SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Sikidal sang penolong Eps 38


__ADS_3

Nandi dan astuti pamitan pada bu suminar dan juga sindi, karena waktu malam sudah menunjukan pukul 20:30 menit, ditambah nandi punya pekerja'an yang harus cepet diselesaikannya, yaitu memperbaiki tanki motornya yang penyok.


Setelah berpamitan nandi dan adiknya langsung menaiki motornya, setelah motor menyala merekapun langsung tancap gas, kini motor melaju semakin menjauh meninggalkan bu suminar dan sindi.


Nandi dan astuti kini telah memasuki jalan raya ketupat.


Suara bising dari selongsong kenalpot kendara'an masih memadati dijalan raya, lalu lalang mobil dan motor terus berdesak desakan karena jalanan mulai macet, kendara'an pun melaju dengan padat merayap.


Nandi dan astuti menyalip kiri kanan mencari celah-celah yang kosong untuk bisa dilalui oleh kendara'an roda dua.


''Macet aa, gimana nih, kalau begini bisa sampai malam nyampe rumah.'' Ucap astuti.


''Iya tenang aja, didepan ada jalan pintas, yang memasuki perkampungan, nanti tembusnya kejalan delima.'' Jawab Nandi.


''Ya sudah, gue ngikutin aja.'' Saut astuti.


Setelah berjalan beberapa meter dari tempat itu, dijumpainya jalan kecil yang memasuki perkampungan, nandi dan astuti lalu mengambil jalan tersebut untuk menghindari kemacetan yang semakin padat.


Kini motorpun sudah melaju walaupun tidak terlalu kencang, tapi cukup mempercepat untuk sampai dirumah.


Jalan yang tidak terlalu lebar, dengan banyaknya polisi tidur, membuat laju kendara'an hanya dalam kilo meter empat puluhan saja.


Dalam perjalanan menuju pulang, dalam medan jalan yang naik turun dan cukup sepi, jarang sekali dilalui oleh kendara'an bila malam tiba.


Nampak terlihat oleh nandi seorang wanita lagi mendorong motornya, rasa kasihan dan ingin menolongnya, nandi dan astutipun berhenti.


''Kenapa dengan motornya mb?.'' Tanya Nandi.


''Gak tau mas tiba-tiba motor ini mogok, mana jalannya sepi lagi.'' Jawab wanita tersebut.


''Boleh saya bantu, barang kali saya bisa meringankan beban mb.'' Ucap Nandi.


''Ooh, boleh-boleh, apa mas tau keluhannya?.'' Tanya wanita tersebut.


''Insa allah mb, nanti saya cek


riksa dulu ya.'' Ucap nandi sambil turun dari motornya, begitu pula astuti.


Nandi pun lalu menstandarkan motor itu, trrus dicoba disetater, tapi motor tidak bisa hidup sama sekali, nandi lalu membuka jok motor itu, terus diperiksa dibagian tanki bahan bakarnya, setelah ketauan bahan bakarnya penuh, lalu nandi memeriksa bagian perapiannya(busi).


Setelah itu nandi memancingnya dengan selahan berkali-kali, nampak ada percikan api, pertanda businya masih bagus.


''Ma'ap mb, ini kayanya bagian kipropnya mati, coba saya bongkar dulu ya.'' Ucap Nandi.


Nandi lalu membuka jok motornya untuk mengambil kunci dan sebuah obeng guna membuka kaper bodi motor tersebut, setelah kaper bodinya terlepas nandi lalu mencabut alat yang bernama kiprop tersebut, setelah diperiksanya.


''Bener mb, kipropnya sudah tidak berpungsi lagi, ini harus diganti mb.'' Ucap nandi.


''Walaahh, terus gimana.'' Ucap wanita itu.


''Sebentar ya, tut lo temenin dulu mb ini gua mau nyari dulu bengkel sekitar daerah sini.'' Ucap nandi.


''Iya aa, jangan lama-lama ya.'' Jawab astuti.


Setelah itu nandipun langsung menghidupkan motornya untuk mencari bengkel yang dekat disekitar daerah itu.


Lima belas menit kemudian nandipun sudah datang lagi.


''Ada mas?.'' Tanya wanita itu.


''Alhamdulilah ada disebelah sana.'' Jawab nandi sambil menujukan telunjuknya.


Terus nandipun memasangkan alat tersebut diposisi semula, setelah alat tersebut terpasang, lalu nandi memcoba menstater motor itu.


Betapa senangnya wanita itu, karena motornya telah bisa hidup kembali, dengan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya pada nandi, wanita itu lalu mengeluarkan isi dompetnya berupa uang, untuk membayar jasa nandi dan mengganti bekas beli kiprop.


''ini mas, sebagai ucapan terima kasihku pada mas, dan mengganti uang bekas beli alat itu tadi.'' Ucap wanita itu.


''Ma'ap mb, saya bukan penjual, terima kasih sebelumnya, dan saya iklas menolong mb.'' Jawab Nandi.


