
Nandi lalu meraih handponnya yang tergeletak diatas meja, lalu mengangkat sebuah panggilan masuk dengan mengklik gambar gagang telpon warna hijau.
Setelah panggilan diangkatnya.
.Nandi ''Halo dengan saipa ini.''
''Ini saya nak nandi, pak suganda.'' Ucapnya.
.Nandi ''Ooh dengan pak suganda, ooh iya pak ma'ap, nomor bapak belum sempat ku simpan dibuku telpon.''
.Suganda ''Iya gak apa-apa, begini nandi besok datang ya seperti yang telah bapak sampaikan empat hari yang lalu.''
.Nandi ''Iya pak insa allah saya usahakan datang, jam berapa acaranya?.''
.Suganda ''Habis magrib nak nadi, ya sudah sampai ketemu besok ya.''
.Nandi ''Iya pak pasti saya datang.''
Lalu panggilanpun sudah dimatikannya, nandipun menaro lagi handponnya diatas meja.
''Siapa di?.'' Tanya doni.
''Itu pak suganda, orang tuanya kang ujang komar, mengundang gua, mau syukuran selametan atas pulihnya kang ujang komar dari setresnya.'' Jawab nandi.
''Ooh, ujang komar yang dipondok haur koneng itu, yang tempo lalu kita kesana.'' Ujar kamal.
''Iya itu, yang di rawat sama abah haji mansur.'' Ucap nandi.
''Ya syukur dah, kalau sudah pulih kembali ingatannya.'' Ucap kamal.
''Ya alhamdulilah, sekarang sudah kembali lagi memorinya, yang sempat ngebleng hampir satu tahun.'' Ucap nandi.
''Ooh iya, siapa dantara kalian yang pintar main gitar?.'' Tanya doni.
''Noh hasan bin maun lebokeun meong, dia pakarnya, mau ngapain lo' pake nanya tukang main gitar, mau bikin band apa?.'' Tanya kamal.
''Bukan begitu, bagaimana kalau malam ini kita meriahkan dengan main musik dan nyanyi-nyanyi, siapa tau banyak yang sawer.'' Ucap doni.
''Terus duitnya mau lo apain?.'' Tanya gito.
''Kalau ada yang sawer, duitnya kita sumbangkan pada anak yatim, dan sitoglo sama neneknya.'' Jawab doni.
Nandi langsung terperanjat mendengar itu.
''Wah cakep, ide yang sangat cemerlang, gua setuju.'' Pungkas nandi.
''Oke ok ok.'' Jawab yang lainnya.
''Kalau begitu gua ambil dulu dramnya, btw terus ngelapaknya dimana?.'' Doni balik bertanya
''ya disini saja, nanti juga bakal pada datang.'' Saut gito.
''Kalau begitu gua ambil dulu alat-alatnya, di boleh pinjem mobil losbak bokapmu.'' Ujar doni.
''Boleh, tapi coba lihat dulu dilapak, dipake narik gak, kalau gak ada pake mobil boks yang lo' pake tadi aja.'' Ucap nandi.
''Sebentar gua lihat dulu ada kagak mobil bokap dilapak.'' Ucap nandi.
Nandi lalu beranjak dari tempat duduknya, berjalan kebelakang rumahnya tepatnya dilapaknya pak dirman, tempat mengumpulkan barang-barang limbah.
Nampak terlihat oleh nandi mobil losbak warna hitam lagi terparkir di garasi samping lapaknya pak dirman.
Setelah mobil ada terparkir digarasi, nandi lalu masuk kerumah menemui bapaknya, nampak pak dirman dan bu sari lagi asik nonton acara televisi.
''Pak.'' Panggil nandi.
Pak dirman pun langsung menoleh kearah yang datang memanggilnya.
''Iya nandi ada apa?.'' Pak dirman bertanya.
''Mau pinjem mobil sebentar boleh gak.'' Kata nandi.
''Atuh ya boleh, nandi nandi, kaya sama siapa aja, tuh kuncinya dlaci meja.'' Ucap pak dirman.
Nandipun langsung menuju ke tempat yang pak dirman tunjukan, setelah apa yang dicarinya sudah ketemu, ia pun langsung bergegas pergi keluar, ketempat anak-anak lagi pada nongkrong.
''Nih don kuncinya.'' Ucap nandi sambil memberikan kunci kontak mobil yang mau doni pakai itu.
