
Nandi dan kawan-kawan mencari para perampok yang lainnya, pas tiba disebuah ruangan terdengar suara gaduh.
''Cepat serahkan kunci brangkas itu, atau pak haji dan buk haji akan menyesal.'' Begitu suara yang terdengar dari dalam sebuah kamar yang tertutup.
Nandi memberi isarat pada kedua sahabtanya itu, sambil berbisik.
''Mal dan lo' pan kalian pergi ke lantai dua, gua mencium aura tak beres dilantai dua, cepetan.'' Ucap nandi.
''Baik di.'' Jawab kamal dan pandi.
kamal dan pandi lalu pergi kelantai dua, dengan pelan-pelan mereka menaiki tangga.
Sementara nandi lalu mendekati pada pintu kamar pak haji jaelani, terus nandi mendorong pintu itu pelan-pelan, tapi sepertinya pintu itu sengaja dikunci dari dalam oleh perampok itu.
Terus nandi mundur kebelakang beberapa langkah Setelah itu kaki nandi ditendangkan pada pintu yang dikunci dari dalam itu.
Bug jebreeeddd beledag.
Sebuah pintu panel langsung terbuka lepas dari selot kuncinya.
Dan semua yang ada didalam kaget yang amat sangat termasuk kepala rampok itu, seperti mau melompat karena kagetnya, seolah-olah jantungnya mau lepas sedangkan ibuk haji jaelani langsung pinsan karena kaget oleh bunyi suara pintu yang ditendang oleh kekuatan tenaga nandi.
Pak haji mohon tenang saya akan menolong pak haji dari perampokan ini.'' Ucap nandi.
Sang kepala rampok langsung memerah mukanya karena merasa aksinya sudah dikacaukan oleh nandi.
''Haii kuya, mau jadi sok pahlawan rupanya hah, belum tau siapa si murdok.'' Gerutu kepala rampok itu.
''Ooh jadi nama abang itu murdok, pantesan aja.'' Ucap nandi.
''Pantesan apa'an hah.'' Bentak kepala rampok.
''Murdok itu muka buruk kaya kodok, hahaha.'' Celoteh nandi sambil tertawa puas.
Pak haji jaelani yang tadinya sudah pucat mukanya karena takut sama ancamannya si murdok, kini bisa tertawa pas mendengar perkata'an nandi dua menit yang lalu.
''Kurang asem siah, kuhabisin kau kurang ajar.'' Teriak murdok sambil melepaskan pukulannya ke arah nandi.
Dengan mudahnya nandi mengelak pukulan dari murdok, kaki kiri nandi digeser kebelakang begitu murdok mau melepaskan pukulan susulan dengan tangan kiri ke arah pelipisan, nandi mengkapernya dengan tangan kanan.
Maka dengan cepatnya elbo nandi menghantam dagunya murdok.
Tubuh murdok mundur kebelakang tiga langkah, sambil menahan keseimbangan tubuhnya.
Murdok lalu mencabut belati dari balik jaketnya, terus murdok melompat mau menikamkan pisau tersebut kearah nandi, terus nandi menghindar ke kanan satu langkah, lalu nandi membalikan badannya sambil meluncurkan tendangan kaki kanannya.
Deeaasss...
Sebuah tendangan nandi menyambut tubuh murdok .
Treeaaang..
Pisau belati itu jatuh ke lantai geranit, tapi murdok seperti tidak merasakan apa-apa.
''Gilaa kuat amat nih orang, benar kata orang-orang dia punya ilmu kebal.'' Gerutu nandi dalam hatinya
Murdok terus membabi buta menyerang nandi.
Kini ruangan pak haji jaelani menjadi acak acakan, nandipun menyuruh pak haji jaelani membawa istrinya keluar dari ruangan itu, demi menghindari hal yang tidak di inginkan.
Sebruuuuttt.
Murdok mengirim gempuran tinjunya lagi, mengarah pada ulu hati nandi.
Plaaakkk.
Nandi menguntingnya dengan tangan kanan, sambil memiringkan tubuhnya sedikit, dan disa'at murdok lagi lengah, nandi memasukan elbonya.
Duukk..
