SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong eps 220


__ADS_3

Ke esokan harinya ketika matahari sudah memancarkan cahayanya, Toglo lagi menggoes sepedanya dengan membonceng Wiwin adiknya untuk di antarkan ke sekolah.


Tidak lama kemudian Toglo telah sampai di depan halaman sekolah tersebut, lalu Wiwin melangkah turun dari sepeda.


"Ku masuk kelas dulu ya Bang." Ujar Wiwin sambil mengulurkan tangannya mencium punggung telapak tangan Toglo.


"Iya dek kamu yang rajin belajarnya, dan ini buat jajan kamu nanti, abang tinggal dulu ya." Jawab Toglo sambil memberikan uang jajan lima belas ribu pada Wiwin.


"Iya bang terima kasih." Ujar Wiwin sambil melangkah kan kakinya mau memasuki kelas.


Toglo langsung memutar balikan sepedanya keluar dari halaman sekolah dan memggoesnya lagi dengan kencang menuju tempat ia bekerja di PT Anggita Surya Mandiri.


Setiba di perbatasan antara Gang Si'iran dengan jalan yang mengarah pada Gang Dukuh, tiba-tiba Toglo di kagetkan dengan suara kegaduhan, dengan rasa penasaran lalu Toglo melaju ke arah kerumunan orang-orang dan bertanya pada salah se orang yang lagi ramai berbondong-bondong mendatangi tempat itu.


"Ma'ap Bang ini ada apa ya, ko pagi-pagi begini sudah ada keributan?." Tanya Toglo penasaran.


Se orang lelaki yang berumur tiga puluh tahunan menjawab. "Ada orang yang terbunuh, sepertinya kejadiannya antara pukul 02 dini hari, soalnya jam satuan kita masih kumpul di pos." Jawabnya.


"Ina lilahi, orang mana sih Bang?." Toglo lanjut bertanya.


"Sepertinya orang Gang Dukuh, saya suka melihat orang itu di Gang Dukuh." Ujarnya.


"kejahatan sekarang semakin merajalela, dan nyawa manusia sepertinya sudah tidak berharga lagi." Pungkas salah seorang dari sekian banyak orang yang berkerumun.


"Apa mungkin karena dendam kali ya, atau ada masalh lain." Ujar Toglo.


"Iya bisa jadi begitu, oh iya seperti nya kamu dek, karyawannya Nandi ya." Ujarnya lanjut bertanya.


"Iya pak, ku karyawannya pak Nandi, ngomong-ngomong kenapa tidak segera lapor pada polisi pak." Ujar Toglo.


"Udah sih pak Rt tadi langsung lapor, mungkin sekarang lagi dalam perjalanan kesini." Jawabnya.


"Boleh saya lihat pak korban yang terbunuh itu siapa tau saya kenal." Ijin Toglo.


"Oh boleh Silahkan." Ujarnya sambil memberi jalan pada Toglo.


Toglo pun lalu turun dari sepedanya, dan masuk di sela-sela orang yang lagi berkerumun. Setibanya di tempat nampak tubuh korban telah berlumuran darah yang sudah agar kering, dan ada beberapa luka merobek di di pangkal lengan, dada dan luka tusukan di perutnya, begitu Toglo memperhatikan wajahnya yang berlumuran darah dan matanya membengkak, Toglo tersontak kaget dan berkata.


"Jaroni....Masa allah." Sontak Toglo.


Kemudian salah seorang melirik dan menurunkan tubuhnya jongkok sejajar dengan Toglo.


"Kamu kenal sama orang ini?." Bertanya.


"Bukan kenal lagi, ini teman senasib saya waktu masih menjadi pemulung barang bekas, padahal dia orang baik-baik, kenapa bisa di bunuh dengan sangat kejam begini." Jelasnya Toglo.


"Iya kalau melihat dari cara berpakaiannya sih, korban adalah orang baik-baik, memang sekarang jamannya sudah beda banget, terkadang orang yang tidak berdosa bisa mengalami naas seperti orang ini, yang sudah menjadi korban orang-orang bajingan." Tuturnya ikut ptihatin.


Setelah itu Polisi datang dengan mengendarai sebuah mobil patroli, dan Mobil Ambulance lalu salah satu komandannya keluar dari dalam mobil dan menghampiri pada korban yang masih tergeletak.


"Apa di antar kalian ada yang kenal dengan korban?." Tanya polisi.


Lalu Toglo berdiri sambil berkata.


"Saya kenal sama korban, ia bernama Jaroni warga Gang dukuh."Ujar Toglo.


"Lalu hubungan anda sama korban sebagai apa?." Tanya polisi.


"Dia temannya saya dulu, waktu selagi saya dan dia masih menjadi pemulung barang-barang bekas, dan setelah itu saya pun lama tidak bernah berjumpa dengannya." Jawab Toglo.


