
Asep dan ke dua temannya begitu asik menikmati kopi di pagi hari, sambil menunggu waktu kerja di mulai.
...............
Sementara Nandi yang masih dalam perjalanannya menuju Gang Si'iran, kini terjebak macet, kendara'an pun kini semakin memadati jalan raya yang mau memasuki Delima raya.
"Waduuh macet total." Gerutu Nandi.
"Iya, gak biasanya sih macet kaya gini, ada apa ya." Pungkas Sindi.
Ketika itu Nandi bertanya pada orang pejalan kaki yang berjalan ke arah posisi Nandi.
"Ma'ap bang ko macetnya sampai parah begini, ada apa sih bang di depan?." Tanya Nandi.
Sang pejalan kaki pun langsung berhenti ketika Nandi bertanya kepadanya.
"Biasa bang, ada orang yang baru bangun tidur lupa cuci muka." Ujarnya penuh tanda tanya.
"Haha, abang-abang, maksudnya gimana sih, ma'ap ku belum paham dengan kata-kata abang?." Tanya Nandi tertawa.
Orang itu pun tersenyum, ketika Nandi seperti kebingungan dengan perkata'annya.
"Udah tidak usah di pikirin, nanti juga kau akan paham dengan maksud ucapanku itu, ma'ap ku buru-buru, selamat jalan semoga selamat sampai tujuan." Jawabnya sambil mengayunkan kakinya meninggalkan Nandi.
Sementara Nandi dan Sindi bengong dengan pandangan terus ter arah pada Orang itu sampai Nandi membalikan badannya ke arah belakang, ketika orang itu hilang di telan jarak yang semakin jauh, Nandi pun berkata.
"Aneh, Gua belum paham maksud perkata'an nya itu, sayang kamu paham gak dengan kata-kata orang itu?." Tanya Nandi pada Sindi.
"Ih aneh tuh orang, nggak suamiku ku juga tidak mengerti." Ujar Sindi.
Kemudian kendara'an pun sudah mulai jalan perlahan, lalu Nandi melaju kan mobilnya dengan jalan merayap.
Ketika Nandi tiba dijalan Delima nampak terlihat orang-orang berkerumun di pinggiran trotoar jalan seperti lagi beradu argumen antara pengendara roda dua dan pengendara roda empat, segerombolan anak muda berkendara roda dua kini lagi mengurung se orang sopir.
"Oh pantesan jalanan macet, jadi ini sumber dari ke macetan itu." Ujar Nandi.
"Iya benar Suamiku, waduh lihat sayang satu orang di keroyok oleh orang banyak, kasihan, ko gak ada hati nurani sih masa orang satu dijeroyok rame-rame, kenapa tidak ada yang elerai sih." Ujar Sindi.
Kini timbulah hati nurani Nandi ingin menolong dan melerai keributan itu.
"Bentat ya sayang, ku gak tega melihat orang itu di pukuli ramai-ramai." Ujar Nandi sambil meminggirkan mobilnya.
"Sayang kamu tunggu ya di sini, ku mau melerai mereka." Ujar Nandi.
"Tapi suamiku, ku takut kamu kenapa-napa." Ujar Sindi kuatir.
"Insa allah aku akan baik-baik aja, jagalah Anggita, ingat jangan buka pintu sebelum ku kembali." Ucap Nandi sembari membukanpintu mobilnya itu.
Kemudian Nandi berjalan dibtengah-tengah ke rumunan orang-orang yang lagi menonton keributan itu, lalu Nandi bertanya pada salah seorang dari orang yang lagi berkerumun itu.
"Ini ada apa bang, kenpa malah jadi tontonan begini sih?." Tanya Nandi.
__ADS_1
"Saya gak berani bang, mereka semua komplotan para gang." Jawabnya.
