
Pertarungan kini menjadi seimbang, karena Kamal dan Pandi datang tepat waktu.
Ketiga lelaki gondrong segera beranjak dan siap membangun lagi serangannya.
Heeaaa..
Mereka menerjang pada Astuti, Kamal dan Pandi dengan bela diri ala jalanan.
Astuti hanya menggeserkan kaki nya ke samping satu langkah.
Ploooss...
Terjangan dari lelaki gondrong itu, makan ruang kosong, lalu dengan cepat mau merubah pukulannya, tapi Astuti lebih gesit dan cepat memasukan pukulannya pada ulu hati lelaki itu.
Buuukkk..
Eeeuu..
Terdengar napasnya agak tersendat, Astuti lalu melompat keatas sembari memasukan sikutan lututnya.
Buuukk
Aauugh
Lelaki itu mendelik kan netranya ke atas, sambil menahan sesak pernapasannya. dari situ Astuti langsung memasukan pukulan jep nya pada wajah lelaki tersebut.
Hiuuuukk
Deeaaasss..
Tidak bisa di hindari lagi lelaki gondrong itu langsung melorot tubuhnya roboh ke nimpa pinggiran trotoar
Sementara Kamal dan Pandi yang lagi berduel melawan kedua orang pelaku perampokan dengan sangat garangnya melakukan serangan demi serangannya, Berkali kali pukulan dan tendangan Kamal dan Pandi mengenai kedua orang itu, namun dayan tahan tubuh mereka begutu kuat, sehingga jatuh bangun dari kedua lelaki itu sering kali di lakukan.
Tapi sekuat-kuat nya mereka bertahan dalam pukulan dan tendangan, pada akhirnya merekapun kelelahan karena kehabisan tenaga, hingga tidak lama kemudian begitu pukulan keras dari kamal dan Pandi menghntam wajah mereka.
Buk
Buk
Deaass.
Tubuh kedua lelaki itu sampai terpental beberpa langkah ke belakang, dan jatuh tersungkur tidak berdaya lagi.
Lalu Kamal berjalan mendekati salah satu dari mereka yang di anggap sebagai orang yang paling kuatnya.
"Ayo bangun lo' apakah masih ada sisa keberanian dari kalian." Maki Kamal.
Mereka tidak menjawab hanya netranya yang melotot memandang penuh dendam sambil memegang wajahnya yang tearsa sakit.
"Kenapa kalian pada diam, sekarang gua mau tanya apa yang mau kalian lakukan pada pak Juna, kalian mau merampok ya?." Tanya Kamal.
Lalu pandi pun berjalan mendekati Kamal dan berkata.
"Sudah tidak usah di ajak bicara terus Mal, sekarang kita bawa saja ke kantor polisi." Pungkas Pandi.
Mereka pun lalu beranjak dan duduk sambil memohon-mohon pada Kamal dan Pandi.
"Ampun gua Bang, emang gua salah, tapi mohon jangan bawa kami ke kantor polisi." Ujarnya dengan melas.
"Ooh begitu, ya sudah kalau begitu gua teriakin pada Warga biar kalian mampus." Ujar Kamal.
__ADS_1
Ke tiga lelaki itu tersontak kaget begitu kamal akan berteriak memanggil warga, lalu mereka beranjak dan menghampiri kamal dan Pandi sambil bersujud.
"Ampun Bang jangan panggil Warga kesini, kami masih pingin hidup lebih lama lagi." Ujarnya dengan melas memohon ampunan.
Kamal dan Pandi tersenyum tipis saling pandang sambil mengerlingkan kedua alisnya.
"Ternyata mereka itu para bandit kacung, baru dibgertak begitu juga sudah hilang nyali." Bisik Kamal pada Pandi.
Pandi menjawab bisikan kamal dengan sebuah senyuman.
"Kalu begitu kalian semua gua laoprin pada yang berwajib." Ujar Pandi sambil memberi isyarat pada Astuti untuk menrlpon polisi.
Astuti pun segera merogoh handpond nya di dalam tas dan melakukan panggila celuler.
📞.Astuti "Halo ini kantor polisi."
📞.Kantor Polisi "Iya Buk, ada yang bisa kami bantu.
📞.Astuti "Begini pak ada perampokan di jalan ketupat, tapi saya dan teman-teman sudah bisa menggagalkannya, sekarang pak polisi cepat segera ke lokasi, sebelum masa pada bangun dan berdatangan ke lokasi."
📞.Kantor Polisi "Oh baik buk, dengan ibuk Siapa?."
📞.Astuti "Saya Astuti Dwi Jayanti.
Setelah itu panggilan pun di tutupnya dan Astuti memasukan kembali handpond ke dalam tasnya.
Tiga puluh menit kemudian Mobil polisi datang dengan membawa empat anggotanya, Mobil pun berhenti lalu sang komandannya keluar dan berjalan menghampiri Astuti, kamal dan Pandi.
"Halo selamat malam, tadi saya mendapat laporan dari Buk Astuti Dwi Jayanti, bahwa di sini telah terjadi perampokan." Ujar sang Komandan.
"Saya yang bernama Astuti, yang tadi menghungi kantor kepolisian, dan tiga orang ini sebagai pelaku perampokan pada Bapak Juna." Ujar Astuti sambil menunjuk pada Ardi Juna.
Sang komandan lalu memanggil Juna untuk memberikan keterangan tentang kronologi kejadian perampokan itu.
