
Melihat kesuksesan dalam segi pinansial yang melimpah ruah, Kini otak kriminal Handoko mulai keluar.
Di suatu hari, Handoko memanggil Ricad dan Aldi untuk membicarakan suatu Rahasia, yang tidak boleh di dengar oleh Anggotanya yang lain.
Handoko duduk di sebuah tempat yang sunyi yang jauh dari keramaian, menunggu dua teman sejatinya Ricad dan Aldi.
Hingga tidak lama kemudian terdengar suara motor dari kejauhan lagi mrlaju ke arah di mana Handoko berada.
Kini dua sepeda motor itu telah tiba, di tempat Handoko lagi menunggu.
"Sudah lama nunggu?." Tanya Ricad.
"Ya lumayan sih, sekitar lima belas menitan, ya cukup lama juga sih kalau menunggu itu satu menitpun serasa satu jam." Ujar Handoko sambil memandang ke arah hamparan hijaunya perkebunan teh.
"Iya sori Bro, maklum kita kan harus atur strategi agar tidak di ketahui cicak putih, yang nantinya membuat Bos jadi curiga." Ujar Ricad.
Lalu Aldi dan Ricad duduk berhadapan dengan Handoko.
"Sebenar nya apa yang akan di bicarakan Han?." Tanya Aldi pada Handoko.
Lalu Handoko mulai membuka pembicaraan mengenai misinya, yang ingin menyingkirkan Rudy gardan selaku Bos besar di Jendra cobert.
"Wah Gila lo' ternyata otakmu lebih kriminal dari kita-kita." Ujar Aldi.
"Ya coba aja lo' berdua berpikir pakai rasio, setahun lewat, kita berhasil menjalankan misi ini, dan ke untungan yang di dapat sangat melimpah, lalu apa yang kita dapat dari Rudy, okelah pasilitas kita memang dijamin, makan enak, tapi kita juga butuh heavy, masa selamanya mau jadi kacung, coba kalau tidak ada kita-kita apa bisa sehebat ini Jendra cobert." Ujar Handoko mulai memasukan toksit pada otaknya Ricad dan Aldi.
"Emang ada benarnya juga sih pemikiran lo Han, tapi kan Jendra cobert anggotanya banyak tersebar di mana-mana, bisa-bisa kita akan mati konyol." Tutur Ricad.
"Hahaha.. Gimana sih cara berpikir kalian, ya kita bikin semua Anggota membenci Rudy, kita bikin pitnah di mana-mana pada seluruh Anggota, sudah barang tentu mereka akan dengan mudah terpengaruh, karena Kebanyakan Anggota Jendra cobert otaknya semua kriminal gampang sekali di hasut." Ujar Handoko.
"Wah waaah, Gue tidak menyangka sebelumnya ternyata pikiran lo' itu lebih bejad dan bajingan dari pada kita-kita ya gak Al." Ujar Ricad.
"Yo'i." Jawab Aldi singkat.
"Dan satu hal lagi yang tidak pernah gue lupakan sampai matipun." Lanjut Handoko.
"Apa tuh?." Tanya Ricad.
"Gue masuk penjara itu semua gara-gara si Nandi dan anak Gang Si'iran, bila nanti kita sudah menduduki jabatan tertinggi di Jendra Cobert, gue akan balaskan sakit hati gue khusysnya pada Nandi dan keluarganya, apakah kalian mau membantu gue?." Tanya Handoko pada Ricad dan Aldi.
"Tergantung dari masalah pribadi lo itu sendiri, kalau sudah merembet ke kelompok kita, kita dan seluruh Anggota akan menghabisi orang itu apa pun caranya." Tukas Ricad.
__ADS_1
"Sikidal itu musuh para Mavia, dia sering menggagalkan aksi dari para mavia, dan juga banyak preman pasar yang tunduk padanya, biarpun mereka cuma enam orang tapi mereka termasuk lawan yang paling berat menurut gue." Ujar Handoko.
