SI KIDAL SANG PENOLONG

SI KIDAL SANG PENOLONG
Si kidal sang penolong. eps 212


__ADS_3

Kini hari telah berganti senja, Toglo lagi mengayuh sepedanya menurun jalanan keluar dari kampung Rawan, kepulangan Toglo dari kampung itu membawa kabar untuk di sampaikan pada Nandi dan keluarga pak Dirman.


Toglo merasa tertarik pada ki Parta dan ingin lebih dekat lagi, banyak ilmu yang manpa'at yang Toglo tangkap dari ki Parta, untuk jadi pedoman di dalam kehidupannya sehari-hari.


Begitu pula ki Parta memandang Toglo berbeda dengan pemuda lainnya, tersirat dalam hati ki Parta ingin menjadikan Toglo sebagi pewaris ilmunya.


Banyak sebagian orang menilai bahwa ki parta adalah dukun ilmu hitam, tapi beda menurut pandangan Toglo, ki Parta adalah sosok sesepuh yang bijaksana, dan banyak menolong orang, setelah mendengar cerita sejarahnya ki parta dan pak Dirman yang pernah hidup bersama-sama sebagai sahabat waktu di dalam ke susahan.


Walupun Ilmu ki Parta banyak menganut ilmu buhun, masih ada pertalian dengan ilmu-ilmu pada jaman keraja'an terdahulu, menurut pandangan jiwa Toglo ki Parta adalah orang tua baik hati dan ibadahnya pun kental, buktinya secara tidak di sengaja Toglo melihat sebuah rak tempat buku-buku, lalu Toglo penasaran dan membuka salah satu kitab bertuliskan aksara arab gundul, dan Toglo pun agak paham sedikit karena waktu kecil nenek Jumi pernah mengajarkan pada Toglo belajar ngaji dan baca hurup arab gundul.


Nah dari situlah Toglo berkesimpulan ingin lebih dekat dengan ki Parta, sosok lelaki tua yang misterius.


Sepeda gunung kebangga'annya meluncur dengan cepat di jalanan perkampungan, menuju pusat kota mengemban amanat dari ki Parta Toglo pun tidak banyak bertele-tele, dan terus menggoes sepedanya supaya lebih cepat sampai.


Bertepatan dengan suara adzan maghrib berkumandang, Toglo kini telah sampai di Gang Si'iran, hanya tinggal beberapa mteran lagi, tapi Toglo tidak langsung ke rumah Nandi, ia langsung meluncur menuju masjid untuk melaksanakan ibadah solat maghrib berjama'ah, dan selepas itu akhirnya Toglo tiba di depan rumahnya Nandi, lalu Toglo turun dari sepedanya dan mengetuk pintu gerbang.


Tok


Tok


Tok


"Assalam mu'alaikum." Sapa Toglo.


Sejenak Toglo berdiri menunggu sang pemilik rumah keluar.


Tidak lama kemudian pintu rumah nampak terbuka, bersama'an dengan keluarnya lelaki tinggi dialah Nandi.


"Wa alaikum salam, ayo masuk glo, gak di kunci cuma di slot doang." Ujar Nandi.


Toglo merogoh slot pintu gerbang dari luar, lalu di dorongnya pintu tersebut dan di tutup kembali ke posisi semula, dan Toglo melangkah memasuki rumah Nandi.


Setibanya di dalam, Nandi mempersilahkan pada Toglo untuk duduk.


"Duduk glo, mau minum apa?." Tanya Nandi memberi tawaran.


"Kalau boleh saya menawar, ku pingin air putih dan segelas kopi panas pak bos." Jawab Toglo.


"Cakep, bentar ya"


"Sayaaang, bawakan air putih dan kopi kesini." Panggil Nandi pada istrinya.


"Iya sayang sebentar." Jawabnya.


Tidak lama setelah itu Sindi pun datang dengan membawa kopi dan air minum, untuk suaminya dan Toglo, lalu Sindi menyimpan kopi di meja dekat Nandi dan Toglo. "Ayo silahkan glo di minum dulu, pastinya kamu lelah menggoes sepeda dari kampung rawan kesini kan bukan jarak yang dekat." Tawar Sindi.


"Iya buk bos terima kasih." Jawab Toglo.


Selepas ngopi sambil ngobrol, Toglo pun langsung menyerahkan apa yang telah di amanatkan oleh ki Parta.


"Ini pak bos ki Parta hanya ngasih ini untuk pak bos, dan ini untuk pak Dirman." Ujar Toglo sambil memberkan dua amplop pada Nandi.


Nandi pun langsung menerima amplop itu, lalu Nandi berkata pada Sindi.


"Sayang tolong panggilkan bapak kesini." Perintah Nandi.

__ADS_1


Sindi pun sangat nurut pada perintah suaminya.


