
Lima tahun kemudian.
Pada hari minggu di bulan november, ke tiga sahabat Nandi yaitu Pandi, Gito dan Doni pada minggu yang berbeda mereka sudah melanjutkan hubungannya bersama pacarnya ke jenjang pernikahan.
Doni yang lebih dulu merayakan pernikahannya dengan wanita pilihannya yaitu Melinda gadis kelahiran semarang yang bekerja di perusaha'an milik orang asing di kota kembang.
Dan acara pernikahan pun di rayakan di daerah semarang, acaranya sederhana tapi cukup ramai, karena seluruh famili Gang Si'iran semua datang untuk memberi ucapan selamat untuk Doni dan Melinda yang sudah menempuh hidup baru.
Selang seminggu setelah Doni, Gito pun melangsungkan hubungannya dengan Mira kejenjang yang kebih serius acara di adakan sangat sederhana, berhubung keluarga Mira adalah keluarga yang biasa-biasa saja, acaranya cukup singkat tapi padat, kini Gito dan Mira telah resmi menjadi suami istri, walaupun acaranya sangat sederhana tapi para tamu yang hadir sangat penuh memadati halaman rumah yang telah di pasang dengan tenda-tenda.
Semua warga Gang Si'iran hadir untuk memberi ucapan selamat pada Gito dan Mira, yang merupakan benteng dari Gang Si'iran yang tergabung dalam kelompok The Famili Gang Si'iran.
Di minggu terakhir.
Di sebuah perumahan citra loka indah, dibtempatnya Ardi juna pranata sudah di penuhi oleh para tamu undangan dari berbagai kalangan.
Di sebuah kamar rias nampak nina yang lagi di dandanin oleh juru rias, dengan pakaian pengantin ala khas daerah Sunda, karena kedua pengantin masih asli warga suku Sunda, ditemani oleh Astuti karena sebentar lagi acar ijab kobul yang tinggal satu jam lagi akan segera di mulai pada pukul 09:00.
Lalu Astuti melihat jam di pergelangan tangan kirinya sudah menunjukan pukul 08:00, kemudian Astuti mengambil ponselnya dari dalam tas lalu menghubungi Nandi.
📞.Astuti "Halo Aa, gimana sudah berangkat belum ini sudah jam delapan dan pak penghulu sudah datang, rombongan harus sampai sebelum acara ijab kobul."
📞.Nandi "Sudah sebentar lagi sampai ko, ini rombongan sudah ada di gerbang gapura citra loka indah."
📞.Astuti "Oh ya sudah ku akan mempersiapkan dulu buat penyambutannya."
Setelah itu Astuti menutup panggilannya. Ia pun bergegas keluar dari kamar rias, untuk memberi tahu pak Ardi juna pranata beserta ibuk Yola Yohana.
Setiba di ruangan nampak pak Ardi juna dan istri lagi berdiri menyambut para tamu undangan dari rekan bisnisnya.
Lalu Astuti berjalan menghampirinya dan berbisik pada pak Juna dan ibuk Yola.
"Pak, Buk pengantin pria sudah di depan gerbang gapura." Bisik Astuti.
"Alhamdulilah, ya sudah sekarang kamu ke depan beri tahu pada pemimpin acara yang sudah di atur sebelumnya." Ujar pak Juna
Singkat Cerita
Acara penyambutan mempelai pria pun sudah di mulai dengan di iringi oleh petikan kecapi dan tiupan suling.
Lalu mempelai pria di sambut oleh ibuk dari mempelai wanita, dengan mengalungkan kalung bunga.
Halaman rumah yang begitu besar kini telah di penuhi oleh ratusan orang baik dari tamu undangan maupun dari warga komplek yang ingin melihat dan menyaksikan penyambutan mempelai pria.
Sungguh meriah sekali acara pernikahan Pandi Adi Supraja dengan Nina Yuni Pranata.
Setelah itu acara berlangsung pada akad nikah atau ijab kobul, pandi duduk bersila di sampingnya Nina yang berhadapan dengan pak penghulu dan Pak Juna selaku wali dari pihak mempelai wanita.
