
Angin sepoi-sepoi yang terus meniup masuk kedalam warungnya mang Udin.
Seperti ikut merasakan senang dengan keberada'annya dua sejoli yang lagi asik bercanda.
Sindi kini sudah mulai berani menyandarkan tubuhnya di dada Nandi.
Dengan tangan kekarnya Nandi membelai rambut Sindi yang panjang bergelombang, terurai sebagian ada yangnmenutupi wajahnya.
Sindi baru merasakan betapa indah dicintai dengan orang yang selama ini ia sukai.
Wajah cantik tersenyum manis, dengan mata yang bening terus memandang paras wajah tampan dengan postur tubuh jangkung dan kekar,
Yang tiada henti terus membelai rambutnya.
''Aa...'' Sindi berkata dengan nada sahdu.
''Iya, apa Sayaaang.'' Ucap Nandi.
''Apa Aa tidak akan nyesal nantinya, sudah mencintaiku.'' Ucap Sindi.
''Emang kenapa, ko berkata begitu.'' Ucap Nandi.
''Kan gue orang gak punya Aa, apalagi nyokap gue buat makan juga hanya mengandalkan dari gue dan Aa Rendi.'' Ucap Sindi.
''Nyokapmu adalah nyokap gua juga, janganlah lo punya pikiran begitu ke gua Sin. emang ada gitu didiri gua sipat yang tidak peduli sama orang.'' Ucap Nandi.
''Tidak ada Aa, Aa Nandi orang baik suka menolong orang.'' Ucap Sindi.
''Ya terus kenapa dengan ucapannlo tadi.'' Ucap Nandi.
''Ma'ap Aa, gue tidak bermaksud begitu, gue cuma bilang apa adanya keada'an keluarga gue.'' Ucap Sindi.
''Ya sudah janganlah kau berpikir yang tidak-tidak, yang penting kalau kita niatnya baik, maka jalan hiduppun akan baik pula.'' Ucap Nandi.
Lama sudah Nandi dan Sindi berada di warung mang udin, sehingga waktupun tidak terasa sudah bergeser, matahari sudah lurus tepat berada diatas kepala tandanya waktu sudah siang.
Nandi pun pamitan pada mang udin, untuk jalan-jalan dulu mengajak Sindi, keliling-keliling tempat disekitar lokasi wisata itu.
''Mang Udin, semua berapa?.'' Tanya Nandi.
''Semua jadi Tiga ratus lima puluh ribu den.'' Jawab mang Udin.
Nandipun langsung mengambil dompetnya terus diambilnya uang sebesar tiga ratus lima puluh ribu, untuk membayar semua makanan yang sudah dipesannya itu.
''Ini mang, tetima kasih mang Udin atas tempat dan waktunya.'' Ucap Nandi.
''Sama-sama den Nandi, terus sekarang mau langsung pulang apa gimana den?.'' Tanya mang Udin.
''Tidak mang, Sindi pingin lihat-lihat dulu tempat disekitar wisata ini mang.'' Ucap Nandi.
''Oooh gitu, iya neng tempat disekitar sini indah dan bikin betah, hehee.'' Ucap Mang Udin.
''Iya benar apa kata mamang, alamnya sangat bersahabat selain udaranya yang dingin, panorama alam ini sangat indah mang Udin.'' Ucap Sindi.
''Ya sudah, mamang turut berbahagia dengan kalian berdua, semoga kalian bisa melanjutkan sampai ke jenjang pernikahan, dan selalu rukun-rukun, langgeng sampai akhir menutup mata.'' Ucap Mang Udin.
''Amiiin mang Udin, tak nyangka ternyata mang Udin sangat bijak.'' Ucap Nandi.
''Mang Udiin gitu looo...'' Ucap Mang Udin.
Selepas itu Nandi dan sindi, keluar dari warung nasinya mang Udin, menuju motornya yang lagi terparkir di depan warung tersebut.
Lalu keduanya sudah menaiki motor tersebut, motorpun mulai melaju, sedangkan Sindi yang duduk dijok belakangnya Nandi, kini sudah mulai berani memeluk Nandi dari belakang.
Nandi hanya tersenyum melebar.
''Yang erat dong pegangannya.'' Ucap Nandi sambil menarik gas.
Betapa kagetnya Sindi sambil memeluk Nandi erat-erat.
''Aawwww.... Pelan-pelan dong Aa, gue takut.'' Ucap Sindi sambil menjerit.
''Hahahaa, ma'ap Sin, habisnya mau pegangannya juga kaya canggung begitu, kan kita sudah resmi menjadi pacar.'' Ucap Nandi.