"Baik sayang." Ujar Sindi sambil beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju belakang untuk menemui sang mertua di lapak tempat kerjanya.


"Gimana Glo, suasana di kampung Rawan, menyenangkan?." Tanya Nandi.


"Kampungnya sangat sepi sekali pak bos, mulanya saya sangat susah untuk bisa ke tempat ki Parta." Ujar Toglo.


"Susah bagaimana maksudmu?." Tanya Nandi.


"Susah untuk bertanya, tidak ada orang sama sekali, untung saja ada anak si usia wawan keluar dari dalam rumah, itupun karena ku mendatangi rumah itu." Ujar Toglo.


"Kampung Rawan memang sangat sepi bila di siang hari, karena warga di situ ke banyakan bercocok tanam, tapi bila malam hari kampung itu sangat ramai Glo, karena di situ banyak yang datang berlatih bela diri silat ci mande, dan ki parta salah satu sesepuh di situ, kalau kamu tertarik bisa berguru ko ke situ, selain jawara silat ki parta pun bisa menembus batin, dengan ilmu memecah raga." Jelas Nandi.


"Sudah saya duga itu pak bos, tidak mungkin pak bos dan bapak Dirman nyuruh ke situ, selain itu pula ku melihat banyak buku-buku kuno di rumah ki Parta." Ujar Toglo.


"Wah ternyata pandanganmu sangat tajam Glo, padahal kitab itu tersimpan di rak yang agak tersembunyi, ko kamu bisa tau, lalu apakah kamu tertarik dengan kitab itu?." Tanya Nandi.


"Awalnya ku tidak tau bos, ketika ku menyalakn roko, lalu ku hembuskan asapnya, dan anehnya asap roko itu seperti menuntun pandanganku ke arah rak tempat kitab-kitab itu, dan ku penasaran pingin tau, tanpak permisi dulu ku bangkit mendekati rak itu, dan anehnya ketika ku mau menyentuh salah satu kitab tanganku serasa ke semutan pak bos." Jelas Toglo bercerita.


"Mungkin ada penunggunya kali Glo, karena kamu tidak permisi dulu." Cetus Nandi.


"Bisa jadi pak bos."


Setelah itu Pak Dirman datang bersama Sindi dan Anggita.


"Wah waah, nak Toglo sudah datang, gimana kabarnya ki Parta?." Tanya pak Dirman sambil menurunkan tubuhnya duduk di sopa.


"Ki Parta Alhamdulilah baik pak, beliau lagi sibuk bikin gula merah." Jawab Toglo.


Kemudian Nandi pun menyerahkan satu amplop dari ki Parta pada Pak Dirman, lalu Nandi dan pak Dirman mulai membuka amplop nya masing-masing, perlahan Nandi membuka isi amplop tersebut berupa tulisan, dan satu lipatan kertas kecil bertuliskan arab gundul, yang mengingatkan pada Nandi supaya lebih mendekatkan diri pada yang kuasa, dan pasrah apapun yang telah menimpa pada diri manusia karena itu semua sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, dan satu hal bila kamu ingin tahu siapa orang yang sudah dengki kepadamu, cukup rendam kertas kecil yang bertuliskan arab gundul di dalam gelas, nati kamu akan tau siapa orang itu.


Sedangkan di amplop pak Dirman, tertulis.


"Apa kabarmu Dirman, salam buat semua di situ, kamu jangan kuatir tentang kiriman malam kemarin, karena anakmu Nandi, seorang pemuda hebat dan berjiwa luhur, karena dua moyangnya selalu datang bila lagi dalam kesusahan, dan satu lagi, saya tertarik dengan anak muda yang kau utus itu, rupanya pemuda itu masih ada kaitannya dengan kitab kuno yang ada di rumahku, saya harap pada hari selasa lusa kamu kerumah ya, ada beberpa hal yang akan aku bicarakan padamu."


Setelah membaca surat dari ki Parta, pak Dirman tersenyum tipis sambil memandang datar wajah Toglo.


Sedangkan Nandi, setelah melihat dan mengkaji isi surat itu, ia pun merasa penasaran, lalu menyuruh Sindi untik mengambil gelas dan di isi air putih mentah.


Setelah apa yang Nandi minta Sudah di laksanakannya oleh Sindi, Nandi pun langsung menenggelamkan satu tulisan rajah pada kertas kecil.


Perlahan kertas tersebut mulai basah karena air sudah meresap dan menyatu dengan kertas tersebut, hingga karam ke dasar gelas.


Lima menit kemudian airpun berubah warnanya menjadi hitam, dan begerak membusa seperti lagi di masak, tidak lama kemudian berasap hitam membentuk aksara satu persatu keluar, di mulai dari hurup H, sampai yang terakhir, yang sudah tidak asing lagi nama itu bagi Nandi.


