuki jalan mengkudu, jalan yang menembus pada jalan ketupat.
Laju kedua kendara'anpun terus semakin kencang, salip menyalip kendara'an sungguh sebuah skill yang sangat memukau, sindi yang semakin erat memeluk nandi karena takut dengan lajunya motor yang nandi kendalikan.
''Aa pelan-pelan dong, gue takut.'' Teriak sindi.
Setelah mendengar teriakan sindi, barulah nandi menurunkan speednya.
''Iya sayaang ma'apin gua, supaya kita lebih cepat sampai.'' Jawab nandi.
''Iya tapi gue ngeri, aa pingin nanti gue kencing dicelana.'' Ucap sindi.
''Iiiih jorok tau.'' Jawab nandi.
''Ya makanya jangan terlalu kenceng, takut tau, gue masih pingin hidup.'' Ujar sindi.
''Iya, semua orangpun pasti pingin hidup lebih lama sin, masalah mati itu urusan yang diatas.'' Ucap nandi.
''Iya gue tau, tapi kalau bawa motornya kaya tadi terus, bisa-bisa gue mati karena ketakutan.'' Celoteh sindi.
Kini mereka telah tiba dijalan ketupat, terus nandi dan kamal berhenti dibengkelnya.
Nampak gito dan pandi lagi menangani dua kendara'an.
Nandi dan sindi lalu turun dari motornya sambil membuka helmnya masing-masing, begitupula kamal dan astuti.
''Assalam mualaiku.'' Ucap nandi.
''Wa alaikum salam, buseett dah, abis jalan-jalan ko kita gak diajak-ajak ya pan.'' Ujar gito.
''Iya nih, boleh dong kali-kali ajak kita-kita.'' Pungkas pandi.
''Iya nanti, kalau ada libur panjang gua ajak kalian semua.'' Ucap nandi.
''Gua kira lo pada dah pada pulang.'' Pungkas kamal.
''Ini ada dua pr yang belum tuntas.'' Ujar pandi.
Nandi lalu duduk dibangku, sambil selonjoran, melepaskan rasa lelahnya setelah melakukan perjalanan puluhan kilo meter.
Selepas itu, berhubung hari sudah mulai senja dan yang datang kebengkelpun sudah sepi, akhirnya nandi meminta pada pandi untuk tutup.
Pandipun menutup, rolling dor dan pintu samping toko, setelah semua terkunci merekapun kini mulai otw pulang kerumah.
Senja kini telah datang, untuk menyambut sang malam. udarapun sudah mulai terasa dingin, karena iklim dikota itu bila senja hari datang hawa dinginpun mulai menyelimuti jantung kota dan daerah-daerah disekitarnya.
Nandi beserta para sahabatnya yang sekaligus pekerjanya, sudah tiba digang si'iran.
Sementara gito dan pandi tidak ikut bersama nandi, mereka berbelok menuju rumahnya masing-masing diujung gang si'iran.
♤♤♤♤♤<<<<>>>>♤♤♤♤♤
Bersambung.
Ikuti kelanjutan kisahnya, dalam episode selanjutnya.
tinggalkan jejaknya dengan like, comentar, favorit, ranting dan votenya.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya, semoga sehat-sehat dan sukses selalu.
🏍🏍🏍🏍Selamat membaca🏍🏍🏍🏍