
Di awal kerjanya.
Jaroni nampak semangat sekali, kamal yang terus memperhatikan cara kerja Jaroni sangat intens, sampai semua bersih dan rapi.
"Rajin juga kerjanya Jaroni." Gumam Kamal dalam hati.
Setelah itu Kamal melangkahkan tungkai kakinya mendekati pada Jaroni yang mengelap-ngelap kaca sampai ke rak-rak tempat barang di bersihkannya dengan rapi dan bersih.
"Halo Jar, bagaiman? senang kerja di sini?." Tanya Kamal.
Jaroni pun menoleh ke arah suara yang menyapanya.
"Oh Pak Kamal, saya sangat senang kerja di sini dan betah." Jawab Jaroni.
"Syukur deh, apa sebelumnya kamu pernah kerja apa Jar?." Kamal lanjut bertanya.
"Saya tidak punya pengalaman kerja pak, sebelumnya saya cuma seorang pemulung barang bekas bersama Toglo, cuma Toglo kan berhenti setelah mendapat kerjaan di sini." Jawab Jaroni.
"Oh gitu, kamu kerjanya yang rajin, kalau kerjamu bagus, siapa tau pak Nandi mengangkatmu pada kerja'an yang lebih baik lagi." Ujar Kamal.
"Iya pak, insa Allah saya akan melakukan pekerja'an ini yang terbaik, beginipun saya sangat berterima kasih pada pak Nandi sudah mengangkatku untuk bekerja di sini." Ujar Jaroni.
"Ya sudah, kalau kerja'an sudah beres, kamu bisa ngopi-ngopi dulu, tinggal pesan di kedai sama Mira, bilang saja karyawan baru." Ujar Kamal.
"Iya pak, terima kasih." Ujar Jaroni.
"Oke sama-sama."
Setelah itu Kamal pun beranjak dari tempat itu, untuk kembali mengawasi para pekerja yang lainnya, dan Jaroni kembali pada kerja'annya yang masih menumpuk.
..................
Di tempat lain.
Di bagian bengkel nampak lagi di padati oleh para castamer dengan berbagai macam keluhan.
Toglo dan ketiga anak buahnya sangat sibuk sekali dalam melakukan pelayanan pada para pelanggan, demi menjaga reputasi bengkel yang sudah terkenal dengan kenerjanya yang bagus, rapi dan sangat teliti dalam menangani pekerja'annya, makanya tidak heran bila bengkel itu semakin banyak di penuhi oleh para pelanggan, walaupun sekarang di pegang bukan sama Hasan dan Kamal Tapi kualitas dari bemgkel itu tetap terjaga dengan baik, karena Toglo penuh dengan dedikasi, apa yang telah para seniornya seperti Kamal dan Hasan ajarkan Toglo selalu melakukan yang terbaik demi ke suksesan Nandi dan semua para famili Gang Si'iran.
Pukul 12:00
Semua karyawan sudah mulai keluar dari tempat kerjanya masing-masing untuk melakukan istirahat setelah empat jam mereka bekerja, sudah barang tentu sangat melelahkan dan butuh rileks dan butuh tambahan energi untuk kelangsungan aktipitasnya sampai selesai.
Kini para karyawan Pt Anggita Surya Mandiri telah memenuhi kedai kopi yang di tangani oleh Mira yang di bantu oleh Jaroni.
Sementara Toglo lagi asik duduk berdua sama Wulan, dengan dua gelas minuman dingin yang melengkapi obrolannya.
"Oh iýa Wan, gue mau tanya boleh gak." Ujar Wulan.
"Siapapun mau bertanya pada ku bebas, apalagi elo' yang mau bertanya, mau tanya apa penasaran nih gua apa yang akan lo' pertanyakan." Jawab Toglo.
"Tapi lo' jangan tersinggung ya." Ujar Wulan.