"Terus kamu tau rumahnya?." Tanya lagi polisi.


"Tau pak, tapi itu dulu waktu saya masih usia sepuluh tahunan." Jawab Toglo.

__ADS_1


"Oke kalau begitu kamu, antar saya ke rumah orang tuanya korban." Ujar polisi.


"Baik pak." Ucap Toglo.


Selepas itu pak polisi pun membawa tubuh korban di masukin ke dalam mobil Ambulance, untuk di bawa ke rumah orang tua korban yang di bantu oleh warga. Dan Toglo di minta oleh polusi untuk memberi petunjuk arah tempat kediamannya korban.


Tapi tiba-tiba salah satu anggota polisi yang mengawal jenajah korban, berteriak.


"Lapor komandan, korban sepertinya belum mati, tadi ketika saya pegang di bagian leher, sepertinya masih berdenyut agak lemah." Lapornya.


"Kalau begitu, kita bawa ke rumah sakit." Ujar Komandan.


Mobil pun langsung di tancap gas pool, berhubung waktu yang sangat darurat sekali, siapa tau korban masih bisa tertolong.


Singkat cerita.


Mobil Ambulance polisi sudah tiba di Rumah Sakit, dan petugas polisi yang mengawal tubuh korban langsung keluar dan membuka pintu dari belakang, sementara yang lainnya bergegas masuk ke ruangan UGD, untuk mengambil Brankar yang di bantu oleh suster.


Setelah Tubuh Jaroni/korban pembacokan sudah berada di atas Brankar, susterpun langsung mendorong Brankar tersebut memasuki ruangan rawat gawat darurat.


Sementara Toglo dan polisi berdiri di luar ruangan rawat, untuk menunggu hasil dari keputusan petugas medis.


Tiga puluh menit kemudian.


Dokter yang menangani luka Jaroni keluar dan menanyakan tentang keluarganya.


"Ma'ap apa ada keluarga nya pasen?." Tanya Dokter.


Kemudian Toglo beranjak dari tempat duduknya dan berkata. "Kalau keluarganya tidak ada Dok tapi saya temannya, dan tau keluarganya, lalu bagaimana ke ada'annya Dok?." Ucap Toglo balik bertanya.


"Alhamdulilah, pasen masih bisa tertolong, tapi kalau telat sedikit mungkin akan lain lagi ceritanya." Jelas Dokter.


"Alhamdulilah, tolong Dok berikan pengobatan yang terbaik." Ujar Toglo.


"Tapi pihak Rumah sakit belum.bisa melanjutkan, sebelum ada penanggung jawab dari keluarganya." Ucap Dokter.


"Biar saya yang bertanggung jawab." Ujar Toglo.


"Baiklah kalau begitu, silah kan anda urus masalah administrasinya dan tanda tangan buat perawatan pasen." Jelasnya Dokter.


Toglo pun lalu bergegas pergi ke lobi keruangan Administrasi untuk mengurus masalah biaya perawatan Jaroni dan sekaligus menjadi orang yang bertanggung jawab atas kesembuhannya Jaroni, walau di hatinya merasa cemas dan bingung harus cari duit kemana.


Setelah semua beres, Toglopun lalu keluar dari ruangan Administrasi sambil garuk jidatnya yang tidak gatal.


"Aduh bingung gua, harus cari uang kemana, sedangkan biaya perawatan nya pun tidak sedikit." Gumam Toglo dalam hati.


Di sa'at Toglo lagi kebingungan begitu, ia tersontak kaget ketika ada getaran bersama nada dering di saku celananya berbunyi.


"Siap sih yang nelpon." Gerutu Toglo sambil merogoh ponsel di saku celana bagian depan.


"Waduuh pak bos." Cetus Toglo bermonolog.


Lalu Toglo pun mengangkat panggilan dari Nandi.


📞.Toglo "Iya halo pak Bos."


📞.Nandi "Kamu gak masuk kerja lagi Glo, sakit apa gimana?."


📞.Toglo "Masuk pak Bos, tadi ketika lagi dalam perjalanan, di jalan ada kendala dan sekarang ku lagi di rumah sakit." Ujar Toglo.


📞.Nandi "Emang siapa yang sakit Glo?."


📞.Toglo "Teman saya waktu kecil, jadi korban pembacokan, dan barusan saya abis menyetujui masalah perawatan beserta pembiaya'annya.

__ADS_1


📞.Nandi "Maksudnya kamu yang bertanggung jawab masalah biayanya?."


📞.Toglo "Iya."


📞.Nandi "Punya uang?."


📞.Toglo "Ada sih kalau tiga ratus ribu mah di dompet."


📞.Nandi "Hahaha, Glo, glo itu mah paling buat berobat sakit gigi juga masih kurang, di rumah sakit mana?."


📞.Toglo "Rumah sakit Harapan pak Bos."


