
Suasana ditepian talaga reumis masih tetap meriah, dan alunan dari petikan gitar hasan yang mendayu, masih terus mengiringi nyanyian-nyian lagu yang di lantunkan oleh nina yunita.
Disa'at itu pula nandi dan sindi datang, ingin memberi tau pada semua yang ada disitu, bahwa nasi liwetnya kemungkinan sudah matang.
''Widiih asik benar kalian ini, sampai lupa bahwa kita lagi dtunggu mang udin nih.'' Celoteh nandi.
''Ooh iya, ya sudah nanti setealah kita makan, kita lanjutkan lagi, gimana teman-teman.'' Ucap hasan.
''Oke-oke, ya sudah kita cabut dulu.'' Pungkas kamal.
''Ayo, sekarang waktunya kita makan.'' Pungkas gito.
Setelah itu merekapun pergi menuju kedainya mang udin dengan jalan kaki, pak dirman dan bu sari serta toglo pun langsung pergi mengikuti rombongan nandi dari belakang.
Setibanya dikaedai mang udin, semua hidangan sudah tersedia siap untuk disantap, sebuah nasi liwet dan ikan bakar yang harumnya sampai membangkitkan perut menjadi lapar.
''Ooww, harumnya, pasti enak nih.'' Ucap nina.
''Elo' belum tau nasi liwetnya mang udin, kalau sudah dicoba pasti lo akan sering datang kesini.'' Pungkas astuti.
''Masa sih, wah jadi penasaran nih gue, ingin segera mencicipinya.'' Ucap nina.
Setelah itu merekapun lalu duduk bersila, nasi dibagi dua wadah, terus bu sari mengambil piring dan di isi oleh nasi secukil dua cukil nasi, begitu dan begitu terus secara estapet sampai akhirnya bu sari sendiri mendapat giliran yang terakhir.
Setelah itu barulah mereka mulai menyantap makanannya, dan lauknya satu panggang ikan bakar/orang, ukuran sekilo dua biji.
Nina, pandi, gito, toglo dan busari serta pak dirman yang baru pertama kali merasakan nasi liwetnya buatan mang udin, yang begitu nikmat sekali.
Begitu pula hasan dan istrinya, serta doni dan pacarnya merasakan hal yang sama, sampai mengacungkan jempol tangannya ditujukan pada mang udin.
''Mang udin, pasakannya sungguh luar biasa, tidak kalah dengan pasakannya kalangan atas.'' Ujar hasan.
''Hehee, terima kasih bang, waduh mamang jadi ge'er nih dipuji-puji begini.'' Saut mang udin.
''Emang iya mang udin, gue juga merasakan masakannya mang udin memang top.'' Ujar nina.
''Terima kasih non nina.'' Ucap mang udin.
''Iya mang sama-sama.'' Jawab nina.
Acara makan-makan pun masih terus berlanjut, para pekerjanya nandi sudah nambah lagi nasinya sampai dua kali nambah, kamal, pandi dan gito, seperti kelaparan, nandi hanya tersenyum melihat para sahabatnya itu.
Setelah itu makan-makanpun sudah selesai mang udin dan para pkerjanya pun sudah merapikan lagi alat-alat dan piring-piting plastik bekas makan mereka para pamilinya gang si'iran.
pak dirman pun sampai menyenderkan tubuhnya pada dinding kayu, kedai miliknya mang udin.
''Waduuh kekenyangan nih bu.'' Ujar pak dirman sambil mengelus-elus perutnya.
''Lagian bapak, seperti orang yang tidak makan sehari aja.'' Ucap bu sari.
''Habisnya nadi liwetnya enak banget bu, apalagi ikan bakar dan sambelnya pas banget nikmatnya.'' Saut pak dirman.
''Ya iya, tapi tidak segitunya juga kali pak.'' Ucap bu sari.
Setelah itu suasana diramaikan kembali dengan bermain gitar dan bernyanyi bersama, dengan di iringi petikan-petikan dari jari jemarinya hasan membuat semua orang terbawa kesuasana dari sebuah lagu yang dinyanyikan nina yunita.
Mang udin, pak dirman dan bu sari pun sampai terlena mendengar nyanyian yang di lantunkan oleh nina yunita.
''Oke, gimana kalau kita pindah ke versi barat.'' Tawar nina.
''Lagu apa?.'' Tanya hasan.
''Everything i do i doit for you, bryan adams, intronya c g f g.'' Jawab nina,
''Oke sip.'' Saut hasan.
Hasan pun langsung memainkan gitarnya, dan nina langsung menyanyikannya lagu favoritnya itu.
