
Pukul 16:30 menit.
Iring-iringan kendara'an yaitu Nandi, Astuti, Pandi dan Gito beserta ketiga anak buah Gito, yang semua mengendarai motor yang sama yaitu Yamaha Rx king, cuma Astuti yang beda dia lebih suka dengan merek Honda.
Suasana di sore hari semakin berwarna ketika enam motor yang sama melaju beriringan, dengan tidak terlalu kencang.
Astuti berada di barisan paling tengah, di iringi oleh ke tiga anak buahnya Gito.
Sementara Nina mengendarai mobilnya paling belakang.
Ketika mereka telah memasuki jalan raya Delima, Pandi berhenti, dan yang lainnya pun ikut berhenti, termasuk mobil Honda jaz milikmya Nina pun ikut berhenti.
''Ma'ap ya kawan, gua tidak bisa bareng, karena gua harus nganterin dulu Nina sampai ke citra loka indah.'' Ujar Pandi.
Kemudian Nina pun membuka kaca mobilnya lalu berkata.
"Ma'ap ya sahabatku semua, ku gak bisa bareng sama kalian karena arah menuju kerumahku tidak searah dengan kalian.'' Sapa Nina yunita.
"Iya tidak apa-apa, kalian hati-hati ya, Pan anterin Nina sampai depan rumahnya.'' Pungkas Astuti.
"Itu pasti dong." Jawab Pandi.
"Ya sudah, kalian hati-hati dijalan jaga keselamatan.'' Ucap Nandi.
Selepas itu Nina langsung melajukan mobilnya yang di ikuti oleh Pandi, mengantarkan sang kekasih pulang ke rumah.
Sebenarnya Nina pingin Pandi yang nyetir mobilnya, berhubung Pandi membawa kendara'an yang gak mungkin ditinggalin di tempat kerja, karena suka ada keperluan mendadak.
Singkat cerita.
Nina sudah tiba di depan gapura citra loka indah, lalu Nina pun membelokan setirnya ke kiri memasuki jalan utama citra loka indah, begitu tiba di pos penjaga Nina pun tak lupa menyapa pada para scurity yang lagi tugas di hari itu.
"Selamat sore pak." Sapa Nina sambil tersenyum, yang di ikuti oleh Pandi.
"Sore kembali Non, baru pulang nih.'' Jawab security.
"Iya pak, mari..'' Ucap Nina.
"Monggo Non." Ujarnya
Nina pun langsung melajukan mobilnya menuju kerumahnya, di jalan Impala blok G, Tidak lama kemudian Nina telah tiba di depan rumahnya, lalu Nina memijit tombol klason, sebagai tanda pada petugas penjaga rumahnya untuk membukakan pintu gerbangnya.
Sang satpam pun langsung keluar dari pos penjaga, untuk membuka pintu gerbang.
Seroloooookkk...
Satpam mendorong pintu gerbang tersebut, Ninapun langsung melajukan mobilnya memasuki halaman rumah dan Pandi mengikutinya dari belakang.
Setelah mobil terparkir, Nina pun keluar dan berkata pada petugas yang lagi jaga.
"Pak terima kasih ya." Sapa Nina.
"Iya Non sama-sama." Jawabnya
Kemudian Nina mengajak Pandi untuk masuk kedalam.
"Aa masuk dulu ya." Ajak Nina.
"Okee siapa takut." Jawab Pandi.
"Biasa aja kali Aa, emangnya bokap sama nyokap gue galak apa?.'' Ujar Nina bertanya.
''Ya bukan begitu maksud gua sayang, ya di suruh masuk kenapa gak mau, kan di dalam pasti banyak makanan, hehee.'' Ujar Pandi tersenyum sedikit.
__ADS_1
''Iih aa Pandi, ada-ada aja, iya sih banyak, mau makan apa ayo, nanti gue sediain.'' Ujar Nina.
Sejenak Pandi termenung sambil garuk-garuk tapi tidak gatal, dan setelah itu Pandi berkata.
"Oke, Gua minta beuleum taleus.'' Ucap Pandi.
Nina mengerutkan jidatnya, seperti baru mendengar kata-kata itu.
