
Senja kini telah datang, langitpun nampak memerah di barat di atas cakrawala bumi persada.
Penomena alam begitu indah di kala senja di atas lagit kota kembang, semilir angin berhembus memberi napas segar pada para penghuni bumi setelah seharian melakukan aktipitasnya.
Suasana di jalanan masih nampak ramai oleh berbagai macam kendara'an yang lalu lalang kesana kemari.
Para pedagang kaki lima masih nampak ramai menjajakan dagangannya di pinggiran trotoar jalan dari berbagai macam aneka makanan dan minuman.
Seperti halnya di sebuah pedagang yang menjual makanan khas daerah yaitu kue surabi, yang lagi di penuhi oleh pengunjung yang akan membeli makanan tersebut, seperti seorang pemuda yang berpostur tubuh tinggi dan otot-ototnya nampak terlihat kekar, lagi berdiri menunggu antrian.
Satu persatu para pembeli kue surabi itu sudah mendapat giliran, termasuk pemuda itu.
''Akang kasep bade ngagaleuh sabaraha?.'' Tanya tukang kue surabi itu pake bahasa sunda.
''Tiga puluh ribu aja teh, di tambah sepuluh ribu.'' Ucap pemuda.
Lalu tukang kue surabi itu kebingungan, dan bertanya pada pemuda tersebut.
''Atuh sekalian aja kang empat puluh ribu gitu.'' Ujar tukang surabi.
''Tidak teh, yang sepuluh ribu bukan buat saya.'' Jawab prmuda.
Setelah mendengar penjelasan dari pemuda itu baru lah tukang surabi itu mengerti, sambil manggut-manggut.
''Ooh begitu ya.'' Ujarnya.
Tidak lama kemudian kue surabi pesanan pemuda itu, sudah di bungkus menjadi dua bungkus, lalu pemuda itu membayar seharga empat puluh ribu.
Kemudian pemuda berjalan kearah seorang anak gelandangan dengan baju lusuh dan dekil, yang duduk melamun seperti menahan perut yang keroncongan, dipinggiran sebuah toko yang sudah tertutup.
''Dek nih,, sepertinya kamu lapar, makanlah mungkin makanan ini bisa mengenyangkan perutmu yang keroncongan.'' Ucap pemuda itu.
Alangkah bahagianya anak gelandangan itu, lalu mengambil bungkusan dari uluran tangan pemuda itu, dan setengah bersujud mengucapkan terima kasihnya.
''Terima kasiiiih pak, bapak sudah baik hati padaku.'' Ucapnya.
Lalu pemuda menurunkan tubuhnya dan duduk di samping anak gelandangan itu.
''Iya sama-sama nak, emang kamu gak punya orang tua,, kenapa kamu memilih hidup di jalanan?.'' Tanya pemuda itu.
''Saya hidup cuma berdua dengan adik saya, kedua orang tua saya sudah meninggal, di sa'at saya dan adik saya masih kecil, dan saya terpaksa hidup di jalanan demi sesuap nasi.'' Jawab anak gelandangan tersebut.
''Lalu adikmu di mana?.'' Tanya pemuda itu.
Sambil memakan kue surabi pemberian pemuda itu, anak gelandangan tersebut menjawab.
''Kami bertempat tinggal di sebuah gubuk di pinggiran kali belakang pasar ini, dan adiku disana menunggu saya pulang membawa makanan, makanya saya belum berani pulang, sebelum membawa makanan untuk adiku.''
__ADS_1
Tidak terasa, mendengar cerita dari anak gelandangan tersebut, pemuda itu seperti berkaca-kaca di kedua bola matanya, mungkin sangat terharu dan kasihan dengan nasib anak gelandangan tersebut.
''Lantas aktipitas sehari-hari mu apa, untuk menghasilkan uang?.'' Tanya pemuda itu.
''Biasanya saya kuli panggul disini bila ada barang yang datang, tapi semenjak saya sakit dan libur tiga hari, kerja'an saya sudah ada yang ngambil alih, makanya tiga hari ini saya kadang minta-minta, apa saja supaya saya bisa dapat duit, terkecuali mencuri saya tidak mau mendingan saya kelaparan dari pada harus melakukan kerja'an yang merugikan orang lain.'' Ujarnya.