''Aduh.'' Suara murdok mengaduh sambil mundur dua langkah, disa'at itu pula nandi langsung menyusulnya dengan pukulan sikidalnya.
__ADS_1
Hiiiuuuukkk.
Jebroood.
Adaaaaaauuuuuuwww.
Murdok terpelanting tubuhnya ketembok, karena kerasnya pukulan yang mematikan dari nandi.
Blaaaaakkk.
Tubuh murdok jatuh menimpa lantai geranit.
Terus nandi mendekatinya dengan hati-hati takut itu cuma siasat murdok belaka.
Setelah diketahui bahwa murdok benar-benar pinsan lalu nandi mengeluarkan tali dari saku jaketnya, terus diraihnya kedua tangan murdok sambil ditarik kebelakang dan langsung di ikatnya, supaya tidak melarikan diri, untuk diserahkan pada pihak yang berwajib.
Tubuh murdok yang lagi dalam keada'an tengkurep, dibangunkannya oleh nandi, terus disenderkan pada sudut tembok ruangan itu.
Sementara kamal dan pandi yang sudah memberi pertolongan pada kedua anak gadis pak haji jaelani, yang mau digangu keperawanannya oleh kedua temannya murdok.
Untung kamal dan pandi cepat naik kelantai dua, telat sedikit saja kedua temennya murdok berhasil menodai kesucian kedua gadis anaknya pak haji jaelani itu.
Kedua gadis itu sangat senang dengan adanya pertolongan dari kamal dan pandi.
''Terima kasih bang.'' Ujar kedua gadis itu.
''Iya neng sama-sama, sekarang neng temuin bang nandi atau bangn kidal dibawah, yang lagi menolong orang tuamu, cepet telpon polisi, biar bajingan ini gua ledot.'' Ucap kamal sambil memasang kuda-kuda.
''Hai bajingan tengik, insaplah sebelum jurus cimande gua menyadarkan lo' berdua.'' Ujar kamal.
''Hahaha, dasar singa ompong mau nakut-nakutin kita, rupanya.'' Jawabnya sambil tertawa dan saling pandang dengan temannya.
Pandi tiba-tiba tertawa terkekeh-kekeh, entah apa yang dilihatnya.
''Hahahahahahaaa... Mal coba lo perhatikan yang rambutnya kriting itu, lucu sekali tidak ada tampang untuk jadi perampok.'' Ucap pandi.
''Hahaha, iya benar pan.'' Ujar kamal, tertawa lrpas.
''Haii kuya, ngapain lo tertawa sudah gila rupanya.'' Bentaknya.
''Hehehe, tenang dulu kang kriting jang emosi, gua saranin ya, lo itu gak ada tampang buat jadi penjahat, mendingan lo' ikut audisi akademi pelawak indonesia, dari tampang nya aja lo' sudah lucu, gua yakin lo' pasti akan tenar deh, dan banyak duit, hahaha.'' Ucap pandi penuh ejekan.
''Dasar kuya buntung, ku hajar kau, heaaa.'' Teriak sirambut kriting, melompat kearah pandi sambil mengayunkan tinjunya.
Pandi dengan tenangnya menghadapi serangan sirambut kriting, cukup dengan menggeserkan kaki kirinya dua puluh derajat, terus disambut nya luncuran tinju si kriting itu, dengan kepalan tangannya yang besar.
Deeaaassss....
Kini kedua tinju bearadu banteng.
Adaaww.
Sirambut kriting meringis kesakitan, seperti meninju sebuah batu, sambil memegang pergelangan tangannya.
Sementara kamal dan yang satunya lagi, sudah terlibat perkelahian yang cukup menegangkan.
kelebatan-kelebatan sebuah pukulan terus saling serang dan saling terjang.
Kamal yang mempunyai postur tubuh gempal, dan dikaruniai sebuah tenaga yang kuat.
Dengan cepatnya kamal menangkis tendangan perampok itu, terus di tarik nya sedikit, setelah itu kamal meraih kaki kirinya perampok itu setelah berada dalam cengkramannya, kamal langsung menariknya dan dibantingkannya tubuh perampok itu kelantai.
Blaaakk.
