SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 142


__ADS_3

Kini misteri di balik hilangnya Wanda, kaka dari Wawan dan Wiwin telah terungkap.


Mungkin itu semua telah di atur oleh sang pencipta, kenapa orang tuanya Wawan dan Wiwin sebelum meninggal kan anak-anaknya, sampai menyempatkan membuat kalung yang sama tapi punya ciri yang berbeda.


Ya itulah rahasia ilahi tak satupun orang yang mengetahuinya, karena perjalanan hidup dan mati manusia sudah ditentukan.


******


Toglo, Wawan dan Wiwin kini diantarkan oleh Nandi pake mobilnya, Sindi, Anggita, buk sari dan Kamal pun ikut menemani, sekalian ingin bersilaturahmi pada nenek Jumi, sambil menerangkan misteri di balik penemuannya Toglo di dalam goa waktu itu.


Setelah itu mereka telah tiba dijalan yang penuh kerikil, lalu Nandi menghentikan laju kendara'annya, ketika sampai di depan rumah berbilik bambu dan beratapkan daun lontar yang di tata sedemikian rapinya.


Kemudian mereka keluar dari dalam mobil tersebut, lalu berjalan kaki dijalan yang cuma lebar satu meter hanya cukup buat kendara'an roda dua saja.


Setibanya di depan pintu, Toglo mengetuk pintu Tiga kali bersama'an dengan mengucap salam.


Tok


Tok


Tok


''Assalam mualaikum''


Tidak menunggu lama lagi, terdengar dari dalam menjawab dengan suara yang sedikit parau, pertanda sang pemilik rumah tersebut sudah berusia senja.


''Wa alaikum salam''


Bersama itu pula munculah seorang nenek dengan rambutnya yang sudah nampak memutih, dialah nenek Jumi, yang telah membesarkan Toglo.


''Uluuh ko banyakan, Nandi, buk Sari, neng Sindi juga ikut, lalu mereka bertiga siapa?.'' Tanya Nenek Jumi sambil menunjuk ke arah Kamal, Wawan dan Wiwin.


Kemudian Nandi pun menceritakan perihal kejadian tadi sore di lapaknya pak Dirman.


''Ooh begitu, ya sudah ngobrolnya di dalam aja.'' Ajak nenek Jumi.


Lalu Nandi, Sindi, Anggita, Buk sari dan yang lainnya memasuki ruangan yang tidak begitu lebar, tapi cukup muat buat mereka walau agak berdesak-desakan, Toglo sibuk menyediakan minum untuk mereka, air puih yang telah di masak.


''Ayo pak bos dan semuanya di minum, ma'ap ya tempatnya cuma kaya gini, dan hanya air putih yang bisa ku sajikan.'' Ucap Toglo.


''Ya tidak apa-apa nak Toglo, jangan suka merendah begitu.'' Pungkas buk Sari.


''Sebentar ya nenek mau ke belakang dulu.'' Ucap Nenek Jumi, sambil beranjak dari tempat duduknya.


Tidak lama kemudian nenek Jumi telah kembali dan membawa sesuatu di kepalan tangannya, lalu nenek Jumi memberikannya pada Nandi.


''Ini nak Nandi, setelah nenek solat maghrib lalu nenek ingat barang itu dimana letaknya.''


Nandi pun langsung menerima barang yang di berikan oleh nenek Jumi, kemudian dilihatnya dengan seksama.


Wawan dan Wiwin tercengang, pas melihat Nandi menerima sebuah benda dari nenek Jumi yang sama persis dengan yang ia miliki.


Lalu Nenek Jumi, memanggil Toglo dan menjelaskan, yang di saksikan oleh Nandi dan yang lainnya.


''Sini cucuku, mungpung sekarang banyak saksi, dan apa yang telah nenek rahasiakan selam bertahun-tahun, dan sekarang sudah jelas, dengan bukti adanya ini, ini adalah kalung yang nenek temukan di samping kamu nyangkut di sela-sela bebatuan, terus waktu itu nenek simpan, mungkin ini sudah menjadi kehendak sang pencipta, bahwa hari ini sudah sa'atnya semua terungkap.'' Jelasnya nenek Jumi.


