
Kopi yang tertumpah, kini sudah astuti ganti dengan yang baru.
Nandi kini sedang menikmati kopi tersebut dengan satu seripitan.
Lalu diambilnya sebatang roko dan korek gas.
Ceklek.
Sebuah korek gas dinyalakan, terus dibakarnya ujung roko tersebut, sambil menarik napas kedalam.
Setelah itu dikeluarkan asap dari pembakaran pertama melalui mulutnya.
Nikmatnya....
Pemuda gagah dan ganteng.
Nampak terlihat lebih tampan dikala sedang menghisap sebatang roko.
Pukul 7:15.
Rentang-rentang dari kejauhan nampak seorang bocah umur sepuluh tahun, lagi mengayuh sepedanya digang si'iran sedang mengarah pada bengkel nandi yang masih tertutup.
Dengan semangat sekali bocah itu dalam mengayuh sepeadanya.
Hingga akhirnya ia pun berhenti didipan bengkel, dan langsung berjalan menuju pada nandi yang lagi duduk dikursi didepan teras rumah.
''Assalam mualaikum bang nandi.'' Ucap bocah itu.
''Wa alikum salam, toglo.... Gesit amat baru aja jam tujuh, ya sudah sini mau minum apa?.'' Tanya nandi.
''Terima kasih bang nandi, toglo sudah minum dirumah bang.'' Jawab toglo sambil duduk di kursi.
''Hehee, maksud abang kamu mau minum teh manis, jeruk apa susu?.'' Tanya nandi.
''Ooh ya udah, toglo minum susu aja, toglo kan masih kecil.'' Jawab toglo polos.
''Oke kalau begitu, sebentar ya abang bikinin dulu.'' Ucap nandi sambil melangkah masuk kedalam rumah.
Setelah itu nandipun sudah kembali dengan membawa satu gelas susu ukuran jumbo.
''Waduuh bang, banyak amat, terima kasih bang nandi.'' Ujar toglo.
''Sudah diminum, biar kamu cepat tumbuh besar.'' Ucap nandi.
''Iya bang nandi.'' Jawab toglo singkat.
Toglopun lalu meminum segelas susu, dengan sangat lahapnya, maklum abis mengayuh sepada yang jaraknya lumayan jauh, antara gang si'iran dan gang sawah.
''Di abisin toglo, nanti abang bikinin lagi.'' Ucap nandi.
''Sudah bang sudah kenyang.'' Jawab toglo.
''Ya sudah, ayo ikut abang, supaya kamu mengenal dulu barang-barang dan jenisnya, nanti bila ada belum mengerti kamu tanyakan pada bang kamal dan bang hasan atau bang doni, kalau lagi tidak ada abang.'' Ucap nandi sambil berjalan menuruni teras rumahnya, menuju tokonya.
Nandi lalu membuka rolling doornya, terus mengajak toglo masuk dan memberi tau nama-nama barang, apabila nanti ada pelanggan.
yang sudah nanti kasih nama perkelompknya disetiap rak.
''Gimana, sudah paham?.'' Tanya nandi.
''Iya bang, toglo paham dan tidak terlalu sulit kan sudah ada namanya disetiap susunan raknya.'' Jawab toglo
''Oke kamu pinter juga, ya sudah jam kerja kan masih setengah jam lagi, kita duduk dulu aja diluar.'' Ucap nandi.
"Sambil nungguin jam kerja toglo mau membersihkan debu-debu yang menempel pada barang-barang.'' Ucap toglo.
''Ok, ya sudah atuh kalau begitu abangpun tidak bisa melarang.'' Ucap nandi.
Toglo dengan semangatnya membersihkan barang-barang yang tertata di rak, karena selain bisa bekerja untuk membiayai neneknya, toglopun tidak harus keliling-liling lagi untuk mencari barang bekas.
Nandi terus memperhatikan toglo yang begitu semangat bekerjanya.
