
Ke esokan harinya, sebelum matahari keluar menerangi bumi persada.
Pukul 06:00
Gito sudah melajukan kendara'annya dijalan raya delima, jalanan yang datar dengan aspal tebal menambah laju motor yang Gito kendalikan semakin kencang.
Jalanan yang masih belum terlalu di padati oleh kendara'an lain, tentu saja sangat memudahkan bagi Gito untuk mempercepat speednya.
Ketika Gito sudah belok ke kanan di sebuah tikungan tajam yang mau memasuki kawasan jalan mengkudu, begitu indahnya dan sebuah skill yang cukup berkelas, bila di lihat dari belakang, sa'at kendara'annya miring tiga puluh derajat, dan lutut Gito yang hampir menyentuh aspal, ditambah suara motor yang begitu nyaring dan di hiasi dengan asap putih yang meniup keluar bagaikan sebuah loco motip.
Tidak lama kemudian Gito sudah menurunkan speednya, ketika sudah mau memasuki jalan gang Mawar, lalu Gito belok masuk ke jalan yang kecil dengan banyaknya polisi tidur di sepanjang jalan gang tersebut.
Tujuh menit kemudian Gito sudah memasuki pekarangan rumah yang semalam ia kunjungi, lalu Gito berhenti dan di pijitnya sebuah tombol klakson.
Tid
Tidid...
Lalu setelah itu, seorang gadis yang berpakaian tomboy keluar dengan menggendong sebuah tas di punggung, yang di ikuti oleh lelaki paruh baya dan wanita berusia 45 tahunan.
Gito pun melangkah menghampiri mereka dan menyapanya.
''Assalam mu'alaikum, Om, Tante, selamat pagi.'' Sapa Gito sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman.
''Wa alaikum salam, met pagi juga.'' Jawabnya, menyambut huluran tangannya Gito.
Lalu Gito menatap pada Mira sambil melemparkan pertanya'an?
''Lo' sudah bilang belum pada orang tuamu?.'' Gito bertanya.
''Ya sudahh atuh mas.'' jawabnya.
Kemudian Gito berkata pada kedua orang tuanya Mira.
''Oom, Tante, ma'ap sebelumnya, kalau ku tidak memberi tau, perihal Mira yang mau bekerja di tempatnya bos aku.''
''Iya nak gito, semalam Mira sudah memberi tau Om dan Tante, kami sangat berterima kasih banyak atas kebaikanmu, sudah memasukan Mira untuk kerja di tempat bos kamu.'' Ujar orang tuanya Mira.
''Hanya kebetulan saja. Om, Tante, lagi ada lowongan, kalau begitu aku dan Mira berangkat dulu ya, takut keburu macet dijalannya.'' Ucap Gito.
''Iya, kalian hati-hati, nak Gito. Om dan Tante titip Mira ya! dan beri nasehat bila ada salah dalam bekerjanya.''
''Iya Om, Tante.'' Ujar Gito.
Selepas itu, Gito pun langsung pamit pada kedua orang tuanya Mira, untuk berangkat.
Motorpun sudah di nyalakan, lalu Mira naik dan duduk di jok belakangnya Gito.
Tid
Tid....
Suara klakson berbunyi, sedangkan kedua orang tuanya Mira berdiri di depan teras rumahnya, sambil memandang mengiri kepergiannya gito dan anaknya Mira yang lagi meluncur dengan sepeda motornya, sampai hilang lenyap dari pandangan karena jarak yang semakin jauh.
Pukul 06:30 menit.
Gito sudah memasuki jalan raya delima, Setelah itu Gito menyalakan lampu sennya ke kiri yang mau memasuki ke kawasan jalan gang Si'iran.
lima menit kemudian, Gito pun telah sampai di tempat, lalu gito memarkirkan motornya di samping bengkel, selepas Gito dan Mira turun dari motornya, munculah Toglo dengan sepeda gunungnya.
''Widiiih sepedamu tambah keren aja glo, lho ko joknya dipasang dua?.'' Ujar Gito penuh pertanya'an.
''Iya bang, kan aku berangkat sama adiku, btw ini siapa? pacar abang.'' Ucap Toglo, sembari menolehkan wajahnya pada Mira.
''Kenalin ini Mira, Sahabat lama gua.''