''Wualaaah kepiye toh mas sampeyan.'' Ucap wanita itu.


''Udah mb, uang itu mb sakuin lagi, buat mb nanti diperjalanan, oh iya, mb pulangnya kemana?.'' Tanya nandi.

__ADS_1


''Saya ngontrak mas, dikampung sebelah sana, ini habis pulang kerja, dan tiba-tiba motorku mendadak mati, untung ada mas kalau tidak ada mas entah gimana saya nanti.'' Ucap wanita itu.


''Ya sudah sekarang mb hati-hati, karena jalan ini sangat rawan, ayo kita bareng.'' Ucap Nandi.


Tidak lama kemudian mereka langsung tancap gasnya, nandi mengikutinya dari belakang sedangkan astuti berjalan paling depan, dan wanita tersebut berada ditengah.


Kira-kira jarak lima puluh meteran lagi nampak terlihat ada pertiga'an jalan, dan wanita itu pun berhenti.


''Ko berhenti mb?.'' Tanya nandi.


''Itu mas, pas pertiga'an didepan itu, menuju kampung tempat aku ngontrak, dan sudah deket sekali paling dua ratus meteran dari pertigaan itu.'' Ucap Wanita itu.


''Ooh ya sudah atuh, selamat sampai dirumah ya.'' Ucap nandi.


''Terima kasih ya mas, mb sudah mau menolong saya, semoga mas dan mb selalu sehat-sehat dan digampangkan dalam rijkinya.'' Ucap wanita itu.


''Aamiiin, sama-sama mb.'' Kata astuti ikut bicara.


''Ya sudah kita jalan dulu ya.'' Ucap nandi sambil menarik gasnya.


Dan wanita itupun langsung berbelok menuju kekontrakannya yang tidak jauh lagi dari tempat itu.


Nandi dan astuti langsung bablas lurus, menyusuri jalan perkampungan yang sepi, terkadang mereka sering melalui jalanan yang penuh kerikil dan becek ditambah medan jalannya yang turun naik dan banyak belokan.


Tidak lama kemudian mereka telah tiba dipersimpangan jalan yang mau masuk jalan delima.


Lampu sen kanan menyala kelap kelip dengan warna merah, dan tukang parkir meniup perwitnya untuk menyetop kendara'an dari arah depan.


Nandi dan astuti beserta kendara'an lainnya pun sudah mulai jalan memasuki jalan delima.


Motor yamaha rx king dan honda 125 yang telah diubah bentuk bodinya hampir menyerupai motor club bratherhood, telah melaju dijalan delima.


Nandi dan astuti, terus tancap gasnya dalam kecepatan maximal, sehingga tidak memakan waktu lama lagi mereka telah sampai dipertiga'an jalan yang mau memasuki gang si'iran.


Kini merekapun telah mengambil arah ke kiri, dan terus memasuki jalanan kecil, itulah gang si'iran.


Pukul 2l:15 menit nereka telah tiba didepan rumahnya.


Nampak terlihat oleh nandi bengkelpun sudah tertutup rapat, pertanda karyawannya sudah pada pulang.


Astuti terus melangkah masuk keteras depan rumahnya, yang di ikuti oleh nandi, perlahan tangan mulus astuti di angkatnya dan diketukan pada pintu.


Tok tok.


''Assalam mualaikum.'' Astuti mengucapkan salam.


Hanya menunggu sekitar dua menit terdengar dari dalam menjawab salam dari astuti.


''Wa alaikum salam waroh matullahi wabarokatuh.'' Terdengar suara wanita menjawab.


Dan pintupun perlahan terbuka bersama'an dengan muncul wajah wanita setengah baya yang masih terlihat bekas kecantikannya dimasa muda, dialah bu sari, ibu dari nandi dan astuti.


''Looh, ko jam segini kalian baru pulang?.'' Tanya bu sari sambil tengok sana tengok sini, nampak terlihat dan tersinari oleh cahaya lampu, bu sari memandang kearah motor nandi dengan intens sekali.


''Piu-piu, kenapa dengan motormu nandi, kamu jatuh apa?.'' Tanya bu sari pada nandi.


''Nanti ku jelaskan bu, sekarang nandi pingin mandi, rasanya lengket banget nih badan.'' Jawab nandi sambil mencium tangan ibunya, lalu melangkah masuk.


''Ya sudah, mandi dulu sana.'' Ucap bu sari.


''Iya tuti juga, tapi dikamar mandi tuti gak ada air angatnya bu.'' Pungkas tuti.


''Ya tunggu abangmu selsai dulu atuh.'' Jawab bu sari.


''Aa nandi mandinya lama banget bu, sementara ku gak betah keringetan nih bau.'' Ucap astuti.


''Ya terus gimana, masa harus mandi bareng.'' Ucap bu sari.


''Iiih ibu ada-ada aja.'' Ucap astuti sambil melangkah masuk menuju kamarnya.