Disa'at itu pula muncul kamal dan hasan.
''Selamat pagi bos, lah itu sepeda siapa di.'' Ujar kamal.
''Toglo, kan hari ini hari pertama dia brkerja.'' Ucap nandi.
''Ooh iya, terus diamana tuh bocah sekarang?.'' Tanya hasan.
''Tuh didalam, lagi bersih-bersih.'' Jawab nandi.
''San biasa, bikin kopi dong.'' Ujar kamal.
''Lah elo' kerja juga belum sudah minta dibikinin kopi, apa gak malu noh sama bos.'' Ujar hasan.
''Ya sudah bikin sana, ngapain pake malu sama gua, kan gua sengaja disediain kopi sama air panas, supaya lo gak bulak balik kedapur, kasihan nyokap gua, ngepelin bekas kalian kadang banyak bekas oli di lantai.'' Ucap nandi.
Kamal dan hasanpun langsung bikin kopi, sebelum jam kerja dimulai.
Ketika itu munculah tukang gorengan yang biasa suka keliling pagi-pagi.
''Gorengan-gorengan, jang nandi bade gorenganna.'' Sapa tukang gorengan.
''Iya dong, noh bocah-bocah sudah ngelirik aja pingin dibeli'in.'' Ucap nandi sambil melihat pada kamal dan hasan.
''Bocah siapa, bibi tidak melihat ank-anak tuh.'' Ujar bi irah.
''Noh yang lagi pada ngopi.'' Ucap nandi.
''Ooh jang kamal dan jang hasan, itumah bukan bocah lagi atuh kasep, berapa kasep?.'' Tanya bi irah.
''Dua puluh ribu bi, campur ya.'' Jawab nandi.
''Baik kasep.'' Ucap bi irah.
Bi irah pun lalu membungkuskan gorengan yang nandi pesan itu.
Terus astuti keluar, minta dibili'in.
''Aa bagi dong.'' Ujar astiti.
''Itu gua dah beli'in semua, bi sudah dibungkus semua belum, kalau belum dbagi dua bungkus ya, ini saya tambahin lagi goceng.'' Ucap nandi.
__ADS_1
''Belum kasep, baru dua belas ribu.'' Ucap bi irah.
''Ooh, ini ku tambahi lima ribu, jadi sisanya 13 ribu.'' Ucap nandi, sambil melangkah menuju rumahnya.
Terus nandi mengeluarkan motornya keluar halaman rumahnya, sesudah itu motorpun dinyalakan untuk dipanasin terlebih dahulu.
Setelah itu nandi menaiki motornya dan ditarik gasnya, motorpun melaju dengan pelan.
Kamal, astuti dan hasan Serta bi irah, bertanya-tanya, dengan keberangkatannya nandi tanpa bilang-bilang dahulu.
''Itu sibos mau kemana, ko gak bilang sih.'' Ujar kamal.
''Paling juga mau kepasar, pakaiannya aja masih celana pendek dan kaos oblong.'' Saut hasan.
''Kalau gue mah dah tau.'' Pungkas astuti.
''Emang mau kemana tut?.'' Tanya hasan.
''Biasanya aa nandi, suka nyarap kupat sayur dekat lampu merah samping pasar itu.'' Ucap astuti.
Seperti yang astuti bilang, nandi lagi melajukan motornya kearah lampu merah, untuk menemui langganannya untuk sarapan pagi hari.
Setibanya disebuah tukang dagang.
''Assalam mualaikum.'' Ucap nandi.
''Wa alaikum salam, nandi, tumben agak siangan datangnya.'' Ucap tukang kupat sayur.
''Iya mang, biasa tadi beres-beres dulu, masih ada gitu mang?.'' Tanya nandi.
''Tenang nandi, mamang sengaja di sisain buatmu, tadi juga ada yang beli, mamang bilang aja habis.'' Ucap pedagang kupat sayur, yang bernama mang kanda.