Lalu Mira pun mengulurkan tangannya memperkenalkan dirinya pada Toglo(Wanda).
''Kenalin gue Mira.''
Toglo pun langsung menyambut uluran tangannya Mira ''Aku Toglo, tapi nama asliku Wanda, dan orang-orang biasa memanggil dengan sebutan Toglo.
__ADS_1
''Wah, lantas gue harus nyebut yang mana yah.'' Ujar Mira bingung.
''Ya terserah teh Mira aja, maunya memanggilku apa.'' Ujar Toglo.
''Oke kalau begitu, gue panggil lo' Wanda aja, biar lebih keren kedengarannya.
''Terima kasih teh Mira, bentar ku mau bukain dulu Pintu rolling dor.'' Ucap Toglo.
Selepas Toglo membuka pintu rolling dor, kemudian di keluarkannya kursi-kursi dan di tatanya serapi mungkin.
''Ayo silahkan duduk, teh Mira mau minum apa, kalau bang Gito sudah pasti kopi.'' Ujar Toglo.
''Apa aja boleh, kopi juga demen ko, tapi kadang-kadang, ya sudah teh hangat aja pake gula dikiiiit aja.'' Ujar Mira.
''Oke.'' Jawab Toglo singkat.
Sementara Gito sibuk dengan handponnya, memberi kabar pada Nandi melalui aplikasi whatssap dengan mengirimkan sebuah chat, bahwa Mira sudah sampai di tempat.
Nandi membalasnya dengan sebuah kata oke dan suruh tunggu pada Gito, yang sebentar lagi segera kesitu.
Tidak lama kemudian Nandi datang, dengan masih memakai pakaian celana pendek selutut dan kaos oblong warna hitam, lalu mengucapkan Salam.
''Assalam mu'alaikum.''
Gito, Mira dan Toglo menjawab salamnya dari Nandi ''Wa alaikum salam.''
''Wah gimana Mir kabar lo' sekarang, waduuh sekarang tambah gemuk aja tuh badan lo'.'' Ucap Nandi sambil salaman.
Mira pun menyambut salamnya dari Nandi.
''Kabar ya baik-baik aja bang, masa iya sih bang perasa'an gue masih tetap kaya dulu ko.''
''Kalau lo' gak percaya, coba aja lo tanya sama Gito.'' Jawab Nandi.
Lalu Mira pun memandang pada Gito dengan muka datar, tapi tak lepas dari gayanya yang tomboy.
''Emang bener mas, badan gue sekarang gemuk?.''
''Iya sih, agak gemukan dikit.'' Jawab Gito.
Sebelum memulai pembicara'annya Nandi menyuruh Toglo untuk bikinin kopi kesuka'annya.
Tak lama lagi Toglo alias Wanda datang membawakan dua gelas kopi dan satu gelas teh hangat.
''Ayo di minum.'' Ucap Nandi.
''Iya bang, terima kasih.'' Ujar Mira.
Lau Nandi membicarakan masalah pekerja'an yang akan Mira handle.
''Begini Mir, tadinya saya bikin kedai ini hanya untuk pekerja saya aja dan toglo yang ngelayanin para pembeli, tapi sekarang-sekarang ini semakin ramai pengunjung, sedangkan Toglo kerja di bagian bengkel, gak akan ke uber tentunya, makanya semalam saya ngebel Gito, kebetulan lagi berada di tempat kamu, bagaiman kira-kira kamu mau kerja di kedai saya ini.'' Ucap Nandi.
Mira pun sangat senang mendengarnya, Karena bisa berkumpul lagi dengan para sahabat lamanya.
''Tentu saja ku mau banget, karena ku juga tidak punya kegiatan, dan bisa berkumpul lagi dengan sahabat lama.'' Ujar Mira.
Ketika itu pula muncul Kamal dan Hasan dengan kendara'annya sambil menolehkan mukanya pada Mira, sambil menyapa dengan senyuman persahabatan.
Setelaah kendara'annya terparkir Kamal dan Hasan datang menghampiri.
''Buseet dah, sekian tahun kita tak jumpa, lo' tambah cantik dan gemuk aja.'' Ujar Kamal sambil salaman.
Lalu Hasan pun memberi salam pada Mira.
''Gimana kabarnya Mir, widiiih kulit lo' sekarang makin putih aja.''