Kemudian Nandi meminta pada Wawan dan Wiwin untuk melepaskan kalungnya, kaka beradik itu langsung melepaskan kalungnya, kemudian Nandi menjejerkan kalung itu.

__ADS_1


''Coba Kalian perhatikan bentuk kalung ini sama tidak ada bedanya, dan menurut dari cerita Wawan ibuknya berkata cuma ada ciri yang membedakan dari ketiga benda ini, yaitu sesuai dengan nama pemakainya, dan saya akan membalikan kalung ini satu perhati di mulai dari yang dipakai Wiwin.'' Jelasnya Nandi sambil membalikan gantungan kalung itu di mulai dari punyanya Wiwin.


Nampak jelas dari kedua kalung punya Wiwin dan Wawan ada hurup terulis wni dan wna yang di ketok.


Kemudian Nandi mulai membalikan kalung yang di temukan oleh nenek Jumi.


''Sekarang kita coba balikan kalung yang ditemukan oleh nenrk Jumi.'' Ujar Nandi.


Wawan dan Wiwin serta Toglo berdebar-debar jantungnya laksana sebuah kontes yang lagi membuka siapa pemenangnya.


Dengan perlahan-lahan Nandi membalikan kalung yang ditemukan oleh nenek Jumi, semua mata melotot tertuju pada benda tersebut, begitu Kalung itu sudah di balik nampak jelas terlihat tertulis hurup Wnd, Wawan dan Wiwin merasa tidak percaya kalau sosok Toglo itu adalah Wanda kakanya, yang hilang waktu terjadi banjir bandang.


Wawan dan Wiwin langsung beranjak dari tempat duduknya, kemudian merangkul Toglo dengan di iringi oleh deraian air mata.


Toglo Sendiri merasa seperti dalam mimpi, ternyata ia masih mempunyai dua saudara kandung, lalu Toglo mencoba mencubit kulitnya sendiri, dan terasa sakit.


''Ternyata ini bukanlah gurauan, tapi nyata adanya.'' Gumam Toglo dalam hati.


Wawan dan Wiwin masih terus memeluk Toglo, melepaskan kerinduannya.


''Terima kasih ya allah, dan terima kasih pak Nandi, berkat bapak akhirnya kami bisa bertemu dengan saudara kandung kami.'' Ucap Wawan sambil terus menangis.


''Sudah-sudah hapuslah air mata kalian, sekarang kita rayakan pertemuan ini, dengan mengadakan syukuran, bagai mana nek?.'' Tanya Nandi.


Si nenek pun merasa senang sekali, ternyata Toglo bukanlah anak yang terbuang, melainkan anak yang hilang.


''Iya Nandi, nenek sangat setuju, biar bagaimana pun kita mesti bersyukur kepada allah subhanahu wata'ala, atas kehendaknyalah Toglo bisa bertemua dengan kedua adiknya.'' Ujar nenek Jumi.


Tanpa menunda lagi besok, Nandi pun mengadakan syukuran dengan membaca solawat dan alpatihah, serta mengirimkan doa buat kedua orang tuanya, Toglo, Wawan dan Wiwin.


******


Ketika semua sudah berada di dalam.mobil, Anggita melambaikan tangannya dan berkata.


''Nenek, Om Toglo, bang Wawan dan teh Wiwin Gita pulang dulu ya, sampai ketemu lagi besok.''


''Iya dek Gita , terima kasih ya, hati-hati pak Nandi, terima kasih juga buat semuanya.'' Ujar Toglo(Wanda).


Nenek Jumi, Wawan dan Wiwin membalas lamabaian tangannya Anggita, sambil memandang sampai mobil itupun tidak nampak lagi karena di telan jarak yang sudah menjauh.


Kemudian Nenek Jumi menyuruh Wanda dan kedua adiknya untuk segera masuk ke dalam rumah.


''Ayo cucu-cucuku kita masuk sudah malam.'' Ajak nenek Jumi.


''Baik nek.'' Jawabnya, sambil melangkah masuk kedalam rumah, lalu Toglo(wanda) menutup pintu rapat-rapat.


''Adik-adiku sekarang kita tidur ya.'' Ujar Wanda sambil memegang ke bahunya Wawan dan Wiwin.