''Emangnya kamu tidak punya saudara, bibi gitu atau paman atau juga pakde?.'' Tanya Pemuda itu.
Sejenak anak tersebut terdiam dan tidak langsung menjawab pertanya'an dari pemuda itu, lalu pemuda itu mengerti dengan pertanya'annya setelah melihat anak gelandangan tersebut seperti lagi di landa kesedihan.
''Ma'apkan abang ya, bila pertanya'an abang membuat luka di hatimu.'' Ujar pemuda itu.
Anak tersebut hanya menggelengkan kepalanya.
''Tidak apa-apa pak, saya punya paman adik dari ibuk, dan derajatnya cukup lumayan terhormat, tapi ...'' Ujarnya tidak di teruskan.
''Tapi kenapa?.'' Tanya pemuda itu mendesak.
''Tidak pantas pak untuk di ceritain, biar bagaimanapun dia masih paman saya, jadi cukup saya aja yang tau, karena beliaulah saya kehilangan kaka saya.'' Jelasnya anak tersebut.
''Ooh ya sudah, biarpun kamu tidak menjelaskannya, saya sangat paham, ooh jadi kamu punya kaka.'' Ucap pemuda itu.
''Iya punya, kata ibuku, ku punya kaka laki-laki, tapi entah di mana sekarang.'' Ujarnya.
''Lho ko bisa, kamu tidak tau keberada'an kakak mu itu?.'' Tanya Pemuda itu.
''Menurut cerita ibuk, waktu itu kakak masih berusia tiga tahunan lebih, ketika lagi ada hujan dengan badai petir, dan terjadi banjir bandang hingga menghanyutkan banyak barang-barang, waktu itu kaka lagi di gendong sama almarhum bapak, karena waktu itu para penduduk lagi di ungsikan ketempat yang lebih aman, yang kebetulan ada paman lewat bawa mobil losbak, ibuk pun menyerukan pada paman untuk ikut naik mobil tersebut, paman pun berhenti, dan ibuk sudah naik di atas mobil, sementara air semakin deras datang dari atas, dan ketika bapak sudah naik diatas mobil paman, paman langsung ngegas mobilnya, terus bapak kaget hingga kain yang di pake buat ngegendong kaka terlepas dan jatuh hanyut bersama kaka, ibu dan bapak berteriak teriak pada paman bahwa anaknya jatuh dan hanyut tapi tidak di gubris malahan semakin kencang mobil melaju, ke esokan harinya bapak dan ibu lapor pada rt dan rw, kemudian pencarianpun di gerakan sampai le ladang, kebun dan sungai, tapi si kaka tidak kunjung ketemu, nah dari situ bapak sampai dendam pada paman, hingga terjadi pertengkaran hebat, dan paman sampai babak belur, kemudian paman tidak terima, dan melaporkan bapak ke polisi, bapak pun tidak bisa berbuat apa-apa, akhirnya bapak dipenjara, sampai ajalnya menjemput.'' Dengan mendetilnya anak gelandangan itu bercerita.
''Emang bapakmu tidak ada yang membela, terus kenapa sampai meninggal di dalam sel?.'' Tanya pemuda itu.
''Karena menurut hukum ke polisian bapak salah, main hakim sendiri, dan semua bukti memberatkan semua pada bapak, bapak meninggal karena kepikiran dengan nasibnya si kaka.'' Ujarnya.
Dan setelah itu, waktu maghrib akan segera tiba, lalu pemuda itu pamit, sambil mencabut dompetnya.
''Ma'ap abang tidak bisa lama-lama di sini, karena sebentar lagi mau maghrib, dan lagi di tunggu sama anak dan istri, ini uang buat makan kamu dan adikmu besok, dan bila kamu perlu bantuan abang, ini kartu nama abang, datanglah jangan sungkan-sungkan.'' Ucap pemuda itu, sambil memberikan dua lembar kertas warna merah dan sebuah kartu nama.
''Aduh pak tidak usah, dikasih makanan ini juga saya sudah bersyukur.'' Ucap anak itu.
''Tidak apa-apa, terimalah, karena ini sudah menjadi rijkimu.'' Kata pemuda itu.