''Aa Nandi ternyata ada sipat genitnya juga, tapi ku suka.'' Ucap Sindi.
''Aaah masa sih, perasa'an ku biasa aja deh.'' Jawab Nandi.
Nandi dan Sindi terus memutari area tempat wisata ditalaga reumis, pemandangan yang sangat indah, udaranya yang dingin, ditambah banyaknya pohon-pohon yang berjejer disetiapnpinggiran jalan, membuat suasana sejuk dan bikin betah.
Kini Nandi memilih tempat untuk istirahat, sambil memandang alam disekitarnya.
Tempat yang sangat indah, sebuah batu hitam pekat dengan dipayungi oleh pohon kiara yang sangat besar.
Nandi dan Sindi duduk dihamparan batu itu, sambil menikmati indahnya alam, Sindi mulai keluar sipat manjanya, ia menyenderkan badannya pada dadanya Nandi.
Nandipun dengan lembutnya membelai-belai rambutnya Sindi yang panjang terurai.
''Aa betapa indahnya alam ini.'' Ucap Sindi.
''Iya, seindah cinta kita, dan secantik wajahmu.'' Ucap Nandi.
''Aku sangat bahagia hari ini, bisa duduk bersama pemuda tampan yang baik hati.'' Ucap Sindi.
''Gua tak sebaik apa yang lo pikirkan Sin.'' Jawab Nandi.
''Terserah Aa mau bilang apa, dimata gue, Aa Nandi adalah pemuda baik hati dan suka menolong orang.'' Jawab Sindi.
__ADS_1
''Terima kasih kalau lo masih percaya sama gua, tapi gua masih banyak sekali kekurangannya.'' Ucap Nandi sambil memegang wajah cantiknya Sindi.
Sindi merasakan hatinya berdebar-debar tatkala Nandi memegang wajahnya dengan penuh kelembutan.
Sindi tak kuasa menahan cintanya, lalu Sindi mencium wajahnya Nandi.
''Terima kasih ya Aa.'' Ucap Sindi.
''Iya Sama-sama.'' Jawab Nandi sambil mencium keningnya Sindi.
Sindi lalu memeluk Nandi, karena rasa bahagia yang belum pernah dirasakan sebelumnya, Nadipun merasakan jantungnya berdebar-debar kencang, mungkin hasrat asmaranya Nandi mulai bangkit.
Pemuda yang berbudi selalu baik pada sesama, kini merasa tergoncang birahinya karena pelukan hangat dari tubuh gadis cantik, Nandi terus berusaha melawan, supaya jangan sampai cintanya itu sampai ternodai hanya karena kenikmatan sesa'at.
Nandi menyuruh Sindi melepaskan pelukannya.
''Udah Sin, gak enak banyak dilihatin orang.'' Ucap Nandi.
Sindipun baru sadar, setelah mendengar ucapan dari Nandi baru ia melepaskan dekapannya itu.
''Ma'ap Aa, saking bahagianya sampai-sampai gue gak sadar.'' Jawab Sindi.
''Iya gak apa-apa, Ma'ap ya jangan marah, kita kan belum sah, jadi jangan sampai kita terjerumus lebih dalam lagi.'' Ucap Nandi.
''Gue benar-benar bangga padamu Aa, karena imannya Aa Nandi begitu kuat gak mudah goyah.'' Ucap Sindi.
''Ya mungkin gue masih di ingatkan sama yang maha kuasa, karena penyesalan selalu datang belakangan.'' Ucap Nandi.
Selepas itu mereka pun beranjak dari tempat duduknya, berhubung waktu yang terus bergeser, Nandi dan Sindi kini mulai melanjutkan perjalanan untuk pulang karena perjalanannya yang cukup jauh.
Kini mereka berdua berjalan menuju kendara'annya yang diparkir ditempat khusus buat parkiran krndara'an.
Setibanya ditempat parkiran, lalu tukang parkipun mendekati Nandi.
Periwitpun lalu ditiupnya, dan Nandi lalu mendorong mundur motornya terus Nandi setelah itu Nandi dan Sindi menaiki motornya itu, sebelum gas ditarik Nandi mengambil uang tiga ribu rupiah.
''Ini Bang parkirannya.'' Ucap Nandi.
Tukang parkirpun menghampiri Nandi, dan di ambilnya uang tiga rubu rupiah dari tangan Nandi.
''Terima kasih bang, hati-hati ya dijalan, jaga keselamatn.'' Ucap tukang parkir.
''Oke, makasih bang.'' Ucap Nandi.
Motor kini sudah dinyalakannya, Sindipun telah duduk dijok belakangnya Nandi.
