
Ke enam lelaki paruh baya itu langsung tersontak kaget, lalu mereka membalikan badannya dan netranya menatap tajam pada sebuah pintu kayu yang jebol itu.
Nampak terlihat oleh ke enam lelaki yang berpakaian serba hitam, Seorang pemuda bertubuh gempal dan tinggi menatap tajam pada ke enam lelaki itu.
Lelaki yang bernama sobri langsung naik pitam melihat pemuda gempal yang tak lain adalah Toglo bocah sableng yang pantang mundur dalam menghadapi masalah, lalu Toglo berkata dengan nada keras penuh dengan gertakan.
"Rupanya kalian disini, woi para lelaki pengecut yang bisanya main bokong, keluar lah ayo kita bertarung, jangan cuma bisanya main curang." Gertak Toglo.
"Kurang ajar, siapa kamu hai bocah kemarin sore, tau apa kau tentang kami." Bentak Sobri naik darah.
"Dari mana datang tuh bocah sialan, ayo kita kasih pelajaran bocah ingusan itu." Ujar Runta bergegas mendekati Toglo.
Toglo lalu keluar untuk memancing ke enam lelaki paru baya itu.
Dan enam lelaki itu pun langsung memburu pada Toglo, tapi apa yang mereka lihat sesampainya di luar gubuk, Nampak empat pemuda telah berdiri gagah berani seperti menantang dunia, sambil menyeringai penuh ejekan.
Lalu Toglo berjalan berdiri merapat dengan ke empat prmuda itu adalah, Nandi, Hasan, Kamal dan Gito.
"Woi pak tua bangkotan, yang berkumis tebal, sadarlah apa yang telah anda lakukan pada pimpinan pondok Haur Koneng, kelakuanmu tak ubah seperti kelakuan se orang pengecut." Seru Nandi.
"Kurang ajar, rupanya kalian bayaran si Mansur hah." Ujar sobri sambil pertentang pertenteng.
Gito yang orangnya suka gatal kalau melihat orang songong, lalu ia maju selangkah dan berkata.
"Hai kumis gede, jaga tuh cakapmu yang bau comberan, kita kesini bukan untuk di bayar, tapi kita kesini mau membela yang benar, dan mau masukin kalian ke lubang neraka." Celetuk Gito.
"Bedebah, dasar cecunguk-cecunguk si Mansur, ku habisin kalian." Teriak Sobri.
Kini ke enam lelaki itu setelah menerima komando dari Sobri langsung membangun serangan, menyerang Nandi dan kawan-kawan.
Di lereng Bukit Haur Koneng, di tengah-tengah malam yang gelap gulita hanya ada cahaya samar-samar dari lampu-lampu di atas Bukit yang menerangi jalan, telah terjadi suatu pertarungan antara pada dukun ilmu hitam dan anak-anak gang Si'iran.
Kalau di lihat dari jumlah tentu saja pertarungan itu tidak se imbang kurang satu untuk menyamakan jumlah, tapi dalam hal ilmu bela diri nampak terlihat anak-anak gang Si'iran lebih menguasai pertarungan itu apa lagi pertarungan Toglo atau Wanda si bocah sableng yang agresip, Kamal si anak gendeng slenge'an dengan pukulan guntau, Gito si penaik darah dengan kekuatan bela diri tarung derajatnya, Hasan anak haji harun dengan jurus cimande dan ilmu karuhun, sedangkan Nandi titisan nenek jayanti dan ki Jamika, dengan pukulan si Kidal yang mematikan.
Rumput-rumput yang kemungkinan tadinya hijau bila di sinari caha lampu, kini menjadi acak-acakan dan berantakan karena menjadi arena adu tanding antara Anak gang Si'iran dan Ke enam penganut ilmu hitam.
Di sebelah Utara, nampak Toglo sangat agresip sekali dalam melancarkan pukulan atau pun menghindari serangan lawan.
Ki sobri yang menjadi lawannya Toglo, karena yang pertama kali ki Sobri benci adalah sosok Toglo yang sudah menjebol pintu kayu gubuk tua itu.
Ki Sobri dengan sangat ganas menyerang Toglo dalam cakaran-cakaran jurusnya, tapi Toglo hingga saat ini belum tersentuh sama sekali oleh ki Sobri, karena Toglo terus ingin menguras tenaga lawannya, apalagi ki Sobri sudah terpengaruh oleh paktor usia, sehingga ki Sobri banyak terkuras abis tenaganya, apalagi di sa'at ki Sobri mau mencabik perut Toglo dengan jurus cakarnya, Toglo hanya menggeser sedikit ke samping kanan sembari meluncurkan sabetan pukulan gunting.
Duuukkk...
Jurus cakar ki Sobri di gunting dengan sabetan capit kalajengking, di situ ki Sobri sempat merasakan buntu untuk membuat serangan balasan, ke buntuan ki Sobri langsung terbaca oleh Toglo, dengan se cepat kilat Toglo memasukan elbonya tepat mengenai tulang rahang ki Sobri.
Ki Sobri harus menerima ke kuatan elbonya Toglo, ketika itu ki Sobri langsung terdorong dan terhuyung seperti mau jatuh.
__ADS_1
Si bocah sableng, yang tidak pernah memberi luang pada lawannya, di sa'at itu pula Toglo melesat melompat dengan cepat dan kekuatan pukulan Tinju Bumi Toglo menghantam dengan bobot yang sangat dahsyat tepat di pelipisannya ki Sobri.
