
Hiruk pikuknya kendara'an, tidak menjadikan penghalang bagi kedua pengendara motor yamaha Rx king yaitu Nandi suryaman, alias sikidal dan Gito santoso, karena kedua orang itu pernah malang melintang di dunia jalanan, jadi bagi mereka dalam mengendara motor sudah menjadi hobynya.
''Sebenarnya kita ini mau kemana pak bos?.'' Tanya Gito sambil terus menarik gas.
''Sudah gua bilangin, kalau di luar kerja'an jangan bilang pak atau bos, seperti biasa aja sih, biar enak di dengarnya.'' Ucap Nandi.
''Oke siap.'' Saut gito.
Kemudian Nandi membelokan motornya me masuki jalan niaga, gito terus mengikutinya dari belakang.
treng treng treeeeeng......
Suara yang keluar dari selongsong kenalpot, yang di iringi dengan keluarnya asap putih yang terus mengepul, meluak liuk di jalanan, salip kiri salip kanan begitu indah terlihat dari belakang.
Tidak lama kemudian Nandi mulai menurunkan speednya laju kendara'an, karena tempat yang di tuju, hanya tinggal beberapa meter saja, dan akhirnya Nandi dan Gito berhenti di depan sebuah toko spark park kendara'an roda dua, sebelum Nandi turun dari motornya, terlebih dulu ia mengambil sebuah handponnya, kemudian di buka aplikasi whatssap, dan di ketiknya sebuah chat lalu di kirim pada nomor yang telah di namai di handponnya Nandi.
Setelah itu Nandi memasukan lagi handponnya ke dalam saku jaket bagian dalam.
Kemudian seorang lelaki berkulit kuning langsat dan berambut ikal rapi keluar dari dalam toko, lalu memberi kode pada Nandi untuk duduk di sebuah warung kopi yang berada di samping toko tersebut.
Nandi lemudian berjalan menuju sebuah warung kopi, sedangkan Gito hanya menganga seperti belum paham apa maksud dan tujuannya Nandi.
''Sebenarnya apa sih yang akan nandi kerjakan disini, sungguh gua belum paham dengan semua ini.'' Gumam Gito dalam hati.
Kemudian Gito pun turun dari motornya setelah mendapat ajakan melalu lambaian tangan dari Nandi, dan Gito berjalan ke arah di mana Nandi berada.
Lalu Gito pun duduk di sampingnya Nandi, dan Nandi langsung memesan dua gelas kopi hitam pada pemilik warung tersebut.
''Pak bikin kopi hitam dua.'' Ucap Nandi
''Baik mas.'' Saut pemilik warung itu.
Kemudian pemilik warung itu, meraih dua buah gelas, lalu di tuangnya bubuk kopi bercampur gula ke dalam gelas, lalu di seduhnya dengan air panas dan di aduk aduk sampai benar-benar larut sehingga menciptakan cita rasa yang nikmat, setelah itu tukang warung itu membawanya ke hadapan Nandi dan Gito.
''Ini kopinya mas, silahkan di minum.'' Ucap tukang warung.
''Iya terima kasih.'' Saut Nandi.
Kemudian Nandi dan Gito mulai menyeripit kopi tersebut, lalu di sambung dengan satu isapan dari sebatang roko.
Dan tukang warung itu terus memperhatikan Nandi dan Gito, karena bagi tukang warung wajah Nandi dan Gito seperti baru pertama kali melihatnya, kemudian tukang warung itu mendekati Nandi dan Gito.
''Ma'ap mas, kalian berdua ini baru ya berkunjung di sini?.'' Tanya tukang warung.
''Iya pak, kami abis main, jadi mampir dulu pingin ngopi sambil istirahat sebentar, boleh kan pak.'' Saut Nandi.
''Ya boleh boleh, mau satu jam dua jam juga bebas ko, tapi disini tidak aman mas, banyak sekali pemungut liar secara paksa.'' Ujar tukang warung.
''Masa sih pak, emang gak ada yang berani melaporkan pada pihak ke polisian.'' Ucap Nandi.
''Gak ada yang berani mas.'' Saut tukang warung.
Bibir pun masih basah tukang warung membicarakan masalah pemungut liar, tau-taunya dari arah selatan nampak empat orang lelaki tinggi besar ber pakaian hitam yang di lapisi oleh sebuah rompi dan di penuhi oleh tato di kedua tangannya.
''Tuh baru saja kita omongin, orangnya sudah muncul.'' Ucap Tukang warung.
''Mana orangnya pak?.'' Gito ikut bicara.
''Itu tuh, yang berbadan besar itu, dan banyak tatonya.'' Ucap tukang warung sambil menujuk ke arah selatan.