📞.Nandi "Tunggu di situ, sekarang gua mau on the way ke situ."


Setealh itu panggilan pun langsung di matiin, dan Toglo langsung memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana depan, ada sedikit rasa lega di hati Toglo ketika mendengar tadi Nandi mau datang kesitu. Dan Toglo berjalan ke tempat di mana Jaroni itu di rawat, nampak dua polisi masih duduk di bangku seperti lagi menunggu Toglo kembali ke situ.


"Ooh iya dek, temanmu itu sudah di pindahin ke ruang no lima belas untuk menjalani perawatn." Ujar polisi memberi kabar pada Toglo.


"Iya pak, terima kasih atas kerela'an para polisi mengantarkan teman saya, saya juga bingung pak." Ujar Toglo pasang wajah melas.


"Bingung kenapa dek?." Tanya polisi.


"Bingung masalah biayanya, sedangakan keada'an orang tuanya, sangat mengkhawatirkan perekonomiannya." Jelas Toglo.


"Kalau begitu Nanti pihak dari kepolisian akan membantu untuk mrringankan masalh biaya perawatannya, asal adek minta surat keterangan tidak mampu dari Rt dan Rw." Ujar pak polisi.


Ketika mereka lagi beradu argumrntasi, samar-samar dari kejauhan Nandi lagi berjalan di coridor Rumah Sakit mrnuju pada Toglo dan dua orang polisi.


"Assalam mu'alaikum, selamat siang pak." Sapa Nandi.


Toglo dan kedua polisi menjawab dengan wajah berseri semringah.


"Pak Nandi.." Sap polisi.


"Iya pak, saya kesini karena mendapat kabar dari karyawan saya, perihal kasus pembacokan pada temannya." Ujar Nandi.


"Memang sekarang lagi merajalela para Geng dari berbagai kubu, yang suka membuat onar." Ujar pak polisi.


"Tolong pak, usut terus kasus ini sampai tuntas." Pinta Nandi.


"Iya pak Nandi, pihak kepolisianpun lagi menyelidik para Geng mapia yang suka bikin ulah, tapi sampai sa'at ini tim kami pun belum mendapat laporan yang akurat, mereka sangat licin dalam melakukan aksinya, lebih jelasnya Nanti tunggu sang korban kalau sudah benar-benar pulih dari luka-lukanya." Ujar polisi.


"Iya pak kalau begitu saya dan para famili Gang Si'iran mau minta ijin turun tangan untuk meringankan tugas polisi dalam mencari pelaku yang biadab itu." Ujar Nandi.


"Bagus itu, kalau warga sudah mau bekerja sama dengan pihak kepolisian, itu akan mempermudah dalam penangkapan para anggota Geng tersebut."


Selepas itu polisi pun undur dari hadapan Nandi Toglo, sedangakan Nandi dan Toglo langsung ke tempat Kasir untuk menyelesaikan masalah biaya perawatan Jaroni.


Setelah seluruh biaya perawatan Jaroni di bayar oleh Nandi, berhubung banyak kerjaan yang mesti di selesaikan hari ini. Nandi pamit pulang duluan, tadinya mau jenguk Jaroni tapi pihak medis belum memperbolehkannya karena kondisi pasen masih dalam tahap pemulihan. sebelum Nandi pamit pulang, ia memberikan sebotol air putih, yaitu air rendaman dari kalungnya itu, siapa tahu bisa membantu mengobati luka Jaroni dengan ijin Allah Swt.


"Gua pulang dulu Glo, kamu temenin dulu temanmu itu kasihan, masalah lo' gak masuk kerja' jangan kuatir gua akan membayarmu." Ujar Nandi sambil memegang bahu kanannya Toglo.


"Terima kasih Pak Bos, ku jadi merasa banyak sekali merepotkan pada Pak Bos." Ujar Toglo.


"Sudah tidak usah di pikirin, harta bisa kita cari, tapi masalah nyawa seseorang tidak ada duplikatnya, dan harta itu hanya titipan, makanya itu kita harus bisa memanpa'atkan harta itu di jalan yang di ridoi Tuhan." Ujar Nandi memberi nasehat.


Lalu Nandi melangkah pergi dari hadapan Toglo, berjalan di coridor rumah sakit menuju halaman parkiran.


...........


Bersambung.


Assalam mualaikum, salam sehat dan sejahtera selalu, terima kasih pada para reader dan kakak Author yang sudah memberi dukungannya.

__ADS_1


Like, berikan Comentar di kolom comentar, Ranting ⭐ lima, jadikan favorit, vote serta hadiahnya bila menyukai karya Si kidal sang penolong, dan mohon ma'af bila agak telah update karena Author harus membagi waktu dengan kerjaan diluar.


\=\=\=\=\=Terima kasih🙏🙏🙏🙏🙏\=\=\=\=\=


__ADS_2