
Nandi yang lagi duduk dibangku sambil memperhatikan gito dan pandi, terus dikeluarkannya sebungkus roko djarum super dan diambil satu batang sambil dijepit diantara kedua bibir atas dan bawah, dinyalakan sebuah korek gas lalu dibakar ujung roko tersebut sambil dihisapnya.
Asap mengepul keluar dari mulut nandi, nampak nikmat sekali.
Sindi yang melihat bos yang sekaligus pacarnya itu, seperti ada yang kurang dalam kesendiriannya nandi.
Sindi lalu mengambil sebuah gelas yang telah dipersiapkan untuk keperluan sehari-hari, lalu diambil satu saset kopi hitam spesial mix, setelah digunting ujungnya, dituangkan pula kopi tersebut kedalam gelas, lalu diseduhnya pake air panas disebuah dipenser, setelah itu diaduk-aduk hingga gulanya larut dan menyatu dengan bubuk kopi itu.
Setelah itu sindi memabwanya keluar.
Eng ing eng..
''Silahkan diminum kopinya tuan.'' Ucap sindi.
''Widiiiiih, putri nan cantik jelita, perhatian amat nih sama abang.'' Ucap nandi.
Gito dan pandi, serta yang lagi pada duduk dibangku pada menoleh kearah nandi dan sindi, yang berada agak jauh dipojok toko, yang depannya berdiri pohon mangga dengan daun-daunnya yang rimbun.
Si mulut usil yang selalu kepo urusan orang selalu aja nimrung
''Widiih mantap pak bos, kopi ada yang bikinin, sukses selalu pokonya.'' Ucap gito.
''Amiin, makanya lo jangn ngejomblo aja, cepetan
cari, nanti keburu kiamat lo.'' Saut nandi.
''Waah jangan dulu atuh, kan gua juga belum kawin.'' Pandi ikut bicara.
''Ya makanya, cepetan cari pacar, masa mau seumur hidup lo jomblo.'' Ucap nandi.
''Widiih si bos, ko ngomongnya begono sih.'' Saut gito.
Sindi hanya tersenyum manja mendengar nandi dan gito beradu argumen, sementara astuti lagi pokus menghitung buat gajian gito dan pandi.
Kini haripun sudah bergeser, matahari sudah condong kebarat, dan para karayawan pabriknpun sudah pada keluar, di jam seperti itu jalanan akan mulai macet karena padat kendara'an yang hilir mudik keluar masuk dijalan alternatip.
Sementara nandi beserta para pekerjanya sudah mulai mau tutup tokonya, gito dan pandipun sudah membereskan peralatan, bangku-bangkupun sudah dibereskan dan dimasukan kedalam gudang.
Nandi lalu menarik rolling doorn, setelah rolling door tertutup rapat terus dikuncinya.
Selepas itu Nandi dan astuti mampir dulu ketempat sindi, karena ada yang mesti disampaikan sama rendi.
Sedangkan gito dan pandi, melajukan motornya duluan, dengan wajah yang riang karena mendapat kenaikan gaji.
Motor rx king gito dan pandi melaju dengan kencangnya, saling salip dan saling tunjukan sekill dijalanan.
Liukan-liukan kedua pemuda gang si'iran dalam menyalip kendara'an yang lain nampak indah sekali bagi prang yang melihatnya, tentunya bagi orang yang menyukainya.
Akhirnya keduanya sudah sampai dipertiga'an jalan delima yang mau masuk gang si'iran.
Sementara nandi, astuti dan sindi yang sudah sampai dirumahnya bu suminar, seperti biasa bu suminar selalu ramah bila kedatangan nandi kerumahnya.
Diruang tamu yang tidak terlalu besar, nandi dan astuti duduk disopa, dengan ditemani sindi dan rendi, yang kebetulan rendi pulang kerjanya lebih awal.
''Begini ren tadinya gua mau hubungi lo lewat telpon, tapi setelah gua pikir, kurang etis rasanya, mending gua bicara langsung sama lo.'' Ucap nandi.
''Emangnya apa sih yang akan lo sampaikan sama gua?.'' Tanya rendi.
''Besok malam lo ada acara gak?.'' Tanya nandi.
''Ya gak ada sih.'' Jawab rendi.
''Besok malam, gua, astuti, sindi dan lo diundang sama nina, kira-kira lo bisa hadir gak.'' Ucap nandi.
''Insa allah gua pasti hadir, emang sinina mau ada acara apa'an sih.'' Ucap rendi.
''Katanya sih mau selametan haol kakenya.'' Kata nandi.
