
Ketika gito sudah bisa melumpuhkan ke tiga lawannya, begitu pula Pandi yang sudah bikin ko lawannya.
Kini ke enam pemuda tersebut telah memburu pada kendaraannya masing-masing, walau agak sedikit terhuyung karena marasakan rasa sakit yang mereka derita.
Laga yang pertentang laksana sang jawara, kini bagaikan ayam sayur yang tiada berdaya lagi, ke enam pemuda itu pulang sebagai pecundang yang kalah tandang, baru saja menghadapi dua orang anak gang Si'iran.
Pandi dan Gito masih berdiri dengan gagahnya menatap ke pergiannya ke enam orang itu dengan senyum tipis mengiringi ke pergiannya ke enam orang tersebut.
"Lucu juga ya tingkahnya mereka." Ujar Gito.
"Iya benar, di sa'at mereka lagi mengejar kita, laksana prajurit perang yang haus darah, ketika pulang tak lebih dari para pecundang, yang cuma berkoar saja." Pungkas Pandi.
"Ya sudah kita cabut, lupakan saja kejadian tadi tak ada gunanya ngurusin orang-orang sinting kaya mereka." Ujar Gito.
Setelah itu, Gito dan Pandi sudah meneruskan lagi perjalanannya yang sudah dekat.
Sementara di gang Si'iran tepatnya di kediamannya rumah pak Dirman, nampak Toglo, Doni dan pacarnya Melinda, lagi duduk santai sambil menunggu kepulangannya Pandi dan Gito.
"Lho ko jam segini, bang Pandi dan bang Gito belum pulang juga, apa mungkin ada kendala di jalannya." Ujar Toglo.
"Mungkin masih di tempat Nina kali, biasa mereka kan kalau sudah ngobrol khususnya Gito suka lupa pulang." Pungkas Doni.
"Iya kali, tapi ku merasakan pirasat yang kurang beres pada mereka." Ujar Toglo.
Setelah Toglo berbicara nampak terlihat oleh Doni dan Melinda Nandi berjalan menghampirinya sambil menyerukan pada Toglo.
"Glo bikinin kopi dong, biar ngobrol jadi semakin seru." Perintah Nandi.
"Baik pak." Jawab Toglo sembari mengangkat tubuhnya dari tempat duduknya untuk melaksanakan perintah Nandi.
Nandi pun lalu duduk berhadapan dengan Doni dan melinda.
"Ooh iya Don!! Pandi dan Gito belum kembali lagi sini?." Tanya Nandi.
"Baru saja gua ngomong sama Toglo, masalah Pandi dan Gito." Jawab Doni.
"Ooh begitu, Ko lama ya, sudah jam sepuluh ko belum pulang juga, gua merasa seperti ada kendala pada mereka berdua." Ujar Nandi.
"Ko perasa'an pak bos bisa sama dengan Toglo." Ucap Doni.
"Oh ya, emang Toglo bilang apa tentang Pandi dan Gito?." Tanya Nandi.
"Ya seperti yang pak bos katakan tadi." Jawab Doni.
"Ya mudah-mudahan aja, pirasat saya dan Toglo meleset." Pungkas Nandi.
Baru saja Nandi dan Doni berbicara tentang ke kuatirannya pada Pandi dan Gito, tiba-tiba Melinda berkata.
"Lha itu kan bang Pandi sama bang Gito." Ujar Melinda sambil meluncurkan telunjuknya kedepan, ke arah pada sebuah motor yang muncul di sudut jalan gang Si'iran melaju ke arah Nandi, Doni dan Melinda berada.
Kemudian Nandi dan Doni, langsung menolehkan pandangannya ke arah sudut jalan gang Si'iran.
"Wah panjang umur tuh orang, baru saja kita omongin eeh sekarang muncul, syukurlah." Ujar Nandi.
"Alhamdulilah, akhirnya yang kita kuatirkan sudah kembali dengan aman." Ujar Doni.
Setelah itu motor yang Gito dan Pandi tunggangi berhenti di depan Nandi, Doni dan Melinda, kemudian mereka turun dari kendara'nnya, dengan gayanya yang kocak dan slenge'an berkata.