Nandi mulai menarik gasnya, seiring dengan masuknya gigi pertama, motor kini telah terkendali mulai melaju dijalan raya.
Suara motor yang begitu mendebarkan jantung bagi yang mendengarnya, dengan asap putih yang mengepul keluar dari selongsong kenalpot.
greeeenng ngeeeng.......
Nandi semakin jauh meninggalkan tempat wisata talaga reumis.
Motorpun malah semakin kencang, sehingga Sindi merasa takut, karena selama ia bisa bawa motor, belum pernah membawa atau dibawa dalam kecepatan yang seperti Nandi lakukan.
Sudah banyak kendara'an yang Nandi lewati.
Hingga akhirnya Nandi mulai memasuki jalan raya yang menuju kedalam kota Bandung.
Matahari terus bergeser, sehingga haripun kini sudah mulai memasuki senja.
Motorpun masih terus meluncur dengan kecepatan yang maximal.
Tidak lama kemudian Nandi sudah tiba dijalan ketupat.
Kini laju kendara'an yang nandi kendalikan sudah mulai agak pelan.
''Akhirnya kita sampai juga.'' Ucap Nandi.
''Alhamdulilah, sekarang jantungku mulai tenang kembali.'' Ucap Sindi.
''Emang jantung kenapa Sin?.'' Tanya Nandi.
''Gila lo Aa, bawa motornya ku sampai mau kelenger, lain kali jangan kenceng bgitu siih Aa.'' Jawab Sindi.
''Iya ma'ap sin, tadi tuh takut kemalaman dijalan, gak enak sama ibumu.'' Ucap Nandi.
''Tapi gak kaya gitu amat kali bawa motornya, yang dibawa kan cewe, gue sampai kapok naik motor sama Aa.'' Ucap Sindi.
''Oke oke, Nanti ku akan bawa bidadariku yang pelan-pelan.'' Balas Nandi.
Tidak lama kemudian Nandi telah tiba dihalaman depan rumahnya Sindi.
Motorpun mulai berhenti, Nandi dan Sindi lalu mrlangkah menuju tersa rumah.
Setibanya di depan pintu sindi lalu mengetuk pintu.
Tok tok tok....
''Assalam mualaikum.. Bu bu.'' Ucap Sindi memanggil ibunya.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki dari dalam rumah, dan pintupun mulai terbuka perlahan.
Rekeeeettt, Suara pintu terbuka, berbarengan dengan munculnya wanita berwajah agak tua.
''Sindi... Nak Nandi, ayo masuk.'' Ucap Wanita tersebut menyuruh Nandi masuk yang tak lain adalah Bu Sumi ibunya Sindi.
__ADS_1
''Iya Bu terima kasih.'' Ucap Nandi.
''Pastinya Nak Nandi haus, sebentar ya ibu ambilkan air minum dulu, silahkan duduk dulu nak Nandi.'' Ucap Buk Sumi.
''Maksih Bu.'' Jawab Nandi.
''Aa ditinggal dulu ya, gue mau ganti baju dulu.'' Ucap Sindi.
''Is oke.. Silahkan.'' Jawab Nandi.
Sindipun segera memasuki kamarnya, lalu keluar dengan membawa handuk, rupanya Sindi hendak membersihkan tubuhnya, setelah seharian ditempat wisata, jadi seluruh badan terasa lengket oleh keringat.
Sindi kini telah memasuki kamar mandi.
Sedangkan Nandi masih duduk disopa, diruangan tamu.
Selepas itu munculah Bu sumi dengan membawa nampan berisikan kopi hitam dan sedikit cemilan, untuk melengkapi ngopinya Nandi.
''Ma'ap nak Nandi cuma ini yang ada ditempat ibu, ayo diminum kopi nya.'' Ucap Bu sumi.
''Terima kasih bu, ini juga sudah lebih dari cukup Buk.'' Ucap Nandi.
Nandi pun lalu mengambil gelas yang berisikan kopi hitam, yang masih panas terlihat dari uap yang keluar dari gelas tersebut.
Seriiiipiiitt... Suara yang terdengar dari mulutnya Nandi meminum kopi yang masih panas.
Lalu dikeluarkannya pula, sebungkus roko Djarum super, dan di ambil satu batang.
Cekllleekk....
Korek pun dinyalakannya, dan api pun keluar lalu ditempelkan diujung roko tersebut.
Setelah itu Nandipun menghisapnya, betapa nikmatnya Nandi menghisap sebatang roko Djarum super, asap putih yang dikeluarkan melalui mulut seperti memberi warna kehidupan pada Nandi.
