SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si Kidal Sang Penolong eps 192


__ADS_3

Sesampainya di rumah Wulan Toglo langsung pamit, karena kasihan sama Wawan yang menunggu di tempat nya pak Dirman.


"Gua pulang dulu ya." Ujar Toglo.


"Duduk dulu atuh bang, ko buru-buru amat." Ucap Wulan.


"Lain kali aja, gua main sini, kasihan Wawan nungguin." Ujar Toglo


"Ya sudah, makasih ya bang Wanda sampai ketemu besok." Saut Wulan.


"Iya sama-sama, salam ya buat orang tua lo'." Ujar Toglo sembari memutar balikan sepedanya.


Wulan masih tetap berdiri di depan teras rumahnya menatap dengan intens kepergiannya Toglo, sebuah momen yang langka bagi Wulan perkenalan pertama dengan Wanda, di antar pulang kerja dengan menaiki sepeda gunung, wulan nampak berseri-seri sambil tersenyum tipis melihat Wanda menggoes sepedanya, hanya punggung dan kepalanya saja yang wulan lihat sampai Wanda tidak nampak lagi, karena di telan jarak yang semakin jauh.


Sementara Toglo sendiri terus menggoes sepedanya dengan kencang dan sangat lincah sekali.


Lima belas menit kemudian Toglo sudah sampai di Gang Si'iran langsung meluncur ke tempat kerjanya Wawan, Toglo langsung menghentikan laju sepedanya setelah tiba di lapaknya pak Dirman, Toglo turun dari sepeda dan berjalan masuk sambil memanggil Wawan.


"Wan.. Wawan." Panggil Toglo.


Tapi yang di panggil tidak menyaut sedikitpun.


"Kemana sih Wawan, apa mungkin sudah pulang duluan, coba deh ku tanya sama pak Dirman." Gerutu Toglo sambil melangkah menuju rumahnya pak Dirman.


Tok


Tok


Tok


"Assalam mualaikum." Sapa Toglo.


Selang beberapa menit pintu pun terbuka bersamaan dengan membalas salamnya Toglo.


"Wa alaikum salam, Eeh Toglo ada apa lo'?." Tanya seorang lelaki yang tak lain adalah Kamal.


"Maap bang, Wawan kemana ya, tadi suruh nunggu, tapi di lapak tidak ada." Jawab Toglo.


"Kurang tau ya, coba gua tanya dulu sama bapak." Ujar Kamal sambil melangkah pergi kebelang untuk menemui sang mertua.


"Pak itu Toglo nyari'in Wawan, apa Wawan sudah pulang?." Tanya Kamal pada pak Dirman.


"Ooh iya, tadi Wawan berpesan kalau ada bang Wanda ku pulang duluan begitu pesannya." Ujar pak Dirman.


"Ooh ya sudah." Ujar kamal sambil membalikan badannya untuk kembali pada Toglo yang lagi menunggu di luar.


"Wawan sudah pulang, tadi ia berpesan pada bapak, kalau ada Wanda pulang duluan katanya, emang lo' habis dari mana?." Tanya Kamal.


"Tidak dari mana-mana bang." Jawab Toglo.


"Jangan bohongin gua lo', gua juga tau pasti lo' habis nganterin Wulan kan, ayo ngaku, kenapa mesti malu." Tekan Kamal.


"Hehee, iya bang." Ujar Toglo sambil tersenyum tipis.


"Nah gitu dong, jangan malu, gua dukung lo', Wulan gadis yang baik." Ujar Kamal menberi semangat.


"Emang abang tau?." Tanya Toglo.


"Ya elah, Wulan kan anak Gang Asem, tembusan Gang Si'iran gua kenal sama kedua orang tuanya juga." Ujar Kamal.

__ADS_1


"Oo Begitu, terima kasih bang atas dukungannya, ya mudah-mudahan aja Allah memberi jalan." Ujar Toglo.


"Amiin." Kamal.


Selepas itu Toglo pun segera beranjak dari hadapan Kamal untuk pulang menyusul Wawan, Toglo terus menggoes sepedanya dengan kencang menyusuri jalanan gang sempit dan banyak sekali tikungan.


Ketika Toglo sampai di penghujung Gang si'iran, Toglo langsung kaget dan terus melompat dari atas sepedanya, ketika melihat yang tergeletak meraung kesakitan dan menghampirinya.