''Ah bang Hasan bisa aja.'' Ujar Mira.
''Bagai mana ceritanya lo' bisa ada disini.'' Pungkas Kamal.
''Kalian kurang impor masi sih, Mira dan Gito kan sudah jadian.'' Ucap Nandi.
__ADS_1
''Masaa iya, waah cakep ternyata akhirnya lo' jasun ketemu juga sama jodoh lo'.'' Ujar Kamal sambil menepuk punggung Gito.
''Dasar kamaludin, lo' tuh kebiasa'an ya, emang lo' doang yang bisa dapatkan cewe cantik.'' Saut Gito.
Mira hanya tersenyum mendengar celotehan para sahabat lamanya itu.
Kemudian Gito pun pamit pada Mira untuk berangkat kerja.
''Mir gua berangkat dulu ya, lo hati-hati kerjanya, jaga kesehatan.
''Iya mas, kamu juga hati-hati di jalan.'' Jawab Mira.
Lalu Kamal dan Hasan ikut nimrung.
''Ciee-ciee, perhatian amat tuh mas Gito.'' Ujar Kamal.
''Ya iya dong.'' Jawab Gito.
''Siipp lah, gua dukung semoga sukses, sampai ke pernikahan.'' Pungkas Hasan.
''Amiiin.'' Ujar Gito
Kemudian Setelah itu Astuti datang, memanggil Kamal.
''Aa Kamal, tolong panasin motor gue dong.''
Kamal pun langsung berajak dari tempat duduknya, lalu Gito seperti ada kesempatan untuk ngejek balik pada Kamal.
''Nah gitu dong, kalau sama calon istri lo' harus perhatian, ini mah giliran di suruh baru mau, betul tuh Tut, pada calon suami harus di ajarkan giat, Hahaha.'' Ujar Gito merasa bahagia karena bisa balas mengejek.
''Iya bener Tut, Kamaludin agak sedikit pemalas.'' Pungkas Hasan ikut bicara.
''Dasar, Jasun sue lo', dan lo' Hasan bin maun, enak ya bisa ngetawain gua.'' Gerutu Kamal sambil melangkah keluar dari ruangan kedai.
Nandi hanya tersenyum menyaksikan mereka, yang selalu bikin suasana jadi penuh warna.
**********
Singkat cerita.
Hari pun kini telah senja, semburat cahaya merah jingga telah menghiasi langit di atas kota kembang.
Toglo(Wanda) yang lagi menggoes sepedanya dengan berboncengan dengan Wawan adiknya, karena Wiwin hari itu tidak ikut serta, Wiwin memilih untuk menemani nenek Jumi di rumah.
Sang kaka dengan penuh rasa sayang dan penuh tanggung jawab, untuk melindungi adik-adiknya, terus mengayuh sepedanya yang sudah memasuki kawasan gang Sawah, sang adik yang duduk nangkring di jok bagian belakang, mengajak ngobrol pada sang kaka, dan sang kaka menjawab layaknya seorang ayah pada anaknya.
''Bang matahari senja begitu indahnya ya.'' Ucap Wawan.
''Iya dek, itulah keindahan cipta'an Allah, yang mesti kita syukuri.'' Jawab Wanda.
''Kalau lihat warna merah jingga di sebelah barat, ku terasa di ingatkan pada ibuk, yang selalu memberikan nasehat sambil memandang ke arah barat.'' Ujar Wawan.
''Adek tau kuburan ayah ibuk dimana?.'' Tanya Wanda.
''Ya tau bang.'' Jawab Wawan.
''Gimana kalau besok kita pergi berjiarah ke makam ayah dan ibuk.'' Ujar Wanda.
''Ayo bang, kita tengok ayah dan ibuk, tapi aku belum pintar baca alqur'annya.
''Dengan mendoakan pada orang tua kita supaya mendapat surga di sisi Allah, itupun akan meringankan beban ayah dan ibu atas dosa-dosa selama hidup di dunia.'' Ucap Wanda.
Karena asiknya mereka ngobrol, hingga tidak terasa Wanda dan Wawan pun telah sampai di depan rumah, lalu keduanya turun dari sepeda.
*******
Bersambung.
Terima kasih pada kaka-kaka author, dan para reader, atas dukungannya.
__ADS_1
Salam sehat dan sukses selalu.
''Assalam mu'alaikum''