Hiuuuuuukkk..
Duuukkk
Deeasss...
Auuuuugghhh...
Teriakan ki Sobri terdengar bersama'an dengan terpental tubuhnya dan jatuh ke dataran yang rendah, nampak terlihat tubuh ki sobri menggelinding kebawah jurang.
"Hahaha, mampus kau, gua kira kau kebal dan tahan pukulan, tapi ternyata kau hanya se onggak kotoran kambing yang lembek." Seru Toglo sambil tertawa puas.
Ketika ke lima lelaki kawanannya Sobri, mendengar teriakan ki Sobri yang histeris, ketika itu pula amarahnya menjadi membabi buta, menyerang lawan-lawannya tanpa taktik dan Siasat, tentu saja hal begitu sangat memudahkan bagi nandi dan kawan-kawan untuk menjatuhkan lawannya.
Ketika itu pula pukulan sikidal sitangan maut melesat tidak bisa lagi di hindari telah menghantam mukannya ki Runta.
Wesss...
Duuk...Deasss...
Ki Runta merasakan seperti juta'an lebah yang menyengat dirinya, dan di sa'at itu pula ki Runta hilang ke sadarannya dan perlahan tubuhnya melayang jatuh tersungkur di tanah.
Kini dari ke enam lelaki berkekuatan ilmu hitam yang bekerjasama untuk mendolimi dan ingin meng akhiri masa hidupnya sang pimpinan pondok, tinggal empat orang yang masih terus berlangsung dalam arena pertarungan itu melawan Gito, Hasan dan Kamal.
Buuukk..
Telapak kaki Toglo membentur punggung lawan, dengan gerakan yang cepat lawannya Toglo membalikan badannya sambil memutarkan tendangannya, seolah-olah untuk memagari tubuhnya bila Toglo menyerang balasan. Tapi Toglo adalah pemuda sangat cerdik dan banyak akalnya.
Lalu terdengar oleh Kamal, Hasan, Gito dan Toglo. Nandi berteriak mengingatkan mereka.
"Woii desak terus jangan sampai para dukun itu mengeluarkan mantranya." Seru Nandi mengingatkan pada para sahabatnya.
Setelah mendengar Nandi mengingatkan mereka, Gito, Kamal, Hasan dan Toglo langsung menggempur para dukun teluh itu dengan jurus-jurus yang mematikan.
Kelebatan pukulan dan tendangan terus mendesak ke empat dukun itu.
Hea
Hea
Hea...
Suara gertakan dari ke empat anak gang Si'iran yang terus mendesak lawannya, sehingga secara bersama'an ke empat anak gang Si'iran memutar tubuhnya sambil melancarkan tendangan parabol dan akhir mendarat pada ke empat dukun itu.
Buk
__ADS_1
Buk
Buk
Buk
Jeregjeg ke empat dukun itu sempat goyah dan sempoyongan. Anak gang Si'iran langsung menyusul dengan pukulannya sambil melompat dengan speed yang begitu cepat.
Heeeaaaaa..
Duk..Duk...Duk...Deeeaasss...
Ke empat Bogem dari Kamal, Hasan, Gito dan Toglo menghajar wajah dari ke empat dukun tersebut.
Tidak bisa di hindari lagi mereka harus mengakui ke kuatan bela diri dari anak gang Si'iran.
Blak
Blak
Blak
Blak..
Ke empat tubuh dukun secara bergantian jatuh tersungkur di tanah kering dan berbatu.
"Hahaha cuma segitukah kemampuan kalian wahai para pengecut, kalian boleh kebal dengan panas api, tapi belum tentu bisa tahan dengan tinjuan dari kami." Ujar Kamal tertawa.
Kemudian ke empat dukun itu berusaha mengangkat tubuhnya sambi terhuyung sempoyongan dan berkata.
"Awas kalian tunggu pembalasan dari kami, kalian akan ku kirim jutaan serangga dan jarum ke dalam tubuh kalian." Bentak lelaki berkumis tipis dan berwajah seram.
"Sebelum kalian melakukan itu semua, sekarang juga akan kami habisi, hahahaha." Celetuk Gito.
Ketika mereka beradu argumen. Toglo yang jarang banyak bicara, dia lebih banyak kerja dari pada berkata, perlahan mengayunkan tungkai kakinya mendekati ke empat dukun tersebut, entah apa yang Toglo bisikan pada ke empat dukun itu, sehingga yang tadinya sesumbar ingin menuntut balas kini tiba-tiba berubah paras mukanya menjadi pucat pasi, dengan matanya yang sedikit melotot agak ke heranan bercampur ada rasa ke takutan.
Lantas apa yang sudah Toglo bisikan pada mereka, sehingga mereka yang tadinya sangar dengan penuh ancaman, kini tiba-tiba berubah, nampak pada raut wajahnya seperti ke kurangan darah, pucat dengan netranya yang sayu, sudah bisa fi pastikan ada rasa was-was dan takut dengan bisikannya Toglo.
Kamal, Hasan dan Gito serta Nandi pun merasa heran dan bertanya-tanya dalam hatinya, apa yang membuat mereka takut dengan bisikan Toglo.
*******
Bersambung
Nantikan di episode selanjutnya, jangan lupa sertakan like, comentar, favorit, berikan vote serta hadiahnya bila suka.
Terima kasih atas dukungannya, salam sehat dan sukses selalu.
__ADS_1