"Seberapa hebat sih ke kuatan si kidal itu, gue pun memang pernah mendengar nama itu, dan sering membantu pihak kepolisian dalam memberantas kejahatan, bahkan Geng tengkorak hitam pun pernah ia taklukannya." Tukas Ricad.
"Ya sudah kita simpan dulu masalh gue dengan si kidal, sekarang kita pokus pada rencana kita. Ujar Handoko.
Kalau hati sudah di liputi oleh napsu serakah, Handoko tidak menyadari semasa dirinya berada di masa sulit, cari kerjaan pun tidak ada yang mau nerimanya, dan sekarang dia berada dalam keberuntungan biarpun langkahnya salah bergabung dengan komplotan Geng Mavia, hingga dirinya di angkat oleh Bos besar memegang satu wilayah, tapi Handoko merasa masih ke kurangan, karena tergiur dengan hasil yang memuaskan, sehingga otak kriminalnya mulai berjalan ingin menggeser posisi Rudy Gardan, dengan membuat pitnah pada seluruh Anggota Jendra Cobert.
Apakah misinya Handoko akan berhasil, ataukah sebaliknya.
Tiga hari kemudian
Setelah Handoko memasukin toksit pada seluruh anggota Jendra Cibert, dan di cuci oleh obat berdosis tinggi sehingga di pikirannya menjadi brutal.
Tepat jam 22:30 menit. Para anggota Jendra Cobert menyerbu kediamannya Rudy Gardan, tanpak banyak basa-basi lagi mereka langsung menghabisi Rudy dengan sangat Sadis, Rudy mengadakan perlawanan tapi tidak berlangsung lama karena jumlahnya yang sangat banyak, sehingga Rudy pun terkapar dengan bersimpuh darah dan beberapa luka tusukan di tubuhnya.
Handoko yang memantau dari jauh, tertawa puas atas kematiannya Rudy, dan berbangga hati karema tidak lama lagi ia akan menduduki posisinya Rudy sebagai Bos besar.
"Satu persatu penghalang gue sudah lenyap, kini tinggal giliran kau Nandi sa'at nya gue membalaskan dendam, tunggulah hidupmu sebentar lagi akan menderita Nandi." Batinnya Handoko.
..............................
Di tempat lain.
Di sebuah rumah yang sangat sederhana sekali, tepatnya di Gang Sawah, tiba-tiba ia terbangun seperti kaget sambil mengusap wajahnya dengan membaca Astagpirullah haladzim.
"Pertanda apa ini, mimpi gua sangat menyeramkan, gua melihat banyak kobaran api dan darah yang bercecer di mana-mana, ya Allah lindungilah hamba dan semua orang yang hamba cintai, dan para sahabat hamba, bos hamba dan kekuarganya." Ujar Toglo bermonolog hampir tak bersuara.
Kemudian Toglo keluar dari kamar tempat tidurnya, dan melangkah menuju pada rak dimana sebuah kitab pemberian dari ki Parta di simpan.
Setelah kitab tersebut di dapatnya, ia lalu membukanya, apa sebenarnya yang Toglo cari di halaman kitab itu, dan selepas itu kitab pun di tutupnya kembali dan di simpan di posisi semula, lalu Toglo keluar rumah menuju sebuah pancuran yang airnya terus mengalir tiada henti, sepertinya Toglo mengmbil air wudhu, kemudian kembali masuk memasuki sebuah ruangan tempat solat.
Toglo duduk bersila dengan memejamkan kedua matanya sambil komat kamit membacakan sesuatu, dan setelah itu sebuah bayangan menyerupai dengan Toglo keluar dari jasadnya Toglo.
Sungguh luar biasa seusia Toglo sudah bisa memecah raganya, dan bayangan itu melesat tebang seperti dibawa oleh angin.
Ternyata Sukmanya Toglo pergi menemui ki Parta, yang sedang bermeditasi setelah menerima kontak batin dari Toglo.
"Assalam mu'alaikum ki." Sapa sang sukmanya Toglo.