Pak penghulu pun sudah membuka acara ijab kobul, pak Juna dan Pandi sudah saling berhadapn dengan saling bersalaman untuk memulai ijab kobul.
Singkatnya Pandi sudah mulai ijab kobulnya.
"Saya tetima nikah dan Kawinnya Nina yuni pranata binti Ardi juna pranata dengan Mas kawin seperangkat alat solat di bayar tunai." Tutur Pandi dengan lancarnya tanpak ada sepatah kata pun yang mesti di ulang.
Lalu pak penggulu bertanya pada beberapa saksi.
"Bagaiman para saksi sah?." Tanya pak penghulu.
Sah
__ADS_1
Sah
Sah.
"Alhamdulilah, ijab kobul berjalan dengan lancar." Ujar pak penghulu, yang kemudian di langsungkan dengan membaca Doa.
Selepas itu Pandi dan Nina sungkem pada kedua orang tuanya masing-masing secara bergantian, dan semua sesepuh yang hadir di situ sebagai saksi sahnya sebuah pernikahan.
Lalu kedua mempelai di lanjutkan pada acar mandi air kembang tujuh rupa, dan memecahkan telur, dan di tutup dengan acara saweran uang recehan yang di iringi oleh lantunan pupuh sinom dengan gamelan petikan kecapi dan tiupan suling.
.........
Enam jam kemudian.
Acara pun sudah sepi dan para tamu undangan sudah pada bubar, hanya para pamili Gang Si'iran yang masih nampak menemani Pandi dan Nina.
Kini mereka berkumpul di luar samping rumah sambil menikmati idangan dan minum kopi, canda tawa dan ejekan dari para sahabatnya pandi, terus di lemparkan pada Pandi dan Nina.
"Seperti nya hari sudah mulai mendung nih." Celetuk Hasan.
"Kayanya nanti malam akan turun hujan deh." Ujar Kamal.
"Ya tentu sangat mendukung sekali nih, iya gak." Ujar Gito sambil saling pandang sama Mira dan semua kru famili Gang Si'iran.
"Cihuuyy, cuaca yang mendukung untuk belah duren nih." Cetus Kamal.
Pandi dan Nina hanya tersenyum mendengar ejekan dari para sahabatnya.
"Wah gila lo' Mal, pikirannya kesitu aja sih." Cetus Pandi.
"Tau tuh, eeh Tut, laki lo' berpikirnya ngeres melulu, wah jangan-jangan gak pernah lo kasih jatah tuh." Ujar Nina.
"Sembarangan lo', biarpun gue banyak di bilang orang tomboy tapi gue tau dan mengerti bakti seorang istri pada suaminya, malahan tiap malam gue suka tantangin, mulanya emang iya, tapi lama kelama'an payah." Ujar Astuti.
Haha
Hahaha
Sura gelak tawa pun telah di perdengarkan, apalagi Hasan tertawa puas mendengar cerita dari Astuti.
"Ah dasar cemen, ngomong so' iye, tapi nyatanya melempem." Ujar Hasan terbahak.
"Uluuuuh, puas ya lo' Hasan bin maun serasa di ulang tahunkan, awas ya gua balas nanti." Ujar Kamal.
Nandi hanya tersenyum menahan tawa, menyaksikan mereka yang sudah kambuh dengan ejekan-ejekan kotornya.
Toglo dan Wulan yang tidak banyak bicara hanya menjadi pendengar setia.
............
Kini hari pun dudah berganti dengan senja, Nandi dan yang lainnya pun sudah pulang.
Yang tadinya ramai kini berubah menjadi sepi, hanya tenda-tenda yang belum di bongkar yang menemani Panfi dan Nina.
Nina lalu beranjak dari tempat duduknya mengajak Pandi untuk masuk ke dalam rumah.
Langit senja yang biasanya memancarkan cahaya merah, kini nampak hitam tertutup awan, dan kilatan-kilatan cahaya halilintar menggurat membelah angkasa, mungkin sebentar lagi hujan akan segera turun.