''Ooh itu toh.'' Ujar Gito.
''Sebaiknya mas berdua pergi, takut nanti nyakitin kalian berdua.'' Ucap tukang warung.
''Insa allah enggak pak, kan kita gak punya salah, kenapa harus takut.'' Ucap Nandi.
Lima belas menit setelah Nandi berbicara, Ke empat orang itu berjalan mendekati warung kopi, yang Nandi dan Gito lagi berada di situ.
Dengan gayanya yang mirip kaya se orang jawara pertentang pertenteng, sambil membuka mata dan kumis yang besar membuat orang yang baru melihatnya akan lari kocar kacir.
''Haiii darman, mana jatah, jatah, jatah.'' Ujar salah satu dari ke empat preman itu.
__ADS_1
Dengan gemetaran tukang warung kopi itu menjawab.
''Aduuh bang jinggo, baru aja kemarin saya kasih, saya belum dapat duit atuh bang.'' Saut tukang warung.
Kemudian orang yang berkumis tebal yang bernama Jinggo itu, menggebrak meja dengan kerasnya, sehingga tukang warung itu semakin ke takutan.
''Gua gak peduli, mau dapat duit mau kagak, yang penting kamu harus setor sama kita.'' Bentak Jinggo.
Kemudian temannya Jinggo melihat ke arah Nandi dan Gito yang lagi duduk dengan santai dan tenangnya, lalu berbisik pada Jinggo.
''Hai bang, coba lihat ke arah pojok, ada dua pemuda lagi ngopi, sepertinya mereka berkantong tebal.'' Bisiknya.
Jinggo pun menoleh ke arah Nandi dan Gito sambil manggut manggut dan tersenyum sinis.
''Katamu darman kamu gak punya duit, itu ada dua orang yang lagi pada ngopi dan makan-makanan diwarung kamu.'' Ujar Jinggo sambil buka mata.
''Iya bang, ya baru si mas berdua, itu kan buat penglaris bang.'' Saut Darman.
''Banyak omong lo', cepetan nanti gue acak-acak warung kamu Darman.'' Teriak Jinggo.
Ketika Jinggo lagi berteriak-teriak mau menghancurkan warung kopinya Darman, tiba-tiba Jinggo menghentikan gerakannya tat kala mendengar suara yang penuh wibawa.
''Kalian mau uang.''
Dengan kaget Jinggo, dan memasang wajah garang.
Kemudian Jinggo berjalan ke arah Nandi dan gito yang lagi duduk sambil menghisap roko dengan santainya.
''Siapa kau jangan berlaga di hadapan jinggo, emang kamu punya duit berapa hah.'' Tutur Jinggo
''Ya kalian mau uang berapa.'' Sau Nandi dengan tenangnya sambil makan cemilan kacang garuda.
''Sombong benar kau, coba kalau benar lo orang tajir, gue minta sepuluh juta.'' Bentak Jinggo.
''Baru sepuluh juta, kalau gua mau kalian ber'empat pun gua beli.'' Ujar Nandi dengan tenangnya dalam posisinya.
''Kurang ajar, apa maksudmu, cuuiih.'' Bentak Jinggo sambil meludah
''Brengsek dasar preman kepeting apu, berani gigit sama ikan, dan kalian ber'empat gua beli.'' Tunjuk Nandi pada Jinggo beserta anak buahnya.
Jinggo beserta ketiga temannya terasa tertantang dengan perkata'annya Nandi, tidak bisa di hindari lagi Jinggo dan ketiga kawannya langsung menyerang Nandi dan Gito.
Nandi dan Gito pun langsung menghadang serangan dari jinggo dan kawanannya.
Bangku-bangku dan meja menjadi berantakan, terkena tendangan dan senggolan dari kedua lawan.
Nandi dan Gito melompat keluar dari warung itu, untuk menghindari kerusakan dari material warung yang sudah banyak ruksak.
Jinggo dan kawanannya pun langsung memburu Nandi dan Gito.
Bak buk bak buk bak buk...
Suara pukulan dan tendangan yang saling serang dari kedua lawan.
Hiuuukk..
Jinggo dan satu temannya menggempur Nandi dengan tinjunya, lalu Nandi mengkaper kedua pukulan lawan, sembari badannya memutar ke kanan sambil memasukan sebuah elbo tang kirinya.
Duuukk...
Elbo Nandi bersarang di dagunya Jinggo.
Adaaww..
Jinggo agak sedikit mundur satu langkah, karena merasakan sakit.
Dari sebelah kirinya nampak terlihat oleh Nandi sebuah pukulan meluncur ingin menghajar mukanya, secepat kilat Nandi menggeserkan badannya satu langkah.