"Wawaan..Lo' kenapa?." Tanya Toglo sembari membangunkan Wawan adiknya itu.


"Gua di palak bang, karena gak ada duit gua di pukulin, duh sakit bang." Jelas Wawan.


"Kurang ajar, siapa orangnya Wan?." Tanya Toglo.


"Gak tau bang ku gak kenal." Jawab Wawan.


"Ya sudah sekarang bangun dulu, kamu kuat gak bawa sepedanya, kalau gak kuat kamu ikut abang." Ujar Toglo.


"Gak kuat bang. Lalu sepedanya gimana." Ujar Wawan.


"Oke kalau begitu, lo naik di belakan abang sambil tuntun sepeda lo'." Ujar Toglo.


Ketika Toglo mau menaiki sepedanya, tidak sengaja terlihat oleh Toglo, di atas dinding tembok rumah penduduk yang berdampingan dengan tembok Gang ada sebuah kamera kecil tertuju pada arus jalan Gang. "Sebentar-sebentar bukan kah itu cctv, gua bisa cari impormasi pemukulan adik gua di cctv itu." Batin Toglo.


Kemudian Toglo berjalan ke arah depan rumah yang mempunyai cctv tersebut bersama wawan yang membiru mukanya akibat dari pemukulan orang yang tidak bertanggung jawab.


Laku Toglo masuk ke teras rumah itu sambil mengetuk pintu tiga kali.


Tok


Tok


Tok


"Assalam mualaikum." Sapa Toglo.


Sejenak orang itu memandang intens pada Toglo seperti mengenalinya.


"Eeh, lo', bukan kah yang kerja di bengkelnya Nandi, lalu kenapa muka temen lo' sampai membiru begitu?." Tanya Pemilik rumah itu.


"Iya bang saya Toglo, ku mau tanya apakah cctv itu miliknya abang?." Tanya Toglo.


"Iya benar emang nya kenapa?." Balik bertanya.


Kemudian Toglo menceritakan, dari semenjak ia mengantar wulan pulang, hingga kembali Wawan sudah pulang duluan dan di ketemukan adik nya sudah pada bonyok mukanya, begitu Toglo ber cerita


"Oon begitu, ya sudah sekarang kalian masuk ikut bersama gue." Ujarnya


Pemilik rumah tersebut langsung mengajak Toglo keruangan untuk membuka cctv tersebut.


Setelah cctv di buka nampak terlihat ada empat pemuda mencegat Wawan yang lagi melaju dengan sepeda, seperti meminta sesuatu, kemudian Wawan di suruh turun dan orang yang berpakaian kaos warna hitam langsung memukul Wawan hingga terjatuh dan temannya ikut menghajarnya, muka Toglo nampak merah menyala.


"Maap bang bisa di perjelas gak." Pinta Toglo.


Setelah di perjelas, Toglo menatap orang itu satu persatu dengan intens, terdengar jelas suara gigi graham Toglo menggigit menahan amarah yang tak terhingga.


"Gimana Glo sudah jelas, tapi gue gak kenal kayanya bukan anak gang Si'iran, kalau anak Gang Si'iran semua pasti kenal pada pekerjanya Nandi, kenapa kamu tadi tidak berteriak minta tolong, padahal orang-orang lagi pada ada di rumah." Ujar pemilik cctv itu sambil menoleh pada Wawan.


"Ya sudah kalau begitu, terima kasih ya bang, nanti gua akan cari siapa dan orang mana yang sudah bertidak kriminal pada adik gua." Ujar Toglo.

__ADS_1


"Iya glo sama-sama." Ujarnya


Selepas itu Toglo keluar dan langsung memburu pada sepedanya, lalu toglo menaiki sepedanya lalu Wawan duduk di jok belakang berboncengan dengan Toglo.


"kamu kuat gak sambil nuntun sepedamu?." Tanya Toglo.


Lalu pemilik cctv itu keluar, menghampiri pada Toglo. "Kalau susah taro aja di rumah gue, besok bisa lo ambil kalau berangkat kerja." Ujar pemilik cctv itu memberi tawaran.


"Gak apa-apa nih kalau gua ikut nitip dulu untuk satu malam." Ujar Toglo.