Dengan tangan agak gemetaran, anak gelandangan tersebut menerima uang yang di berikan oleh pemuda itu.
''Terima kasih pak, bapak sungguh mulia, semoga aja tuhan membalasnya lebih dari pada itu.'' Ucapnya.
''Iya sama-sama, ya sudah, abang cabut dulu ya.'' Ucap pemuda itu sambil memburu pada motornya, kemudian di nyalakannya dengan suara yang nyaring menusuk telinga.
Setelah pemuda itu pergi dengan mengendarai motornya lalu anak gelandangan tersebut pergi dari depan toko tempat ia duduk sebelumnya, kemudian ia melihat kartu nama yang di berikan oleh pemuda itu.
__ADS_1
''Nandi suryaman, pemilik bengkel dan perusaha'an distributor, dengan alamat jalan gang si'iran.'' Gumam anak gelandangan itu dalam hati.
Kemudian anak gelandangan tersebut bergegas pulang dengan membawakan makanan untuk adiknya.
Setibanya di tempat di sebuah gubuk pinggiran kali belakang pasar delima, lalu anak tersebut membukan pintu gubuknya itu.
''Dek, ini kaka pulang, hari ini kaka dapat rijki, ayo adek makan dulu.'' Panggil anak tersebut sambil memberikan bungkusan pada adiknya, seorang anak perempuan kira-kira berusia lima tahunan, lagi berbaring lemes.
Lalu sang kaka membangun kan adiknya dengan mengangkat pundaknya , yang nampak lemas karena seharian tidak makan, dan sang kaka memberikan segelas air putih aqua yang baru di belinya.
Dan setelah itu, dengan rasa sayangnya sang kaka pada adiknya, disuapinnya adiknya itu nasi bungkus yang dapat di belinya dari uang hasil pemberian pemuda yang bernama Nandi itu.
Tiga puluh menit kemudian sang adek menyuruh sang kaka untuk menghentikan nyuapin dirinya itu.
''Sudah dulu ka, perut adek sakit kalau harus menghabiskan nasi itu.'' Ucap adiknya itu.
''Iya adek, nanti bila perutnya sudah enakan nasinya di abisin ya.'' Ujar sang kaka.
''Iya ka, harus pelan-pelan, kan adek seharian tidak ke masukan apa perutnya.'' Ucap sang adek.
Setelah itu, wajah sang adek yang tadinya pucat pasi, kini seperti kembang yang abis di siram, nampak seger, seperti berdarah lagi, lalu sang adek bertanya?.
''Kaka dapat uang dari mana?.'' Tanya sang adek.
''Kaka dapat di kasih dek, olen abang tampan dan berhati mulya, malahan dia memberika kartu nama pada kaka, dan menyuruh kaka datang kalau butuh apa-apa.'' Jawab sang kaka.
''Emang siapa ka, abang tampan itu?.'' Tanya sang adek.
''Di kartu nama, dia bernama Nandi suryaman, dan rumahnya tidak terlalu jauh dari sini, di jalan gang si'iran dek.'' Ucap sang kaka.
''Baik sekali ya abang Nandi itu, padahal kan tidak kenal.'' Ujar sang adek.
''Iya dek, bagaiman kalau besok kita kesana siapa tau kaka dapat kerja'an di sana.'' Ucap sang kaka.
''Iih malu ka, kita kan cuma anak gelandangan yang dekil dan kotor.'' Ujar sang adek.
''Iya sih kaka juga kadang berpikir begitu, tapi abang Nandi pernah bilang, kalau butuh apa-apa suruh kesana, jangan sungkan-sungkan katanya.'' Ucap sang kaka.
''Ya sudah kalau begitu, bagaiman besok aja ya ka.'' Ucap sang adek.
Sementara hari pun sudah menjelang maghrib dan suara adzan pun sudah terdengar berkumandang, pemuda yang beli kue surabi yang tak lain adalah Nandi sudah sampai di depan rumahnya, lalu ia masuk dengan membawa bungkusan yang ber isi kue surabi.
************
Betsambung.
Jangan lupa sertakan like, comentar, jadikan favorit bila suka, berikanlah vote serta hadiahnya.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.
''Assalam mualaikum''