Plooooss..
Luncuran tinju tersebut makan ruang kosong, karena kerasnya pukulan yang di lancarkan oleh temannya Jingho itu, sehingga badannya terbawa oleh pukulannya itu dan hampir mau jatuh, disa'at itu pula Nandi melesit ke atas sambil memasukan pukulan sebuah pukulan gunting menghajar pundak orang itu.
__ADS_1
Deeeaaasss...
Jeregjeg..
Orang itu sempoyongan karena hilangnya keseimbangan.
Kemudian Jinggo pun tidak tinggal diam ia melompat sambil melancakan tendangan ke arah Nandi.
Nandi tidak mengelak sedikitpun, ketika tendangan Jinggo melesat mau menghantam mukanya Nandi, Nandi merubah jurusnya dalam gerakan sengatan cobro.
Sekelebat tangan Nandi langsung mematuk kaki Jinggo.
Duuukkk...
Aauuuggghh..
Suara yang keluar dari mulutnya Jinggo, karena tulang keringnya merasakan sakit yang tiada tara.
Kini Jinggo sampai terjinggit-jinggit sambil menahan keseimbangan badannya agar tidak sampai jatuh, tapi belum saja rasa nyerinya itu hilang, sekelebat bayangan menghantam dengan kerasnya.
Hiuuukk.
Deaaasss....
Auuugghhh.
Jerit kesakitan yang keluar dari mulutnya Jinggo, bersama'an dengan melayangnya tubuh tinggi besar, karena pukulan tangan kiri Nandi yang me matikan itu telah mengantarkan Jinggo sampai tidak sadarkan diri
Blaaakk.
Tubuh Jinggo tidak bisa di tahan lagi ia langsung tegeletak di lantai sebuah coran di depan warung.
Sementara gito dengan agresipnya ia melayani serangan demi serangan dari anak buahnya jinggo, dengan ilmu bela diri Ala anak jalanan yang di kombinasikan dengan ilmu silat karuhun.
Kedua anak buah Jinggo yang mengeroyok gito, seperti ke lelahan menghadapi Gito, yang agresip, bahkan pukulan dan tendangan Gito sering membuatnya jatuh bangun, maka tak heran jika keduanya seperti merasa kecapean, ditambah melihat Jinggo sudah tumbang, dan nyalinya pun kini mulai melempem.
Kini kedua orang yang mengeroyok Gito, saling pandang, seperti ragu-ragu untuk melanjutkan lagi pertarungannya itu, tapi Gito cukup paham dengan sikap ke dua orang itu, ia langsung melompat sambil berteriak.
''Heaaa...Mampuslah kalian kurang ajar.''
Luncuran pukulan Gito begitu cepat sekali, tapi kedua orang itu cukup waspada juga akan bahaya, dengan sepontan mereka mengelak kesamping satu langkah.
Plooss..
Serangan Gito makan ruang yang kosong, tapi Gito tidak diam begitu Saja, begitu Sampai kakinya di bumi, Gito melesatkan tendangan Kaki kirinya.
Buukk...
Kaki Gito berhasil mendobrak dada salah satu dari mereka, dan orang itupun langsung terpental hingga tubuhnya terjatuh menimpa aspal jalan, tapi sungguh kuat pula pertahanan pisik dari anak buahnya Jinggo, ia langsung capat bangun, kemudian mengambil sesuatu dari balik jaketnya, berupa pisau belati, dan tidak mikir lagi.
Sebruutt...
Orang itu melompat sambil melayangkan tangannya, yang lagi menggenggam pisau untuk di tikamkan pada punggung Gito, tapi aksinya itu sempat terlihat oleh Nandi, Seceapt kilat Nandi melompat sambil berteriak.
''Awass to...'' Teriak Nandi sambil menendang tangan orang itu.
Kelemprueng.
Pisau belati itu terlepas dari genggamannya dan jatuh menimpa pinggiran trotoar.
Kemudian Gito langsung membalikan badannya, begitu pas Nandi berteriak, dengan geramnya Gito ketika melihat pisau itu terlepas dari genggaman lawannya.
''Kurang ajar lo' beraninya main bokong, heaaa.'' Teriak Gito membangun lagi serangannya, kali ini Gito ingin cepat melumpuhkan lawannya itu, kelebatan pukulan dan tendangan gito begitu gencarnya menyerang, hingga lawannya itu sampai kewalahan dalam menangkis serangan-serangan Gito.
◆|◆|◆|◆|◆|◆|◆|◆
Bersambung
Ke episode selanjutnya, Terima kasih atas dukungannya.
Semoga sehat-sehat dan sukses selalu.
__ADS_1
''Assalam.mualaikum''