''Iih jangan begitu mang, kalau ada yang beli mah jual aja, kasihan mang.'' Ucap nandi.
''Terus kamu gimana, Ujar mang kanda.
''Ya saya ya nyari yang lain mang, andaikan mmang sudah habis, ya sekarang sudah terlanjur, ya mungkin rijki saya juga.'' Ucap nandi.
Mang kanda lalu menyajikan ketupat sayur buat nandi.
''Ini buat sarapannya, semoga menjadi berkah sarapan pagi ini.'' Ucap mang kanda.
''Amiin.'' Jawab nandi.
Nandi lalu menyantap ketupat sayur buatan mang kanda, yang terkenal sangat enak, makanya nandi selalu langganan setiap pagi.
Belum aja beres nandi menghabiskan sarapannya, terdengar dari arah lampu merah seorang anak jalanan seusia sama sitoglo, seperti lagi berteriak-teriak.
''Jangan bang, jangan ambil semua, saya belum makan.'' Begitu suara anak yang terdengar oleh nandi.
Nandipun langsung membalikan badannya, mencari tau arah dari suara tersebut.
Begitu sudah nampak jelas penglihatannya nandi.
Terlihat oleh nandi seorang bocah lagi menangis tepat dibawah lampu merah.
Tergugah hati nurani ingin penolongnya, ia pun lansung beranjak dari bangku tempat duduknya.
''Sebentar ya mang.'' Ucap nandi sambil berlari kearah anak itu.
''De kamu kenapa ko nangis?.'' Tanya nandi.
Anak itupun langsung berhenti menangisnya, lalu tengadah keatas, sambil menatap nandi dan berkata.
''Uang saya dirampas bang, mana aku belum makan dan adik aku lagi menunggu aku bawain makanan.'' Ujar bocah itu.
''Sama siapa?.'' Tanya nandi.
''Itu bang orang yang pake topi, berjaket levis, itu tuh yang dua orang.'' Ucap sibocah sambil menunjuk pada dua orang lelaki yang lagi berjalan, sudah jauh.
''Yang pake topi warna hitam, yang jaketnya dipenuhi oleh gambar?.'' Tanya nandi.
''Iya.'' Jawab bocah sambil menganggukan kepalanya.
Setelah semuanya sudah jelas, nandipun tidak menunda lagi, ia segera berlari mengejar kedua lelaki yang asik berjalan sambil menghitung uang dan ketawa-ketawa puas.
Nandi terus berlari tanpa memperdulikan apa yang menghalanginya, yang ada dihatinya menolong membebaskan penderita'an bocah itu.
Begitu sudah dekat nandi berteriak.
''Waaii berhenti lo'.'' Teriak nandi.
Terus kedua lelaki itu kaget, dan saling pandang sama temannya.
''Gue rasa kaya ada yang menegur kita dibelakang.'' Ucap salah satu dari kedua lelaki itu.
''Iya bener bang.'' Jawabnya.
Terus kedua lelaki itu membalikan badannya, kearah suara yang menegur dirinya.
''Apa lo' Kenapa lo berteriak meminta kita berhenti?.'' Tanya salah satu dari mereka.
''Gua minta, sekarang lo' balikin uang anak kecil yang lo' rampas tadi, emang kalian gak malu merampas uang anak kecil, yang sudah susah payah mendapatkan uang segitu.'' Ucap nandi.
''Haii kuya apa perdulimu, sodara juga bukan, mau jadi pahlawan lo'.'' Jawab mereka.
''Emang gua bukan sipa-siapa anak itu, tapi gua merasa kasihan, gak kaya lo' berlaga kaya preman tapi hatimu cetek, banci lo berdua.'' Bentak nandi.
''Kurang ajar lo' malah ceramahin gue lagi, pingin mampus rupanya lo' hah.'' Bentaknya.
Sebruuutt, kedua lelaki itu menyerang nandi dari kedua arah, pingin menghabisi nandi.