(verse)
Loo into my eyes, you will see
What you mean to me
Search your hearth, search your soul
And when you find me there you'll search no more
(Chorus)
Don't tell me it's not work tryin' for
You know it's true
__ADS_1
Everything i do i doit for you
(Verse)
Look into your heart, you will find
There's nothing there to hide
Take me as i am, take my life
I would give it all, i would sacrifice
(Chorus)
Don't tell me it's not worth fighting for
I can't help it's there's nothing i want more
you know it's true
(Bridge)
Oh, you can't tell me it's not worth tryin for
I can't help it, there's nothin' i want more
Yeah, i would fight for you, i'd die for you
Wolk the wire for you, yeah i'd die for you
(Outro)
You know it's true
Everything i do, i doit gor you.
Horeeee
Tepuk tangan dan sorak sorai dari semua, begitu meriah sekali.
''Woooww keren, mantap dah.'' Pungkas nandi.
''Gue gak nyangka ternyata diam-diam lo' mempunyai suara yang khas dan merdu sekali.'' Ujar astuti.
''Aah kalian ini, suka berlebihan kalau memuji itu.'' Saut nina.
''Ya gue pingin aja menyanyi, pas kebetulan diacara liburan ini, karena ini momen yang indah yang tak mungkin dilipakan.'' Ujar nina.
Pak dirman dan bu sari juga memberikan acungan jempol pada nina.
''Neng nina suaranya merdu sekali, kaya serak-serak basah begitu, pokonamah mantul pisan neng.'' Teriak bu sari.
''Aah ibu, suka dilebih-lebihkan aja sih, masih merduan suara aa nandi.'' Jawab nina.
''Tuh bener kan, nyokap dan bokap gue aja tau, mana suara yang enak didengar, apalagi kita-kita, iya gak kawan.'' Ujar astuti.
''Iya nin, suara lo' merdu dan ada karakteristik yang khasnya, pokonya sepuluh jempol dari gua.'' Pungkas pandi.
''Widiiiih, mantap.'' Saut gito.
Setelah sekian lamanya mereka berada ditempat rekreasi talaga reumis, dan waktupun terus bergeser begitu cepatnya, akhirnya nandi dan seluruh pamili gang si'iran, bersiap-siap untuk pulang.
''Mang udin, bukannya kita gak betah berada disini, tapi kita semua masih banyk kerja'an yang harus dijalani, intinya saya dan semua pamili, mau pamit pulang, terima kasih banyak ya mang udin.'' Ucap nandi.
''Iya sama-sama bang nandi, hati-hati ya dijalannya.
''Oke mang, jadi semua berapa mang?.'' Tanya nandi.
''Sebentar ya mamang catat dulu.'' Jawab mang udin.
Terus mang udin mencatat semua makanan dan minuman yang telah dikeluarkannya untuk pamilinya nandi.
''Semuanya jadi tujuh ratus lima piluh ribu bang.'' Ujar mang udin.
Terus nandi mencabut dompetnya, dan dikeluarkannya delapan lembar uang seratus ribuan.
''Nih mang udin.'' Ucap nandi sambil memberikan delapan lembar uang berwarna merah.
Terus mang udin pun menerimanya dari tangan nandi.
''Kembaliannya bang.'' Kata mang udin.
''Ambil aja buat mang udin.'' Jawab nandi sambil melangkah keluar dari kedainya mang udin.
__ADS_1
''Terima kasih bang, bang nandi baik banget.'' Kata mang udin.
Nandi beserta rombongan terus menuju pada mobilnya masing-masing.
Kedua mobil pun kini sudah mulai melaju keluar dari area pangkiran kedainya mang udin.
Terus nandi membuka kaca pintu depan mobilnya sambil memberikan uang parkiran pada tukang parkir yang biasa ada mangkal disetiap kedai tempat rekreasi.
Setelah itu kedua mobilpun langsung melaju meninggalkan kedainya mang udin.
Mobilpun melaju dengan kencangnya, dimedan jalan yang turun naik dan sempit, nina mengikutinya dari belakang.
Kini kedua mobil itu sudah mulai memasuki jalanan raya yang mengarah ke kota, nandi pun bisa dengan leluasa melajukan kendara'annya itu, begitu pula nina yunita, dalam mengendalikan kendara'an roda empat biarpun hanya seorang wanita tidak kalah oleh nandi, biarpun hanya mengikutinya dari belakang tapi tidak pernah tertinggal, nina selalu terus menempel mobil nandi.
Disa'at nandi sudah memasuki jalan mengkudu raya, pas mau belok ambil kiri tiba-tiba ada sebuah mobil xpander warna merah diamond menyerempet, dengan repleknya nandi membantingkan setirnya ke kanan sambil berteriak.
''Wooii.. yang bener bawa kendara'annya.'' Teriak nandi.