"Apa tuh beuleum taleus?." Tanya Nina.
Pandi tertawa melebar, melihat Nina yang seperti kebingungan dengan perminta'annya itu.
Setelah itu mereka pun masuk kedalam rumah, Pandi duduk di kursi, di ruangan tamu, sedangkan Nina langsung ke ruangan dapur menemui ibunya, nampak ibuk Yola yohana lagi sibuk memasak, mempersiapkan makanan untuk makan nanti bersama suami dan anaknya.
"Assalam mualaikum mah." Sapa Nina.
"Wa alaikum sallam eeh putriku sudah pulang.'' Jawab ibuk Yohana.
"Iya mah, ku di antar sama aa Pandi." Ujar Nina.
"Oh ya, lalu dimana sekarang, kenapa gak di ajak masuk aja." Ujar ibuk Yohana.
"Udah, sekarang dia lagi di ruangan tamu." Jawab Nina.
Setelah itu ibuk Yola yohana langsung menemui Pandi yang lagi duduk di kursi.
"Eeh nak Pandi, gimana kerja'annya?.'' Tanya ibuk Yohana.
"Baik-baik aja Tante.'' Jawab Pandi sambil mengulurkan tangannya memberi salam.
"Syukur deh, hebat ya nak Nandi, masih muda tapi bisa mengembangkan bisnis dengan cepat." Ujar ibuk Yohana.
"Iya Tante, karena Nandi pekerja keras ulet dan giat sekali dalam hal apapun." Ujar Pandi.
"Iya sih, kalau orang tekun dan pantang menyerah pasti akan meraih ke suksesannya, ma'ap ya Tante tinggal dulu, lagi masak tanggung, biasa buat nyiapin nanti." Ujar ibuk Yohana.
"Oh tidak ko." Jawab ibuk Yohana.
Setelah itu munculah Nina, dengan membawakan segelas kopi hitam dan makanan cemilan.
"Kopi dulu aa, maap yang aa minta gak ada." Ujar Nina.
"Hehee, tidak apa sayang, gua kan bercanda, jangan di ambil hati." Ujar Pandi.
"Bagaimana kalau ngopinya di luar, ditaman samping rumah sambil menikmatan alam di sore hari." Ajak Nina.
Kemudian mereka berjalan keluar rumah, menuju pada taman yang berada di samping rumah.
Semilir angin di sore hari membuat mereka semakin asik ngobrol berdua, bercanda, tertawa riang, sunguh pasangan dua sejoli yang begitu harmonis dan romantis, terkadang ada kendala di antara mereka tapi itu tidak sampai berlangsung lama.
Nina dan Pandi duduk berhadapan saling pandang, seperti lagi mencurahkan isi hatinya melalui tatapan indah.
Perlahan Pandi menggeser tangannya dengan ala laba-laba berjalan, Nina tersenyum manis menambah ayu wajahnya, ketika uraian rambutnya di terpa angin menari, dikala Pandi menatap indah wajahnya, kemudian Pandi berkata bersama'an dengan sentuhan tangannya.
"Kau begitu cantik sekali sayang." Ujar Pandi sambil melemparkan senyuman.
"Mulai deh ngegombal." Ujar Nina.
"Ngegombal pada pacarnya gak masalah kan, asal jangan pada semua wanita." Jawab Pandi.
"Iya enggak sih, Tanks ya aa sudah mencintaiku setulus hati." Ujar Nina.
"Sama-sama sayang." Jawab Pandi.
__ADS_1
Setelah itu Nina pindah duduknya jadi sejajar dengan Pandi, lalun Nina menyandarkan tubuhnya di dada Pandi yang lebar, pandi pun langsung merengkuhnya dengan cinta dan kasih sayang.
Angin yang terus menerpa, seakan menjadi saksi dua insan yang lagi duduk.
Perlahan Pandi mendekat kan wajahnya pada wajah Nina yang lagi bersandar di dadanya, tanpa di sadari sebuah sentuhan lembur dari bibir Pandi telah mendarat di keningnya Nina.