''Pintu sudah di kncing cucuku?.'' Tanya nenek Jumi pada Toglo alias Wanda.


''Sudah nek.'' Jawab Wanda.


Nenek jumi langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya.


Sementara Wanda, Wawan dan Wiwin tidur bertiga di kamar yang tidak terlalu lebar.


Kini malam pun telah berlalu, wanda, Wawan dan Wiwin telah tertidur pulas.

__ADS_1


Wanda alias Toglo kini telah terbawa ke alam mimpi, di dalam mimpinya Toglo lagi berjalan sendirian, di tengah-tengah gurun dengan cuaca yang panas menyengat sampai membakar kulitnya, Tapi toglo terus berjalan tanpa memikirkan rasa lelah dan panas yang membakar.


Ketika Toglo tiba di suatu tempat, yang ada pohon beringin dan gubuk ukuran dua meter persegi, lalu Toglo berhenti dan duduk sejenak di gubuk tersebut, sambil merenung menatap jalan yang akan dilaluinya masih sangat jauh.


Tiba-tiba Toglo di kagetkan dengan kemunculan dua orang lelaki dan perempuan berjalan mendekat ke arahnya, lalu seorang lelaki itu berkata.


''Teruslah nak kamu berjalan, nanti juga kamu akan sampai ditempat tujuan.''


Kemudian seorang wanita berkata seperti sebuah pesan.


''Nak tolong jaga adik-adikmu, sayangilah sebagaimana kamu menyangi dirimu sendiri.'' Ucapnya sembari melanjutkan lagi perjalanannya, tanpa menoleh kebelakang.


Di dalam mimpi Toglo terasa bingung.


''Mungkin kah mereka itu kedua orang tuaku.''


Setelah itu Toglo baru memahami lalu berteriak memanggil kedua orang lelaki dan perempuan itu.


''Ayaaaaaaahhh......


''Ibuuuuuu........


Begitu sampai berulang kali, dan teriakannya toglo di alam mimpi, sampai terdengar keras, sehingga membangunkan Nenek Jumi, Wawan dan Wiwin.


Kemudian Wawan memanggil Wanda sambil menggoyang-goyangkan badannya.


''Bang, bang Wanda kenapa.'' Ucap Wawan.


Lalu Wiwin pun berbisik pada Wawan.


''Kenap ka dengan Bang Wanda.'' Bisiknya Wiwin.


''Bang Wanda ngigau dek.'' Jawabnya.


Setelah itu Wanda pun terbangun dengan membuka kedua matanya.


''Lho ko kalian belum pada tidur?.'' Tanya Wanda.


''Kita sudah pada tidur, terus aku dan dek Wiwin terbangun ketika mendengar teriakan abang yang keras, emang bang Wanda mimpi apa sih, sampai berteriak-teriak begitu.'' Ucap Wawan.


Wanda kini menarik napasnya dalam-dalam, lalu ia pun menjawab pertanya'an dari Wawan.


''Abang mimpi bertemu dengan ayah dan ibuk dek, nanti kalau ada libur panjang kita ziarah ke kuburan ayah dan mamah ya.'' Ujar Wanda.


''Iya bang.'' Jawabnya.


''Ya sudah, sekarang tidur lagi, nanti kesiangan bangun pagi.'' Ucap Wanda.


Selepas itu mereka pun langsung membaringkan lagi tubuhnya di atas tempat tidur, Wiwin tidur di tengah-tengah antara wanda dan Wawan, nampak di ketiga wajah mereka menandakan suatu kebahagiaan yang tidak bisa di ungkapkan oleh kata-kata, karena semesta telah mempertemukan mereka, melewati dari tangan Nandi suryaman.


********


Bersambung.


Salam hormat dan salam sejatera, saya mengucapkan banyak terima kasih pada semua yang sudah memberikan dukungannya, ikuti terus kelanjutannya di episode selanjutnya.


Jangan lupa sertakan like, comentar, jadikan favorit bila suka dan berikan vote serta hadiahnya.

__ADS_1


''Assalam mualaikum''


\=\=Terima kasih\=\=\=


__ADS_2