Setibanya di dalam rumah, Pandi dan Nina melangkah menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua, dua puluh satu anak tangga sudah di laluinya, kemudian mereka membuka kunci pintu kamarnya.
__ADS_1
Klik
Suara kunci pun sudah terbuka, dan di dorongnya perlahan bersama dengan tungkai kaki melangkah masuk kedalam kamar.
Nina pun masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaian pengantinya dengan pakaian tidur piyama, begitu pula Pandi.
Dan setelah itu mereka duduk di atas kasur, sedangakn di luar hujan sudah mulai turun, Nina bersandar di dada pandi, lalu Pandi memeluknya dengan pelukan hangat penuh cinta.
"Akhirnya kita sudah resmi menjadi duami istri sayang." Ujar Pandi.
"Iya Aa, aku merasa bahagia di saat seperti ini, rasanya seperti mimpi kini tidurku sudah ada yang menemani." Cetus Nina.
"Dan sekarang kita telah halal." Desah pandi sambil mendaratkan ciumannya.
Kini Jantung Nina terasa berdegup kencang, sepertinya jantung lagi memompa mengalirkan darah ke seluruh organ.
Nina pun langsung menyambut, sambil kedua tangannya melingkar di pundak Pandi.
Kedua bibir kini sudah bermain saling menjelajahi, Pandi yang begitu agresip melakukan sentuhan-sentuhan lembut bibirnya, dengan kedua tangan bermain di gundukan gunung kemabar.
Nina terpejam seperti meraskan sesuatu yang belum pernah di alaminya, lirih suara sahdu dan rintihan lembut, mengiringi lepasnya piyama tipis yang lembut, besama'an dengan merebahnya tubuh di atas kasur tanpak ia sadari.
.......
Kini keduanya telah larut dalam hubungan asmara dewa kamajaya, pandi yang memainkan perannya di atas dengan tarian gelombang-gelombang cinta, yang semakin memanas.
Deras nya air hujan yang turun dari langit seakan memberi kesan tersendiri bagi kedua pasangan yang lagi berbulan madu.
Malam pertama berjalan sangat romantis, di tambah cuaca di luar hujan yang terus semakin deras menebarkan hawa dingin yang begitu menusuk ke pori-pori kulit, kedua pasangan paengantin baru.
............
Di tempat lain.
Tepatnya di Gang Si'iran, Nandi dan Sindi beserta Anggita yang sudah tumbuh besar, lagi duduk di ruangan tengah sambil menonton acara televisi.
Sepertinya Anggita eka putri akan mempunyai seorang adik, karena akhir-akhir ini Sindi sering mual dan muntah-muntah di tambah sudah tiga bulan ia tidak kedatangan tamu langganannya, Nandi pun nampak semringah terlihat di paras wajahnya yang memancarkan cahaya dan berseri-seri begitu Sindi menceritakannya pada Nandi.
"Anggita sayang, sebentar lagi kamu akan mempunyai se orang adik." Ujar Nandi pada Anggita.
"Yang benar yah." Sontak Anggita kaget.
"Iya tanya aja pada ibuk, iya kan sayang." Ujar Nandi sambil melirik pada Sindi.
Sindi tidak berkata, ia hanya menganggukan kepalanya.
"Asiiik, aku akan punya adik." Ucap Anggita gembira.
"Kamu pingin adik perempuan atau laki-laki?." Tanya Nandi pada Anggita.
"Aku pingin laki-laki ayah, semoga aja Allah mengabulkan permintaanku, ya Allah berikanlah aku adik laki-laki yang pintar, berani dan gagah seperti ayah." Ujar Anggita.
"Amiin." Nandi dan Sindi mengaminkan doanya Anggita.
"Kira-kira siapa nati namanya?." Tanya Anggita.
"Ya nanti aja, namanya masih dalam proses sayang."
Malampun terus bergeser seiring dengan waktu yang berputar begitu cepat.
__ADS_1
Nandi dan Sindi langsung masuk kamarnya setelah Televisi di matikan, sedangkan Anggita tidur sendiri di kamar sebelah karena usianya yang sudah menginjak sepuluh tahun
Bersambung.