
Setelah Toglo dan Gito mendapatkan impormasinya, keduanya pun langsung pulang dengan membawa satu karung barang rongsokan, dan di jualnya di Bandar barang rongsokan, tadinya mau di jual di tempat pak Dirman tapi ke jauhan.
Hasil dari barang itu Toglo akan memberikannya pada orang yang tidak mampu begitu pun Gito.
Mereka terus berjalan menuju pulang ke Gang Si'iran, samar-samar dari ke jauhan Toglo dan Gito melihat dua orang bocah pengamen di bawah kolong jembatan, lagi di peras seorang lelaki berambut jabrik.
"Mana uang hasil mengamenmu hari ini?." Bertanya lelaki jabrig pada ke dua bocah itu sambil menggeledah tas kecil, kemudian lelaki itu mendapatkan apa yang telah ia geledahi itu, uang jertas oecahan dua ribuan, yang lumaya banyak.
"Jangan di ambil semua bang, kita juga kan butuh makan." Ujar bocah lelaki.
"Ah kamu bisa mengamen lagi untuk mengisi perutmu itu." Bentaknya.
Ketika lelaki jabrik itu lagi menghitung uang yang di rampasnya dari tas kedua bocah, Sekelebatan bayangn dengan cepat mengambil uang tersebut dari tangannya di Jabrig.
"Kurang ajar, siapa yang sudah berani ikut campur masalah gue hah." Ujarnya sambil membalikan badannya ke arah belakang.
"Oowwh, dasar lelaki banci, anak kecil dengan susah payahnya mencari uang segitu, hanya untuk menyambung hidupnya, di mana perasa'anmu sebagai manusia." Ujar lelaki bertumbuh gempal lagi berdiri dengan gagah berani.
"Kurang ajar, siapa kau, dasar gembel sudah berani main-main ya sama gue." Ujarnya bernada keras.
Toglo dan Gito saling pandang, sambil menyunggingkan senyumannya.
"Owh, sangar juga rupanya, lelaki gondrong, cuma beraninya sama se orang bocah, apa gak malu tuh sama kumis yang segede kotoran, hahahaha." Ujar Gito tertawa yang di ikuti oleh Toglo.
"Kurang ajar, sudah berani mentertawakan gue ya." Bentaknya.
"Habisnya muka abang lucu deh, kaya goreng pisang yang jatuh ke injak." Cetus Toglo.
Kedua bocah itu pun langsung ikut tertawa, dan lelaki jabrik seperti di ejek, mukanya langsung memerah, dan langsung membangun serangan pada Toglo.
Toglo hanya tersenyum sa'at di serang oleh lelaki jabrig itu, dan dengan mudahnya tangan kanan Toglo menangkap layangan tinju dari lelaki jabrig sambil berkata. "Owh, tulangmu kurang bagus bang untuk jadi seorang Fighting." Ujar Toglo sambil menekuk pergelangan lelaki jabrig itu.
Lelaki berambut gondrong itu, menjerit kesakitan sa'at pergelangan tangan nya seperti mau di patahkan oleh Toglo.
"Adawww, a a aam ampun bang." Ujarnya terbata- bata.
"Oke kali ini gua masih ada rasa iba padamu, sekarang lo' janji tidak akan lagi berbuat semena-mena pada bocah-bocah kecil." Ujar Toglo.
"Iya bang gue janji." Ujarnya.
"Awas bila kata-katamu bohong, maka bersiaplah untuk menggali kubur." Gertak Toglo.
"Tidak bang."
kemudian setelah itu lelaki jabrik itu langsung pergi tergesa-gesa meninggalkan Toglo san Gito.
Sedangkan Toglo langsung memburu pada kedua bocah itu sambil memberikan uangnya yang di rampas oleh si jabrik tadi.
"Kamu tidak apa-apa dek, ini uangmu, dan ini dari abang buat adek berdua, di bagi rata ya." Ujar Toglo sambil mengulurkan tangannya memberikan uang kedua bocah itu, dan uang hasil dari barang rongsokan yang di jualnya.
"Terima kasih bang, abang berdua sungguh baik hati, semoga apa yang abang kasih pada kami, tuhan menggantinya berlipat-lipat." Ujar kedua bocah itu.
"Iya sama-sama dek, lain kali kamu hati-hati ya, hidup di jalanan penuh dengan kekerasan, kalau bisa jangan lah hidup di jalanan, kalian mestinya sekolah." Ujar Toglo.