"Waduuh mantap nih, habis hujan enaknya ngopi dong, lho mana kopinya nih." Ujar Gito.
"Baru aja datang sudah nanyain kopi, gua juga yang dari tadi di sini belum ngopi-ngopi." Ucap Nandi.
__ADS_1
Selepas itu datang Toglo dengan membawa nampan berisikan tiga gelas kopi hitam.
Lalu Gito dan Pandi menoleh pada isi nampan yang di bawa oleh Toglo.
"Lha ko cuma tiga sih glo, lalu jatah gua dan Pandi mana?." Tanya Gito.
"Wah waah, gimana sih kalian ini, gua kan tidak tau kalau ada kalian berdua." Jawab Toglo/Wanda.
"Ya sudah sekarang lo' balik lagi sana, bikinin dua gelas lagi kopi deh, buat gua dan Pandi." Ujar Gito.
Toglo agak sedikit kesal sama perminta'annya Gito, lalu Toglo berkata.
"Iiih abang, ku baru aja kelar beres-beres semua perkakas, bikin sana deh gua capek mau pulang kasihan nenek di rumah." Ujar Toglo.
"Ooh gitu, ya sudah." Ujar Gito.
Ketika Gito mau melangkah, Doni langsung panggit Gito.
"Hai To' biar Melinda yang bikin." Ujar Doni.
"Iya bang, biar gue aja yang bikin, kasihan Toglo butuh istirahat, dan kasihan juga nenek Jumi terlalu lama di tinggalin." Ucap Melinda sambil beranjak dari tempat duduknya untuk bikinin kopi buat Gito dan Pandi.
"Oke dah kalau begitu, eeh Glo ma'apin gua ya." Ucap Toglo.
"Iya bang tidak apa-apa ko, gua juga minta ma'ap soalnya ini dah malam, kasihan nenek ditinggal terlalu lama." Ujar Toglo.
"Oke siip, lo' hati-hati ya di jalan." Ujar Gito.
Kemudian setelah Toglo/Wanda menyimpan tiga gelas kopi di meja, ia pamit pada Nandi dan semua yang ada di situ.
"Pak bos dan semuanya, ku pamit dulu ya, soalnya sudah malam, kasihan nenek sama Wiwin nunggu kepulanganku dan Wawan." Ucap Toglo.
"Iya gak apa-apa, kamu pulang aja, salam ya buat nenek." Ucap Nandi.
Selepas itu Toglo dan Wawan pun pergi meninggalkan Nandi dan para sahabatnya, untuk pulang ke rumah, dengan mengendarai sepeda gunungnya.
Wawan mengayuh sepedanya di depan, sedangkan Toglo/Wanda berada di belakang melindungi sang adik dari hal-hal yang tidak di harapkan.
Toglo atau Wanda seorang remaja kelahiran dari seorang pasangan yang kuat dan pemberani, Toglo mewarisi sipat dari sang ayah, yang pemberani gigih dan ulet dalam bekerja, sedangkan Wawan mewarisi sipat sang ibuk yang sabar selalu patuh dan ta'at pada pendirian hatinya.
Kedua kaka beradik terus mengayuh sepedanya di antara remang-remang cahaya lampu di jalan gang kecil.
Ketika Toglo dan Wawan sudah keluar dari gang Si'iran, tat kala mau memasuki kawasan ladang yang tandus dekat sebuah bangunan gilingan padi, nampak terlihat oleh Toglo dan Wawan ada dua sosok manusia yang gerak geriknya mencuriga kan, lalu Toglo berbisik pada Wawan.
"Sstt, dek sepertinya itu orang sangat mencuriga kan." Ujar Toglo alias Wanda.
"Iya bang, saya mencium aura kejahatan pada ke dua orang itu." Bisiknya Wawan.
Toglo dan Wawan lalu menyelinap ke balik semak-semak belukar mengintai gerak-gerik dari kedua orang yang tidak di kenal itu.
Nampak terlihat oleh Toglo dan Wawan salah satu dari mereka ingin melakukan sesuatu berjalan mengendap-ngendap mendekati pintu sebuah gilingan padi, sedangkan yang satunya berdiri seperti lagi mengawasi dengan melihat kesana kemari.