''Ooh begitu, is okee.'' Ucap rendi.
Ketika sedang asik ngobrol ngaler ngidul, Bu sumi datang dengan membawa nampan berisikan dua gelas es jeruk dan dua gelas kopi hitam tumbuk sendiri yang ditambahkan pemanis gula aren.
''Masa allah ini kopi apa tante, ko wanginya sampai bisa membangunkan orang lagi tidur.'' Ucap nandi.
''Ini kopi biasa nak nandi, cuma ibu tumbuk sendiri dan pemanisnya juga pake gula aren, makanya wanginya itu beda dengan yang lain.'' Ucap bu suminar.
''Ayo diminum di, tut.'' Kata rendi.
''Iya, terima kasih tante kopinya, waduuh jadi penasaran nih, wanginya juga sudah membangunkan selera, apalagi diminumnya.'' Ucap nandi.
''Iya sama-sama, ayo dicoba pasti kamu akan ketagihan kopi bikinan tante.'' Saut bu suminar.
__ADS_1
''Iya tante, saya percaya, waktu saya sama astuti makan disini, mantap masakan tante benar-benar nikmat.'' Ucap nandi.
''Pokonya masakan nyokap gua tiada duanya, semua orangpun pasti akan ketagihan bila sudah mencicipi masakan nyokap gua, makanya gua dan sindi gak pernah tuh makan diluar, kalau bukan karena kepepet.'' Ucap rendi.
''Aah kamu mah, berlebihan sama mamah rendi.'' Pungkas bu suminar.
''Tapi benar ko tante, masakan tante emang toop.'' Ucap astuti, sambil mengacungkan jempolnya.
Lalu merekapun menyeripit minumannya masing-masing.
Nandi setelah merasakan kopi buatan bu suminar langsung nampak terlihat diwajahnya seperti merasakan sesuatu yang beda.
''Waah muanntapp, kopi dan gulanya pas banget, pokonya kopi hitam rasa gula aren, buatan tante memang top banget deh.'' Ucap nandi sambil mencabut sebatang roko yang tergeletak dimeja.
Bu suminarpun merasa bahagia, karena nandi menyukai kopi buatannya.
Setelah itu bu suminarpun pergi lagi kebelakang untuk menyelesaikan pekerja'annya yang belum tuntas.
Setelah lama nandi ngobrol bareng rendi sambil menikmati kopi buatan bu suminar, nandi mendapat telpon dari bu sari, bahwa nandi dan astuti harus segera pulang karena ada sesuatu yang penting.
Nandipun akhirnya pamitan pada bu suminar, rendi dan sindi, walaupun masih kangen tinggal dirumahnya bu sumi karena bisa dekat dan memandang wajah cantiknya sindi, tetapi nandi tidak bisa menolak perintah dari kedua orang tuanya.
Setelah itu nandi dan astuti sudah melaju dengan kendara'annya.
Nandi melaju didepan yang diikuti oleh astuti, yang disinari oleh matahari senja yang kuning kemerahan terus membayang bayangi laju kedua sepeda motor nandi dan astuti.
Satu jam kemudian, bertepatan dengan berkumandangnya suara adzan maghrib nandi telah tiba didepan rumahnya, nampak terlihat banyak orang berkerumun didepan rumahnya nandi, nandi dan astuti kaget, apa sebenarnya yang telah terjadi sehingga banyak warga gang si'iran berkumpul didepan rumahnya.
Nandi dan astuti lalu memarkirkan motornya, terus ia turun dan berjalan masuk disela-sela kerumunan orang tersebut.
''Ada apa nih?.'' Tanya nandi.
''Itu nandi bi irah motornya ada ngebegal dia berlari kesini minta tolong sama kamu, sekarang begalnya lagi dikejar sama hasan, kamal dan doni.'' Ucap salah seorang yang lagi berkerumun itu.
Nandi dan astuti langsung masuk kedalam rumahnya nampak bi irah lagi nangis dengan tangannya terkena luka goresan senjata tajam.
''Bi irah kenapa bu?.'' Tanya nandi sama ibunya.
''Ini lo nandi, bi irah dibegal dan motornya dibawa kabur, ini pangkal tangannyapun terluka oleh sabetan golok.'' Jawab bu sari.
''Aduuh ksihan bi irah, bentar saya ambilin dulu obat.'' Ucap nandi.
Nandi terus masuk kedalam kamarnya untuk mengambil obat sebagai pertolongan pertama.