"Ya pinginnya aku pun begitu bang, cuma karena ke ada'an yang membuat kami harus begini." Ujarnya.
__ADS_1
"Iya abangpun paham, semoga aja kalian menemukan jalan hidup yang lebih baik." Tutur Toglo.
Setelah itu kedua bocah langsung pergi meninggalkan Toglo dan Gito.
Sedang kan Toglo dan Gito sendiri langsung beranjak pergi, kali ini mereka tidak jalan kaki lagi melainkan naik angkutan umum jurusan paras Delima.
Tidak lama kemudian para famili Gang Si'iran telah berkumpul lagi, setelah semua impo tentang black crow telah Toglo dapatkan, Nandi pun mengajak pada para sahabatnya untuk bertindak lebih cepat, sebelum mereka melakukan aksinya yang banyak merugikan orang-orang yang tidak berdosa.
Selepas mereka melakukan ibadah solat Dzuhur, Para famili Gang Si'iran telah bersiap-siap guna mendatangi Maekas black crow.
Nandi cuma ingin tau kenapa black crow tiba-tiba memusuhinya, apa alasan mereka sampai sebegitu bencinya terhadap para famili Gang Si'iran.
Di tambah kenapa sampai membawa orang-orang yang tidak berdosa, itu yang membuat Nandi dan para sahabtnya jadi marah.
Bising nya suara kendara'an di jalanan, Dan polusi dari asap-asap kendara'a yang ber bahan bakar dua tax, ke enam kendara'an roda dua Yamha Rx king cobra, meluncur dengan kencang menuju Jalan Biawak.
Nandi yang melaju di garis depan, yang berboncengan dengan Toglo, melaju dengan begitu indah ketika melewati sebuah tikungan tajam, yang di ikuti oleh kelima sahabatnya.
Setibanya di jalan Biawak, Nandi menghentikan laju kendara'annya memberi isyarat pada yang lainnya dengan mengacungkan tangannya ke atas.
"Kenapa berheti Di'?." Tanya Pandi.
"Sebentar, kita harus tau dulu apakah markas mereka, berada di tengah-tengah warga atau sebaliknya, jangan sampai membuat warga jadi ketakutan bila nantinya terjadi hal yang tidak di inginkan." Jelas Nandi.
"Menurut impo yang ku terima dari warga, black crow berada di gang buaya, dan tidak ada warga yang berani masuk ke gang itu." Cetus Toglo.
"Oke kalau begitu kita berangkat langsung menuju sasaran." Ujar Nandi memberi komando.
Ke enam motor Yamaha Rx king cobra terus melaju memasuki jalan Gang Buaya, sebuah jalan Gang yang sepi seperti tidak berpenghuni, cuma ada satu bangunan tua menyerupai sebuah kastil tua, yaitu tempat perguruannya Black crow.
Sekitar satu kilo lagi untuk menuju tempat yang di tuju, Nandi dan para sahabatnya pun menghentikan motornya dan di parkir di sebuah lahan yang kosong yang di penuhi oleh rumput dan semak belukar.
Setibanya di depan gapura, dengan lambang sebuah luksan burung gagak, tertulis sebuah kalimat 'Black Crow.
Lalu Nandi dan para sahabatnya bepencar, dan satu persatu melompat pagar tembok yang cukup tinggi, dan mendarat sampai tidak menimbulkan suara yang berisik.
Kedatangan Nandi dan para sahabtnya sampai tidak di ketahui oleh sebagian para murid-murid Black Crow yang lagi berjaga di setiap pintu masuk.
Toglo menyelinap ke balik tembok, ke tika salah satu dari Black crow melintas, ketika orang itu melewati toglo, sekelebatan tangan Toglo dengan cepat menyambar orang itu dan membidikan telapak tangannya ke pusat urat nadi yang mematikan.
Tanpak terdengar suara, orang itu langsung jatuh pinsan, lalu toglo mengmankan tibuh orang itu di tempat yang agak tersembunyi.
Perlahan toglo melangkah kan tungkai kakinya menuju pintu ke dua, yang di ikuti oleh Gito dan Hasan.
Tiga lelaki berpostur tinggi besar lagi berjaga di pintu yang mau memasuki ruangan sang maha guru besar, Toglo pun memberi kode pada Hasan dan Gito. "Kita harus dengan cepat melupuhkan tiga pria yang berjaga itu." Bisik Toglo.
"Oke siip." Balas Gito kembali berbisik.
Ketika ke tiga pria tinggi besar itu membalikan badannya dalam posisi membelakangi Toglo, Hasan dan Gito.