Doni pun langsung menerimanya, dan berjalan kearah garasi disamping lapaknya pak dirman.
Sesampainya digarasi, doni membuka pintu mobil dan masuk terus duduk, dengan kedua tangannya memegang setir.
Setelah itu mobilpun disetaternya, perlahan doni menginjak gas, dengan memasukin giginya, mobilpun kini maju keluar dari garasi menuju rumahnya doni masih diwilayah gang si'iran, hampir berdekatan dengan rumahnya hasan.
Singkatnya doni pun telah kembali dengan membawa peralatan ngeband, dan mobilpun sudah masuk lagi garasi.
Kini pemuda gang si'iran sibuk membantu memasang-memasangkan peralatan musik.
Setelah semua rapi dan siap play, hasan yang memegang gitar , pandi pada bas, kamal drum, doni gitar juga, nandi pada vokal.
Sedangkan gito sibuk pemotretan, buat dikirim ke akun sosmednya.
''Oke kita mulai, malam ini kita akan menyanyikan lagu pembuka, pengakuan, lagu dari kang andri gustian lochnes.'' Ujar nandi.
Hasan dan doni mencoba mempelajari lagu yang, akan dinyanyikan nandi, begitupun kamal dan pandi.
Setelah semuanya telah siap, kini hasan dan doni mulai memetik gitarnya, dan pandi pada bas, dan kamal pun sudah mulai menabuh drumnya kini nandipun mulai melantunkan lagu pengakuan.
Astuti dan pak dirman terperanjat mendengar yang menyanyikan lagu begitu merdu sekali, astuti lalu bertanya pada ibu dan bapaknya.
''Bu kaya ada band dekat sekali dimana itu.'' Ucap astuti.
__ADS_1
''Tapi kayanya didepan bengkel nandi deh.'' Kata bu sari.
Astutipun lalu penasaran dan keluar, ingin memperjelas dari mana arah suara band tersebut.
Begitu astuti membuka pintu yang keluar nampak jelas suara itu, nampak terlihat oleh astuti abangnya lagi menyanyi dengan di iringi alat musik yang lengkap.
Dan astutipun sangat riang lalu ia berteriak memanggil ayah dan ibunya.
''Pah buk, ternyata aa nandi lagi menyanyi, cepetan sini.'' Teriak astuti memanggil kedua orang tuanya.
Pak dirman dan bu saripun setengah berlari keluar rumah menuju suara yang menyanyikan lagu begitu enak sekali didengarnya.
''Ooh iya benar, buseet dah dari mana ya nandi belajar olah vokalnya, bertahun-tahun saya sebagai orang tuanya baru denger sekarang nandi menyanyi begitu merdu.'' Ucap pak dirman.
Kini suasanapun menjadi ramai, satu persatu warga gang si'iran berdatangan, melihat band anak-anak gang si'iran.
Suara suitan dari para pemuda yang menonton kini menjadi meriah.
Gito yang dengan asik memotrek dan vidio, untuk di unggah pada akun sosmednya.
''Yang ini nih gua baru demen, gak nyangka gua, nandi punya suara semerdu itu.'' Ucap gito sambil terus asik mengambil gambar satu persatu dari para personil band tersebut.
''Ayo bang nandi lanjut.'' Teriakan dari warga gang si'iran
''Oke terima kasih, sebelumnya bagi kalin yang mau menyisihkan sebagian rijkinya untuk bantuan sosial pada anak yatim, dan orang-orang jompo, telah kami sediakan kotak amal, terima kasih.'' Ucap nandi.
Musikpun terus berlangsung dengan lagu-lagu sendu dan balada.
Doni sebagi pelopor penggerak untuk bermusik ternyata telah banyak mengundang penonton.
Dan astuti pun ikut menyumbangkan suaranya, dengan lagu-lagu dari favoritnya, yaitu lagu-lagu dari sang lady rock mel sandy.
Sorak sorai dari penonton menambah meriah sekali.
Ternyata astutipun punya suara khas, yang bagus, selain gayanya yang tomboy, ternyata astuti sangat menyukai lagu-lagu cadas.
Apalagi saat astuti melantunkan sebuah lagu nyanyian badai, suasana tambah meriah dan memanas.
Kini semua warga gang si'iran hampir semua berdatangan memenuhi dihalaman bengkelnya nandi dan memadati seluruh gang si'iran.