"Tapi kan kasihan, kalau di biarkan bisa-bisa mati tuh orang." Ujar Nandi
Kemudian Nandi bergegas memasuki ke tengah-tengah orang yang lagi ramai-ramai me mukuli se orang sopir, dengan satu seruan Nandi mencoba melerai aksi dari para komplotan gang.
"Hentikan." Teriak Nandi.
Serempak para komplotan orang yang sering di sebut para gang menghentikan aksinya, lalu semuanya menoleh pada arah suara yang berteriak menghentikan nya.
"Woi siapa kau, berani betul anda menghentikan aksi kami." Ujar salah satu dari mereka yang bertato memenuhi tubuhnya.
Nandi hanya menggelengkan kepala, sambil menyeringai dengan netra memandang tajam pada mereka dan berkata.
"Heh negara ini negara hukum, gimana kalau orang yang kalian pukuli itu mati, apa kalian mau bertanggung jawab." Seru Nandi.
Kemudian orang itu seperti tidak terima di nasehati oleh Nandi, lalu ke delapan orang berwajah serem itu mengurung Nandi, dengan tatapan yang penuh dengan kebencian.
"Mau apa kalian, mau ngeroyok gua, heh tampang aja seperti wajah para prajurit perang, tapi nyali kalian cuma berani main keroyokan." Ujar Nandi.
"Kenpa lo' takut sama kita-kita ini hahaha, belum tau ya, kami si raja Jalanan.
Nandi hanya tersenyum tipis mendengar khotbah dari mereka, karena jauh sebelum mereka berada di jalanan, Nandi bersama pamili gang si'iran pernah bertengker dan di kenal oleh para anak jalanan yang lain dan para preman.
"Siapa pun kalian, siluman atau memedi, bila sudah melakukan kejahatan di depan gua, gua akan selalu menghentikannya." Jelasnya Nandi.
"Banyak omong kau, ayo kawan kita buat orang ini untuk sarapan pagi kita." Serunya.
kemudian Sindi mengambil handponnya dari dala tas, lalu di bukanya dan mencoba menghubungi seseorang melalui via whatssap.
Kini panggilan pun mulai tersmbung dengan no whatssap bernama Toglo.
📞.Sindi "Halo glo, kamu dibuk gak."
📞.Toglo "Ada apa gitu buk Bos?."
📞.Sindi "Kamu bisa datang gak, ke jalan delima kilo meter 97, Ayahnya Anggita lagi di keroyok para kawanan orang-orang bertato."
📞.Oke buk siap, ku segera meluncur sama kang Hasan."
📞.Iya cepetan ya, kamu langsung aja ke lokasi, kalau aku kan agak jauh dari tempat kejadian."
Setelah itu Sindi lqngsung menutup panggilannya, dan memasukan kembali handponnya ke dalam.tas, dengan netranya terus mrngawasi sang suami tercinta yang lagi Fight.
Sementara Nandi yang lagi di keroyok oleh ke delapan orang kawanan yang menyebut dirinya gang, begitu angresip dan laincah, tapi sepintar-pintar nya Nandi bila dikurung terus oleh lawan yang tidak se imbang sangat merepotkan juga, karena para komplotan gang tersebut pada menguasai bela diri anak jalanan
Di sa'at itu ada dua kelebatan bayang masuk ke tengah-tengah arena memberi bantuan pada Nandi.
Kedua bayangan itu tak lain adalah Toglo dan Hasan, ia langsung menggempur para komplotan geng raja jalanan itu, Toglo atau Wanda begitu bengis dan kejamnya melebihi dari komplotan mereka tersebut.
Tendangan serta pukulan Toglo dan Hasan sangat cepat sekali mengenai sasaran, sehingga tiga dari komplotan mereka sempat terjungkal.
__ADS_1
Begitu pula Nandi dalam meladeni serangan demi serangan dari lawannya begitu cepat, apalagi tangan kirinya yang terkenal mematikan sudah menjatuhkan dua orang dan di buat tidak berdaya.
Pertempuran di pagi hari itu membuat jalanan semakin macet.