Dari Situ ke tiga anak Gang Si'iran melesat kan pukulan kepangnya dengan cepat mengenai pundak ke tiga pria tersebut.
Buk
Buk
__ADS_1
Buk..
Bersama'an dengan mendaratnya pukulan kepang, sepontan tubuh ke tiga pria itu jatuh terkulai tidak berdaya lagi, Lalu mereka pun dengan sangat hati-hati menggusur tubuh pria itu ke pojokan tembok yang terhalang oleh sebuah meja.
Kini dua pintu sudah aman terkendali tanpak ada lagi penjaga, lalu Toglo, Hasan dan Gito, berjalan mengendap mau memasuki sebuah ruangan.
Tetapi entah dati mana datangnya, terngiang di telinga Toglo, Hasan dan Gito, sebuah suara yang sudah berusia lanjut.
"Hahaha, hebat-hebat, tiga pemuda yang tidak bisa di anggap remeh." Ujarnya.
Toglo, Hasan dan Gito pun tersontak kaget, lalu secara bersama'an mereka membalikan badannya dan netranya menoleh ke arah suara itu.
Nampak lelaki yang sudah berusia senja lagi berdiri sambil menyunggingkan senyumannya.
"Siapa anda?." Tanya Gito.
"Hahaha, seharusnya saya yang bertanya begitu, kenapa kalian mendatangi perguruan saya, dan siapa kalian ini?." Ujar lelaki tua balik bertanya.
Sebelum Toglo, Hasan dan Gito menjawab pertanya'an dari lelaki tua itu, Terdengar suara yang bernada santai penuh wibawa dari belakangnya lelaki tua itu.
"Kami datang kesini, mau meminta pertanggung jawaban pada anda, selaku guru besar Gagak hitam." Lirihnya.
Lelaki tua itupun lalu menoleh ke arah suara yang bergeming di belakangnya.
"Siapa lagi kalian, dan pertanggung jawaban apa?." Bentaknya bertanya.
"Murid-murid black crow telah bikin rusuh di tempat kami." Ujar lelaki itu yang tak lain adalah Nandi.
Kemudian lelaki tua itu berteriak memanggil dua nama. "Damaar...Burnaman, sini kalian." Panggilnya.
Dari sebuah ruangan terdengar suara, bersama'an dengan munculnya dua lelaki paruh baya.
"Iya guru ada apa?." Ujar kedua lelaki itu bertanya, dengan bola matanya terbelalak ketika melihat Nandi dan para famili Gang Si'iran.
"Sini kamu, apa yang telah kalian lakukan di tempat para pemuda ini?." Tanya lelaki tua dengan penuh amarah.
Karena niatnya ke dua pria paruh baya itu ingin menjatuhkan Nandi, maka dengan se enaknya mereka memanipulasi ke ada'an.
"Karena Pemuda jangkung dan para sahabatnya itu telah menantqng dan mencaci maki giru." Ujarnya mengadu domba.
Toglo yang tidak betah dengan bahasa adu domba, sepontan naik pitam, tanpak di sadari tubuhnya melesat menerjang ke arah pria yang bernama Damar dan Burnaman.
"Setan alas, dasar mulut ular, ku habisi kau." Teriak Toglo yang dengan cepat melesat, tanpak bisa di hindari lagi Dua pukulan Toglo telah bersarang di kedua pria paruh baya itu.
Deaasss...
Deasss...
Blaaaaakkk.
Kedua lelaki itu jatuh terkapar, karena kaget di saat posisi belum siap dua pukulan keras telah menghantamnya.
Lelaki tua selaku maha guru besar, merasa tertantang dengan sikapnya Toglo, apalagi setelah mendengar laporan dari Damar dan Burnaman selaku dua keoercaya'annya langsung naik pitam, dan mrnyerukan pada seluruh murid black crow untuk menghabisi ke tujuh pemuda itu.
Perkelahianpun tidak bisa di hindari lagi, karena Nandi belum sempat menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya, puluhan murid Black Crow telah menyerang dengan persenjata'an lengkap.
__ADS_1
Ke tujuh pemuda Gang Si'iran, kini di hadapkan pada suatu pertempuran dengan para pesilat aliran hitam.
Toglo dengan sangat agresip mengantam dan menerjang, apa lagi di ruangan itu banyak sekali ostacel untuk bisa di jadikan sebuah loncatan dalam memadukan ilmu bela diri dan olah raga farkur.