Sementara nandi yang sudah keluar dari kamarnya sambil membawa handuk, mulai memasuki kamar mandi.


Setibanya didalam, ditutup pintunya rapat-rapat, lalu membuka pakaiannya, kini nandi sudah dalam keada'an telqnjang bulat, dan tangannya menyentuh sebuah keran yang berwana merah, yaitu keran untuk air hangat, setelah keran dibuka keluarlah air dari atas sebuah sower, nandipun kini telah membasahi tubuhnya.

__ADS_1


Dua puluh menit kemudian nandi sudah kekuar dari kamar mandi, dan sudah mengganti pakainanya dengan celana pendek selutut dan kaos oblong warna biru navi.


''De tut, abang udah, cepetan mandi sana.'' Panggil nandi.


Astutipun keluar dari kamarnya.


''Iiih abang lama amat sih mandinya, kaya pengantin baru aja.'' Ucap astuti, sambil melangkah menuju kamar mandi


''Bawel amat sih lo.'' Jawab nandi.


Setelah itu nandi pergi kedapur, lalu tangannya mengambil sebuah gelas dan ditaro diatas meja sambil menuangkan dua sendok bubuk kopi yang ditambah satu sendok gula pasir, terus diseduhnya dengan air panas dan diaduk-aduk hingga gulanya larut dan menyatu dengan bubuk kopi tersebut.


Lalu nandi melangkah keluar rumah dan duduk dikursi teras depan rumahnya.


Udara malam yang semakin dingin membuat nandi semakin menambah nikmat dalam menyeripit kopi panas.


Lalu di ambilnya sebatang roko dan ditempelkan diantara kedua bibir, tangan kanannya menganbil sebuah korek gas.


Ceklek ceklek.


Api pun keluar dari korek tersebut, lalu dbakar pada ujung roko itu, sambil dihisapnya.


Sesekali mulut nandi mengeluarkan asap dari hisapan sebatang roko djarum super.


Dalam heningnya malam, nandi menyandarkan tubuhnya dengan kedua kaki ditumpu pada sebuah meja, lalu diambilnya handpon dari dalam saku celananya.


Pikiran nandi melayang pada seorang gadis cantik yang sudah terukir didalam kalbunya, lalu dibuka aplikasi whatssap, terus digulir keatas.


Setelah nomor dan namanya ditemukan, nandi langsung mengetik sebuah chat untuk seseorang yang sudah menjadi pacarnya.


''Halo sin met malam, sudah tidur belum, gua gak bisa tidur nih.'' Begitu isi chat pertamanya lalu mengklik kirim.


Pesanpun telah terkirim, dan sudah terlihat centang biru, pertanda chat dari nandi sudah dilihat atau dibaca.


Nandi terus memandang handponnya itu, terlihat wajah nandi berseri-seri karena dikiri atas handponnya terlihat ada baca'an sedang mengetik.


Satu menit kemudian, ada notipikasi masuk.


''Met malam juga aa, sama nih gue juga susah untuk tidur.'' Isi chat balasan dari sindi.


''Gua masih terasa masakan nyokap lo itu, enak banget.'' Nandi mengirim chat kembali.


''Masa, terima kasih atas pujiannya, emang nyokap gue pinter masak ko.'' Balas sindi.


''Sayang ya, padahal kalau dpromosikan dalam sebuah acara, atau buka usaha kuliner, gua yakin pasti berhasil.'' Nandi kirim chat lagi.


''Iya sih aa, tapi nyokap sudah tua kasihan.'' Balas sindi.


''Iya sih, ya sudah sin, good night, i miss you.''


''Okee aa, i miss you to.'' Balas sindi.


Selepas itu, nandipun lalu mematikan handponya.


Karena malam sudah semakin larut, nandipun beranjak dari tempat duduknya, ia lalu masuk kedalam menuju kamarnya, untuk melepaskan rasa lelahnya setelah seharian ia disibukan dengan berbagai macam masalah.


Nandipun kini sudah membaringkan tubuhnya dikasur empuk dengan berselimut tebal, karena hawa dingin yang kian menusuk hingga ke pori-pori.


Ke esokan harinya dikala matahari sudah memancarkan sinarnya menerangi bumi persada.


Seperti biasa nandi sudah setembay dibangku sambil ditemani secangkir kopi panas.


Disetiap tegukan dan seripitan secangkir kopi, langsung disusul satu hisapan sebatang roko, menambah nikmat disuasana pagi hari.


⭐⭐⭐⭐⭐⭐▪︎▪︎▪︎▪︎⭐⭐⭐⭐⭐⭐


Bersambung.


Ikuti terus kelanjutan sikidal sang penolong dalam episode selanjutnya.


Bagi yang suka dengan cerita ini, dukung terus dengan like, comentar, saran, favorit dan juga vote.


Terima kasih atas dukungannya, semoga sukses selalu.

__ADS_1


Selamat membaca.


__ADS_2