"Benar duga'an saya." Cetus Nandi.


Toglo pun sampai keget melihat pertunjukan itu, lalu Toglo berkata.


"Oh jadi nama itu yang sudah dengki pada keluarga pak bos?." Tanya Toglo.


"Kemungkinan begitu Glo, tapi tidak cukup bukti untuk bisa memastikannya menurut hukum, karena harus ada bukti yang akurat dan saksi." Cetus Nandi.


"Lalu bagaimana caranya, untuk bisa membuktikannya?." Tanya Toglo.

__ADS_1


"Caranya harus pakai orang dalam di perusaha'an dia." Ujar Nandi.


"Betul itu Nandi, sangat susah untuk menangkap orang yang bermuka dua, apalagi dengan cara main halus, dan untuk membawanya ke proses hukum harus ada data-data yang kongkrit." Pungkas pak Dirman ikut bicara.


"Kenapa dia bisa iri pada kita sayang, apa salah kita." Ujar Sindi.


"Ya namanya juga manusia sayang, tidak tinggal dalam satu martabat, kalau hati dan jiwanya sudah di rasuki dengan iri dengki apapun akan di lakukannya demi tercapainya suatu kepuasan." Ujar Nandi.


"Ya sudah yang penting malam ini dan seterusnya kita harus selalu waspada, kita bermunajat pada yang kuasa meminta perlindungan dari perbuatan orang-orang dzolim." Cetus pak Dirman.


Setelah itu, Toglo pun pamit untuk pulang, pada pak Dirman dan Nandi sekeluarga, karena melihat kondisi kesehatan dan pisiknya nenek Jumi yang semakin menurun, jadi Toglo akhir-akhir ini tidak bisa meninggalkan nenek Jumi dalam waktu yang lama.


Nenek Jumi bagi Toglo adalah sosok wanita yang kuat dan banyak mengajarkan hal-hal yang berguna bagi kehidupan, yang sudah dengan gigih membesarkannya hingga sampai sa'at ini, makanya selagi nenek Jumi masih hidup, Toglo ingin berbakti dan membalas semua kebaikan nenek Jumi padanya.


Pukul 19:20 menit.


Toglo telah sampai di depan rumah, setelah turun dari sepedanya, lalu ia mengeruk pintu sambil mengucapkan salam.


Tok


Tok


Tok


"Assalam mu'alaikum, dek buka pintu." Sapa Toglo memanggil adiknya.


Tidak lama kemudian pintu pun terbuka, bersama'an dengan munculnya Wawan.


"Abang, ko tumben pulangnya malam." Ujar Wawan.


"Iya dek, ada urusan penting di keluarganya pak bos, nenek udah tidur?." Tanya Toglo.


"Belum tuh lagi asik ngobrol sama Wiwin." Ujar Wawan.


Toglo lalu masuk dan menghampiri nenek Jumi, sambil menghulurkan tangannya, lalu Toglo mencium punggung telapak tangannya nenek Jumi.


"Nek sudah makan?." Tanya Toglo.


"Sudah nak, ko kamu pulangnya malam, apa ada tugas dari Nandi?." Nenek Jumi balik bertanya.


"Iya nek, ada tugas penting dari pak Nandi." Jawab Toglo.


"Ooh syukur deh, nenek merasa tenang, ternyata kamu menjadi orang kepercaya'annya Nandi, tekunlah kamu belerja pada Nandi, jangan kecewakan kepercaya'annya yang telah diberikan padamu." Nasehat nenek Jumi.


"Iya nek, karena pak Nandi sosok malaikat penolong, yang sudah mengangkat harkat dan derajat kita, ku masih ingat di sa'at aku dan nenek lagi mencari barang bekas, dan waktu itu perutku sangat sakit karena kelaparan, lalu pak Nandi memberikan kita dua nasi bungkus, dan uang dua ratus ribu, aku merasa bahagia waktu nek." Ujar Toglo mengulas cerita lalu.


"Iya nak, makanya itu, ikut terus sama Nandi, selagi kamu masih di butuhkan, dan buat kamu Wawan, contohlah abangmu, bekerjalah dengan tekun, jangan bermalas-malasan rajin menabung untuk di hari tuamu nanti, dan kamu Wiwin belajarlah yang rajin, supaya menjadi orang yang pintar untuk bekal hidupmu nanti." Nasehat nenek Jumi.


Ketiga kakak beradik itu, merasa sangat nyaman bisa mendengarkan nasehat dari nenek Jumi, yang selalu mengajarkan dan memberi penerangan untuk bekal di dalam perjalanan hidunya nanti.


*******


Bersambung


Jangan lupa sertakan like, comentar, jadikan favorit bila suka, berikan vote serta hadiahnya.

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.


__ADS_2