Pemuda yang lumayan cukup sukses dalam bisnisnya, yang kini lagi terbawa oleh gelora cintanya pada Sindi.
Sindi gadis lugu yang cantik rupawan, anak kedua dai pasangan Iwan Sandiawan dan Suminar.
Iwan Sandiawan cuma seorang Buruh dipabrik dibagian mekanik mesin penggulung benang, Disa'at Sindi masih kecil, dan Rendi baru menginjak bangku sekolah menengah atas di kelas dua, waktu itu yang maha kuasa keburu memanggilnya dengan jalan kecelakaan tabrak lari.
Iwan Sandiawan waktu itu sempat dibawa kerumah sakit harapan, tapi setelah satu jam dirumah sakit nyawa pak iwan tidak bisa diselamatkan lagi, karena kecelaka'an yang menimpanya cukup serius, karena pendarahan yang terus menerus keluar, ditambah luka benturan dibagian kepalanya.
Disa'at Nandi lagi asik dengan menikmari secangkir kopi dan sebatang roko, terdengar suara motor Honda Cbr berhenti dihalaman depan rumah.
Seorang pemuda kira-kira usia 23 tahun dengan tinggi badan 172 cm berjalan memasuki rumah tersebut.
Tok tok tok.
''Assalammualaikum..'' Pemuda itu mengucapkan salam.
''Wa alaikum salam.'' Nandi menjawab.
Setelah itu pemuda itupun masuk dengan mendorong pintu depan rumah tersebut.
Rekeeeettt, suara pintu terbuka, dan langsung menyapa pada Nandi.
''Widiih, Di sudah lama lo disini.'' Ucap pemuda itu yang tak lain adalah Rendi kakanya Sindi.
''Belum juga sih, paling baru 10 menitan gua datang.'' Jawab Nandi.
''Ooh gitu, gimana liburannya menyenangkan, terus Sindinya mana.'' Ucap Rendi.
''Alhamdulilah cukup menyenangkan, Sindi kayanya lagi mandi.'' Jawab Nandi.
''Oooh gitu, o iya di, bengkelmu barumu gimana rame?.'' Tanya Tendi.
''Alhamfulilah sih, sekarang lumayan cukup rame dan pelangganpun mulai berdatangan.'' Jawab Nandi.
''Gua tadi melewat kesitu ko sekarang suasana dilampu merah ketupat tidak seperti biasanya.'' Ucap Rendi.
''Maksud lo beda bagaimana?.'' Nandi balik bertanya.
''Sekarang kaya memanas gitu, sering terjadi keributan, dan satu hal lagi, gua tidak pernah melihat Bang Kodar di situ.'' Jawab Rendi.
''Oooh itu, ya inilah yang lagi gua telusuri, waktu itu ada seorang pemuda yang kerja ditoko disekitar situ lagi jalan kaki mau pulang, lewati bengkel gua, dan gua tanya? kang seperti ada keributan disitu, Orang itu menjawab, iya Bang ada keributan perebutan kekuasaan, bang kodar ditusuk, nah begitu jawabnya dia.'' Ucap Nandi.
''Ooh begitu ceritanya.'' Ucap Rendi.
''Btw, lo habis dari mana Ren?.'' Tanya Nandi.
''Biasa kalau hari libur ada aja undangan, yang sukuranlah, yang kawinan lah pokonya ini itu, mana tanggal tua lagi.'' Ucap Rendi.
''Ya lo Bang, mestinya lo bersyukur, berarti mereka menganggap lo seperti sodara atau sahabat.'' Ucap Nandi.
''Ya iya di, gua juga bersyukur, tapi kalau lagi hepeng gua kempes ya pusing juga, tapi sekarang gua agak mendingan sih, semenjak Sindi bekerja dibengkel lo, kebutuhan ibu dibantu berdua, tanks ya di, semoga bengkel lo makin maju dan sukses selalu.'' Ucap Rendi.
''Sama-sama, Amiiiin.'' Jawab Nandi.
Setelah Nandi dan Rendi ngobrol, Sindi datang menghampiri mereka berdua, dengan dandanan yang sangat cantik bibir dipoles lipstik sedikit nampak wajah Sindi semakin bersinar ditambah oleh kekuatan cinta yang membuat wajah Sindi semakin bercahaya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=❤❤❤⭐⭐⭐⭐❤❤❤\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bersambung.
Ikuti terus kelanjutan kisah sikidal sang penolong Di episode selanjutnya.
Jangan lupa klik, 👍 like, tulis Comentar dan sarannya, Favorit, Ranting dan Berilah Vote.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya
Selamat membaca.