"Iih lo' kaya sama siapa saja, gue sudah lama kenal sama lo' sering pulang pergi lewat sini mesti tidak akrab, ya sekarang jadi akrab, kenalin gue Perdi." Ujar sang pemilik cctv itu memperkenalkan dirinya pada Toglo dan Wawan.


"Gua Toglo, nama asli gua Wanda, tapi lebih dikenal dengan sebutan Toglo, dan ini adik gua namanya Wawan." Ujar Toglo sambil menyambut huluran tangan dari Perdi, begitu pula Wawan menghulurkan tangannya pada Perdi.


Setelah itu Toglo dan Wawan bergegas pergi dari hadapan Perdi dengan menaiki seoeda gunung berboncengan.


Tidak lama kemudian Toglo sudah tiba di depan rumahnya, Wawan pun langsung turun dari srprda yang di ikuti oleh Toglo.


Baru saja Toglo mau mendekati sebuah pintu, pintu itupun sudah terbuka duluan bersama'an dengan kemunculan seorang gadis berusia delapan tahun.


"Hore abang pulang." Lalu gadis kecil itu menoleh pada Wawan dengan netranya menatap penuh tanda tanya.


"Kak Wawan kenapa bang Wanda?." Tanya gadis itu yang tak lain adalah Wiwin.


"Gak apa-apa, kak wawan tadi jatuh dari sepeda." Jawab Toglo.


"Ooh iya dek ambilin air hangat sama sapu tangan, buat kompres kak Wawan." Suruh Toglo.


"Baik bang."


Tidak lama kemudian Wiwin datang membawa ember kecil berisikan air hangat dengan sehelai sapu tangan.


Dengan telatennya Toglo me ngompres luka lebam di bagian wajah Wawan sambil bergumam dalam hati. "Kalian berempat harus mempertanggung jawabkan atas apa yang telah di lakukan pada adik gua, gua akan cari sampai dapat." Batin Toglo.


Setelah Wawan selesai di kompres , Toglo langsung masuk untuk mengambil handuk guna membersihkan badannya dari kotoran yang melekat, karena yang namanya kerja di bengkel setidak ada aja kotoran bekas oli yang nempel.


Setelah selsai mandi Toglo langsung keluar rumah menuju pada tanaman yang sengaja ia tanam, sebagai apotek hidup, tujuh lembar daun pecut kuda ditambah tiga lembar daun sambung nyawa dan liga lembar dau jawer kotok.


Setelah itu Tujuh lembar daun pecut kuda di tambah tiga lembar daur sambung nyawa di rebusnya dalam dua gelas air, lalu daun jawer kotor di kukus.


Setelah air rebusan menjadi satu gelas Toglo pun mengangkatnya lalu di saring di tuangkan dalam gelas, dan kukus daun jawer kotok di angkatnya, setelah suhunya menurun agak hangat daun jawer kotok di tempelkan pada bagian wajah Wawan yang lebam, dan air rebusan itupun di minumkannya dalam keada'an hangat.


"Ya sudah sekarang kamu tidur aja dulu, dan besok kamu gak usah masuk kerja dulu, biar nanti abang yang bilang pada pak Dirman." Ujar Toglo.


"Iya kak, kakak gak usah kerja dulu biar pulih dulu lukanya." Pungkas Wiwin.


"Iya makasih bang Wanda, dek Wiwin kalian memang perhatian." Ujar Wawan.


Setelah itu nenek Jumi datang menghampiri ke tiga bersaudara itu. "Ada apa ini?." Tanya Nenek Jumi.


"Lha itu muka kamu kenapa Wan?." Lanjut nenek Jumi bertanya.


Kemudian Toglo buru-buru menjawab takutnya Wawan berkata jujur pada nenek Jumi.


"Wawan jatuh dari sepeda nek." Saut Toglo.


Toglo terpaksa berbohong pada nenek jumi dan adiknya Wiwin, karena takut mereka kepikiran melihat dengan kondisi nenek Jumi yang semakin tua di makan usia. Apa lagi Wiwin pasti nangis kalau tau kakaknya ada yang mukulin.


*******

__ADS_1


Bersambung.Terima kasih pada para Reader dan kakak-kakak Author yang sudah memberi dukungannya.


Salam sehat dan sukses selalu.


__ADS_2