Para kawanan mereka kini mulai ke teter, apalagi dengan aksinya Toglo si bocah sableng, di tambah Hasan dengan gaya jurus tarung drajat yang di kombinasikan dengan ilmu silat karuhun cimande membuat lawannya menjadi kikuk yang cuma mengandal kan bela diri jalanan yang jurus-jurusnya tidak terarah.
Cabikan, tendangan dan dan elbo dari ke tiga anak gang Si'iran kini telah melumpuhkan semua lawan-lawannya.
Yang tadinya merasa diri paling jago, dan beraninya main keroyokan kini tidak berdaya, muka lebam darah keluar dari hidung dan kedua sudut bibir kini mereka alami karena perbuatannya sendiri.
Mereka kini membangkitkan tubuhnya dengan jalan terhuyung sambil meringis kesakitan menahan sakit, satu persatu mereka menghampiri pada kendara'annya ingin menjauhkan diri dari Toglo, Nandi dan Hasan.
Tapi baru saja mereka mau menyalakan motornya, tiba-tiba sekolompok orang berseragam alat negara dengan membawa pistol di genggamannya langsung menyergap komplotan orang-orang itu.
"Jangan bergerak." Gertaknya.
Ke delapan orang itu langsung merunduk ke tika selongsong senjata api di arahkan pada dirinya, dengan berjalan merunduk sambil mengangkat tangannya, lalu mereka semua di giring untuk memasuki sebuah mobil petugas ke amanan.
Sementara sang komandan lagi meng intograsi Nandi, Toglo dan Hasan, tentang awal mula kejadian itu.
"Saya tadinya berusaha ingin melerai anak brandal itu, tapi mereka malah tidak terima pak dan akhirnya saya di keroyok, untung teman saya cepat datang." Ujar Nandi.
Kemudian komandan bertanya pada se orang sopir yang jadi korban pengeroyokan meski masih terasa sakit sekujur tubuhnya ia masih bisa memberikan keterangan pada polisi.
"Awalnya ketika jalan lagi macet, sebuah sepada motor mendadak menggeber-geber gasnya menyuruh saya untuk jalan, ya mau jalan kemana toh yang di depan saya juga pada diam." Ujar sopir.
"Lalu bapak jawab apa?." Tanya polisi.
"Saya jawab, apakah anda gak lihat di depan juga pada diam begitu, eeh orang itu gak terima dan menyuruh saya untuk keluar, ya terus sayapun keluar toh saya gak ada salah ko." Ujarnya.
Toglo berjalan mendekati pada Nandi dan berkata pada pak polisi.
"Ma'ap pak sepertinya abang sopir ini harus segera di bawa ke rumah sakit, saya lihat banyak luka lebam di bagian muka dan kepalanya." Ujar Toglo.
"Ya sudah nanti pihak kepolisian akan datang ke rumah sakit untuk minta lebih jelas dari keterangan para saksi dan yang terlibat perkelahian itu." Ujar polisi tersebut.
"Siap pak, kami siap memberikan keterangan sejelas mungkin." Pungkas Nandi.
"Oke kalau begitu, makasih ya Nandi dan anak gang Si'iran, kalian selalu membantu tim kami dan meringankan pihak kepolisian dalam memberantas tindak kejahatan kriminal, karena mereka semua selalu berbuat onar dan kalian harus berhati-hati, bila ada apa-apa segera lapor." Jelasnya sang komandan.
"Oke siap pak." Jawab Nandi.
Selepas itu tim buru sergap langsung membawa ke delapan orang itu untuk di adili atas tindakan ktiminal yang di lakukan pada se orang sopir truk.
Sedangkan Nandi langsung membawa sopir truk tersebut ke klinik terdekat untuk di obati.
**********
Bersambung
Salam sehat dan sukses selalu, terima kasih yang sudah memberi dukungan like, comentar, favorit, vote serta hadiahnya.
__ADS_1
"Assalam mu'alaikum"