__ADS_1
"Ya kagak lah mana mungkin gua tersinggung dengan pertanya'an lo'." Ujar Toglo sambil mengulum sebuah sedotan dari minuman dinginnya itu.
"Lo' kan sudah terbilang cukup sukses, dengan jabatan lo' sebagai kepala bengkel, yang jadi pertanya'an gue kenpa lo' masih menggunakan sepeda, apa lo' tidak ada niat ganti dengan motor gitu supaya lebih cepat dalam bepergian?." Tanya Wulan.
"Gua sangat mengerti dengan pertanya'an lo, dan itupun sudah gua duga bahwa lo' akan bertanya tentang itu, mungkin sebagian orang berpikirannya sama seperti lo', tapi asal lo' tau sepeda itu adalah segalanya bagi gua, yang tidak mungkin gua lupakan begitu saja." Ujar Toglo.
"Oh begitu, sepertinya ada sejarah yang besar tentang sepeda itu, kalau boleh gue tau apa yang terkesan dengan sejarah sepeda itu?." Tanya Wulan.
"Itu sepeda sangat berarti bagi gua, dari pertama kali gua di angkat bekerja di sini, dan dengan sepeda itu hidup gua bersama nenek berubah lebih baik, sepeda itu pemberian dari pak Nandi dan saya sudah menjadikan sepeda itu seperti jimat." Jelasnya Toglo.
Wulan pun sangat terkesan mendengar penjelasannya dari Toglo.
"Kalau begitu ma'afin gue ya, bila pertanya'an gue menyinggung perasa'an lo'." Cetus Wulan.
"Tidak apa-apa ko, dan Gua juga ada niat sih beli motor untuk keperluan perjalanan jauh, tapi sepeda itu tidak akan gua jual sampai kapanpun." Ujar Toglo.
"Gue salut dan kagum sama lo' ternyata lo' seorang lelaki yang sangat menghargai orang, dan penuh dedikasi tinggi, wanita yang menjadi istrimu kelak pasti akan sangat merasa bangga." Ujar Wulan sambil tersenyum manis.
"Ah elo' bisa aja, gua manusia biasa yang pasti ada salahnya dan khilap, dan wanita yang akan menjadi istri gua nanti adalah elo'." Ujar Toglo sambil menjepit hidungnya wulan dengan kedua jarinya.
"Iiih sakit tau." Ujar Wulan berteriak.
Sementara Hasan dan Doni beserta ke tiga anak buahnya Toglo, sontak menoleh ke arah suara yang menjerit itu dan langsung melemparkan canda'an dan ejekan.
Wiitt wiiww..
"Cieee, yang lagi romantis-romantisan." Cibir Hasan.
Toglo dan Wulan saling pandang sambil tersenyum lalu berkata.
"Iya nih Bang Hasan, usil aja sih urusan orang." Ujar Toglo.
Tidak lama kemudian alarm tanda masuk kerja sudah terdengar, Toglo, Wulan dan seluruh karyawan pun mulai bergegas memasuki ruangan dan kembali ke tempat kerjanya masing-masing.
.............
Di lain tempat.
Nandi yang lagi mengendarai mobilnya dalam perjalanan pulang, dari luar kota habis meeting bersama para klien.
Nandi terus melaju kencang di jalan bebas hambatan menuju kota Bandung.
Tidak lama kemudian Nandi sudah keluar Tol, dan mulai memasuki kota kembang, kota yang menyimpan banyak kenangan dan cerita romantis.
Karena merasa perutnya terasa sakit dan bunyi terus, lalu Nandi membelokan mobilnya memasuki sebuah halaman Rumah makan khas sunda.
Nandi lalu turun dari mobilnya dan memasuki kedalam rumah makan tersebut lalu duduk, dan pelayan pun datang menghampiri.
"Selamat siang pak, silahkan bapak pilih menu makanan." Sapa sang pelayan.
"Iya selamat siang." Ujar Nandi.