Rasa hati yang berbunga-bunga kini Nina rasakan, nampak terlihat di paras wajahnya yang mekar berseri-seri, karena dari mulai ia menginjak bangku sekolah dasar hingga lulus di uni versitas, baru dua lelaki yang mencium keningnya, yaitu ayahnya Ardi juna pranata selalu mencium keningnya di kala Nina lagi tertidur.
Kini ia merasa seperti punya pelindung selain dari sang ayah.
"Makasih aa, cintamu begitu tulus padaku, rasanya kita pingin cepat-cepat menikah menyusul Astuti dan Kamal, tapi sa'at ini ku belum siap, masih pingin bekerja mencari pengalaman." Ujar Nina bernada sendu.
"Iya sayang, janganlah terburu-buru, kita jalani aja dulu hubungan kita, berjalan seiring dengan takdir dari semesta." Ucap Pandi.
"Ternyata ku tidak salah memilih pria." Ujar Nina.
"Maksudmu?." Tanya Pandi.
"Iya, Pandi adi supraja ternyata bukan pria egois, tapi pria yang penuh kelembutan, ku gak nyangka aa lahir dari sebuah kehidupan di jalanan, tapi ketika dengan wanita aa bisa memberikan keharuman bunga mawar." Ujar Nina.
"Aah kamu bisa aja, ku cuma pria sederhana dan terlahir dari keluarga sederhana pula, gak usah berlebihan memuji aku." Ujar Pandi sambil mencium pipinya nina
Nina sampai terpejam matanya merasakan kelembutan ciuman Pandi di pipinya, serasa dunia ini miliknya mereka berdua.
********
Pukul 17:20 menit.
Pandi mulai pamit pada Ibuk Yola yohana ibuknya Nina, untuk pulang karena waktu yang sudah mulai senja.
Selepas itu Pandi pun sudah menaiki motornya, lalu menarik gasnya perlahan dan motor Yamaha Rx king cobra melaju keluar dari halaman rumahnya Nina.
Nina mengiringi kepergiannya sang kekasih dengan sebuah tatapan sambil berdiri di depan gerbang, Nina terus memandang kepergiannya Pandi sampai pandi tidak nampak lagi karena di telan jarak yang semakin jauh.
••••••••
Sementara di tempat lain, Nandi lagi duduk di temani oleh Sindi dan Anggita, sambil memandang ke arah barat, melihat semburat cahaya merah jingga di atas cakra wala.
Angita yang tidak henti-hentinya berbicara sambil menunjuk ke atas langit yang di hiasi cahaya lembayung senja.
''Ayah, ibuk coba lihat awan yang agak kehitaman begitu indah mirip seperti orang lagi duduk.'' Ujar Anggita.
"Iya sayang, itulah ke kuasa'an sang pencipta, kalau kita kaji lebih dalam, betapa besarnya ke agungan sang pencipta, yang harus kita syukuri, karena banyaknya nikmat yang kita rasakan yang tidak terhitung." Ujar Nandi.
"Iya dek gita sayang, kita harus banyak bersyukur, atas nikmat yang telah kita rasakan." Pungkas Sindi.
"Iya ibuk, ayah, ku juga bersyukur punya ayah dan ibuk yang perhatian dan selalu membing-bingku ke jalan yang benar." Ucap Anggita.
Nandi dan Sindi saling pandang sambil melemparkan senyumannya, lalu keduanya bergerak mendekati Anggita, dan di elus-elus rambut Anggita dengan penuh cinta kasih.
Tidak lama kemudian hari pun mulai gelap agak remang-remang, pertanda pergantian hari sudah semakin dekat, dan setelah itu terdengarlah suara adzan maghrib.
Nandi, Sindi dan Anggita, langsung mengambil air wudhu.
Kemudian mereka pun langsung menunaikan ibadah solat maghrib berjama'ah, kali ini Nandi tidak solat di masjid, melainkan di rumah menjadi Imam untuk istri dan anaknya.
******
Bersambung.
Jangan lupa sertakan like, comentar, jadikan favorit bila suka, berikan votenya serta hadiah.
Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.
__ADS_1
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi kaum muslimin dan muslimat.
"Assalam mu'alaikum"