Ardi Juna pun langsung menceritakan dari mulai di peped oleh sepeda motor hingga masuk ikut masuk ke dalam mobil dan menodongnya dengan senjata api/pistol, sampai di tolong oleh Astuti.
"Nah begitu kronologi kejadiannya pak, untung saja saya bertemu sama nak Astuti." Jelasnya Ardi Juna Pranata.
"Ya sudah terima kasih pada Buk Astuti dan." Ujarnya tidak di terusin sambil menunjuk pada Kamal dan Pandi.
"Saya Pandi."
"Dan Saya Kamal, suami dari Buk Astuti." Ujar Kamal dan Pandi memperkenalakan.
"Oh iya mas Kamal dan Mas Pandi terima kasih sudah membantu pihak berwajib." Lanjut sang komandan.
"Sama-sama pak." Jawabnya serempak.
Selepas itu polisi langsung memborgol ke tiga lelaki itu untuk di adili melalui proses hukum, karena sudah mencoba untuk merampok dengan menakut-nakuti sang korban dengan senjata api dan akan di kenakan pasal berlapis.
...............................
Sementara Astuti, Kamal, Pandi dan Juna, nampak masih berdiri sambil memandang ke pergiannya mobil polisi yang di tumpangi oleh ke tiga lelaki gondrong sebagai pelaku perampokan.
"Seandainya tidak ada kalian mungkin nasib saya akan lain lagi ceritanya, terima kasih ya Nak Tuti, Nak Kamal dan Nak Pandi, sudah menolong bapak." Ujar pak Juna.
"Iya pak sama-sama." Jawabnya serempak.
"Ooh iya, Aa dan lo' Pan ko bisa ada di sini?." Tanya Astuti.
"Ku di beri tahu sama Nina." Cetus Pandi.
__ADS_1
Lalu pak Juna menjelaskan pertanya'annya Astuti itu. "Bapak yang Chat sama Nina, nak Tuti,mungkin Nina memberi tahu sama nak Pandi." Ujar pak Juna.
"Oh begitu pak, untung aja Nina beum tidur."
"Oh iya pak, sekarang bagaimana selanjutnya apa bapak perlu saya antar." Ujar Kamal.
Kemudian pandi melangkah kan kakinya satu langkah menghampiri Pak juna.
"Biar saya antarkan bapak pulang." Tawar Pandi.
"Lalu motor kamu gimana nak Pandi." Ujar Juna.
"Motor saya biar Kamal yang bawa." Ujar Pandi.
"Iya pak demi keselamatan Bapak, biar Pandi yang mengantarkan bapak." Usul Astuti.
"Is oke, kalau begitu mari nak Pandi, karena malam sudah semakin larut, takutnya banyak berkeliaran orang-orang jahat dengan modus lain." Ujar Juna.
Setelah itu Pandi langsung memasuki mobil pak Juna, dan kali ini Pandi yang mengemudi mobil Portuner tersebut.
Sementara kamal membawa motornya Pandi, yang di ikuti oleh Astuti, dan mereka pun langsung tancap gas menuju Gang Si'iran.
Dua puluh menit kemudian Astuti dan Kamal sudah tiba di Gang Si'iran, suasana malam yang sudah nampak sunyi dan sepi.
Lalu mereka membuka kunci rumah dan motor pandi di masukin kedalam.
Selepas itu Kamal dan Astuti memasuki kamar, lalu Astuti duduk di kasur sembari mencopot sepatunya, kemudian setelah itu Astuti pergi ke kamar mandi, untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur.
...........
Ke esokan harinya.
Pukul 07:15 menit.
Jaroni mulai memasuki kerjanya di perusaha'annya Nandi sebagi OB, Karena luka-lukanya sudah benar membaik.
Jaroni datang lebih awal, dan perusaha'an distributor masih nampak sepi belum ada satupun karyawan yang datang.
Jaroni duduk di depan gerbang Distributor yang nampak masih tertutup rapat, lalu samar-samar Jaroni melihat orang yang lagi mengendarai sepeda gunung lagi meluncur mendekati ke arahnya.
Jaroni nampak semringah begitu yang datang itu adalah temanya waktu ketika jadi pemulung barang bekas dulu.
"Bukankah itu Toglo." Ujar Jaroni bermonolog.
Kemudian sang pengendara sepeda itu menghentikan laju sepedanya sambil menstandingkan sepedanya.
Pok pok pok
Jaroni tepuk tangan sambil mengacungkan jempolnya.
"Woww hebat juga permainan sepedamu Glo." Ujar Jaroni.
Toglo lalu turun dari sepedanya dan berjalan menghampiri Jaroni.
"Apa kabar kawan, bagaiman lukamu sudah sembuh benar?." Tanya Toglo.
"Alhamdulilah Glo, gua sekarang sudah enakan, dan benar-benar sudah pulih seperti sedia kala." Ujar Jaroni.
"Amiin syukur deh, gua ikut senang mendengarnya." Ujar Toglo.
"Terima kasih ya Glo, andai tidak ada lo' dan pak Nandi mungkin hari ini saya sudah berbaring di dalam tanah." Ujar Jaroni.
__ADS_1
"Oke sama-sama kawan, itu sudah kewajiaban gua sebagai kawan harus saling tolong menolong." Ujar Toglo.
Selepas itu Toglo mengajak Jaroni ke tempat kerjanya di sebuah bengkel.