Semua penumpang yang ada didalam mobil nandi nampak kaget, apalagi bu sari dan sindi, jantungnya langsung berdebar kencang.
''Itu orang mabuk apa sudah gila, ayo kejar di kalau dibiarin bisa mengganggu pengguna jalan lainnya.'' Teriak hasan.
Dan mobil xpander warna merah diamond itu terus melaju dengan kencangnya, dengan menjalankannya tidak beraturan.
Nandi terus mengejarnya, dan ninapun terus menpel nandi dari belakang.
Kini kejar-kejaran dijalan raya pun terjadi, sepuah pertontonan yang menegangkan.
''Kurang ajar itu orang, mesti dikasih pelajaran, karena bisa membahayakan orang lain.'' Ujar nandi.
Kini mobil pajero sport exceet melaju dengan kencangnya mengejar mobil xpander warna merah fiamond tersebut.
Ketika memasuki sebuah tikungan disaat jalan dari arah sana lagi sepi nandi menaikan speed lajunya kendara'annya itu, dan terus menempelnya sambil berteriak sambil membuka kacanya
''Woii berhenti.'' Teriak nandi
Pengemudi mobil xpander seperti tidak menghiraukan teriakannya dari nandi, ia terus melaju dengan menginjak gasnya pool.
Melihat begitu nandi menjadi hilang kesabarannya, ia terus menempelnya dengan terus memepednya sampai mobil itu meminggir kepinggiran trotoar.
Terus mobil itu mendadak berhenti dengan suara gasnya yang kenceng, nandi terus melaju kedepan menghalangi mobil tersebut dan akhirnya nandipun berhenti, dan langsung keluar dari dalam mobilnya dan berlari memburu pada mobil xpander itu yang sudah berhenti.
''Woii keluar lo'.'' Bentak nandi sambil mengetuk-ngetuk kaca dari pintu mobil tersebut.
Terus kamal, gito, pandi dan doni keluar dari mobilnya nina.
Orang yang mengendarai mobol xpander warna merah diamond tersebut keluar.
Setelah berada diluar nandi langsung menjambah kerah baju orang itu.
''Heh elo' itu sudah gila apa sudah bosan hidup, apa lo gak sadar, kelakuan lo tadi bisa membahayakan orang banyak, bahkan mobil sayapun nyaris celaka kalau gua tidak cepat banting setir, noh lo lihat gua bawa banyak orang penumpang, dan keluarga gua nyaris celaka dengan kelakuan lo' tadi.'' Bentak nandi sambil mengangkat orang itu.
''Iya bang ma ma ma'apin gue, gue tadi lagi kesel, dan pikiran gue lagi kacau.'' Jawabnya.
''Kalau lo' lagi kesel jangan dibawa ke pasilitas umum, yang ada lo akan tambah masalah.'' Ucap nandi.
Gito dan kamal yang gampang emosian, lalu nyamperin orang itu, yang lagi dijambah oleh nandi.
''Awas di biar gua habisin orang kaya gini tuh.'' ujar kamal sambil menyingsinkan lengan baju kemejanya.
''Ampun bang, maapin gue, ampun-ampun.'' Ujarnya.
''Sekarang lo enak amat meminta ma'ap, sementara tadi kawan gua sudah meminta lo' untuk berhenti, tapi lo malah semakin kesetanan bawa kendara'annya.'' Pungkas gito ikut nimrung.
Sementara nandi yang tidak tega'an orangnya, cepet melerai amarahnya gito dan kamal.
''Mal, to sudah, ini urusan gua, heh sekarang gua ma'apin lo', tapi lo gua mrlihat lagi lo seperti tadi, jangan harap lo' bisa lolos dari kejaran gua.'' Ucap nandi memberi peringatan pertama.
''Iya bang gue gak akan mengulangi lagi, terima kasih bang.'' Jawabnya.
Setelah itu nandi, kamal, gito, pandi dan doni kembali pada mobilnya masing-masing.
Dan mulai lagi melajukan kendara'annya, mobil pun kini terus melaju dijalan yang sudah memasuki kawasan jalan delima.
Tidak lama kemudian kedua kendara'an itu sudah sampai di gang si'iran, dan sampailah didepan rumahnya pak dirman.
♠︎♠︎♠︎♠︎♠︎♠︎♠︎♠︎♠︎♠︎♠︎♠︎♠︎♠︎
Bersambung.
Ikuti terus kelanjutan kisah sikidal sang penolong di episode selanjutnya.
Terima kasih atas dukungan like, comentar, favorit, ranting dan votenya.
__ADS_1
Salam sehat dan sukses selalu
\=\=\=\=\=\=Selamat membaca\=\=\=\=\=\=