
Setelah terkena pukulan tangan kidal nya nandi lelaki berkumis itu masih belum sadarkan diri.
Sementara temannya yang bernama badar, langsung menyerang nandi dari belakang, nandipun merasakan ada yang menerpa srperti angin, ia lalu menjatuhkan badannya kebelakang dan kaki kanan langsung menyongsong serangannya badar, dalam jurus sengatan kala jengking.
Melihat kaki nandi yang mau mematuk mulutnya dengan replek badar mengkaper kaki nandi, dengan cepat pula nandi menarik kakinya lagi, sambil kedua tangan nandi menggunting kakinya badar.
Duk duk.
Badar sedikit mengaduh, karena guntingan tangan nandi begitu keras dan rasa sakit dirasakannya ditulang kering kakinya badar.
Dengan jalan seperti loncat-loncat kaya pocong, karena merasakan sakit ditulang kering seperti mau patah.
''Gelo, ternyata sikidal benar-benar hebat, dia menguasai semua ilmu bela diri, pantesan aja semua preman bisa ia lumpuhkannya, dan pukulannya keras seperti batu, haduuuh kaki aing sakit.'' Gerutu badar dalam hati sambil meringis menahan sakit dikaki kanannya.
Nandipun langsung bekrol dan terus berdiri sambil membalikan badannya kearah badar.
''Hai bang gimana mau dilanjut apa mau nyerah saja.'' Ucap nandi.
''Jurig kamu licik kidal, pake menghajar kaki lagi.'' Kata badar sambil nyengir.
''Hahaha, dalam pertarungan resmi diatas ring, tidak ada larangan menghajar kaki bang, apalagi ini pertarungan bebas, masih mending kaki abang yang gua hajar, coba kalau manuk abang yang gua jambah, mungkin kelakianmu akan hilang, hahaha.'' Ejek nandi.
Nampak muka badar memerah, menahan amarah.
''Kampret malah lo ngetawain gue lagi.'' Kata badar.
''Gimana mau diterusin kagak, tangan gua sudah gatal nih.'' Celoteh nandi.
Badar tidak menjawab ia hanya meringis ringis menahan sakit dikakinya.
''Ya sudah gua cabut dulu, masih banyak urusan yang penting, selamat bertemu kembali dilain waktu.'' Ucap nandi sambil menaiki motornya kembali
Sementara badar hanya terdiam, lalu duduk dipinggiran trotoar, sambil mengurut-ngurtin kakinya.
''Gue akui sikidal memang hebat, dan seorang kesatria, tidak mau menghabisi lawannya yang sudah tidak berdaya, sikumis juga sudah nyungseb, cuma ngomong doang, dikira gue sikumis bener jago, eeh taunya cuma kacung yang berlaga sok jagoan.'' Gerutu badar.
Setelah itu jalananpun mulai lancar kembali, dan para pengemudi kendara'an yang tadinya sempat menyaksikan kini sudah mulai melajukan lagi kendara'annya.
Sementara nandi yang sudah melaju lagi dengan motor kesayangannya itu, kini mendapat acungan jempol dari para prngemudi kendara'an.
Nandi hanya membalas dengan senyuman dan lambaian tangan.
Nandi terus melaju menuju jalan ketupat, suara yang keluar dari selongsong kenalpot motor yamaha rx king cobra milik nandi, begitu menggetarkan jantung, dengan di iringi kepulan asap putih.
Tidak lama kemudian nandipun telah tiba dibengkelnya.
Tid tidid.
Suara klakson berbunyi, berbarenagn dengan berhentinya motor tersebut.
''Assalam mualaikum, selamat siang semuanya.'' Ucap nandi.
''Wa alaikum salam, siang juga bos.'' Jawab pandi dan gito.
Terus sindi keluar menyambut bosnya yang sekaligus kekasihnya itu.
''Selamat siang pak nandi, mau minum apa.'' Ucap sindi.
''Siang juga, bikinin kopi sin, pikiran lagi ruwet nih.'' Jawab nandi.
Terus astutipun keluar memperhatikan pakaian nandi yang kusut dan dan rambutnya yang semerawut.
''Wualah, lo' kenapa sih aa, dari cara berpakaianmu seperti ada yang tidak beres nih?.'' Tanya astuti.
__ADS_1
''Gak tau de, abang juga heran, dalam perjalanan hidup gua selalu ada aja coba'an dan halangan.'' Jawab nandi.
''Ya abang yang sabar, kan kata bang haji roma juga, rintangan.. Rintangan itu pasti selalu ada.'' Ucap astuti sambil menghibur.
''Uluuuhhh, sejak kapan lo' suka dangdut.'' Celoteh gito.
''Ya sejak hari ini.'' Ucap astuti.
Terus sindipun menghibur sambil memberikan segelas kopi pada nandi.