Luncuran dua tinju melesat dari kedua samping kiri kanan. tapi nandi cukup tenang dan tetap tidak pernah menganggap enteng lawannya.
Nandi menurunkan tubuhnya dengan jurus maung lugay, jurus karuhun warisan abah haji mansur.
Ploosss, kedua tinju itu makan ruang kosong, tapi kedua lelaki itu tidak tinggal diam ia lalu menyusulnya dengan tendangan.
Pak pak pak.
Kedua tendagan itu ditangkisnya oleh nandi sambil didorongnya kesamping, otomatis keseimbangan kedua kelaki itu tidak terjaga, dengan cepatnya nandi memutar tubuhnya dengan kaki kanan nandi memutar melesat menghantam kedua mukanya lelaki itu.
Buk buk buk.
Aaauu, suara dari kedua lelaki itu, dengan sempoyongan sambil memegang mukanya masing-masing.
__ADS_1
''Ayo maju lo' atau balikin uang anak itu, maka kalian akan pulang dengan mulus.'' Ujar nandi.
''Sombong benar lo' emang dikira gue akan takut gitu.'' Bentak lelaki itu.
Sebruuttt, kedua lelaki itu melakukan lagi serangannya dengan amarahnya yang sudah memuncak,
Pak pik puk pak pik puk.
Suara tangkisan demi tangkisan serangan kedua lelaki itu, dengan kaperan nandi, serangan kedua lelaki itu sangat tidak beraturan dan itu sangat menguntungkan bagi nandi.
Disa'at itu pula, elbo nandi bersarang didagu salah satu dari lelaki itu.
Duk deeeaaass.
Adaawww, lelaki itu langsung tumbang.
Bllaaakk tubuhnya jatuh diatas trotoar jalan.
Sementara yang satunya lagi, mencabut pisau lipat dari balik jaketnya hendak ditusukan pada punggung nandi.
Sambil melompat dengan sebuah pisau meluncur hendak ditancapkan pada punggung nandi, tapi tidak tau dari mana datangnya tiba-tiba ada sebuah benda keras semacam batu segede kepalan tangan menghantam punggung lelaki itu.
Buuukkkkk.
Lelaki itu langsung sempoyongan merasakan sakit pada punggungnya, terus ia membalikan badannya sambil melihat kearah belakangnya, nampak bocah berumur sepuluh tahun lagi berdiri.
''Kurang ajar rupanya kau bocah ingusan, mau main-main ya sama gue.'' ujarnya.
Sibocah itu langsung mundur sambil berteriak pada nandi.
''Baaang tolong aku bang.'' Teriak bocah itu ketakutan.
Lelaki itu langsung melompat mau menyambar bocah itu, tapi belum juga sampai, sekelepatan bayangan dengan cepat telah membogem kepala lelaki itu mengenai pelipisannya.
Hiuuukk, Deeeaassss..
Aduuuuuhhh, Teriakan mengaduh dari lelaki itu dan terasa kepalanya kunang-kunang merasakan sakitnya yang tak terhingga, dan akhirnya jatuh.
Blaaakkk, tubuh lelaki itu tergeletak di pinggiran trotoar.
Nandi lalu mendekati lelaki itu sambil waspada, tapi lelaki itu tidak sadarkan diri, nandi terus menggeledah saku dari lelaki itu, lalu nandi menemukan lipatan-lipatan kertas.
''Uang yang dirampas dari kamu berapa dek?.'' Tanya nandi.
''Empat puluh ribu bang.'' Jawab anak itu.
Lalu nandi mengambilnya sebesar yang telah disebutkan anak tersebut.
''Ini uang mu, dan ini tambahan dari abang, sekarang kamu cepet pulang nanti orang itu keburu sadar.'' Ucap nandi sambil memberikan uang pada bocah itu.