''Kamu gak usah panik anak muda, rendam kalung yang melingkar dilehermu itu, lalu usapakan pada orang yang terluka itu, terus ikat setelah dua jam buka ikatannya itu, tanpa dijetahui oleh orang lain.'' Ucap suara yang berbisik ditelinga nandu itu.
''Itu suara nenek itu, apa iya kalung ini bisa mengobati luka, tapi apa salah kalau gua coba dulu, mungkin ini juga perunjuk dari allah mrlalui kalung ini.'' Gerutu nandi.
Setelah itu nandi menyiapkan air angat kuku, dan kain perbal, lalu kalung itu dibukanya dari leher nandi, terus direndamnya selama sepuluh menit, setelah sepuluh menit kalung itu di angkat dan dipakekan lagi dilehernya.
Nandi lalu berjalan keluar mendekati bi irah yang lagi kesakitan, nandi terus jongkok mengekati bi irah, terus bajubyang menutupi pangkal lengan bi irah disobeknya, setelah itu air rendeman kalung itu, dibasuhkan pada luka bi irah, setelah beres nandipun lalu membalutnya dengan kain perbal.
Selang tiga menit bi irah menjerit kesakitan, karena rasa perih dilukanya sangatlah pedih sekali.
''Aadaaaawwww sakit sekali nak nandi, obat apa itu, aduuuuh aduuuhhh.'' Teriak bi irah.
''Tenang bi irah, supaya luka bi irah cepet sembuh, dan supaya tidak inpeksi nantinya.'' Ucap nandi.
''Tapi perih sekali kasep, tapi bibi tahan, untung sikasep yang ngobtinnya, rasanya enak sekali tangan ini dipegang oleh pemuda ganteng.'' Ucap bi irah agak genit.
Astuti hanya tersenyum melihat tingkah bi irah yang seperti anak kecil, dan busaripun ikut berbicara.
''Dasar irah lagi sakit juga, bisa-bisanya genit begitu.'' Celoteh bu sari.
''Iya ma'ap bu, irah bercanda ko, jangan marah ya kasep.'' Ucap bi irah sambil memandang nandi.
''Iya gaka apa-apa bi irah nu demplon, hahaa.'' Ucap nandi tertawa lebar.
''Iih sikasep bisa aja, bibi jadi tambah betah disini.'' Ucap bi irah.
''Ooh iya bu, kamal, hasan dan doni kira-kira kemana mengejar begal itu?.'' Tanya nandi.
''Katanya sih lari kearah gang melati.'' Jawab busari.
''Tapi mereka tau aja yah jalan yang gampang untuk lari, tapi kalau mereka belum tau seluk beluk jalannya pasti sudah kena sama kamal dan hasan.'' Ucap nandi.
''Iya den nandi tolongin bibi ya, apalagi motor itu belum lunas.'' Ucap bu sari.
''Iya bi, bibi tenang aja.'' Ucap nandi sambil melangkah keluar rumah menuju motornya yang lagi diparkir didepan rumah.
Setelah motornya dinyalakan nandi terus keluar dari gang si'iran menuju gang melati, seperti yang telah ibunya tunjukan.
__ADS_1
''Kalau gua terus telusuri gang ini, yang ada gua malah akan ketinggalan jejak.'' Ucap nandi dalam hatinya.
Nandi tidak mengambil masuk terus gang melati, ia terus mengambil arah dengan belok kanan, yang tembusnya jalan pangkalan dua belas.
Akhirnya nandi sudah tiba pula dipentogan gang yang mau masuk jalan pangkalan.
Sesudah itu nandi belok kiri, kini nandi menarik gasnya, dan motorpun melaju dijalan pangkalan dengan kecepatan maximal, setelah lama nandi menelusuri jalan pangkalan, sedikitpun nandi tidak menemui titik temu.
''Gua sudah telusuri jalan ini, tapi belum ada tanda-tanda.'' Gerutu nandi dalam hatinya.
Sejenak nandi terdiam, menenangkan pikirannya, dan memutarkan otaknya.
''Ooh iya, kenapa gua gak bel kamal aja, atau lihat doni dimana posisinya, kan motor doni sudah gua pasang jps.'' Ucap nandi dalam hati.
Nandi lalu membuka handponnya lalu dipasang jps pealacak lokasi, kini nampak terlihat lokasi doni berada dimana, setelah diketahuinya dengan jelas, nandi langsung tancap gas ke'arah lokasi itu.
Tidak lama kemudian nandi telah tiba dilokasi tersebut, nandi terlihat heran dan kebingungan, lalu ia mengambil handponnya lagi, dan terus dibukanya.