''Iya aa, apa yang dikatakan astuti itu benar, dan hidup ini seperti arus listrik ada ion positip dan ada ion negatip, disetiap kebenaran yang kita jalani, setidaknya akan ada kejahatan yang kita hadapi.'' Ucap sindi.
''Terima kasih ya semuanya, kalian semua memang semangat hidup gua, gak salah gua memilih kalian, seperti gito, pandi, kamal dan hasan, dan pacar gua serta adik gua yang selalu mensport gua.'' Ucap nandi.
''Ya elah di, kaya baru kenal aja sih sama kita-kita, jangankan dijalan yang benar, waktu kita masih satu tim dijalananpun kita selalu sehidup semati.'' Pungkas pandi.
''Iya gua juga merasakan itu, makanya gua bersyukur berada disamping kalian.'' Kata nandi.
''Emang ada apa sih di, yang lo temui dijalan.'' Tanya gito.
''Biasa, yang ngajak berantem, ya tadinya gua menghindari supaya tidak terjadi perkelahian, tapi lama-lama kepancing juga emosi gua, ya alhamdulilah allah masih memberi perlindungan sama gua.'' Jawab nandi.
''Aamiiin.'' Jawab semuanya.
''Kalian sudah pada ngopi belum?.'' Tanya nandi pada tamu langganannya.
''Udah bos terima kasih.'' Jawab yang lagi pada duduk menunggu motornya lagi dibetulin.
Setelah itu nandipun langsung meminum kopinya, yang di ikuti dengan hisapan-hisapan sebatang roko.
Sedangkan sindi dan astuti kembali lagi keruangan kerjanya masing-masing.
Waktupun terus berlalu, tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 12:00, panas terik cahaya matahari begitu terasa menyengat, Ketika dirasakan oleh para pejalan kaki, ditambah pantulan hawa panas dari aspal dijalan raya.
Di era globalisasi, dunia semakin panas, karena banyaknya industri-industri yang menghasilkan polusi, sehingga membuat lapisan ozon semakin menipis.
Maka tak heran bila musim hujan sudah datang, kota itupun sering tergenang air (banjir).
Ditambah kali citarum yang semakin sempit, karena banyaknya pemukiman yang berdesakan.
Kota yang meninggalkan banyak kenangan dan bersahabat, kini tiada lagi.
Kejahatan pun kini terus bermunculan, dari berbagai jenis modus, karena semakin sempitnya mencari lapangan pekerja'an dan pengangguranpun semakin banyak.
Maka dari itu nandi berusaha bekerja keras, untuk menciptakan lapangan kerja.
Dan pak dirman yang bergerak dalam usaha barang limbah, kini semakin maju, yang tadinya mempunyai pekerja dua orang, sekarang sudah bertambah menjadi lima orang pekerja, plus supir pengangkut barang.
Ke inginan nandi yang kuat, ingin merangkul orang-orang yang kurang mampu dan pengangguran, tuhanpun telah mengabulkannya.
Sedikit demi sedikit secara bertahap, usaha nandipun semakin maju pesat, ditambah dibantu oleh ke' empat sahabatnya yang selalu sehidup semati, bila nandi lagi mengalami kesulitan para sahabatnya pun selalu siap membantu dibarisan paling depan.
Hasan, kamal, pandi dan gito sahabat nandi dari sejak kecil ditambah doni dan toglo.
Toglo sudah dianggap sebagai adik oleh nandi, toglo cucu dari seorang nenek pemulung barang bekas, kini sudah bisa membuat neneknya tertawa lepas, dalam arti kata toglo sudah bisa membahagiakan neneknya.
Selain anaknya pintar dan cerdas, toglopun mempunyai semangat pekerja keras, apa yang nandi perintahkan toglopun selalu memenuhi perintah nandi, karena bagi toglo nandi adalah dewa penolong bagi kehidupannya dan neneknya.
Dikala senja tiba, sepulangnya dari toko, toglo pergi kesebelah timur gubuknya disebuah ladang yang sudah tidak digarap lagi yang banyak dikelilingi pohon ceri, toglo bersih keras dengan ke inginannya, ia terus dengan giat melatih ilmu bela diri yang nandi ajarkan.
karena setiap sepulang kerja dan pagi sebelum berangkat ketoko, toglo selalu melatih trrus ilmu bela dirinya, kini toglo sudah bisa membentengi dirinya dan keluarganya dari dari kemungkinan-kemungkinan yang akan menimpa dirinya dan keluarganya.
keringat terus keluar dari seluruh pori-pori kulitnya, membasahi tubuhnya yang agak gemuk.
__ADS_1
Kini kesepuluh jurus dasar yang nandi ajarkan sudah dapat dikuasainya dengan sempurna, dan kecepatannya pun sudah mencapai level 9.