Tubuh perampok itu menimpa lantai, begitu perampok itu mau bangun dan mencabut sebuah pisau dari balik bajunya.
Sepintas terlihat oleh pandi perampok itu mengeluarkan sebuah pisau, tidak menunggu lama lagi pandi melompat sambil menendang tangan perampok yang lagi memegang pisau itu.
Siiiuuurrr.
Pralak.... trueeng.
__ADS_1
Sebuah pisau lepas dari genggaman perampok itu dan meluncur menimpa dinding tembok.
Kamal sangat kagum pada pandi yang sudah peduli akan keselamatan dirinya.
Dan setelah itu perampok itu pun terbangun agak sedikit sempoyongan sambil memegang pinggangnya.
''Ayo mau dilanjut, apa mau menyerah, sebelum masa berbondong-bondong menghakimi kalian semua.'' Ujar kamal.
Kedua perampok itu tidak bicara sedikitpun hanya saling pandang dengan temannya itu.
Pandi yang antisipasi, dan menyaksikan gerak gerik dari kedua perampok itu seraya brrkata.
''Heh jangan coba-coba kalian untuk kabur ya.'' Ucap pandi.
Selang beberapa menit setelah pandi bicara begitu, terdengar langkah orang berlari dengan suara langkah seperti bersepatu.
Dan tidak lama kemudian.
''Jangan bergerak.'' Ujarnya.
Ternyata yang datang itu pasukan dari kepolisian, yang sudah di hubungi oleh nandi.
''Itu pak kedua orang itu, mau mencoba melakukan aksi perampokan.'' Ucap pandi.
Polisi itu pun langsung meringkus kedua perqmpok itu.
''Terima kasih sudah bekerja sama dengan pihak kami, ini adalah yang lagi di cari-cari oleh tim kami selama ini.'' Ujar pak polisi.
''Iya pak sama-sama, perampok ini sudah sangat meresahkan masyarakat.'' Ucap kamal.
''Apakah anda berdua temannya nandi?.'' Tanya polisi.
''Iya betul pak.'' Jawab mereka berdua.
Tidak lama kemudian para polisi itu pun membawa para perampok yang dipimpin oleh murdok, keluar dari rumahnya pak haji jaelani.
Ke empat para perampok itu lalu dimasukan kedalam mobil, dalam keada'an tangannya di borgol.
Dan polisi yang mengendarai sebuah motor patroli, berjalan menuju pada nandi, kamal, pandi dan keluarganya pak haji jaelani.
''Sekali lagi pihak kami sangat berterima kasih pada anda bertiga, yang sudah bejerja sama dengan baik untuk memberantas kejahatan.'' Ucap komandan polisi itu.
''Sama-sama pak.'' Jawab nandi.
''Siapa yang pertama tau kronologi terjadinya perampokan ini?.'' Tanya komandan polisi.
''Kami pak.'' Dari belakang menjawab.
Terus polisi itu menoleh ke arah suara yang menjawab pertanya'annya itu.
''Baik, bapak bertiga sebagai apa disini?.'' Tanya pak polisi.
''Mereka satpam yang saya bayar untuk menjaga rumah saya pak.'' Pungkas pak haji jaelani memotong pembicara'an.
''Ooh begitu pak haji, dan bapak-bapak ini apakah bapak bersedia untuk memberikan keterangannya pada tim kami?.'' Tanya pak polisi.
''Siap pak, kami siap untuk memberikan keterangan sejujur-jujurnya.'' Jawab satpam tersebut..
''Baik kalu begitu, bapak bertiga ikut kami sekarang ke kantor pilisi, untuk dimintai keterangannya.'' Ucap polisi tersebut.
''Siap, laksanakan.'' Jawabnya.
Selepas itu para polisi dan ketiga satpam itu langsung pamit pergi meninggalkan rumahnya pak haji jaelani.
Sementara pak haji jaelani nampak terlihat masih sok dengan kejadian yang menimpa dirinya dan keluarganya yang hampir merenggut nyawanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bersambung.
Terima kasih atas dukungan like, comentar, favorit, ranting dan votenya
__ADS_1
Semoga sehat-sehat dan sukses selalu, aamiin.