__ADS_1
Kemudian Nandi pun langsung memesan makanan nya, dalam satu porsi.
Setelah itu pelayan pun datang membawa makanan yang telah Nandi pesannya dan di damparkannya pada meja, dengan banyak rupa-rupanya lalapan mentah dan sambal yang nampak segar.
"Silahkan pak, selamat menikmati hidangan dari kami." Ujar pelayan.
"Iya mba, terima kasih." Jawab Nandi.
Nandi langsung menyantap makanannya dengan santai.
Lagi enak-enaknya Nandi menyantap makanan karena rasa lapar yang tidak bisa di tahan, tiba-tiba muncul dua orang wanita dan duduk di kursi berhadapan dengan Nandi dalam satu meja, Nandi pun merasa tergannggu dengan kehadiran dua wanita itu.
Kedua wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Temannya Astuti dulu yaitu Kaila dan Rina, kedatangan nya yang tidak sopan membuat Nandi sedikit tersinggung, tapi Nandi tidak menghiraukan ia lanjut menghabiskan makanannya.
"Hai ganteng, abang nya Astuti kan?." Tanya Kaila.
Tapi Nandi tidak menjawab ia tetap pokus pada makanannya yang tinggal sedikit lagi.
Dan Sesudah itu, makanan pun telah habis lalu, Nandi mencuci tangannya, dan di elapnya dengan sebuah tisu, lalu Nandi menatap pada kedua wanita itu.
"Ooh rupanya ada orang, ma'ap ya gua tidak tau, jadi tidak nawarin makan." Ujar Nandi pura-pura.
"Iih tidak apa-apa Tampan, memperhatikan wajahmu saja, gue sudah kenyang." Celoteh Rina dengan tingkahnya yang membuat Nandi Risi.
Kemudian Nandi melihat Jam, yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Ma'ap ya gua tidak bisa lama-lama di sini, kalau kalian mau makan tinggal panggil pelayan aja." Ujar Nandi sambil beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan dengan santai menuju meja kasir untuk membayar makanannya.
Kaila dan Rina hanya terbelalak kaget dengan kepergiannya Nandi, karena belum puasnya ia duduk bersama pemuda gagah dan tampan.
"Iiih menyebalkan, sama persis seperti adik Astuti." Gerutu Kaila.
"Hahahaha... Kaila Kaila, abangnya Astuti kan sudah punya anak bini, ya wajar saja bila dia begitu pada kita, kalau menikmati ketampanannya sih tidak mengapa, asal jangan jadi pelakor." Cetus Rina sambil tertawa puas melihat temannya itu seperti ke jengkelan.
"Iih dasar sue lho, bukannya dukung gue malah ngejek." Ujar Kaila.
Lalu ketika mereka lagi beradu argumen, sang pelayan datang menghampiri.
"Selamat Siang buk, silahkan pilih menu makannya." Ujar sang pelayan.
Kaila pun menjawab dengan ketus karena merasa jengkel pada sikap Nandi jadi sang pelayan kena sasarannya.
"Siang, gak jadi makan disini." Ujar kaila.
"Kenapa buk apa ada masalah dengan keada'an pasilitas di sini?." Tanya pelayan.
"Lo' pelayan bawel amat sih, malah panggil gue ibuk lagi." Ujar Kaila sambil beranjak pergi meninggalkan pelayan.
Sang pelayan hanya tercengang, sambil memandang kepergiannya Kaila dan Rina.
"Ditanya baik-baik malah jawab begitu, itu orang stres kali ya." Gerutu pelayan bermonolog.
__ADS_1
Lalu pelayan tersebut membalikan badannya kembali ke tempat para pengunjung yang lainnya yang sudah mulai banyak berdatangan.
Sementara Nandi yang lagi mengemudi mobilnya sudah tiba di kantor, untuk mengerjakan beberapa file dari hasil meetingnya tersebut.