Kamal sangat bersemangat sekali dengan gebugan-gebugan drumnya sa'at mengiring lagu yang astuti nyanyikan.
Kelima pemuda gang si'iran, nandi, kamal, hasan, pandi dan gito, sebelumnya sempat merasakan pait manisnya hidup dijalanan, rasa solideritas dan setia kawan kelima pemuda itu sangat kuat, karena darah mereka seperti sudah bersatu dalam satu wadah.
Karena malam yang semakin larut akhirnya nandipun menyanyikan lagu penutup.
''Kepada semua yang hadir terima kasih banyak, dan semoga kalian senang dengan hiburan ini, karena waktu sudah larut malam, sayapun akan membawakan lagu penutup, lagu ini mengingatkan saya, saat mulai bangkit dari keterpurukan, langkahku.'' Ucap nandi.
Nandipun memberi isarat pada personilnya untuk mulai.
Musikpun kini sudah mulai dilantunkannya, nandi mulai menyanyikan lagunya.
Seberkas cahaya terang.
Aku melangkah dan melangkah lagi.
Menuju satu harapan.
Ku kejar dan ku kejar.
Hanya untuk sebuah prestasi.
Walau rintangan tetap menghalangi.
Tapi semangatku takan hilang.
Akan kucoba dan terus ku coba.
Tak lelah aku mencoba.
Kini aku berjalan menuju titik terang.
Aku melangkah menuju satu harapan.
Biarlah yang lalu telah berlalu.
Akan kutinggalkan semua itu.
Kan ku lintasi jalan hidup ini.
Na na na na na na na na...
La la la la la la la la la la la la
La la la la.
Begitu sair lagu yang nandi nyanyikan, lagu mengingatkan sa'at nandi dan sahabatnya meninggalkan kehidup dijalanan, dan memulai hidup baru.
Kini pentas musik telah ditutupnya dan para pengunjungpun sudah pada bubar, suasana pun menjadi sepi tingagal nandi dan sahabatnya yang lagi membereskan peralatan musik tersebut.
Sementara hasil dari para pengunjung yang memberikan sawerannya lumayan cukup banyak.
Nandi pun telah mencatat anak-anak yatim yang berada diwilayah gang si'iran, berikut sitoglo dan neneknya.
Setelah semua peralatan sudah dibereskannya, donipun mengangkutnya lagi kerumahnya,vdan yang lainnya juga pada pulang untuk istirahat, karena besok harus beraktipitas kembali.
Nandipun sudah masuk ke kamarnya, begitu pula astuti, busari dan pak dirman, sudah merebahkan badanya diatas kasur.
Suasana dikota itu kini menjdi sepi, ditambah angin dingin yang sudah menyelimuti kota itu dan sekitarnya.
Waktu begitu cepatnya berlalu, seiring dengan roda kehidupan berputar, sehingga tidak terasa kini malam telah berlau, berganti dengan waktu subuh, dan suara adzanpun telah diperdengarkan dimana-mana.
Nandi dan segenap krluarga pak dirman telah terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
Nandi dan pak dirman terus membersihkan badannya, dan setelah itu, diambilah air wudhu, untuk melaksanakan ibadah solat subuh.
Astuti dan bu sari pun melakukan hal yang sama.
Setelah itu mereka melakukan solat berjama'ah dirumah, dan pak dirman yang memipin(imam).
Setelah selesai solat berjama'ah mereka melakun zikir dan tahmid untuk memuji pada pada sang pencipta(allah swt).
Setelah beres, adab sopan santunpun selalu diterapkan, bu sari, astuti dan nadi lalu mencium tangannya pak dirman, karena mencontoh pada kanjeng nabi muhammad saw.
Nandipun lalu masuk kamarnya untuk ganti salin, busari dan astuti otw kedapur untuk masak menyiapkan makanan untuk keluarga, suami tercinta dan anak-anaknya.
Pak dirman duduk dipintu belakang sembari melihat istri dan anak gadisnya memasak.
''Bu kapan ya kita menimbang cucu.'' Ucap pak dirman.
''Uluuuh bapak pingin punya cucu.'' Saut bu sari.
''waduuh, kalau tuti pingin punya adik bu, pah.'' Ucap astuti.
''Wah kamu mah ada-ada saja tut.'' Ujar bu sari.