Lalu Wawan mendekati abangnya dan berbisik.
"Wah bener bang itu orang mau berniat jahat." Bisik Wawan.
"Kamu tunggu disini dan jangan kemana-mana, abang mau menangkap orang itu." Ujar Toglo.
Baru saja Toglo berbicara sama Wawan, nampak terlihat orang mencurigakan itu telah mencongkel kunci pintu bangunan gilingan padi tersebut, dan terdengar suara pintu yang sudah berhasil lepas dari gembok, lalu di bukanya perlahan agar tidak menimbulkan suara yang berisik.
Rekeeeetttt...
__ADS_1
Orang itu mendorong pintunya, dan yang satunya lagi tetap berdiri mengawasi.
Kemudian Toglo berjalan membungkuk di antara semak-semak menuju salah se orang temannya yang lagi berdiri.
Ketika jarak antara Toglo dan orang yang lagi berdiri itu sudah sangat dekat, Toglo bersiap-siap untuk melumpuh kan orang itu.
Weeessss...
Kelepaatt..
Toglo melesat menerjang dengan sasaran anggota tubuh yang paling lemah.
Duuukkk...
Sabetan hantataman tangan Toglo menghajar di bagian pundak.
Heeuuu..
Guprak..
Tubuh orang itu langsung pinsan karena pukulan Toglo, lalu setelah itu Toglo menyerednya ke tempat yang agak tersembunyi dan di ikatnya di batang pohon dengan sebuah tambang yang kebetulan ada di sekitar situ.
Selepas itu Toglo melangkah perlahan mendekati sebuah pintu yang mau memasuki ke dalam.
Dengan gerakan kuncing melompat yang di padukan oleh gerakan parkur Toglo me!lompat ke dalam tanpa terdengar suara sedikitpun, lalu Toglo mengintai keberada'an orang itu, sambil memasang mata dengan pandangan yang tajam.
"Mau ngapain orang itu, masa ia mau nyolong mesin, apa mungkin mau nyolong gabah atau beras." Gumam Toglo dalam hati sambil terus mengawasi.
Sementara orang yang tidak di kenal itu seperti mengeluarkan sesuatu sambil mendekat ke arah mesin buat gilingin tepung beras.
Tapi aksinya itu tidak bisa berjalan dengan mulus, karena Tuhan telah mengirimkan dewa penolongnya melalui tangan Toglo.
Toglo berjalan perlaha-lahan mendekati orang yang lagi melaksanakan execusinya mau melepaskan mesin buat gilingan tepung.
Ketika Toglo sudah sampai di belakang orang itu Toglo lalu bertanya, yang membuat sang maling itu tidak ada rasa kaget atau gimana gitu.
"Lama amat sih bang, salah tuh kuncinya, nyantai aja sih ko buru-butu amat kaya maling aja." Ujar Toglo.
Sejenak sang maling terdiam sambi tertawa tipis, lalu melakukan kembali aksinya.
"Dasar lo' emang kita akan kaling, sue lo'." Jawabnya.
"Ko kita sih bang." Ujar Toglo.
"Ya iya kita, gue sama lo'." Jawab sang maling sambil menolehkan pandangannya kebelakang, tapi apa yang terjadi ketika pandangannya sang maling beradu dengan Toglo.
Sang maling kaget kenapa mesti Toglo yang ada di belakangnya itu, lalu ia bergumam dalam hati.
"Ko ada orang ini, lantas kemana si penjol." Gumamnya dalam hati.
"Heh kenapa lo' bengong sih bang, oh gua tau pasti abang kaget ya kenapa teman abang yang di luar tidak ada, atau abang heran kenapa gua ada di dalam." Ucap Toglo.
"E'lo siapa, terus teman gue kamana?." Tanya nya.
"Teman abang sudah gue keekk." Jawab Toglo sambil melakukan gerakan tangannya pada lehernya sendiri.
Sang maling melotot dengan mulutnya menganga, mendengar ucapan dari Toglo lalu sang maling beranjak dan mengangkat tubuhnya dengan berdiri.
********
Bersambung
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan dari semua, salam sejahtra, sehat-sehat dan sukses selalu.
"Assalam mu'alaikum"