Setelah hari sudah agak gelap, toglopun menyudahi latihannya, terus ia memburu pada sepeda gunungnya, dan mulai dikayuhnya menuju pada sebuah gubuk tempat kediamannya.
Dalam mengendalikan sepedanya kini toglopun sudah sangat lincah karena suka diajarin oleh kamal cara bersepeda pun bike.
Sesampainya dikediamannya, toglo lalu menaro sepedanya didalam, terus ia mengambil handuk dan sabun menuju ke air pancuran yang mengalir disamping gubuknya, untuk membersihkan badannya.
Daan setelah itu terdengarlah suara adzan magrib, sehabis mandi toglopun langsung mengambil air wudhu untuk menghilangkan hadas kecil dan sebagai sarat sahnya solat.
Setibanya didalam, toglo lalu memburu pada sajadah untuk melaksanakan ibadah solat maghrib.
''Toglo kamu sudah solat.'' Tanya si nenek sambil melangkah keluar untuk mengambil air wudhu
Toglo tidak menjawab karena lagi mengerjakan solat tinggal satu roka'at lagi.
Lalu sinenek menoleh ketempat toglo, nampak terlihat toglo lagi sujud.
Setelah toglo dan neneknya selesai mengerjakan solatnya, toglo lalu kedapur mengambil bakul yang berisi nasi, dan sebuah wadah yang berisikan sayur bening dan lauk pauk seadanya.
''Ayo kita makan nek.'' Ajak toglo.
''Alhamdulilah toglo, doa kita akhirnya dkobulkan sama allah swt, melalui tangannya nandi hidup kita sekarang lebih baik, nenek bersyukur, sekarang kita bisa makan tiga kali sehari.'' Ucap sinenek.
''Iya nek, sebelumnya kita makan sehari sekali, itupun kalau kita dapat ngumpulin barang bekas, dan toglo pingin seperti bang nandi nek.'' Ucap toglo.
''Iya selagi kamu bersemangat untuk kerja keras pasti akan tercapai toglo, yang penting kamu kerja yang rajin, ma'apkan nenek ya, nenek tidak bisa membahagiakanmu toglo.'' Ucap si nenek.
''Nenek jangan bilang begitu, justru sekarang toglo yang harus membahagiakan nenek.'' Kata toglo.
Selepas itu nenek dan toglo sudah selesai makannya, terus toglo pergi keluar duduk dibangku sambil membaca buku.
Karena toglo cuma sekolah sampai sd, itupun tidak sampai tamat, karena sinenek tidak mampu untuk membiayainya, makanya akhir-akhir ini toglo lebih banyak membaca buku, karena mendapat pelajaran dari nandi, supaya lebih memperbanyak membaca buku untuk menambah pengetahuan.
Sinenekpun tersenyum dengan pasang wajah berseri-seri melihat cucunya itu, rajin membaca buku pengetahuan.
''Alhamdulilah ya allah, engkau telah memberi sinar pada kami dan cucu hamba, andaikan saya dipanggilpun saya sudah siap dan iklas, karena beban yang memberatkan kini sudah hilang, cucu hamba sudah menemui titik terang dalam perjalanan hidupnya. berilah kemudahan pada cucu hamba dan nandi, karena mereka itu segalanya bagi hamba, aamiin ya robal allamiin.'' Begitulah kata doa yang sinenek ucapkan.
Sedangkan toglo masih asik dan pokus pada buku yang dibacanya.
''Aku harus pintar seperti bang nandi, biarpun aku tidak punya ijazah, karena masih banyak buku yang bermutu dan bermanpa'at untuk dibaca, guna menambah wawasan aku.'' Gerutu toglo.
Setelah itu toglopun menyudahi baca bukunya, karena suara adzan isa telah berkumandang.
Dan sinenekpun sudah memnggil-manggil menyuruh toglo untuk segera melaksanakan solat isa.
''Toglo.. Tunda dulu baca bukunya, nanti bisa disambung lagi sesudah solat isa.'' Panggil si nenek.
''Iya nek.'' Jawab toglo singkat.
Toglopun tidak pernah membantah apa yang neneknya perintahkan.
Setelah toglo selesai melaksanakan solat empat roka'at, ia pun melanjutkan lagi membaca buku buat pedoman hidupnya.
Sampai pada akhirnya rasa kantukpun telah menyerang toglo, lalu ditutupnya buku yang baca itu, terus toglo memasuki ruangan tempat tidurnya untuk merebahkan tubuhnya diranjang yang beralaskan kasur busa yang nadi belikan sepulang dari rumah sakit sewaktu neneknya itu dirawat.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=☆☆☆\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Bersambung.
Dalam episode selanjutnya.
Terima kasih atas dukungan like, comentar, favorit, ranting dan votenya.
__ADS_1
Salam sehat dan sukses selalu.
☆☆☆▪︎Selamat membaca ▪︎☆☆☆