Karena merasa iba melihat anak itu, nandipun mengeluakan isi dompetnya, setelah itu nandi mengambil dua lembar dari isi dompetnya, dan diselipkannya pada saku baju bocah tersebut.
''Terima kasih bang, abang ko baik banget sih.'' Ucap bocah itu.
''Ya sudah kamu jangan banyak omong, cepetan pulang sana, lain kali kamu harus hati-hati kalau ngamen didaerah sini, banyak orang yang gak bener.'' Ucap nandi.
''Iya bang, sekali lagi makasih bang.'' Jawab bocah itu, yang terus melangkahkan kakinya menjauh dari lokasi itu.
Dan nandipun langsung kembali pada mang kanda, tukang jualan kupat sayur itu.
Setibanya ditempat mang kanda jualan, nandi lalu duduk.
''Mang minta air minum dong.'' Ucap nandi.
''Boleh-boleh, emang kamu habis dari mana nandi, ko kupatnya gak dihabisin?.'' Tanya mang kanda.
''Biasa mang ada perlu sebentar.'' Ujar nandi.
''Kamu mah misterius sekali nandi, tapi mamang lihat kamu keringatan begitu.'' Ujar mang kanda.
''Iya mang, habis jalan kaki lumayan juga ya cape, ooh iya jadi berapa mang?.'' Tanya nandi.
''Ya seperti biasa aja sama kaya kemarin.'' Jawab mang kanda.
''Oh ya sudah, nih mang.'' Ucap nandi sambil memberikan uang buat bayar kupat sayur, dan ia pun langsung menuju pada motornya yang terparkir didepan lapak mang kanda.
''Ini kembaliannya.'' Teriak mang kanda.
''Ambil aja buat mamang.'' Ucap nandi sambil menghidupkan motornya.
''Terima kasih ya, semoga rijkimu selalu lancar, baik amat tuh orang, alhamdulilah ya allah.'' Ucap mang kanda.
Sementara nandi, telah tiba dibengkelnya, nampak banyak banget para pelanggan yang betulin kendara'annya.
Nandi terus turun dari motornya, dan melangkah masuk menuju rumahnya, untuk ganti salin, setibanya didalam, bu sari telah mempersiapkan sarapan dimeja makan.
''Kamu dari mana nandi, ibu sengaja bikin sarapan buatmu, kamu malah sarapan diluar.'' Ujar bu sari.
''Ma'ap bu tadi ku sekalian nyarap dipasar, bu astuti sudah berangkat?.'' Tanya nandi.
''Sudah, belum lama ko, paling lima belas menit yang lalu, emang kamu mau kesana?.'' Tanya busari.
''Iya bu, disini kan ada toglo, yang ngelayanin pembeli, jadi ku mau sekalian ngecek barang yang datang hari ini.'' Ucap nandi.
''Mau ngecek apa supaya deket sama sindi ayo.'' Ujar bu sari.
''Ah ibu bisa aja, ya ngecek barang atuh bu, ku berangkat ya bu, bilangin sama bapk ku kesana dulu.'' Ucap nandi sambil cium tangan bu sari.
''Ya sudah, hati-hati kamu dijalan.'' Ucap busari.
''Iya bu makasih.'' Jawab nandi.
Setelah itu nandi keluar, dengan pakaian yang rapi kemeja lengan panjang warna hitam, dengan celana warna coklat susu, dan jaket levis yang tidak pernah ketinggalan, Setelah helm terpasang dikepalanya nandipun langsung menghidupkan motornya.
☆☆☆☆☆☆▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎☆☆☆▪︎▪︎☆☆☆☆☆☆
Bersambung.
Nantikan kelanjutan kisah sikidal sang penolong, dalam episode selanjutnya.
Bagi yang menyukai cerita ini cukup dengan, like, comentar, favorit, ranting dan vote sebanyak-banyaknya.
Terima kasih atas dukungannya, semoga selalu dalam keada'an sehat, dan sukses selalu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=Selamat membaca\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1