"Wa alaikum salam, ada apa malam-malam begini menemui aki Toglo?." Tanya ki Parta sambil duduk bersila.
__ADS_1
"Toglo mimpi melihat banyak darah berceceran dan banyak kobaran api." Ungkap sang sukma.
"Apakah kamu berada di kobaran api itu, atau kamu cuma melihatnya dari jarak yang jauh?." Tanya ki Parta.
"Toglo cuma melihatnya."
"Berhati-hatilah, dalam jarak yang dekat akan ada banyak musuh yang datang, berdolah mintalah perlindungan pada Allah, kasih tau ini pada Nandi, karena aki melihat dalam bulan ini Keluarga Nandi akan di goncang masalah yang cukup besar, dan kamu berilah pertolongan pada keluarganya Nandi, karena di bulan ini Nandi berada di masa tersulit, sepertinya itu masalah lama dan dendam yang terkubur kini bangkit dalam kekuatan besar." Jelasnya ki Parta.
Setelah itu Ki Parta pun cepat menyuruh Toglo pergi untuk kembali masuk dalam wadaknya, takut terjadi hal yang tidak di inginkannya.
Bayangan sukmanya Toglo pun melesat terbang menuju Gang Sawah dan masuk menembus dinding rumah memburu pada wadaknya yang lagi duduk bersila.
Perlahan Jari jemari Toglo mulai bergerak, pertanda sukmanya sudah masuk dan bersemayam lagi di tubuhnya, lalu Toglo membukakan matanya, dan beranjak berdiri dari posisi duduk, melangkah keluar dari ruangan itu memburu pada kursi yang terletak di sudut ruangan.
"Kata Aki Guru akan ada musuh yang merongrong pak Bos, berawal dari sebuah dendam, kira-kira siapa ya." Batin Toglo.
Toglo terus berpikir tentang pesan yang di amanatkan ki Parta pada dirinya tentang keselamatannya keluarga Nandi, ia pun mengecek satu persatu orang-orang yang pernah terlibat masalah dengan Nandi.
Sampai segitu perdulinya Toglo pada keselamatan keluarga Nandi, itu berawal dari hutang budi, karena di saat dirinya lagi berada dalam keterpurukan hidup, Nandilah sebagai lantaran yang mengankat derajatnya, "Kini saatnya Aku membalas budi kebaikan pak Bos." Gerutu Toglo pelan.
Toglo beranjak dari tempat duduknya mrlangkah menuju pada sebuah meja, lalu di ambil dua sendok kopi dan di tambahkan pemanis gula aren di iris halus, lalu di seduhnya dengan air panas dari sebuah termos dan di aduk sampai menciptakan rasa yang nikmat.
Seruupuuuttt.
Satu seripitan terdengar jelas, dan di ambilnya sebatang roko lalu di bakar dengan api dari sebuah korek gas.
Ssppuuuuhh
Hembusan asap putih keluar dari mulut toglo, terbang memudar dan menari-nari keluar melalui celah-celah bilik rumah.
................
Ke esokan harinya, ketika waktu menunjukan pukul 07:00.
Toglo sudah menggoes sepedanya mengantarkan Wiwin sekolah.
Dan setelah Sampai di sekolah Toglo langsung, di saat Wiwin sudah memasuki kelasnya, ia pun langsung meluncur menuju ke tempat kerjanya
Lima belas menit kemudian Toglo telah sampai di bengkel, lalu memarkirkan sepedanya di smping bengkel, dan membuka pintu Rolling door sambil merapikan alat-alat bengkel dan menata kursi-kursi buat duduk para langganan.
Setelah semua terasa rapi ia pun langsung melangkah ke kedai, nampak Mira sudah lagi merapikan dagangan, yang di bantu oleh Gito suaminya.
__ADS_1
Skip
Sementara di lain tempat Handoko beserta kedua temannya Ricad dan Aldi lagi mengatur strategi uang telah di rencanakan sebelumnya, untuk menyingkirkan Rudy Gold selaku Bos besar dalam kelompok Geng mavia Jendra vobert.