''Iya lagian ibumu sudah tua, gak bakalan punya keturunan lagi.'' Pungkas pak dirman.
''Kata siapa pah ibu sudah tua, ibu masih ngejreng begini, dan masih padat iya kan bu.'' Ucap astuti.
''Huus, pamali, kamu begitu sama orang tua.'' Ucap bu sari.
''Iyaa, ma'ap bu, tuti bercanda ko.'' Ujar astuti.
''Tapi yang astuti bilang benar adanya ko, ibu masih banter heheee.'' Ucap pak dirman sambil tertawa tipis.
''Idiiih, bapak genit iiih.'' Ucap bu sari.
Astuti hanya tersenyum melihat kedua orang tuanya, yang masih tetap romantis.
''Tut, tuh air sudah mateng, noh bapak dan abangmu bikinin kopi.'' Ujar bu sari.
''Iya bu.'' Kata astuti sambil mengambil dua gelas, lalu ditaburnya bubuk kopi yang sudah dicapur gula, setelah itu dituangnya air panas kedalam dua gelas tersebut, dan di aduk-aduk hingga larut dan menyatu, sehingga menghasilkan cita rasa yang nikmat.
''Ini pah kopinya.'' Ucap astuti sambil memberikan segelas kopi pada pak dirman.
''Iya, terima kasih putriku yang cantik.'' Ucap pak dirman.
''Iya pah sama-sama.'' Jawab astuti.
''Ooh iya bu, sebentar ya mau ngasihin kopi dulu sama aa nandi.'' Ucap astuti.
''Ya sudah sana.'' Jawab bu sari.
Setelah itu astuti pergi keluar mengantarkan kopi buat nandi.
Nampak nandi lagi chatingan dihandponya, astuti keluar pikiran usilnya, dan dok kepo, dengan mengendap ngendap astuti, ingin melihat dengan jelas siapa yang sedang chat dengan abangnya itu, setelah jrlas terlihat astuti mundur pelan-pelan tanpa ia sadari tangannya menyenggol tembok.
Duuukk... Preeekkk.
Tanpa terkontrol nampan yang berisikan segelas kopi itu jatuh, dan pecahan belingnya berserakan diman-mana.
''Aaawwe.'' Ucap astuti.
Nandipun kaget ia lalu beranjak dari tempat duduknya dengan memburu astuti.
''De tuti, lo' kenapa?.'' Tanya nandi.
''Gak aa, tangan gue kepentok tembok, dan ahirnya kopi yang baru gue bikin buat aa jatuh deh.'' Ujar astuti.
''Lo' sih gak hati-hati, ya sudah sana, biar pecahan belingnya abang bersihin.'' Ucap nandi.
''Iya aa, gue bikin lagi kopinya.'' Kata astuti.
Nandi lalu mengambil pengki dan sebuah sapu untuk membersihkan pecahan kaca yang berserakan dilantai.
Sementara astuti, bikin lagi kopi yang baru, ia merasa berdosa yang sudah usil pada abangnua sendiri.
''Apes gue, untung kagak ketauan, mungkin ini karma dari aa nandi kali.'' Gerutu astuti di dalam hatinya.
Sesampainya didapur, astuti bikin lagi kopi yang baru, pak dirman dan bu sari kaget.
''Bukannya kamu tadi sudah bikin kopi buat abangmu?.'' Tanya bu sari.
''Iya bu, tadi kopinya tumpah jatuh kelantai.'' Jawab astuti.
''Pecah atuh gelasnya.'' Ucap bu sari.
''Ya bukan pecah-pecah lagi, ancuur.'' Ujar astuti.
''Iiih pecahan kacanya bukannya dibersihin kamu mah.'' Ucap bu sari.
''Lagi dibersihin sama aa nandi bu.'' Ujar astuti.
Setelah kopinya diaduk-aduk rata, astuti langsung membawa lagi kedepan, untuk di anterin sama nandi.
Setibanya didepan, nampak lantai pun sudah bersih dari pecahan-pecahan kaca, yang brtebaran dimana-mana.
♧♧♧♧♧♧<<<<>>>>>♧♧♧♧♧♧
Bersambung.
Nantikan kelanjutan kisahnya di episode selanjutnya.
Terima kasih atas dukungannya, semoga sukses selalu.
Selamat membaca.
__ADS_1