''Heran gua, di jps lokasi dan titiknya tepat diarah gua berada, tapi ko mereka kagak ada, ada apa ya dengan mereka.'' Ucap nandi.
Nandi terus turun dari motornya, dan berjalan kearah semak-semak dan pohon-pohon yang berdiri dipinggiran jalan, dan nandi lalu berteriak-teriak memanggil ketiga karyawannya itu.
''Kamal, hasan, doniiii... Apa kalian dengar suara gua.'' Teriak nandi.
Nandi terus memutari tempat itu, sambil menyalakan senter di handponnya, karena hari sudah gelap, sejenak nandi duduk dengan menggaruk-garuk kepalanya, serasa putus harapan.
''Dimana mereka, ini tanda titik dilokasi masih menyala, tapi gua heran ko sedikitpun gua gak mencium atau menemui mereka.'' Gerutu nandi.
Dewa penolong kini datang lagi dan berbisik ditelinga nandi.
''Anak muda, jangan putus asa, teruslah kamu berjalan ke arah jalan setapak itu yang berada dibelakangmu, kamu turun terus, setelah kamu menemui kali, disitu kamu akan menemukan apa yang kamu cari.'' Ucap suara tak berwujud itu.
''Lagi-lagi suara itu selalu muncul disa'at gua dalam kesusahan, terima kasih ya allah kau telah memberi petunjuk lewat suara nenek itu.'' Ucap nandi dalam hatinya.
Nandi pun terus berjalan melalui jalan setapak, seperti yang telah ditunjukan oleh suara itu.
Senter terus menyala dari handponnya nandi karena tempat itu sangat gelap sekali, berada jauh dibawah jalan raya.
Setelah itu nandi tiba disebuah kali, lalu ia berjalan menyebrangi jembatan yang tebuat dari batangan kayu gelondongan.
Dengan sebuah senter yang kurang begitu terang, nandi terus menyenter area disekitar situ.
Pas nandi menyenter kepinggiran kali nampak terlihat oleh nandi ada sesuatu benda yang mencurigakan, lalu ia turun kepinggiran kali itu untuk mengambil benda itu.
Setibanya ditempat itu, lalu nandi mengambil benda tersebut, dengan penuh tanda tanya lagi bagi nandi.
''Massa allah, ini kan alat yang gua pasang dimotornya doni, ko bisa berada disini, wah jangan-jangan....'' Ucap nandi gak diterusin, karena mendengar suara-suara seperti lagi berkelahi.
Nandipun langsung berlari dengan kencang, ke'arah suara itu, tanpa memikirkan apa yang ada didepannya, terkadang nandipun sering salah jalan dan salah yang dopijak, tapi itu semua tidak membuat nandi kendor, malah semakin kencang nandi berlari didalam gelapnya malam.
Setibanya disuatu tempat, nandi melihat ada dua orang lagi dikeroyok oleh ke,enam orang lelaki, samar-samar nandi mengenal gerakan dari kedua orang itu.
''Gua yakin itu hasan sama kamal, lalu dimanakah doni berada.'' Ucap nandi dalam hatinya.
Sementara kedua orang itu, dikeroyok satu lawan tiga orang, karena tidak sebandingnya lawan terkadang kedua orang itu sering kecolongan dan terkena pukulan dari lawannya.
Setelah nandi yakin bahwa kedua orang itu sahabatnya, iapun melompat sambil menendangkan kakinya kearah orang yang lagi mengeroyok itu.
Duk duk deeaasss...
Kaki nandi bersarang didada mereka.
''kurang ajar siapa kau, kenapa ikut campur urusan kami.'' Teriak dari ke'enam orang itu.
''Ayo kita bunuh ketiga orang ini.'' Teriak dari ke'enam kawanan orang tersebut.
Nandipun saling pandang dengan kedua orang itu, meski dalam keada'an gelam tapi mereka sama-sama mengenal bau dari aroma minyak yang mereka pakai.
''Nandi?.'' Tanyanya.
''Iya ini gua, lo hasan sama kamal kan, dimana doni?.'' Nandi balik bertanya.
''Iya ini gua hasan sama kamal, doni nanti gua ceritain.'' Jawab hasan.
Ke enam orang itupun lalu mengurung, nandi hasan dan kamal.
☆☆☆☆☆☆<<<<>>>>>☆☆☆☆☆☆
Bersambung.
jangan lupa, like, comentar, saran, ranting, tavorit dan vote.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya, semoga sehat-sehat dan sukse selalu.
Selamat membaca.